Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 8


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu selalu dengan kegiatan yang sangat padat. Seminggu ada di sini, seminggu kemudian berpindah ketempat lain, dan tempat lainnya lagi untuk syuting MV maupun pemotretan. Karna grup ini punya banyak member dan banyak pekerjaan.


Belum lagi, jadwal pribadi masing-masing member yang kebanyakan tidak sama. Seperti Toddy yang sering membawakan acara sebagai MC juga mengisi acara sebagai bintang tamu. Di hari yang sama terkadang Yansen sendiri harus menyanyi di berbagai acara musik. Sedangkan Devano dan Erigo yang merupakan sub unit lebih sering bekerja berdua baik menyanyi, MC acara maupun siaran Radio.


Namun begitu mereka masing-masing juga punya pekerjaan yang tidak mengharuskan mereka hadir bersama. Itu sebabnya masing-masing tim harus bekerja lebih keras untuk mendongkrak performa artisnya.


Persiapan album grup Summer juga memakan waktu berbulan bulan. Mulai dari persiapan lagu, latihan dance grup, dance sub unit, pemotretan solo maupun grup, rekaman, syuting baik terpisah maupun gabungan disela jadwal pribadi masing-masing membernya.


Hari ini jadwal syuting gabungan. Aira sangat bersemangat karna pasti akan bertemu Toddy di set. Ia memoles tipis wajahnya dengan makeup, mengikat rambutnya. Hari ini hujan dan ia memakai sweater dan jeans dengan sepatu kets yang baru dibelinya. Ini akan memudahkan pergerakannya saat bekerja.


Studio sangat sibuk, semua orang mondar mandir dengan peralatan dan lainnya. Aira yang sedang berdiri diantara tempat duduk Devano dan Erigo tidak menyadari kedatangan Toddy hingga Toddy menyapanya. "Kau bertambah tinggi adik kecil.. " Ucap Toddy tersenyum padanya.


Aira menoleh pada Toddy 'astaga.. Tuhan pasti bekerja keras menciptakan makhluk sesempurna Toddy' pikirnya.


Aira memberikan senyum termanisnya pada Toddy sambil berjinjit sedikit menunjukkan sepatunya "ada sol setinggi 5 senti di dalamnya" Sahut Aira dan masih tersenyum.


Semua orang bisa melihat bahwa Aira selalu salah tingkah sekaligus senang setiap kali melihat Toddy. Dia terlihat seperti anak kecil yang mendapat hadiah permen sebesar gunung.


"Benarkah? Kau tidak kesulitan berlari kesana kemari?" Tanya Toddy lagi.


"Tidak juga.. Setidaknya aku bisa mengurangi sakit leherku saat harus berhadapan dengan mereka berdua" Ucap Aira mengarahkan tangannya pada Devano dan Erigo.


Toddy tersenyum "benar sekali, mereka sangat tinggi. Mereka pasti menyulitkanmu bukan? Apa harus ku marahi?" Tanya Toddy.


"Itu tidak akan berhasil.. Devano sebenarnya lebih galak darimu" Aira mengingatkan.


Devano yang mendengarnya hanya menyunggingkan senyum tipis.


Toddy tertawa. "Tidak apa.. Kau bisa mengadu padaku".


"Benarkah? Sebenarnya mereka  sangat jahat padaku. Mereka bahkan tidak mau menunduk sedikitpun saat aku memasang anting-anting. " Ucap Aira melirik kesal pada Devano dan Erigo.


Toddy kemudian berbalik dan berkata pada kedua rekannya "heii... Baik-baiklah pada Aira.. Dia manis sekali.. " Ucap Toddy tersenyum pada Aira.


Erigo melihat tingkah Aira yang tak berhenti menatap Toddy dan entah kenapa ia merasa tak suka. "kau akan melubangi wajahnya dengan tatapanmu Aira" Katanya.


Namun Aira tidak memperdulikannya dan tetap tersenyum pada Toddy.


Toddy berkata "kau menyukai apa yang kau lihat, benar Aira?" Toddy nyengir.


Aira mengangguk "tentu saja aku suka.. Kau yang paling tampan" Ucap Aira tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Cukup sudah. Tiba-tiba Erigo menyela "kau harus berhenti menyeringai Aira, atau kau sengaja mengeringkan gigimu sampai ke akarnya?"


"Ppffffftttt.... " Tiba-tiba Devano menyemburkan air yang sedang diminumnya diiringi tawa yang keras.


Aira berhenti tersenyum lalu memandangi sinis Devano yang masih tertawa.


Toddy merangkul pundak Aira "biarkan saja Aira, mereka memang seperti itu" Kata Toddy yang juga tertawa.

__ADS_1


Aira mengalihkan pandangannya pada Erigo. Kali ini Erigo mendapatkan tatapan sedingin es yang benar-benar dalam "kenapa? Kau cemburu?" Sergah Aira dan masih mengumpat melalui matanya.


Tawa Erigo meledak "ooouuhhh... Aku dejavu melihat pandangan itu.." Ucap Erigo lalu tersenyum manis.


Aira ingin sekali meninjunya. Ia melipat tangannya dengan sikap defensif. "Aku tidak bisa menghadapi ini" Ucapnya.


Aira mengatupkan bibirnya dan menyipitkan matanya ke arah Erigo memberi isyarat untuk diam, dan memilih untik meninggalkan tempat itu.


