
Kei duduk dalam diam di samping Airez dalam penerbangan ke Amerika dengan kelas bisnis. Perbedaan waktu lebih dari 13 jam tidak sedikitpun membuat Kei goyah. Tekadnya sudah bulat. Ia akan meninggalkan semua kenangan di belakangnya dan memulai kehidupan yang baru, di tempat yang baru.
Aira sudah mencoba segala cara untuk membujuknya selama dua hari, tapi Kei benar-benar tidak ingin kembali. Ia sedih atas apa yang telah Devano katakan. terlebih lagi, ia malu atas apa yang telah di lakukannya. Ia akan melupakan Devano selamanya. Setidaknya ia akan mencoba.
Airez menatap Kei di sampingnya. Gadis itu menatap kosong ke luar jendela. Matanya sendu, keceriaannya memudar, semangatnya hilang. Tidak sekalipun gadis itu bicara. "Kei. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Airez khawatir. Aira sudah menceritakan segalanya pada Airez malam sebelum mereka berangkat.
Kei tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja Airez. Trimakasih. Aira pasti sudah menceritakan segalanya padamu." Ucapnya getir. "Aku tidak ingin membahasnya, kalau boleh."
"Tentu saja sayang." Airez mengangguk. "Jangan khawatir Kei, aku ada di pihakmu." Ucap Airez dan hanya dibalas senyuman oleh Kei.
Kei merasa rapuh. Hatinya kosong. Tapi ia berusaha untuk terlihat tegar dan hal itu sangat menguras energinya. Ia merasa ingin tidur, tapi matanya enggan terpejam. Ia ingin melupakan semua yang terjadi beberapa hari lalu, namun otaknya tidak membiarkannya.
Kei mengingat dengan jelas tempatnya, suasananya, dan kata-katanya. Ia bahkan bisa mengulanginya tanpa meninggalkan titik dan koma, lengkap dengan intonasi yang di gunakan Devano saat berbicara. Ia sudah mengulanginya berpuluh-puluh kali dalam kepalanya agar ia tidak ragu-ragu untuk pergi. Pada akhirnya ia menggunakannya untuk memberi dorongan pada dirinya sendiri.
Tidak sekalipun Kei menangis. Entah apa sebabnya tapi air mata Kei seperti mengering di telan sakit hatinya. Meskipun ia ingin sekali menangis, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya soal air matanya yang seakan sudah habis.
Setelah hampir 11 jam perjalanan yang terasa seperti selamanya, akhirnya Kei menginjakkan kakinya di tempat terjauh dari Devano. Jauh dari sumber rasa sakit hatinya. Jauh dari kenangan cinta masa remajanya. Kendati begitu, tiba-tiba air mata bening dan asin mengalir deras membasahi pipinya. Membuatnya sesak dan kebas. Benteng ketegaran yang di pertahankannya selama berhari-hari seketika hancur lebur bersama hatinya yang patah. Ia terisak di dada Airez yang hanya bisa memeluknya.
Airez tidak bertanya, tidak menghakimi. Ia hanya berusaha menenangkannya. "Tidak apa-apa Kei. Menangislah sepuasmu." Ucapnya sambil terus memeluk adik sepupunya.
___________________________________
Lebih dari dua minggu telah berlalu sejak kejadian tidak mengenakkan di villa. Hari yang seharusnya membahagiakan karna merayakan kesuksesan duetnya dengan Kei, seketika berubah menjadi bencana. Kei menghilang dan Erigo tidak lagi berbicara padanya di luar urusan pekerjaan.
Devano terpaku melihat salinan jadwal bulanan para artis Mousent. Matanya menatap nanar pada jadwal Kei Monita. Tidak ada apa-apa disana hingga bulan depan bahkan sampai akhir tahun. Devano kebingungan.
Sudah berminggu-minggu ia mencoba menghubungi Kei, mengirim berpuluh-puluh pesan permintaan maaf, bahkan bertanya pada manajernya. Ponselnya tidak aktif, Kei tidak berada di asrama maupun di apartemennya. Manajernya hanya bilang tidak tahu keberadaannya yang dirasa Devano tidak mungkin.
Devano sudah mencoba bertanya pada Aira, tapi gadis itu juga menolak memberi tahunya. Devano merasa kesal sendiri.
__ADS_1
Devano tidak pernah menyangka bahwa kehilangan Kei lebih mengganggunya dari pada saat Kei membuntutinya.
