Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 69


__ADS_3

Aira keluar dari kamar bayi setelah menidurkan Aelius dan Aeliana, ia lalu turun ke lantai bawah dan menemukan Erigo sedang duduk sendirian di ruang tamu. Aira duduk disamping Erigo, melihat baki kopi di atas meja, Aira bisa tau bahwa Erigo belum meminumnya sama sekali. Aira lalu menuang secangkir kopi dan menyerahkannya pada Erigo.


Erigo mengenakan sweater putih dan jins, rambutnya masih terlihat sedikit basah karena habis mandi. Aira bisa mencium aroma segar dari tubuh Erigo, tapi ekspresi muram di wajahnya sangat bertolak belakang dengan aura segar yang dilihat Aira. "Apa yang mengganggumu?" Tanya Aira tidak yakin. Suaminya sudah begitu sejak dia bicara pada Jun siang tadi. Aira tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh helaian rambut Erigo yang lembab.


Erigo menyesap kopinya sedikit lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. Ia meraih jemari Aira dan menggenggamnya. Erigo kemudian menoleh untuk menatap Aira. "Kurasa Jun punya pacar." Cetusnya kemudian. "Setidaknya dia sepertinya sedang dekat dengan seseorang." Katanya muram.


Sekarang Aira menatap Erigo yang tampaknya tidak begitu senang. "Apa itu yang mengganggumu sejak tadi? Karena Jun punya pacar?"


Erigo mengangguk, wajahnya cemberut. Aira melanjutkan, "Aku tak yakin harus mulai dari mana, tapi ada beberapa hal yang harus kau dengar." Aira tersenyum sembari mengatakannya.


Erigo mengerang frustasi. "Wah.. Aku bisa merasakan bahwa aku tak akan senang mendengarnya." Erigo melepaskan genggaman tangannya di tangan Aira dan memegang telinganya. "Augh.. Aku jengkel sekali." Ucapnya. Sedetik kemudian ia menertawakan dirinya sendiri. "Kau pasti berpikir sikapku konyol, kan?"


"Kau posesif, Erigo. Dan kau sangat menyayangi Jun." Aira menarik turun tangan Erigo dan menatapnya. "Mau mendengarkanku dulu?"


Samar-samar Aira bisa merasakan ketegangan Erigo. Dia tidak marah, hanya agak tegang.


Erigo bersandar mencoba membuat dirinya lebih santai. "Tentu. Gambaran umumnya saja, aku tidak mau detail." Erigo menarik pinggul Aira agar lebih dekat padanya, membuat pinggul dan paha mereka bersentuhan.


Aira merasakan panas tubuh Erigo di sepanjang sisi tubuhnya dan merasakan tubuhnya mulai bereaksi pada kedekatan mereka. Aira berusaha bergeser, tetapi lengan Erigo menahannya.


"Kau berusaha mengacaukan konsentrasiku." Protes Aira.


Erigo mengerang lagi. "Augh.. Aku hanya tidak ingin mendengarkannya, tapi aku penasaran tentang pendapatmu." Ucap Erigo jujur.


"Makanya dengarkan aku dulu." Cetus Aira.


"Aku akan mendengarkan." Ucap Erigo sementara mata coklatnya mulai berkilat-kilat. Aira merasakan tubuh Erigo semakin tegang, meskipun terlihat benar-benar nyaman.


"Jadi, karena kita sedang membahas Jun, kurasa Jun memang sedang dekat dengan seseorang."

__ADS_1


"Menurutmu begitu?" Erigo bertanya dengan nada rendah dan serius hingga Aira menyelidiki tatapan suaminya berusaha mencari tanda-tanda bahwa aman-aman saja menyinggung masalah ini.


Erigo mungkin tertarik pada apa yang akan disampaikannya, meskipun tidak seluruhnya. Jadi, Aira tetap melanjutkan. "Jun itu sudah dewasa. Dia bisa memilih untuk dekat dengan siapa saja bukan? Lagipula, dia sudah ada di usia yang pantas untuk berumah tangga. Jika saja, kali ini dia berkencan dengan orang yang tepat, kurasa tak akan lama lagi dia juga akan menikah."


Erigo tidak memotong pembicaraannya, hingga mendorong Aira untuk tetap melanjutkan. "Ibumu sangat ingin melihat Jun menikah, itu adalah harapannya. Jika itu terjadi, tidakkah menurutmu hal itu akan baik untuk semua orang?"


"Kau tau aku cukup merasa bersalah karena menikah lebih dulu daripada kakakku. Dan aku juga akan senang jika Jun menemukan pasangan yang tepat dan menikah." Kata Erigo lambat-lambat sebelum suaranya menjadi muram.


