
Aira sedang berisiap-siap di ruang rias, berdandan kasual setelah menidurkan Aelius dan Aeliana. Hari ini Erigo mengajaknya berkencan berdua saja. Mereka sudah lama tidak melakukannya, hingga Aira merasa sangat bersemangat.
"Kau sudah siap?" Tanya Erigo di depan pintu.
"Sedikit lagi." Ucap Aira sembari merapikan rambutnya dengan jari. Lalu bergegas memasukkan ponsel dan dompetnya kedalam tas kecil.
Mereka menuju kafe favorit yang sering mereka datangi sejak masih berpacaran. Tanpa mereka duga, sosok yang familiar juga terlihat di kafe yang sama.
Aira dan Erigo menempati meja di sudut kafe sebelah kiri, namun tatapan Erigo tidak lepas dari meja lain yang terletak di sudut sebelah kanan, terpisah 4 meja. Erigo menatap lekat dengan tegang.
Aira menoleh ke belakang untuk melihat manusia malang mana yang sedang di bunuh suaminya dengan tatapan itu, lalu menganga lebar ketika matanya menangkap sosok yang tidak asing. 'Matilah Toddy kali ini.' Pikir Aira, karena di depan pria itu, jelas sekali adalah Jun, kakak kesayangan Erigo.
Aira dengan hati-hati memutar kepala, merasakan hawa aneh menguar dari Erigo. Seorang pelayan yang datang menawarkan menu terlihat gugup di dekat mereka. Aira mencoba tersenyum ramah dan memesan untuk suaminya sekaligus.
Setelah pelayan pergi, Aira menggenggam tangan Erigo. "Sayang, hentikan itu. Kau membuat suasananya suram."
Erigo menatap Aira. Pandangannya seketika berubah lembut. "Mau tukar tempat denganku?" Katanya cepat.
Aira mengikut saja. Aira berputar sembari menggenggam tangan suaminya. Dia harus mengikat Erigo jika bisa, karena takut Erigo akan menghambur ke meja Jun dan mempermalukan mereka semua.
"Jika aku meninju Toddy, Jun akan membelanya. Benar begitu kan?" Tanya Erigo.
"Benar. Jadi hentikan pikiran itu. Kita sedang di tempat umum." Cetus Aira.
"Aku tidak menyangka akan melihat mereka disini. Selera makanku hilang." Gerutu Erigo.
"Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka sayang. Kau saja yang terlalu berlebihan. Kupikir kau sudah tidak mempermasalahkannya."
"Itu agak susah. Aku tidak terbiasa melihat kakakku berkencan terutama dengan orang yang selama ini ku kenal. Ini agak aneh. Entah kenapa aku kesal pada Toddy karena merayu Jun." Erigo mencondongkan tubuhnya ke arah Aira. "Aku masih ingin memukul Toddy." Bisiknya.
"Tentu saja. Dan jika Toddy balas memukulmu, aku pasti akan menusuknya dengan garpu. Lalu aku akan bertengkar dengan Jun. Kami akan saling mencakar dan menjambak rambut masing-masing." Cetus Aira.
"Apa katamu?"
"Lagipula, rambutku lebih panjang daripada Jun. Jelas aku lebih mudah di jambak dan__" Aira mengangkat jemarinya dan memperhatikan kuku-kukunya. "__kuku jariku juga sangat pendek karena mengurus bayi, tidak akan bisa digunakan untuk mencakar, jadi sudah dipastikan aku akan kalah dengan memalukan."
"Apa?"
__ADS_1
"Jadi jangan lakukan hal konyol apapun, apalagi di depan umum." Aira mengancam Erigo dengan tatapannya.
________________________________
Keesokan harinya Jun datang untuk bermain dengan si kembar dan tinggal untuk makan malam.
Aira sedang berada di dapur saat Jun turun setelah menidurkan anak-anak.
"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Jun.
"Ada. Tolong aku mencampur saladnya, itu untuk Erigo." Aira menyalakan kompor dan meletakkan wajan untuk menumis dan mulai bersenandung.
Jun menatap Aira sembari mengenakan sarung tangan plastik. "Kau sedang senang?" Tanyanya.
"Apa seharusnya aku menangis?" Aira balas bertanya.
Jun mengangkat bahunya dan tertawa. "Aku cuma heran. Kau bersenandung. Kau sesenang itu karena aku datang membantu?"
"Tidak." Jawab Aira. "Mana ada orang yang senang di kunjungi kakak iparnya tiba-tiba. Aku merasa sedang di awasi." Kata Aira sembari tertawa.