Devano mulai murung, suasana hatinya memburuk. Keberadaan Kei selama beberapa bulan disisinya ketika mengerjakan proyek bersama, secara perlahan membuatnya terikat pada gadis itu tanpa disadarinya. Bahkan ketika ia mengira bahwa melihat Aira berjalan mesra di samping Erigo membuatnya kecewa dan marah, ketiadaan Kei di sekitarnya malah membuatnya lebih kecewa dan lebih marah.
Bagian terburuknya tiba saat ia menghabiskan malam-malam mengingat kebersamaannya dengan Kei. Ia mulai merindukan gadis itu. Merindukan senyumnya, keceriaannya dan semangatnya.
Bagaimana mungkin ia pernah berfikir bahwa Kei adalah pengganggu?
Dia memang pantas di benci karna kata-katanya terhadap Kei. Devano menyadarinya dan ia semakin membenci dirinya sendiri.
Belum lagi masalahnya dengan sahabatnya, Erigo, yang membuat mereka terlibat perang dingin selama beberapa minggu ini. Ia merasa lebih baik jika Erigo memukulnya saja. Kepalanya sudah berdenyut memikirkan betapa bodoh dirinya.
Winne melihat perubahan sikap Devano yang mencolok. Ia merasa kasihan, namun di sisi lain, Kei meminta agar tidak ada satu orangpun yang memberitahukan pada Devano kemana gadis itu pergi. Kei benar-benar ingin menghilang dari kehidupan Devano.
___________________________________
"Aku ingin kita membicarakan hal ini sekarang sebelum segalanya menjadi kacau" Ucapnya tegas. "Siapa yang ingin bicara duluan?" Tanyanya.
"Aku membencimu." Ucap Erigo langsung.
"Trimakasih. Itu sangat melegakan." Ucap Devano sinis.
Mata Erigo menyipit. "Aku sangat ingin memukulmu." Cetus Erigo.
"Kau boleh melakukannya." Ucap Devano menantang.
Erigo tersenyum miring. "Tidak. Aku tidak akan mencoba meringankan perasaan bersalah mu dengan cara memukul mu. Kau pantas tersiksa karna kebodohanmu sendiri." Ucap Erigo lagi.
Devano terkekeh frustasi. "Kenapa? Kenapa kau tidak mau memukulku, hah? Pukul saja aku. Pukul aku!" Devano berteriak marah. Ia membalikkan meja kecil yang memisahkan antara dirinya dan Erigo.
__ADS_1
Devano menarik kerah Erigo "Kau memperumit hidupku Erigo. Gara-gara kau, aku kehilangan Aira. Dan sekarang aku kehilangan Kei. Aku membencimu Erigo. Ini semua membuatku gila!!"
Erigo melepas paksa cengkraman tangan Devano padanya dan melayangkan pukulan keras di rahang sahabatnya. "Kau bodoh Dev!" Ucapnya marah.
Devano membalas pukulan Erigo di tempat yang sama. "Aku tau, sialan!" Ucapnya.
Mereka saling cengkram, saling dorong, saling memaki dan saling pukul beberapa kali. Hingga akhirnya Yansen dan Toddy melerai keduanya. Mereka sudah cukup meluapkan kekesalan masing-masing. "Berhentilah kalian sialan. Bahkan tubuh kalian lebih besar dariku, :_!-_)#-_." Yansen mengumpati keduanya.
Devano duduk dilantai menghapus darah di sudut bibirnya. Ia terkekeh "Itu membuatku merasa lebih baik." Ucapnya terengah-engah.
"Sialan kau Devano. Aku juga merasa lebih baik." Ucap Erigo yang memegang lututnya sambil mengatur pernafasannya. Ia membantu Devano berdiri.
Yansen terus saja mengumpat melihat dua orang itu berbaikan setelah baku hantam. Sementara Toddy mentertawakan keduanya yang babak belur.
"Apa yang akan kalian lakukan dengan wajah memar itu, dasar gila." Ucapnya.
Erigo mengerang memegang tulang pipinya yang terasa sakit. "Sial. Aira akan mengomeliku habis-habisan." Ucapnya.
"Aku akan mengadukan tingkahmu padanya, jadi dia akan berpaling padaku." Ucap Devano.
Erigo memandangnya "Kau mau mati?" Tanyanya dan langsung mengumpat pada Devano.
Toddy dan Yansen tergelak sementara Erigo dan Devano hanya bisa terkekeh kecil karena seluruh wajahnya sakit.
Devano memandang Erigo. "Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanyanya pelan.
"Soal apa?" Tanya Erigo tidak mengerti.
"Soal Kei"
__ADS_1