Aira menatap mata Erigo. Sorot keras yang Aira lihat disana mengatakan bahwa Erigo benar-benar serius. "Lalu apa yang membuatmu kesal?"


"Entahlah." Jawabnya muram.


"Apa karena orang yang dekat dengannya?" Erigo menatap Aira tajam, membuat Aira sedikit cemas. Dari cara Erigo menatapnya, Aira memperoleh kesan bahwa pria itu sedang mencari-cari jawaban atas kecurigaannya sendiri.


Aira berkata dengan berhati-hati. "Karena Toddy?"


Perlahan Erigo menegakkan tubuh sementara tatapannya berkilat marah. "Kau hanya menyimpulkan itu Toddy. Kita sama-sama tidak tau kebenarannya. Aku tak mau membicarakan ini."


Sementara Erigo tidak mau mengatakan apapun, Aira memandang Erigo dengan waswas. Kemudian ia melanjutkan "Kenapa? Kau tidak menyukai Toddy?"


Aira tak percaya mereka bertengkar karena hal ini. Suaminya bersikap sangat konyol.


"Tentu saja aku menyukainya. Toddy orang baik." Kata Erigo dengan suara kecut.


"Lalu apa masalahnya? Kau sendiri yang bilang kalau mereka cocok satu sama lain." Aira mulai sakit kepala. Dia sebenarnya tidak perlu membela Jun, hanya saja, sikap kekanakan yang di tunjukkan Erigo ini sangat mengganggunya.


"Aku tidak bisa membayangkan Jun berciuman." Erigo mendesah kesal. Ia menyumpah sambil menyisirkan jemarinya ke rambut. Erigo kembali memandang Aira dengan tatapan menantang.


Aneh. Sungguh aneh. Aira menganga tidak percaya mendengar kata-kata suaminya. Aira tidak segera menjawab sementara ia berjuang untuk tidak memandang suaminya dengan dahi mengkerut.

__ADS_1


"Jangan konyol. Jun melihat kau menciumku." Balas Aira tenang.


"Benar. Tapi dia akan berciuman dengan Toddy." Gumam Erigo sambil memandang Aira penuh arti. Suaranya yang semula terdengar tegas sekarang menjadi lebih lembut karena kilat sayang di mata coklatnya.


Aira tidak bisa menahan gelak tawanya. Ia tertawa keras. Jadi, Toddy adalah masalahnya. "Kau konyol sekali." Aira merentangkan tangannya dan memeluk Erigo. "Kau pasti sangat menyayangi Jun."


Erigo menghembuskan nafas tertahan, kemudian mempererat pelukannya pada Aira. "Kalau Toddy mencium Jun, aku akan meninju bibirnya."


"Silahkan. Tinju saja jika itu membuatmu merasa lebih baik. Meskipun Jun mungkin akan memukulmu dengan panci, lalu dia akan berurusan denganku, tentu saja. Kita bisa mengacaukan keluarga ini jika kau mau." Aira terkikik geli.


Aira kemudian melonggarkan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya agar dapat menatap Erigo. "Kau ingat apa yang dikatakan Airez padamu dulu jika menyentuhku? Kau persis seperti itu."


Erigo tertegun sembari mencerna kata-kata Aira. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai masam. "Kurasa aku tau apa yang dirasakan Airez terhadap diriku dan sekarang aku mengerti apa penyebab tatapan permusuhan itu dulu."


"Kau hanya sangat menyayangi Jun, dan sangat mengenal Toddy." kata Aira singkat. "Tapi kau harusnya tidak ikut campur pada kehidupan Jun dan apa yang dipilihnya."


Erigo mengamati ekspresi wajah Aira yang lembut sebelum akhirnya ekspresi wajahnya sendiri melunak. "Aku tidak ingin berdebat, Aira."


Kata-kata Erigo membuat Aira tersenyum. "Begitu juga aku." Aira mengakui dengan nafas tersendat. Erigo berada sangat dekat sekarang.


Perlahan, Erigo menundukkan kepalanya dan menyentuhkan bibirnya di bibir Aira. "Aku ingin melakukannya sejak tadi." ucap Erigo dengan suara parau.


Aira mengerang menyatakan persetujuannya membuat bibir Erigo kembali ke bibirnya. Kuatnyabperasaan mereka membuat bibir mereka memar dan nafas mereka terengah-engah.


Tiba-tiba Aira tersentak menarik mulutnya tanpa peringatan.


Erigo menatapnya sambil bertanya kesal. "Ada apa?"


"Kupikir aku mendengar suara salah satu bayi menangis." ucap Aira sembari berdiri dan pergi melihat anak kembarnya di lantai atas. Meninggalkan Erigo begitu saja.

__ADS_1


'Wah.. bayi-bayi ini' pikir Erigo frustasi.


__ADS_2