Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 15


__ADS_3

Aira menimbang-nimbang apa yang akan di katakannya pada Devano soal dirinya dan Erigo. Sementara Devano di depannya sibuk memainkan ponselnya dan tampak enggan menatap Aira.


Aira semakin merasa bersalah. Tanpa sadar ia menghembuskan nafasnya terlalu keras.


"Itu membebanimu bukan!?" Ucap Devano dengan nada tidak bersahabat.


Aira menggigit bibirnya mencoba mencari kalimat pembuka yang tepat, namun tak tau harus mulai dari mana.


"Katakan saja padaku jika harus. Dan simpan jika memang tak perlu." Ucapnya lagi. Kali ini menyimpan ponselnya di saku celana dan menatap Aira melalui cermin besar di depan mereka.


Aira mendesah. "Aku tak tau mau mulai dari mana" Jawabnya.


Devano bersandar dengan nyaman. "Kau menyukainya?"


"Ku rasa begitu" Jawab Aira pelan.


"Apa kau bahagia?" Tanya Devano lagi.


"Ku rasa juga begitu" Jawab Aira.


Devano menarik nafas dan menghembuskannya keras. Emosi berkilat-kilat di matanya. "Dengarkan perkataanku Aira, jika sekali saja Erigo mengacau, aku akan dengan senang hati meninjunya dan membawamu bersamaku" Ucapnya tajam. "Dan aku sungguh-sungguh berharap dia akan mengacaukannya".


Devano berdiri, menatap rambutnya yang selesai di tata, berbalik pada Aira.


"Aku bahagia untukmu Aira, jadi jangan merasa bersalah padaku." Ucapnya lembut.


_______________________________________


Devano pergi begitu saja. Ia tak tahan melihat Aira menatapnya dengan ekspresi merana.


Erigo orang yang baik dibalik sikapnya yang seperti bermain-main, Devano yakin sahabatnya serius tentang Aira.


Anggap saja dia hanya lebih cepat satu langkah dariku, pikir Devano. Meski tetap saja hatinya sakit.


Tapi ia tetap akan mendukung mereka berdua.


Projek barunya akan dimulai sebentar lagi, dan itu akan menyibukkannya. Ia akan melakukan duet dengan dua penyanyi junior di bawah naungan agensinya. Salah satunya adalah mantan pacar Erigo. Moza Yumeida.


Moza dikenal publik melalui debut solo nya. Lalu ia juga melakukan debut akting tiga tahun lalu. Ia artis multitalenta. Karna itulah Devano memilihnya untuk mengerjakan proyek duet bersama.


Penyanyi lainnya yang akan duet dengannya adalah Kei Monita. Penyanyi pendatang baru bersuara unik. Kei baru melakukan debutnya sekitar empat tahun yang lalu. Karirnya menanjak berkat pesona dan suaranya yang khas yang tidak di miliki oleh penyanyi lain.


Devano hanya akan fokus pada hal itu dan berusaha melupakan Aira. Jika bisa.


________________________________________


Aira baru kembali ke rumah sekitar jam 10 malam. Erigo baru akan berpamitan ketika pintu rumah Devano terbuka. Seorang wanita cantik keluar dari sana, di susul seorang pria lain, lalu Devano. Orang itu adalah Moza dan manajernya, Ruli.

__ADS_1


Erigo dan Moza dulunya adalah pasangan kekasih yang dikenal publik. Mereka berpacaran selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya putus sekitar tiga tahun yang lalu dan mengumumkannya ke media. Banyak desas-desus yang beredar mengatakan bahwa ada orang ketiga di antara mereka. Tetapi hal itu tidak pernah terungkap sama sekali.


Ada keheningan yang janggal ketika mereka saling berhadap-hadapan. Moza menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan tidak suka dan penuh penilaian. Kemudian ia berpaling pada Erigo dan sorot matanya berubah dari tidak bersahabat menjadi minat. Ia menyunggingkan senyum termanis dan langsung berlari ke pelukan Erigo.


Ia menyapa Erigo dengan ramah. "Apa kabarmu Erigo? Kau terlihat bertambah tampan. Aku nyaris tak mengenalimu" Ucapnya dengan nada di naik-naikkan.


Erigo melepas paksa lengan Moza dari lehernya.