Aira tergelak. "Apa maksudmu. Erigo sedang diet."
Jun ikut tertawa. "Toddy juga." Cetusnya tanpa sadar.
"Mmm..." Aira mengangguk dan menatap Jun. "Aku senang kai bersamanya." Ucap Aira. "Apa semua baik-baik saja?" Tanyanya.
Jun tertegun sejenak, kemudian mengangkat bahunya lagi. "Baik-baik saja." Ucapnya. Jun mendekat pada Aira dan mulai memelankan suaranya. "Darimana kau tau?"
"Kau pikir aku buta? Aku melihat gelagat kalian berdua dan langsung bisa merasakannya. Lagi pula kami menangkap basah kalian kemarin malam sedang makan berduaan." Balas Aira dengan suara yang tak kalah pelan.
"Erigo juga? Dia tau?" Tanya Jun dengan suara yang semakin pelan.
"Dia tau. Kau harus bicara padanya." Bisik Aira.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun. Kami berdua hanya menjalaninya begitu saja. Jangan katakan ini pada Erigo. Aku ingin menunggu sampai hubunganku dan Toddy menjadi lebih serius." Ucap Jun. Kemudian melanjutkan bisikannya lagi, "Kami saling menyukai, tapi aku tak ingin mendesaknya."
Sekarang Aira bisa memahami sensasi menyenangkan dari bergosip, semakin panas topik pembahasan, semakin kecil suara yang kau keluarkan. 'Konyol sekali.' Pikir Aira.
__ADS_1
Saat mereka makan, Jun dan Aira sedang mmembicarakan tingkah laku si kembar hari ini. Tiba-tiba Erigo bertanya tentang hubungan Jun dan Toddy.
"Kenapa kau ingin tahu?" Cetus Jun.
Aira bisa melihat bahwa Jun belum siap untuk membicarakan hubungannya dengan Toddy. Hal itu menyebabkan suasana di meja makan menjadi tidak menyenangkan.
"Setidaknya kau harus mengatakannya padaku." Cetus Erigo. "Dia itu temanku. Bagaimana bisa__"
"Ini urusanku." Potong Jun.
"Aku tau itu urusanmu. Ibu ingin kau segera menikah, setidaknya cari laki-laki yang ingin menikah denganmu." Ucap Erigo.
"Jangan libatkan ibu dalam rasa penasaranmu itu." Cetus Jun. "Aku sudah bilang, aku akan mengurus urusanku sendiri."
"Apa kau serius dengannya? Kurasa Toddy tidak serius denganmu." Cecar Erigo. Erigo mungkin tidak berhak mengatakan hal ini pada kakaknya, namun dia tidak bisa mencegah lidahnya.
Jun sudah merasa sakit hati karena Erigo terus mendesaknya. "Kau berlebihan Erigo. Karena itulah aku tidak mau membicarakannya padamu. Jangan melewati batas. Aku akan mengurus masalahku sendiri." Ucap Jun yang kemudian berdiri.
"Kurasa aku sudah harus pulang Aira." Ucap Jun. "Tidak usah mengantarku, teruskan saja makanmu." Ucapnya lagi ketika melihat Aira akan berdiri.
"Tidak. Aku akan mengantarmu, ayo mengobrol sebentar." Aira melayangkan tatapan marah pada Erigo sembari berdiri meninggalkan meja makan.
Erigo masih duduk diam ketika Aira kembali setelah mengantar Jun ke mobilnya. "Kenapa kau bicara begitu pada Jun?" Tanya Aira lembut.
"Apa aku terlalu kasar?" Tanya Erigo. Sepertinya ia sudah merenungkan perbuatannya.
"Seharusnya kau tidak bilang begitu." Jawab Aira. "Jun bilang padaku bahwa mereka saling menyukai, hanya saja Jun tidak ingin terlalu mendesak Toddy. Dia akan bicara jika mereka sudah memutuskan untuk membina hubungan yang lebih serius." Ucap Aira.
"Aku tidak bisa memberi tahumu tadi, karena Jun ada disini."
Erigo bersandar dan mendesah. "Aku merasa sudah sangat jahat padanya."
"Kata-katamu memang jahat. Hukum dirimu sendiri." Cetus Aira.
"Bagaimana caranya?"
"Pukul mulutmu saja." Cetus Aira dan Erigo melakukannya dengan lucu hingga Aira tertawa.
__ADS_1