Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 35


__ADS_3

Pantai di musim dingin mungkin bukan ide yang bagus bagi kebanyakan orang. Namun bagi mereka yang hidupnya selalu tersorot kamera, pantai yang sepi di musim dingin adalah tempat terbaik yang bisa di datangi.


Debur ombak dan aroma laut memenuhi paru-paru mereka. Erigo dan Aira berjalan-jalan di tepian pantai sambil sesekali bercanda. Tidak ada banyak orang yang berada disana membuat mereka merasa aman. Hanya beberapa wanita tua yang melintas dan tersenyum ramah kepada keduanya.


Melihat hal itu, Erigo memutuskan untuk mengambil sedikit resiko dengan mengajak Aira berkeliling di salah satu pasar tradisional di daerah itu. Aira sedikit ragu-ragu namun ia mengangguk setuju.


Pasangan itu menikmati hari dengan membeli jajanan pasar dan beberapa pakaian 'biasa'. Aira berlama-lama memilih beberapa pakaian murah dan memadu padankannya menjadi tampilan yang berbeda dan terlihat fashionable. Erigo membiarkannya melakukan apa yang ia suka dan hanya tersenyum mengagumi kekasihnya. Aira juga memilihkan beberapa pakaian untuk Erigo yang menurutnya cocok.


Tak terasa semburat jingga melukiskan pesonanya yang indah di atas langit mengantarkan malam. Sementara Aira menikmati sunset dalam rengkuhan tangan Erigo yang posesif. Saat ini tidak seorangpun di antara mereka yang ingin pulang. Erigo yang terlebih dulu mengusulkan. "Kau mau menginap?" Tanyanya.


Aira memandang sekelilingnya. "Disini ada hotel?"


Erigo mempererat dekapannya. "Tentusaja tidak ada tuan putri." Erigo terkekeh. "Tapi ada beberapa penginapan kecil." Ucapnya lagi.


Aira masih ragu-ragu dalam dekapan Erigo. "Aku lapar, dan di sana mereka menyediakan makanan. Aku juga lelah, mereka menyediakan tempat untuk istirahat. Dan kita punya banyak pakaian ganti yang kau beli tadi." Ucap Erigo lagi. "Aku tidak punya jadwal untuk bekerja selama 3 hari. Bagaimana menurutmu?" Tanyanya.


Aira menggigit bibirnya. Mereka memang lapar, dan juga lelah. "Baiklah." Putus Aira. Lagi pula tidak ada seorangpun yang akan mengenali mereka di tempat ini.


Mereka masuk ke warung kecil yang menyediakan makanan dan juga penginapan. Seorang wanita tua keluar untuk menyapa. Mereka memesan makanan yang tersedia di menu. Aira dan Erigo menanti dengan sabar saat menunggu makanan mereka di hidangkan.


Sekarang sajian makanan laut berada di depan mereka. Aira tersenyum ketika teringat saat pertama kali Erigo ke apartemennya membawakan hidangan laut untuknya. Ia teringat setelahnya mereka berdua bersembunyi di dalam lemari. Lalu ia teringat saat Erigo mencuri ciuman pertamanya.


"Aku penasaran apa yang ada dalam kepala kecilmu itu sampai kau tersenyum-senyum sendiri." Ucap Erigo.


Aira menoleh. "Oh bukan apa-apa. Hanya teringat sesuatu."


Erigo menopangkan dagunya di sebelah tangan dan menatap Aira. "Biar ku tebak. Kau ingat saat aku membawakan makanan laut ke apartemenmu."


Aira meliriknya.


"Oh.. Kita juga bersembunyi dalam lemari karna ibumu menerobos masuk." Ucap Erigo lagi dan terkekeh.


Aira terkikik. "Ibuku tidak menerobos sayang, dia masuk dengan anggun." Cetus Aira.


"Baiklah. Aku setuju." Erigo membasahi bibirnya. "Boleh aku bertanya sesuatu? Aku sangat penasaran." Ucapnya.