"Aku baik-baik saja. Apa kabarmu?" Tanya Erigo dengan keramah-tamahan yang di paksakan.


"Aku luar biasa" Jawab Moza berlebihan. "Kau tau, aku akan mengerjakan proyek baru bersama Devano" Ucapnya ceria.


"Aku mendengarnya" Ucap Erigo tanpa minat. "Kalau begitu, semoga sukses" Ucapnya lagi lalu berpaling pada Aira.


"Masuk dan istirahat lah" Ucap Erigo lembut. "Aku akan menelfonmu nanti". Erigo tersenyum.


Aira menatap mata Erigo. Erigo tampak memohon agar Aira segera masuk. Aira mengangguk "Baiklah.. Hati-hati di jalan." Ucapnya tersenyum.


Aira menutup pintu di belakangnya. Berusaha sekuat tenaga menghentikan keinginannya untuk menguping dan mengintip.


Sementara itu di luar rumahnya, tepat di depan pintunya, ketegangan meningkat. Erigo menatap Moza dengan benci. Ia sudah lama kehilangan minat pada Moza. Sejak ia menangkap basah Moza sedang merayu Airez Zuma untuk membantunya mendapatkan peran dalam sebuah drama.


Airez sendiri merupakan salah satu petinggi muda di agensi mereka, Mouse Entertainment, yang koneksinya tidak main-main.


Erigo waktu itu memutuskan hubungan dengan Moza yang di tanggapi dengan dingin oleh gadis itu karna menyangka hubungannya dengan Airez berjalan dengan baik. Namun sayangnya, Airez juga sepertinya tidak berminat padanya. Ia kehilangan Erigo, Airez, dan juga peran dalam drama yang di incarnya.


Namun di sinilah ia sekarang, dengan tidak tahu malu tersenyum dan bahkan merangkul Erigo seolah-olah mereka adalah teman baik. Erigo merasa jijik. Moza adalah gadis egois dan dangkal.


Moza sangat senang tersorot kamera. Ia berusaha untuk selalu tampil dengan siapapun yang dia pikir akan membuatnya semakin terkenal.


Erigo melipat tangannya di depan dada. Ia tak suka Moza menyentuhnya.


"Aku tak perduli kau mau berkolaborasi dengan Devano ataupun orang lain. Tapi jangan mencoba beramah tamah denganku lagi. Aku bukan temanmu dan aku tak mau berteman denganmu. Aku harap kau paham itu" Ucap Erigo tajam.


Moza tertawa sinis. "Kau sangat kasar Erigo. Apakah karna gadis itu?" Tanya Moza menggedikkan dagunya dengan angkuh.


"Kau belum sadar juga?" Cetuss Erigo. "Harusnya kau introspeksi dirimu sendiri. Mengapa tidak pernah ada yang betah dekat-dekat denganmu" Ucap Erigo dengan tatapan penuh penghinaan.


Moza mendesah sinis. "Aku jadi ingin tau sehebat apa gadis itu sampai membuatmu bersikap dingin padaku" Ucap Moza meremehkan.


Erigo menatap Moza dengan amarah sebesar gunung. "Jangan pernah mencoba mengganggunya. Kau tak akan bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan padamu dan karir yang sangat kau banggakan itu" Ucap Erigo dengan nada mengancam.


Mulut Moza gemetar. Dengan dagu terangkat ia menoleh pada manajernya "Kita sudah selesai disini, ayo pergi" Katanya. Ia memandang Devano dan tersenyum aneh "Sampai ketemu lagi Dev" Ucapnya sok ceria.


Devano hanya menganggukkan kepala.


Moza berjalan dengan lutut gemetar dan amarah tertahan. Aku akan menghancurkannya. 'Kau akan menyesal Erigo' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


_____________________________________


"Kau baik-baik saja?" Tanya Devano melihat sahabatnya sangat marah. "Masuklah" Ucapnya.


"Sial kau Devano. Kenapa harus mengajak nenek sihir itu dalam proyekmu?" Maki Erigo.


Devano mengambil dua kaleng minuman dari kulkas dan memberikan satu pada Erigo. "Kau tau dia penyanyi yang sangat baik Erigo."


Erigo setuju. Tapi sifatnya tidak sebagus suaranya, pikir Erigo. "Terserah padamu, tapi berhati-hatilah. Dia itu ular" Erigo mengingatkan.


