
Aira duduk diam sepanjang perjalanan pulang kerumah bersama ayah dan ibunya. Begitu pula saat tiba di rumah, Aira langsung naik ke kamarnya. Ibunya menyusul, namun tidak dengan ayahnya. Frans tampaknya masih kesal.
"Aira, bagaimana kepalamu sayang? Apa masih sakit?" Tanya ibunya khawatir.
Aira duduk di tepi tempat tidurnya. "Tidak ibu, ini hanya luka kecil" Ucapnya memaksakan senyum. Tangannya menyentuh plester kecil di pelipisnya secara alami. Sebenarnya itu kebiasaan yang timbul akhir-akhir ini saat ia merasa hidupnya semakin rumit.
Ibunya duduk di samping Aira. "Sebenarnya apa yang terjadi sayang? Apa hubunganmu dengan artis itu?" Tanya ibunya lembut.
Aira menjelaskan segalanya pada ibunya.
Ibunya mengelus rambut Aira yang sudah lebih panjang sejak terakhir ia berada di kamar ini. "Apa dia baik padamu?".
Aira mengangguk. "Tentu saja" ucapnya.
"Apa kau mencintainya?" ibunya menatapnya lekat.
Aira berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona. "Aku tidak tau" jawabnya.
"Aira sayang, cinta itu sangat rumit, kau kadang akan melupakan akal sehatmu agar bisa bersama-sama dengan orang itu. Tanpa kau sadari, malah kau sendiri yang tersakiti." ucap ibunya lembut.
"Jika kau benar mencintainya, apakah kau akan bertahan melewati semua yang terjadi? Dengan ketenaran yang dia punya dan banyaknya orang yang melawanmu? Apa kau yakin kau akan baik-baik saja?"
Mata Aira berkaca-kaca. Bohong sekali jika ia bilang bahwa ia baik-baik saja. Aira tertekan dengan segala pemberitaan media dan banyaknya orang yang menghujat dirinya.
"Tapi bukan dia yang menyakitiku ibu." ucap Aira pelan.
Ibunya mengerti.
Tidak lama setelahnya, ayah Aira masuk ke kamarnya. Dengan tegas ayahnya mengatakan bahwa ia harus keluar dari pekerjaanya dan memutuskan hubungannya dengan Erigo.
Aira ingin membantah, tapi ibunya mencegah Aira.
"Ibu akan bicara pada ayahmu." ucap ibunya menenangkan.
Ibunya memeluk Aira sebentar, sebelum keluar kamar, ibunya berbalik. "kau tau Aira, pria-pria di rumah ini berwatak sama. Mereka posesif pada wanita yang mereka cintai. Jadi mengertilah sayang" ucapnya tersenyum lalu keluar.
_________________________________
Aira duduk di depan jendela kamarnya. Menarik nafas berat, menatap jauh diluar pagar tinggi kediaman Zuma.
Seminggu terakhir ini, begitu banyak peristiwa yang terjadi dengan sangat cepat dan ia belum sempat menstabilkan mental dan emosinya. Ia hanya bisa menangis.
Keputusan sudah bulat. Aira kembali ke rumah. Kembali pada kehidupannya. Meninggalkan apartemen, meninggalkan pekerjaan dan meninggalkan kemandirian yang di idam-idamkannya.
__ADS_1
Ayahnya marah besar. Seorang putri dari Frans Maxim Zuma, pendiri Agensi Mouse Entertainment, di tuduh menjadi selingkuhan seorang artis dari agensinya sendiri. Betapa memalukan imej yang melekat pada putrinya yang berharga. Tidak peduli seberapa banyak penjelasan yang Aira utarakan, ayahnya tidak bersedia mendengarkan.
Pintu kamar Aira terbuka, ia berdiri menyambut Winne yang langsung menghambur masuk lalu memeluknya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Winne khawatir. Sudah 3 hari Aira terkurung dirumahnya.
"Kau membuat kehebohan besar di perusahaan. Semua orang membicarakanmu." Ucap Winne.
Aira kembali menangis. Dadanya terasa sesak. "Mereka melabeli ku dengan sebutan-sebutan yang buruk, dan aku bahkan tak bisa menjelaskan apapun untuk membela diriku sendiri" Ucap Aira lemah.
Winne mempererat pelukannya. "Aku kan sudah bilang, jangan membaca komentar-komentar seperti itu."
Pintu kamar Aira terbuka, langkah kaki berat memenuhi ruangan. Aira menoleh dan melihat Airez berdiri disana.
Aira melepaskan pelukan Winne dan langsung berlari ke pelukan Airez.
"Airez.. " Teriak Aira. "kau pulang." Ucapnya.
Airez memeluk erat adik perempuan kesayangannya.
"Aku pulang gara-gara kau" Ucapnya setengah marah.
"Hai Anantha" Tegurnya ramah dan mencium pipi Winne sekilas. Butuh lebih dari tiga hari bagi Airez untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang. "Sekarang aku berjuang melawan jetlag" Ucapnya lagi.
"Tidak. Aku harus ke Mousent. Ada yang harus ku lakukan" Ucapnya.
