
Setelah hampir seminggu, akhirnya besok Aira bisa bersantai selama akhir pekan karna tidak ada kegiatan yang melibatkan Devano maupun Erigo.
Erigo bicara padanya di ruang ganti saat membantu melepaskan beberapa aksesoris. "besok tidak ada jadwal kan?" Ucapnya.
"Tidak..." Jawab Aira tersenyum.
"Baguslah.. Pastikan kau beristirahat. Kau harus mendapatkan lagi energimu" Kata Erigo.
Aira mengangguk setuju.
Erigo berkata sangat pelan hingga hanya Aira yang bisa mendengarnya "Sebaiknya kau berjanji tidak akan keluyuran sampai sakit dan membuatku merawatmu lagi" Erigo menaikkan alisnya.
"Baiklah.. Aku akan menempel di kasurku" Bisik Aira tertawa.
Erigo ikut tertawa "kau juga harus makan agar bertambah tinggi" Kata Erigo lagi dengan nada biasa.
Aira memonyongkan bibirnya "jangan menghina.. Aku akan membeli sepatu dengan sol tinggi di dalamnya" Ucap Aira dan mereka tertawa.
Devano masuk ke ruangan, menatap Erigo dan Aira yang tampak lebih akrab daripada yang ia kira. "Apa yang kalian tertawakan?" Tanyanya.
Aira mendongak ke arah Devano yang baru datang dan mentunggingkan senyum. "Bukan apa2" Jawab Aira. "Aku akan membantumu melepas aksesoris" Ucapnya lagi.
Erigo pergi meninggalkan Aira dan Devano. "Aku akan pulang duluan" Katanya.
Devano sudah lama memperhatikan Aira namun tidak punya kesempatan untuk menanyakan keadaannya. Iamenunduk menatap Aira. "Kau baik2 saja?" Tanya Devano.
Aira mengangguk "mmm... Aku baik2 saja. Kenapa memangnya?" Tanya Aira.
"Kau sedikit pucat akhir-akhir ini" Ucap Devano lagi. "Kau makan teratur?" Tanyanya.
Aira mengangguk lagi "mmm...Tentu saja aku makan teratur" Jawab Aira masih berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Aira tidak juga mengangkat kepalanya membuat Devano gemas. "Apa yang akan kau lakukan besok? " Tanya Devano sembari melepaskan cincin dijarinya. Ia mengambil tangan Aira dan menyerahkan cincin tsb.
Binggo. Aira akhirnya mendongak menatap Devano "Aku belum memikirkan apapun untuk ku kerjakan" Jawabnya.
Devano hanya menatap Aira. Ia menimbang-nimbang apakah akan mengajak Aira pulang sama-sama, atau tidak.
Keheningan terasa tidak nyaman sampai Aira berdeham. Ia melepaskan genggaman Devano. "aku akan pulang" Ucap Aira mencoba menghindari tatapan Devano yang membuatnya gugup.
Devano menahan tangan Aira lagi. "Mau pulang sama2? " Katanya.
Kalau saja media mendengarnya, mereka akan berpesta pora dengan apa yang sudah dilakukan Devano. Gosip akan segera berputar-putar disekelilingnya. Devano sendiri bukanlah orang yang sering terlibat dengan lawan jenis. Masalahnya, Gadis yang sedang berdiri didepannya punya pesona yang sulit untuk ditolak.
Aira sejenak terdiam menimbang resiko yang akan di tanggungnya. "aku rasa kita tidak bisa melakukannya.. Ada banyak orang diperusahaan, juga diluaran sana. Kau harus hati2 sebelum perilisan album" Ucap Aira berusaha tidak membuat Devano tersinggung.
__ADS_1
Tepat sekali. Tapi Devano tetap kecewa. "kau menolakku lagi Aira"
Aira menunduk "maafkan aku.. Aku tak bermaksud begitu.." Ucap Aira tak enak hati.
"Tapi kau begitu" Ucap Devano.
Aira memiringkan kepalanya menatap Devano "aku harus menjauhkanmu dari gosip media". Aira menggigit bibirnya. "Tolong mengertilah" Pinta Aira.
Aira ada benarnya. Devano harus berhati2 sebelum album keluar. "Tidak masalah. Aku mengerti" Jawab Devano. "Pulanglah.. " Ucapnya lagi.
________________________________________
Malam itu Aira pulang ke rumah, tangannya penuh dengan kantong belanja berisi cemilan kesukaannya. Tapi ia mengendus samar aroma wangi yang familiar. Aroma ibunya. Sepertinya tadi ibunya kesini dan masuk tanpa ijin. Aira menghela nafas panjang dan memonyongkan bibirnya.
Ibunya terkadang bersikap berlebihan hanya karna Aira adalah anak perempuan satu-satunya.
Ia meletakkan barang belanjaannya di meja dapur dan segera menelfon ibunya.
"Hai ibu?" Ujarnya riang.
"Hai sayang. Apa kabarmu Aira? Kapan kau akan berkunjung?" Tanya ibunya di seberang telfon.
"Aku pasti akan kesana ibu" jawabnya sopan. "Apa ibu tadi ke apartemenku?" Tanya aira langsung tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
"Ibu tau aku tak menyukai bila ibu menerobos rumahku kan?" Ucap Aira merajuk.
"Ibu tidak kesana Aira" Ibunya masih berkeras.