"Kau mau tanya apa?" ucap Aira menatap Erigo.


"Saat itu, di rumahmu__di kamar__setelah kita keluar dari lemari. Apakah itu ciuman pertamamu?"

__ADS_1


Aira menatap mata Erigo yang berkilat-kilat. "Mmm.. " Ucapnya mengangguk. Wajahnya seketika merona. Aira cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


Erigo tersenyum. "Pantas saja." Ucapnya.


"Apanya?"


Erigo menegakkan duduknya mencari posisi nyaman. "Waktu itu kau terlihat sangat terguncang. Aku bahkan takut kau akan pingsan." Ucap Erigo.


Aira mengangguk. "Itu karna aku tidak menduganya." Ucap Aira jujur.


"Kalau begitu, terimakasih." Ucap Erigo.


"Untuk apa?"


"Karna kau telah memberikan ciuman pertamamu untukku." Erigo tersenyum.


Aira tergelak. "Aku tidak memberikannya. Kau mencurinya dariku." Cetus Aira.


Erigo tertawa. "Kalau begitu, maafkan aku tuan putri, tapi aku tak pernah menyesal telah menciummu. Kurasa itu hal terbaik yang pernah ku lakukan."


Aira tertawa. "Ciuman itu merubah segalanya dalam hidupku, kau tau. Aku bimbang karna Devano, tapi kau memberiku kejelasan."


Erigo mencium bibir Aira sekilas. "Jangan bawa-bawa namanya malam ini. Ayo makan, aku lapar sekali." Erigo mengupas kulit udang dan menaruh seekor udang besar di piring Aira. Lalu kepiting, kerang, ikan yang semuanya terasa nikmat. Mereka makan sampai kekenyangan.


"Tentu saja. Kalian mau menginap?" Tanyanya ramah.


"Iya kalau boleh." Ucap Erigo sopan.


"Tentu saja boleh. Aku sangat senang. Kalian adalah pelanggan pertamaku dalam satu bulan ini. Karna cuaca dingin tidak menarik orang ke pantai, akhir-akhir ini sangat sepi." Ucapnya lagi sambil menunjukkan jalan ke arah kamar yang tersedia. "Kalian bisa tidur disini. Aku membersihkannya setiap hari. Jadi jangan khawatir." Ucapnya lagi sambil tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Trimakasih bibi." Ucap Erigo.


"Sama-sama dan oh iya__mesin kopi ada di luar jika kalian membutuhkannya." Ucapnya lagi sebelum berlalu.


Ruangannya lumayan luas dengan kamar mandi di dalam. Di lengkapi pendingin ruangan yang tidak mereka butuhkan, selimut tebal, bantal dan tempat tidurnya__'sangat kecil' pikir Aira. Untuk dirinya sendiri itu cukup luas, tapi bagaimana dengan Erigo?


Aira mengerjap lalu mengarahkan pandangannya ke lantai. Dia bisa tidur dibawah, pikirnya lagi. Atau aku yang di bawah?


Tanpa sadar Aira menghembuskan nafas frustasi.

__ADS_1


Erigo menatapnya dan tersenyum "Aku hampir mendengar isi pikiranmu sayang, tapi sebaiknya bersihkan dulu dirimu agar kita bisa tidur dengan nyaman." Ucapnya.


Erigo menyadari perubahan di wajah Aira. "Ijinkan aku menjelaskan kata 'tidur'. Iya, tidur yang hanya tidur. Karna besok pagi kita akan kembali dan aku harus menyetir. Jadi enyahkan tatapan itu. Aku bukan orang jahat yang akan mengambil keuntungan darimu. Aku pernah mendengar seseorang akan mengulitiku hidup-hidup jika aku menyentuhmu. Jadi, kumohon." Erigo terkekeh.


Aira langsung masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya membuat Erigo terbahak-bahak.


