
Erigo menemani Aira makan di bawah sementara Aelius dan Aeliana sedang tidur siang. Erigo tidak banyak makan akhir-akhir ini karena agensi memintanya untuk menurunkan berat badan. Jadi dia mencoba berdiet.
"Oh aku merasa bersalah harus makan sendirian." Ucap Aira sembari memandangi piringnya dan piring Erigo. Perbedaan menu mereka terlalu kentara. Sementara Aira makan spaghetti, Erigo harus berpuas diri dengan menyantap salad sayuran dengan memandangi isi piring Aira dengan tatapan menyedihkan.
"Tidak apa-apa." Erigo tersenyum ke arah Aira. "Aku diminta menurunkan berat badan." Erigo sudah mulai mengatur asupan makanannya. Dia juga sudah mulai kembali berolah raga meskipun menari juga menghabiskan Energinya. Terkadang dia memanfaatkan bayinya sebagai beban saat dia berolah raga dan bayi-bayi itu tentu saja kegirangan karena di angkat-angkat.
"Sudah berapa lama kau berdiet? Apa sudah seminggu?" Tanya Aira sembari makan. Meskipun jika di perhatikan, tampaknya tidak ada perbedaan.
Erigo menganggukkan kepalanya. "Sudah sekitar seminggu. Sepertinya berat badanku sudah berkurang sekitar satu atau dua kilogram." Lagi-lagi Erigo tersenyum. "Aku akan menjadi ayah yang keren." Cetusnya.
Tak lama setelah mereka selesai makan, seseorang datang ke rumah Erigo dan Aira. Aira terkejut melihat Airez datang. Dan dia sendirian tanpa Zora.
"Hai Airez. Kau datang." Ucap Aira memeluk kakak laki-lakinya. "Kenapa datang sendirian? Dimana Zora?"
"Hai sister. Aku juga bingung kenapa kami sering sekali datang terpisah saat kerumahmu." Ucap Airez terkekeh lalu menjabat tangan Erigo. "Zora pergi keluar bersama ibu karena ibu membiarkannya menyetir sesuka hati. Aku bahkan tak bisa melarangnya sekarang."
Aira tertawa. "Benarkah? Akan lucu jika kita terpaksa menjemput mereka lagi di area peristirahatan yang berbeda. Jika itu terjadi, aku ingin ikut." Aira menyeringai ke arah Airez.
Airez menyerahkan beberapa bungkusan dan Erigo meletakkannya di meja. "Apa yang kau bawa?" Tanya Erigo sembari membuka salah satu bungkusan.
"Aku bawa makanan."
Aira dan Erigo saling berpandangan. Untuk apa Airez kemari dan membawa makanan sebanyak ini? Namun Airez tampak santai. "Karena ibu dan Zora pergi, Ayah tidak dirumah dan Anna mengira aku keluar padahal aku tidur di kamar, jadi dirumah tidak ada makanan." Ucapnya menggerutu. "Jadi aku membeli makanan dan mau makan disini bersama kalian."
Erigo dan Aira membongkar semua bungkusan dan meletakkan isinya di atas meja makan. Mie ukuran jumbo, pizza, pasta, burger, udang goreng dan cumi. Airez juga membeli minuman bersoda dan untungnya, dia tidak melupakan salad.
"Ayo makan sama-sama." Ucap Airez.
Mau tidak mau Erigo duduk di kursi meja makan. Saat Airez menyeruput mie dengan suara keras, Erigo hanya menggigit kecil ujung sayuran. Hal itu membuat Airez berhenti mengunyah dan menatap Erigo. "Kenapa kau tidak makan? Kau tidak suka?" Tanya Airez.
"Aku sedang diet." Ucap Erigo. "Aku tidak bisa makan."
Airez memandang Aira. "Satu suapan saja tidak masalah kan?" Ucapnya meminta persetujuan Aira.
__ADS_1
Aira tersenyum jahil. "Kalau Erigo makan itu sekarang, aku akan dengan senang hati mengeluarkan tart strawberry dari lemari es sebagai makanan penutup." Godanya.
Erigo hanya tertawa. "Maafkan aku. Aku hanya akan menemanimu makan." Ucapnya bertahan.
Setelah selesai makan, Airez mengambil sebuah bungkusan besar yang dibawanya tadi lalu mengeluarkan sebuah kotak yang cukup besar. "Aku membawa puzzle. Mau menyusunnya bersama-sama?" Tanya Airez pada Erigo.
"Baiklah. Puzzle apa itu?" Tanya Erigo sembari mengamati.
"Puzzle superhero kesukaanku. Keren kan?" Ucapnya bangga.
Erigo dan Aira memperhatikan kotak di tangan Airez. "Kenapa kau membawanya kesini? Kenapa tidak kau kerjakan dirumah?" Tanya Aira.
"Jumlahnya sekitar 1500 buah yang harus disusun. Dan aku tidak bisa membawanya kerumah karena Zora akan marah." Ucap Airez menyedihkan.
Mereka duduk di teras belakang didepan tenda Erigo dengan mengeluarkan meja lipat kecil. Airez dan Erigo tampak mencoba membuka kotaknya. Airez tampak paling bahagia ketika menuang isinya ke atas meja.