"Kau mau apa kesana?" Tanya Aira curiga.
"Aku mau mematahkan hidung seseorang yang membuat adikku menangis" Jawab Airez sambil menghapus sisa-sisa air mata Aira.
Aira terdiam memandang kakaknya. "Apa maksudmu?" Tanyanya.
Airez mengangkat bahu acuh tak acuh, menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur Aira. "Pertama, Kau tak bisa menyembunyikan apapun yang terjadi di agensi. Kantor pusat tetap akan mengetahuinya. Apalagi sesuatu yang di siarkan di media." Airez menatap Aira.
"Kedua, Winne sudah mengatakan segalanya padaku. Soal kau dan Erigo, lalu si sinting Moza." Ucapnya lagi.
"Winne?" Aira cukup terkejut mendengarnya. Ia berbalik menghadap Winne yang hanya tersenyum. Aira memutar bola matanya dan kembali menghadap Airez.
Aira sangat mengenal watak kakaknya. Dulu, jika ada pria yang mendekati Aira, Airez tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia akan membuat pria-pria itu ketakutan. Sekarang juga sepertinya tidak berbeda.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Jangan bertindak konyol. Katakan dulu padaku."
Airez mengangkat telunjuknya. "Pertama, Aku akan memaki direktur cabangmu yang tampaknya tidak terlalu berkompeten, lalu memaki kolega yang bergosip tentangmu, lalu meninju laki-laki yang menciummu, dan terakhir akan aku hancurkan wanita itu. Moza__harusnya sudah ku hancurkan sejak dulu" Ucap Airez berapi-api.
__ADS_1
Winne menganga, sedangkan Aira mengerjap gugup. "Dengar, aku tak perduli dengan yang lainnya, tapi ku ingatkan padamu, Erigo bukan masalahnya" ucapnya tegas.
Airez duduk tegak. "Sayang sekali, aku tidak perduli itu. Aku hanya ingin kau membersihkan kembali namamu, menegaskan lagi statusmu, dan aku bisa menyingkirkan Moza___dan laki-laki itu juga" Ucap Airez acuh tak acuh.
"Tidak. Kau tidak bisa melampiaskan kesalahan yang di buat seseorang, kepada orang yang lainnya" Cecar Aira. Ia selalu membenci sifat posesif Airez.
Airez mengatupkan bibir melihat perlawanan Aira. Ia menatap Aira tegas. "Bagiku sama saja. Jika kau tidak berhubungan dengan laki-laki it__"
"Namanya Erigo" Potong Aira.
"Persetan dengan namanya!!" Airez naik pitam. Ia tidak suka pada fakta bahwa adiknya punya hubungan romantis dengan seorang pria. Terlebih lagi itu Erigo yang dikenal playboy. Ia membencinya.
"Kenapa kau membentakku?!" Tanya Aira sengit.
Airez bangkit berdiri, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi cukup sudah bagi Winne mengamati pertengkaran kakak adik yang tak akan ada ujungnya ini.
"Hentikan, kalian berdua. Jangan bersikap kekanak-kanakan" Ucap Winne menengahi.
Aira dan Airez saling tatap tanpa mau berkedip. Siapa berkedip, dia pecundang. Winne terus bicara tanpa mengacuhkan mereka.
"Apa yang salah dengan Erigo? Dia sangat baik kepada Aira."
"Dia playboy" Ucap Airez datar masih memelototi Aira.
"Hanya kau yang suci rupanya." Sinis Aira.
"Asal kau tau, dia sudah mencium banyak wanita sebelum kau" Ucap Airez dengan nada yang menyebalkan.
Aira mengangkat dagunya "Sebaiknya kau mencobanya" Cetus Aira mengangkat sebelah alisnya.
Bola mata Airez bergetar. "Aku baik-baik saja tanpa wanita, dan aku akan melakukannya hanya dengan orang yang pantas" Ucap Airez.
Ia sedikit tersinggung pada fakta bahwa ia belum pernah mencium perempuan manapun. Tapi itu pilihannya sendiri.
"Aku akan memintanya untuk meninggalkanmu" Ucap Airez lalu pergi meninggalkan Aira dan Winne yang menganga tak percaya.
"Iiissss... Menyebalkan sekali. Pantas saja dia tidak pernah punya kekasih" Caci Aira. Ia memakinya dengan kata-kata yang pernah di dengarnya dari Winne. Untung saja Airez tidak mendengarnya.
Winne tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran mereka yang kekanak-kanakan. Terlebih melihat bola mata Airez yang goyah ketika di serang oleh kata-kata Aira.
"Ku rasa Airez akan jadi pacar yang menyebalkan untuk seorang gadis yang malang" Cetus Winne membuat keduanya terbahak-bahak.
"Tunggu saja sampai dia menemukan seseorang yang ingin di ciumnya. Mulutnya pasti akan bekerja keras seperti penyedot debu" ucap Aira konyol. Hari ini untuk pertama kalinya ia tertawa lepas setelah mengalami minggu yang buruk.
__ADS_1