Mereka membersihkan diri bergantian dan Aira sudah berganti pakaian dengan yang lebih bersih dan nyaman. Ia duduk di ujung tempat tidur dengan perasaan campur aduk. Aira sedikit terkejut ketika Erigo keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Ia memakai pakaian yang tadi mereka beli di pasar dan itu sangat cocok untuknya.


Erigo menatap Aira yang tampak gugup. Aira sendiri tampaknya tidak tau mau melihat ke arah mana. Hal itu membuat Erigo tersenyum. "Kau gugup."


Aira berdehem karena merasa kerongkongannya kering. Pandangannya tertuju ke lantai. "Aku akan tidur di bawah. Kau bisa memiliki kasurnya." ucapnya yakin.


Erigo menatapnya tajam. Ia tidak suka ide itu. "Tidak ada seorangpun dari kita yang akan tidur di bawah Aira. Kita berdua akan tidur di atas tempat tidur. Kau dan Aku." ucapnya tegas.


Aira beringsut panik. "Aku__aku tidak akan bisa tidur di situ." ucapnya berdiri dan menuding tempat tidur kecil yang baru saja di dudukinya. Dengan kau yang berbaring di atasnya, pikir Aira yang tak bisa di ucapkannya.


Erigo membasahi bibirnya. "Kau ingat tadi aku bilang apa? Kita hanya akan tidur Aira, tanpa melakukan apapun. Jadi sekarang naiklah ke tempat tidur dan biarkan aku beristirahat." ucapnya dengan sabar. Ia sangat memahami bahwa Aira ketakutan.


Aira tidak beranjak dari tempatnya hingga Erigo menariknya pelan dan menyuruhnya duduk di sisi kiri tempat tidur yang lebih dekat ke arah pintu keluar. Lalu Erigo berputar mengambil sisi sebelah kanan. Ia sedang tidak ingin berdebat.


Aira bisa merasakan kasurnya melesak ke dalam ketika Erigo berbaring terlentang di belakangnya. Seketika bulu kuduknya meremang.


"Tidurlah." perintah Erigo. "Aku tidak mengunci pintunya jadi kau bisa kabur kapan saja." Erigo melipat tangannya di dada.


Aira sedikit tenang dan berbaring perlahan memunggungi Erigo lalu menarik selimut sampai ke dagu. Mereka terdiam tepat satu menit lalu tiba-tiba Erigo memiringkan tubuhnya menghadap Aira. Menyelipkan sebelah tangannya di bawah kepala Aira dan sebelah lagi memeluk pinggang ramping Aira di bawah selimut. Lengan Erigo menariknya merapat hingga punggungnya menempel di dada Erigo.


"Maafkan aku, aku tak bisa menjaga tanganku tetap jauh karna kau terlalu dekat, tapi aku janji tidak akan melakukan apapun yang tidak kau inginkan." bisik Erigo.


"Kau bilang aku boleh kabur." ucap Aira. Tapi dia tidak melakukannya.


Erigo terkekeh pelan di telinganya. "Aku mengunci pintunya dengan aman." bisiknya lagi.


"Kau bilang tidak menguncinya." Aira memprotes.


"Aku tidak akan tenang jika tidur dengan pintu tak terkunci. Di dunia ini ada yang namanya maling, sayang." Erigo terkekeh pelan.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" tanya Aira. Ia bisa merasakan napas Erigo di bahunya dan ia tau Erigo sedang tersenyum.


"Pejamkan matamu sayang, karna aku juga akan melakukannya. Selamat malam tuan putri." ucap Erigo dengan suara berat karna dia sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


Setelah dua menit Aira merasakan napas Erigo yang teratur menandakan bahwa pria itu sudah tidur. Aira menyesuaikan posisinya yang entah mengapa terasa tepat dan tidak butuh waktu lama, ia pun jatuh tertidur dalam pelukan Erigo.


______________________________________


__ADS_2