Mereka mulai mengerjakannya satu persatu dengan sangat tekun dan teliti. Sementara mata elang Airez terus memindai puzzle di hadapannya. Erigo berkonsentrasi dengan perut kosong.
Aira sendiri tidak mengerti apa yang mereka lakukan, bahkan ia sudah menguap beberapa kali sementara ia tidak diperdulikan baik oleh Erigo maupun kakaknya.
"Jangan tanyakan itu pada orang yang sedang diet." Cetus Aira.
Erigo hanya tersenyum. "Aku lapar, tapi aku tidak bisa makan." Jawabnya lagi.
"Beratmu tidak akan naik hanya dengan makan ayam." Protes Airez.
Erigo menggeleng. "Beratku akan naik jika makan ayam. Aku sangat suka ayam dan aku makan banyak." Jawab Erigo lagi.
Namun Airez berkeras ingin makan ayam dari merek tertentu. Akhirnya ia memesannyamemesannya dalam banyak varian.
Pekerja rumah mereka mengantarkan pesanan Airez. Saat kotaknya di buka, semerbak aroma ayam goreng memenuhi ruangan. Aroma pedas dari ayam asam manis juga membuat liurmu menetes. Selain itu ada ayam yang dilumuri keju leleh yang tampak lezat. Ini tampak seperti surga ayam, namun bencana bagi Erigo.
Airez terus saja menawarinya makan hingga pada akhirnya Erigo menyerah pada godaan di depannya.
__ADS_1
"Aku hanya akan makan satu gigitan." Ucapnya dan mengambil sayap ayam.
Saat potongan ayam masuk ke mulutnya, hal pertama yang terlintas di kepala Erigo adalah rasa enak. Masalahnya, jika sudah makan segigit, kau akan menginginkan lebih. Dan itulah yang terjadi. Erigo tidak bisa menahan diri. Ia menghabiskan sepotong, lalu sepotong lagi, begitu seterusnya ia mencoba berbagai varian rasa. Dia bahkan minum soda yang di bawa Airez.
Aira memelototinya. "Seharusnya kau berhenti setelah satu gigitan." Ucap Aira. Namun keduanya mengabaikan Aira sepenuhnya. Mereka malah sibuk berdiskusi tentang ayamnya yang terasa enak, empuk dan sebagainya.
"Sayang, kau dalam masalah. Seharusnya kau berhenti makan." Ucap Aira lagi.
Airez sebenarnya juga bingung melihat Erigo yang terus makan padahal dia bilang sedang diet. Namun karena sudah terlanjur, Airez akhirnya menyuruh Erigo terus makan. "Habiskan saja semuanya, lalu kita susun lagi puzzle nya." Ucap Airez.
Enam jam berlalu dan mereka masih betah mengerjakannya. Keduanya bahkan bertengkar sesekali lalu tertawa.
Sudah berlalu enam jam sejak Airez datang dan mereka masih berkutat dengan puzzle. Mereka baru menyusun setengahnya karena terlalu sering berhenti untuk makan. Sedangkan Aira mulai lelah melihat keduanya.
Aira membawa turun kedua bayinya untuk makan malam, namun tidak ada tanda-tanda bahwa keduanya akan selesai bermain hingga bayi-bayi tertidur lagi.
Menjadi kesal karena Airez, Aira kemudian menelpon Zora dan menceritakan kelakuan suaminya. "Telponlah suamimu, minta dia pulang, atau sekalian saja kau datang dan seret dia."
Zora tertawa. "Kenapa dia begitu? Akan ku telpon." Jawabnya.
Tak lama setelahnya, ponsel Airez berbunyi. Ia mengaktifkan pengeras suara karena masih asik dengan puzzlenya. "Halo sayang."
"Airez? Apa yang kau lakukan di rumah Aira? Ini sudah terlalu malam." Ucap Zora.
"Aku hanya bermain dengan Erigo." Cetus Airez.
"Kau mengganggunya. Kau mengacaukan dietnya. Oh, malang sekali Erigo. Cepat pulang!" Zora marah.
Erigo memandang Airez dengan tatapan bingung, Airez memandang Aira dengan tatapan menuduh, sedangkan Aira hanya menyeringai jahil pada kakaknya.
"Baiklah aku pulang." Jawabnya sembari memutus sambungan. "Kenapa kau mengadu padanya?" Kata Airez kesal. Ia berdiri dan memasukkan ponsel ke saku celana.
"Karena aku kesal." Jawab Aira tak acuh. "Aku bahkan bilang kau membeli puzzle itu untuk menyiksa suamiku." Jawab Aira dan tertawa.
__ADS_1
"Dasar kau penyihir kejam." Ucap Airez merajuk namun tetap memeluk Aira. "Aku menyayangimu." Ucapnya. Lalu menyalami Erigo. "Maafkan aku soal dietmu."
Nasi sudah menjadi bubur. Keesokan paginya Erigo mengerang ketika menaiki timbangan. "Augh.. kenapa aku melakukannya?" tanyanya pada diri sendiri. "Sial sekali." rutuknya lagi.