Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 55


__ADS_3

Aira dan Erigo turun kebawah bersama-sama setelah satu jam dan menemukan Polly sedang berkutat di dapur, dibantu seorang asisten dapur bernama Ellie. Sepertinya pengurus rumah mereka pun cukup bijaksana untuk datang satu jam lebih lambat dari jam tujuh.


"Selamat pagi tuan Erigo, nyonya Aira." Pengurus rumahnya yang montok menyapa dengan wajah cerah.


"Selamat pagi, Polly, Ellie." Aira tersenyum. Ia mengendus-endus. Indra penciumannya menangkap aroma kopi dan bau enak biskuit yang sedang di panggang. Kemudian ia berjalan ke balik meja dapur. "Apa yang kau buat untuk sarapan?"


Polly tersenyum ramah, seperti sosok ibu-ibu pada umumnya. "Sesuatu yang lezat untuk mengembalikan tenaga kalian berdua." Ucapnya. Membuat Aira merona.


"Kalau begitu, aku akan menantikannya." Katanya mengedarkan pandangan di dapurnya yang modern.


Ellie, pengurus rumah yang lebih muda berkata, "Aku sudah menyiapkan meja di taman belakang, sebaiknya anda kesana dan aku akan segera menyajikan sarapannya." Ucapnya dengan senyum ramah dan tampak sopan. Aira memperhatikan gerak-gerik Ellie yang dengan cekatan memindahkan telur ke piring yang sudah terisi daging asap dan sosis.


Aira sejenak ragu karena tadi malam mereka meninggalkan taman belakang begitu saja dalam keadaan apa adanya tanpa berpikir untuk sedikit bersih-bersih. Namun sang pengurus rumah kemudian berkata. "Kami sudah membersihkan halamannya tadi, jadi sekarang anda bisa makan dengan nyaman." Ucapnya lagi-lagi tersenyum dan Aira mengangguk seraya mengucapkan terimakasih.


Erigo merangkulnya saat berjalan ke taman belakang, lalu mencium pipinya sekali sebelum menarik kursi dan mempersilahkan Aira duduk. "Aku lapar sekali." Ucap pria itu setengah berbisik.


Aira menahan diri untuk tidak tertawa. "Aku juga." Mereka hampir kehilangan seluruh tenaga pagi ini. Malam pengantinnya luar biasa dan pagi ini Aira berjuang untuk tetap berjalan secara normal.


Sarapan di sajikan di halaman belakang menghadap kolam renang. Meja kayu bulat berlapis taplak meja, yang Ellie tata dengan porselen bagus, diletakkan dibawah keteduhan pohon yang menghalangi sudut silau matahari pagi.


Ellie datang membawa baki berisi makanan ke meja taman tempat mereka duduk berhadapan, dan dengan efisien menata semuanya sebelum menghilang kembali ke dapur. Aira meraih serbetnya mengikuti Erigo dan mereka makan nyaris seperti orang kelaparan dan tanpa berbicara. Mereka sudah terlalu lapar untuk melakukannya.


"Polly koki yang hebat." Ucap Aira akhirnya memecah kesunyian. Erigo menatapnya lalu mulai tertawa. "Kenapa kau tertawa?" Tanya Aira.


"Apa menurutmu kita tidak terlalu menyedihkan untuk sepasang pengantin baru?" Ia tertawa dan melanjutkan. "Aku merasa sakit di seluruh tubuhku, punggung, pinggang. Seperti baru habis bekerja keras di perkebunan, dan sekarang aku makan seperti kuli dengan sarapan porsi besar yang di siapkan Polly."


Aira ikut tertawa bersamanya. "Aku juga merasa babak belur." Ucapnya terkikik. "Polly yang sangat perhatian sampai membuatku malu." Aira benar-benar merona.

__ADS_1


Erigo memandangnya dengan sorot iba. "Aku pasti menyakitimu." ucapnya prihatin. "Tapi Aira, tadi malam itu malam terbaik  yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku sangat mensyukurinya."


Wajah Aira merona mengingat betapa liarnya mereka di tempat tidur, ia menggumamkan terimakasih.


Ellie datang lagi membawa baki kecil berisi kopi, jus buah dan biskuit. Biskuit, seakan makanan tadi tidak cukup untuk mengisi ulang tenaga sang pengantin baru.


"Sepertinya Polly sedang berusaha membuatku bertambah gemuk." Ucap Aira.


Erigo memperhatikan Aira, dress bergaris biru langitnya tampak bagus. "Kau kurus, jadi tidak apa-apa makan banyak." ucapnya. "Tapi aku tak perduli. Bagaimanapun penampilanmu, bagiku kau tampak cantik." Kata Erigo lambat-lambat. "Warna biru cocok untukmu." Erigo duduk bersandar seraya memegang cangkir kopinya dan menatap Aira. Pujian Erigo yang terus terang itu menghangatkan hati Aira. "Trimakasih" Gumamnya sembari tersenyum.