Devano sangat memahami alasan Erigo membenci Moza. Gadis itu hanya peduli pada popularitasnya. Dia selalu berusaha tampil di depan umum bersama Erigo yang sedang naik daun. Menggandengnya kemanapun dia pergi. Bersikap layaknya pasangan yang di mabuk kepayang hanya untuk mendapatkan simpati orang-orang.


Devano mendengar banyak hal saat Erigo dan Moza putus hubungan. Salah satunya adalah hubungan Moza dengan Airez Zuma.


Saat itu adalah tahun dimana grup mereka sedang hiatus karna terjadi kecelakaan yang melibatkan leader mereka Toddy dan juga Yansen yang harus mendapatkan perawatan selama 6 bulan lamanya. Saat itu ia dan Erigo tidak banyak muncul di media. Namun tiba-tiba Erigo muncul dengan berita menggemparkan ketika ia putus.


Para penggemar terbelah dan Devano menyaksikan sendiri bagaimana sahabatnya terlihat kacau. Sedangkan Moza yang terlihat patah hati di depan media sebenarnya sibuk mengejar Airez dan tidak perduli pada pandangan orang-orang disekitarnya.


"Dia sangat tidak tau malu" Cetus Erigo kasar. "Bisa-bisanya dia tersenyum padaku setelah semua yang dilakukannya waktu itu" Ucapnya berapi-api.


Devano tertawa "Bagaimanapun juga kau kan tetap menang. Kau lihat sendiri bagaimana dia merangkak ke atas sejak di tinggalkan Airez" Ucapnya lagi. "Dari yang ku dengar, dia kesulitan mendapat pekerjaan di industri ini."


"Aku juga mendengarnya" Sahut Erigo. "Tapi salahnya sendiri karna bermuka dua"


Tidak ada orang yang bersedia bekerjasama dengan Moza karena sifatnya. Dia angkuh, egois dan merasa paling tinggi. Dia ingin di puja puji. Dia baik di depan orang-orang namun dia meremehkan mereka di belakang. Dia dapat pekerjaan karna koneksi. Dia menyangka bahwa Airez akan membantunya sehingga dia menyombong pada yang lainnya. Hingga ketika Airez meninggalkannya, ia tidak lagi memiliki orang-orang yang mendukungnya. Satu-satunya orang yang bertahan adalah Ruli, sang manajer yang malang.


"Kurasa manajernya sangat hebat. Dia masih bisa mempertahankan Moza di perusahaan dan mendapatkan beberapa pekerjaan offair." Ucap Devano.


Erigo mengangguk. "Ruli sangat peduli padanya sejak dulu. Bahkan dia akan berlutut menggantikan artisnya. Dia memang menolong Moza dari bawah" Ucap Erigo.


"Kau tak mau tau bagaimana aku bisa mengajaknya dalam projek ini?" Tanya Devano memancing.


Erigo menggeleng. "Aku percaya pada intuisimu. Kau bilang dia bagus, itu artinya akan bagus. Jadi aku akan menantikannya. Kau tau aku selalu mendukungmu seribu persen" Ucap Erigo sambil menepuk pundak Devano.


Devano memaksakan senyumnya. Ia menenggak habis minumannya. Ia merasa getir. "Aku juga akan selalu mendukungmu" Ucapnya.


"Soal apa?" Tanya Erigo


"Soal hubunganmu dan Aira" Ucap Devano lagi.


Erigo tersenyum cerah. "Dia sangat cantik. Maksudku, bukan hanya wajahnya. Dia pribadi yang cantik, kau tau. Seperti itulah" Ucap Erigo lagi.


Devano bisa melihat sahabatnya memang sudah tergila-gila pada Aira. Ia bangkit berdiri.


"Baiklah, sekarang aku mengusirmu" Ucapnya tak acuh.


Erigo tertawa. "Kenapa? Kau tak mau mendengarkan ceritaku?" Tanyanya. "Bukankah tadi kau sangat bersemangat menggunjingkan Moza." Tuduh Erigo.

__ADS_1


Devano tertawa. "Berhentilah bersikap seperti Toddy. Aku tak mau bergosip denganmu." Cetus Devano. "Keluar dari rumahku!" Ucapnya bercanda.


Erigo terbahak-bahak. "Baiklah... Aku memang mau pulang"


__ADS_2