"Benarkah? Lain kali coba jangan pakai parfum berlebihan jika akan membobol rumahku.." Ucap Aira kesal.
Hening sebentar sebelum ibunya tertawa "ahahaaha... Apa ibu ketahuan? Apa ibu terlalu wangi? Ahhh sebaiknya ibu ganti merek parfumnya.." Ucap ibu Aira.
Aira memijit pelipisnya. "Ibu ayolah..." Ucapnya mulai merajuk lagi.
"Sayang, memang apa salahnya jika ibu kesana? Lagipula Ibu tidak membobolnya" Ucap ibu Aira lagi. "jangan marah sayang.. Ibu hanya memeriksa sesekali" Katanya lagi.
"Aku sudah dewasa ibu, kenapa ibu harus memeriksa tempat tinggalku?" Ucap Aira.
"Baiklah..jangan marah lagi" Ucap ibu Aira mengalah.
"Pokoknya ibu tidak boleh datang tiba2 dan masuk tanpa ijinku" Ucap Aira. "Jangan datangi aku.. Aku yang akan kesana" Ucapnya lagi.
"Memangnya apa yang kau sembunyikan disana sampai ibu tidak boleh datang tiba2 sayang?" Tanya ibu Aira.
"Aku menyembunyikan pria!!" Jawab Aira asal lalu menutup ponselnya. Aira tertawa membayangkan reaksi ibunya sekarang.
__ADS_1
Sementara itu ibu Aira yang terkejut langsung mengomelinya. Lebih tepatnya mengomeli ponselnya sendiri. "Dasar anak nakal' ucapnya tersenyum.
_______________________________________________________________
Aira menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menonton tv dan bermalas malasan sampai ia merasa bosan. Aira duduk meringkuk di kursi jendela di apartemennya, lengannya memeluk lututnya yang di tekuk seraya memandang langit sore yang cerah. Ia memutuskan untuk keluar rumah berjalan2 ke taman terdekat. Sudah lama sekali ia tidak kesana.
Aira berganti pakaian santai, kaos lengan pendek dengan celana jeans, sepatu, kacamata dan topi pet merah mudanya.
Sudah lama ia tidak menggunakannya.
Sejak Devano tau bahwa Aira tinggal di depan rumahnya, Aira tak pernah lagi membawanya di dalam tas.
Sekarang Aira menggunakannya lagi untuk berjalan2 di taman.
Aira menghabiskan 2 jam diluar rumah, membeli jajanan pinggir jalan dan memakannya di taman sambil melihat beberapa anak bermain diawasi oleh orangtuanya. 'Ini menyenangkan' pikirnya. Aira mendesah 'aku harus pulang dan memasak makan malam' pikirnya lagi. Jika di rumah ibunya, mungkin Aira tak akan bersusah payah memasak makanan. Ada pengurus rumah yang menyiapkan segalanya untuknya. Tapi hanya akan membuatnya menjadi anak manja yang payah.
Dengan berat hati Aira menyeret kakinya pulang.
Aira menunggu di depan lift bersama beberapa penghuni lain sambil menunduk memainkan ponselnya. Ia masuk setelah lift terbuka dan menekan angka 7. Lift berhenti beberapa kali di lantai sebelumnya. Kini tersisa Aira dan seseorang lainnya. Aira terlalu fokus pada ponselnya hingga tidak menyadari bahwa orang tsb adalah Devano.
"Kau mau bersembunyi dari siapa kali ini?" Tanya Devano mengejutkan Aira.
"Ooowwhh kau mengagetkanku!!" Ucap Aira membelalak. Suara rendah milik Devano terasa menyeramkan di lift yang sepi. "Aku tak bersembunyi dari siapapun" Ucap Aira. "Kenapa memangnya?“ tanyanya lagi.
Devano menggedikkan dagunya menunjuk topi yang Aira kenakan.
"Aahh.. Aku hanya ingin memakainya" Jawab Aira nyengir menyipitkan matanya. Mereka keluar dari lift dan berjalan bersama menuju pintu rumah masing2.
"Kau baru pergi ke taman?" Tanya Devano.
"Oo.. Benar sekali.. Tau darimana?" Tanya Aira.
"Kau membeli jajanan pedas?" Tanya Devano lagi.
"Itu benar juga.. Kau tau darimana?" Tanya Aira penasaran.
Devano menekan passcode pintunya. Sebelum masuk, dia berkata "ada sesuatu di gigimu nona" Lalu devano tertawa keras dan menutup pintu meninggalkan Aira yang menatapnya dengan kesal dan terlebih lagi, Aira malu.
Aira masuk membanting pintu. Ia melepas topinya dan mengacak rambutnya sendiri "sial sekali... Issshhh..." Rengeknya.
Aira melangkah ke cermin besar di depannya lalu menyeringai melihat deretan giginya. Benar saja, Ada potongan cabe merah yang cukup mencolok disana. Ya Tuhan, Aira ingin sekali tanah dikakinya terbelah dan menelannya.
"Issshhh... Memalukan" Rengeknya lagi lalu mendelik ke pintu depan mencoba melayangkan tatapan sedingin es menembus dinding "harusnya kau pura2 tidak melihatnya, dasar menyebalkan" Ucap Aira mengutuk.
Sementara itu Devano masih tertawa mengingat ekspresi Aira. Baginya mengganggu Aira merupakan hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan.
__ADS_1