Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 25


__ADS_3

Aira dan Erigo memesan satu ruangan pribadi dekat balkon restoran agar tidak terganggu pengunjung lain yang memotret, ataupun sekedar meminta tanda tangan Erigo. Mereka duduk memandangi lampu-lampu jalanan di malam hari sembari menunggu pesanan mereka di antarkan.


Erigo mengaitkan jemarinya di jemari Aira dan memandangi gadis itu lama-lama membuat Aira tersipu malu. Erigo tertawa melihat kekasihnya yang merona. "Kenapa? Kenapa? Katakan padaku." Ucapnya.


Aira memonyongkan bibirnya. "Kau selalu begitu. Memandangiku sampai aku merasa malu." Aira menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


Erigo memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa? Apa aku harus menatap wanita lain padahal aku sedang bersamamu? Apa kau tidak akan cemburu?" Tanya Erigo. Ia tertawa melihat Aira melotot padanya.


"Kau sangat cantik Aira. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku." Ucapnya lagi.


Aira tersenyum, menopangkan dagunya di satu tangan lalu memiringkan kepalanya meniru Erigo. "Tentu saja. Aku bahkan mengikat tubuhku dengan pita agar tampak seperti kado untukmu." Ucapnya menunjuk pita di sekeliling pinggangnya.


Erigo mengerang "Auugghh... Sayang sekali kadoku belum boleh dibuka." Ucapnya asal.


Aira membelalakkan matanya. "Kau mengerikan Erigo Galleni." Ucap Aira kesal.


Erigo tertawa mendengar Aira menyebut nama belakangnya. Itu hanya terjadi jika Aira jengkel.


Aira tersenyum lagi. "Sayang, aku belum sempat bilang padamu kalau tadi siang aku bertemu Kei dan Devano di apartemen."


"Memangnya kenapa?" Tanya Erigo acuh tak acuh. Ia sibuk memainkan jemari Aira yang bertaut dengan jemarinya.


Aira mendesah. "Aku mengkhawatirkan Kei." Ucapnya. Aira lalu menceritakan kejadian siang tadi pada Erigo, tentu saja dengan mengurangi beberapa bagian, terutama bagian dimana Devano mengajaknya berkencan. Namun sepertinya pria itu tidak memperdulikan cerita Aira. Ia menarik tangannya melepaskan tautan jemarinya. "Dengarkan aku..." Rengek Aira.


Erigo menatap mata Aira. "Sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan mereka. Mereka adalah dua orang yang sudah sama-sama dewasa. Mereka akan baik-baik saja, oke." Cetus Erigo. "Kau sangat baik Aira, tapi, bisakah malam ini kau hanya fokus padaku? Ini kencan normal pertama kita, ingat?" Tanya Erigo.

__ADS_1


Aira terdiam menatap kedalaman mata Erigo. "Maafkan aku. Aku berlebihan." Ucapnya. "Kau masih berminat menggenggam jemariku? Aku akan menyerahkannya padamu." Ucap Aira menyodorkan kedua tangannya.


Erigo tersenyum. "Tentu saja aku mau. Tapi makanan kita sudah datang" Ucap Erigo menggedikkan dagunya ke arah para pramusaji yang mendorong troli makanan mereka.


Mereka makan sambil mengobrol ringan, dan tinggal sebentar lagi untuk menikmati kelap kelip lampu jalanan. Aira berdiri berpegangan pada pembatas balkon. Sepoi-sepoi angin malam meniup helai-helai rambutnya. Sedangkan Erigo mengurungnya dari belakang. Satu tangannya yang menyentuh perut Aira terasa berat, hangat dan posesif. Ia menarik Aira mendekat hingga dada Erigo menekan punggung Aira, menimbulkan getaran samar-samar dalam dirinya. Aira menyukai kehangatan yang di timbulkan Erigo padanya.


"Aku senang malam ini Aira. Ini pertama kalinya aku bisa mengajakmu makan di tempat yang layak." ucap Erigo.


Aira tersenyum. Ia menyentuh jemari Erigo di perutnya dan menautkan jemarinya. "Aku senang makan dimana saja denganmu" ucapnya.


Erigo menghirup lembut aroma strawberry di rambut Aira. "Aku menyayangimu Aira." Ucap Erigo lembut di telinga Aira.


Senyuman Aira merekah. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap Erigo. Matanya beradu dengan tatapan panas Erigo, menyalakan panas dalam dirinya sendiri. Erigo menunduk untuk menciumnya, memanfaatkan bibir Aira yang terbuka.


Aira terkesiap menerima kelembutan bibir Erigo, ia memutar tubuhnya, mengalungkan lengannya di sekitar leher Erigo. Satu tangan Erigo berpegangan pada tepian balkon, sedangkan satu tangannya lagi menarik punggung Aira ke arahnya untuk memperdalam ciumannya. Menghilangkan candunya dengan satu ciuman manis yang sederhana. Lalu sekali lagi.