"Kau harus sering-sering memamerkan senyummu itu mrs. Galleni, karena senyummu cantik sekali."


"Begitu juga senyummu, mr. Galleni." Ucap Aira bersungguh-sungguh.


Senyum di wajah Erigo mendadak lenyap, tatapannya tampak berkilat dan matanya menyipit. "Aku bisa maklum jika orang bilang aku manis Aira, tapi cantik?" Erigo menggeleng. "Belum pernah ada seorangpun yang bilang aku cantik." Katanya. "Dan tidak ada seorang pria-pun yang menghormati dirinya ketika orang lain menyebutnya cantik."


"Aku suka itu. Trimakasih." Erigo tersenyum, ia menyesap kopinya masih sembari menatap Aira. Aira cantik di pagi hari, batinnya, dengan wajah merah seperti mawar, serta kulit bersih dan bebas dari riasan. Bibirnya merah alami dan bentuknya sangat menggairahkan. Erigo sangat ingin menciumnya lagi. Tapi ia menyadari mereka tidak sedang berdua. Ia harus menunda keinginannya. Mendadak Erigo mempertanyakan keputusannya untuk mempekerjakan 10 orang pengurus rumah.


"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Aira.


"Kau bosan? Mau jalan-jalan?" Tanya Erigo. Tanpa menunggu jawaban, Erigo melanjutkan, "Aku tidak yakin apakah aman, karena kabar pernikahan kita pasti sudah menyebar." Tambahnya.


"Ah benar juga. Kita belum melihat berita dan tidak seorangpun menelpon." Aira lalu menambahkan, "Kurasa aku juga tidak tau dimana ponselku berada." Katanya dengan bingung. Aira berusaha mengingat kapan terakhir kali ia memegang ponselnya.


Erigo tersenyum. "Aku bertaruh ponsel itu sudah dalam keadaan mati hingga tidak ada satupun yang bisa menghubungi kita. Ponselku sendiri kumatikan dan ada di dalam laci samping tempat tidur." Ucapnya.


"Bagaimana jika ayah atau ibu menelpon?" Tanya Aira.

__ADS_1


Erigo menggeleng. "Mereka cukup bijaksana untuk tidak melakukannya, Aira." Lalu Erigo menambahkan. "Aku yakin pers sedang menggila."


"Aku tak bisa membayangkannya." cetus Aira.


Erigo menatap Aira dengan serius. "Aira, aku mengikuti keinginanmu untuk menikah tanpa adanya pers yang mengganggu, tapi aku tak yakin mereka akan berhenti sebelum mendapatkan sesuatu. Aku punya rencana, dan aku butuh persetujuanmu."


Tiga hari setelahnya, satu foto Aira dan Erigo dijual ke surat kabar terhormat dengan jumlah delapan angka dan di donasikan untuk amal melalui yayasan ME Foundation.


Aira takjub dengan betapa mudah semua itu, dengan Erigo di sisinya.


Sisa minggu itu berlalu dengan penuh cinta, gairah dan malam-malam panas membara dalam pernikahan mereka yang fantastis. Hingga Erigo harus kembali pada rutinitasnya dan begitupun juga Aira. Meskipun demikian, saat mereka kembali ke rumah dalam keadaan lelah sekalipun, Aira dan Erigo nyatanya masih memiliki energi untuk menghangatkan kehidupan pernikahan mereka.


Di penghujung minggu, Erigo terbagun dan merasakan Aira masih berada dalam pelukannya, matahari bersinar menerangi tempat tidur hingga membangunkan Aira.


"Selamat pagi." ujar Erigo.


Aira menatapnya sambil mengerjapkan mata untuk mengusir mimpi indahnya. "Aku ketiduran." katanya. Wajar saja karena mereka baru tertidur larut malam.


Erigo membenamkan tangan ke rambut Aira, menyukai tekstur rambut Aira yang lembut, lalu ia mencium Aira pelan dan berlama-lama. "Aku suka melihatmu saat tertidur."


Aira bergeser ke tepi ranjang. "Kita harus membersihkan diri dan turun. Polly pasti sudah menyiapkan sarapan sejak tadi."


Erigo meraih pinggangg Aira dan memeluknya. "Jangan pergi. Aku tidak mau kau pergi."


Aira tersenyum seraya melepaskan diri dari pelukan Erigo. Erigo tak ingin melepaskannya, sama seperti ia sebenarnya tak ingin pergi. "Maaf sayang, aku harus mandi, tubuhku lengket." ucapnya. Lalu dengan nada malas-malasan Aira berkata, "Aku sebenarnya tidak keberatan jika kau ingin bergabung denganku di kamar mandi, tapi kalau-kalau kau malas__" Aira membiarkan kata-katanya menggantung.


"Aku ikut." ucap Erigo seraya bangkit. "Aku akan menyabunimu sampai bersih." ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


________________________________


__ADS_2