Aira masuk ke rumah dan melihat lampu dapur masih menyala menandakan masih ada orang lain disana. Ia meletakkan tas tangannya di meja lalu melangkah ke dapur. Ia melihat Airez duduk dengan sekaleng minuman dingin di tangannya.


Airez tersenyum melihat Aira datang. "Kencanmu lancar?" Tanyanya.


"Mmm.. " Aira mengangguk. "Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kencanmu tadi?" Aira balik bertanya dan duduk di kursi disamping Airez.


Airez meneguk minumannya. "Itu makan malam biasa, bukan kencan." Ucapnya malas. Ada nada kecewa dalam suaranya.


Aira penasaran. "Apa yang terjadi? Ku pikir kau mengencani seseorang karna kau selalu kembali ke sini setiap dua minggu. Bukan dia orangnya?" Tanya Aira.

__ADS_1


"Dia." Ucap Airez mengangguk. "Tapi Sepertinya hanya aku yang tertarik padanya. Aku di tolak." kata Airez dan menenggak minuman di tangannya sampai habis.


Aira menopangkan kepalanya pada satu tangan. "Kau sudah menanyakan alasannya?" tanya Aira.


Airez menghembuskan nafas keras-keras. "Karna statusku. Karna aku CEOnya, anak dari Frans Maxim Zuma, dan pewaris 'tahta'." Airez membuat tanda kutip dengan jarinya. "Sedangkan dia, aku mengulang kata-katanya, hanyalah salah satu gadis dari kalangan biasa yang tidak akan cocok berada di lingkungan pergaulan kita." Ucap Airez frustasi.


Aira terkejut mendengarnya. Ia menaikkan alisnya. "Kau tau itu tidak benar Airez, kita tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan kasta atau apapun." Ucap Aira.


Airez menggelengkan kepalanya. "Aku tau. Aku sudah mencoba menjelaskannya, tapi dia tetap bertahan dengan pendapatnya. Kurasa dia memang tidak tertarik padaku saja." Airez menaikkan bahunya. "Sial, Aira. Ku pikir__ku pikir ada sesuatu di antara kami. Atau mungkin aku salah?" ucap Airez kesal.


Tidak. Itu tidak mungkin salah. Gadis itu sangat tertarik pada Airez. Aira melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dalamnya tatapan mata itu tadi. Zora menatap Airez dengan binar-binar pemujaan seorang gadis pada seorang laki-laki. Tidak mungkin dia tidak menyukai kakaknya. Hanya satu yang mungkin menghalangi, itu adalah harga diri.


Untuk beberapa orang di luar sana yang terlahir sederhana, terkadang mereka bahkan tidak berani bermimpi lebih tinggi. Mereka terkadang takut membuka diri karna krisis kepercayaan terhadap orang-orang berstatus lebih tinggi. Mereka takut di rendahkan. Mungkinkah Zora begitu rendah diri hingga tidak berani melangkahkan kakinya lebih jauh padahal dia jelas-jelas menginginkan Airez.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Aira.


Airez memutar kaleng di tangannya. "Tidak ada yang bisa ku lakukan kalau dia tidak mau. Pada akhirnya aku akan kembali ke Amerika. Tolol sekali aku bolak balik kesini." ucapnya terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


Aira menarik nafas. "Airez, apa kau serius untuk yang satu ini? Maksudku, Zora." tanya Aira memastikan. Ia merasa Airez butuh sedikit dorongan.


"Tentu saja. Aku tidak akan bolak-balik setiap dua minggu sekali jika aku tidak serius. Aku tidak akan membuang-buang waktuku yang berharga. Sial sekali. Dia menolakku." Ucap Airez kesal.


Aira tersenyum. "Ini bukan akhir dunia Airez, kejarlah dia. Dapatkan dia sebelum kau kembali ke amerika." Ucap Aira. "Jangan mengirimkan sinyal-sinyal samar padanya. Tapi bertindaklah sebagai seorang laki-laki yang menginginkan seorang wanita. Gadis itu mungkin ragu-ragu padamu. Dia butuh tindakan tegas, bukan ambiguitas." Ucap Aira lalu berdiri.


"Kau akan berhasil Airez. Gadis itu memujamu, lebih dari yang kau sadari. Percaya diri lah." Aira mencium sekilas pipi Airez lalu pergi. Ia membiarkan Airez mencerna sendiri kata-katanya.

__ADS_1


Aira mengambil tas tangannya lalu meninggalkan dapur menuju kamarnya. Ia tidak pernah melihat kakaknya mendekati gadis manapun sebelumnya. Bahkan ketika gadis-gadis itu melemparkan diri mereka pada Airez, ia akan pergi menjauh. Airez bukan tipe laki-laki yang suka memanfaatkan wanita. Ia tidak akan memulainya jika hanya ingin menjalin hubungan main-main. Airez penuh perhitungan dan dia tidak akan mengambil resiko dan menimbulkan kegemparan.


Zora pasti berbeda untuknya sampai-sampai dia rela membuang waktunya yang berharga hanya untuk mengejar gadis itu. Aira akan ikut bahagia jika hubungan Airez berhasil.


__ADS_2