Entah kenapa Erigo selalu saja menjahilinya.


Devano hanya memperhatikan semua yang terjadi di depannya. Ia kembali minum dalam diam sambil bertanya-tanya 'apa ada sesuatu diantara Erigo dan Aira?' Hal itu terasa mengganggunya.


Ia tertarik pada Aira. Dan dia berteman lama dengan Erigo. Hingga ia sangat yakin Aira bukan termasuk kriteria wanita pilihan Erigo. Dan lagi sepertinya Aira sangat menyukai Toddy. Entah hanya sekedar mengidolakan, atau memang Aira menaruh perasaan pada leadernya tsb. Tapi Devano tidak yakin jika melihat kedekatan Aira dan Erigo serta gelagat yang di tunjukkan Erigo.


Disamping itu Erigo duduk memainkan ponselnya namun pikirannya entah dimana. Ia melihat ketertarikan Aira pada Toddy dan ia tak menyukainya. 'Cemburu kah?' Tanyanya dalam hati.


Ia bangkit dari duduknya hendak mencari Aira.


Toddy melihatnya "kau mau kemana? Sebentar lagi kita mulai" Ucap Toddy.


"Aku keluar sebentar.." Jawab Erigo sambil lalu.


Toddy berpaling pada Devano. Jiwa penggosipnya menggebu-gebu. "kau melihatnya?" Ucap Toddy.


"Apanya?" Tanya Devano sok polos. Untuk apa mengungkap lebih dari yang diperlukan?.


"Kau tau siapa. Aira dan Erigo"


"Jangan memulainya." Cegah Devano.


Toddy tertawa jahil "Dia cemburu. Erigo tampaknya menyukai Aira, kan?"


Devano menanggapinya dengan malas. "Entahlah.. Aira mudah disukai" Jawab Devano. Dadanya tiba-tiba panas. "Tapi sepertinya dia malah menyukaimu" Ucap Devano lagi.


Toddy tersenyum bangga dan bersandar serta menyilangkan kakinya "tentu saja.. Aku yang terbaik.. " Jawabnya sambil tertawa. Tentu saja Toddy hanya bercanda. Devano melemparkan kotak tisyu ke arah Toddy.


Devano terkekeh "Diamlah. Kau usil. Mau mati?" canda Devano.


Toddy tertawa lalu berdiri "Baiklah. Aku harus mencari Yansen, dia selalu menghilang akhir-akhir ini. Kita akan mulai sekitar 10 menit lagi, pastikan kau menyeret Erigo bersamamu" Ucap Toddy berlalu meninggalkan Devano.


'Bahkan Toddy melihat kecemburuan Erigo' ucapnya dalam hati.


Sementara itu Erigo menemukan Aira sedang berdiskusi serius dengan tim nya. Erigo mengurungkan niatnya untuk menemui Aira dan segera bergabung bersama membernya.


Mereka syuting sampai malam dan Erigo merasa lelah setelah semua sesi pengambilan gambar dan gerakan dance yang berulang ulang. Ia kembali bertemu Aira saat membereskan semua pakaian dan aksesoris yang dipakai.


Aira membantu Devano lebih dulu, kemudian membantu Erigo. Aira melihat keringat yang membasahi wajah Devano dan Erigo. "Kalian pasti kelelahan" Ucap Aira sambil memberikan tisyu. "Segeralah pulang dan istirahat. Aku akan membereskan semuanya" Ucap Aira.


Devano terkekeh "kami masih harus menghapus makeup sebelum pulang. Padahal kakiku sudah bergetar" Ucapnya.

__ADS_1


Aira merasa kasihan pada mereka berdua. "kau bisa duduk saja, aku akan membantumu" Ucap Aira.


Erigo menyela "bagaimana denganku? Siapa yang membantuku?" Ucapnya. "Kakiku juga bergetar" Ucap kekanak-kanakan.


"Aku duluan.. Kenapa kau menyerobot antrian?" Kata Devano tertawa sambil melempar tisyu bekas pada Erigo.


Erigo menangkisnya sambil ikut tertawa "tidak bisa, dia milikku.. Bantu aku duluan Aira" Rengek Erigo.


Aira berdiri dan menghembuskan nafas berat. Terkadang mereka bersikap kekanak kanakan. "Aku bukan milik siapa-siapa. Jadi berhentilah merengek" Ucap Aira memperlihatkan senyum yang dipaksakan.


Ia mengambilkan kapas dan makeup remover lalu meletakkannya di tangan mereka masing-masing. "Kau bersihkan wajahnya, dan kau sebaliknya. Lalu aku akan membereskan semua ini" Kata Aira sambil membentangkan tangannya ke arah tumpukan pakaian dan aksesoris.


Erigo dan Devano tertawa. "Bersihkan saja wajahmu sendiri" Ucap Devano kali ini melempar kapas bekas pada Erigo.


"Kau urus saja wajahmu.. Biar aku mengurus ketampananku sendiri" Ucap Erigo narsis.


Mereka masih saja tertawa dan bermain-main. Aira mendekati mereka berdua, kepalanya mendidih melihat permainan kekanak-kanakan Devano dan Erigo. Tisyu dan kapas bekas pakai bertebaran di sekitar mereka.


Aira mengertakkan giginya dan berkata "berhentilah melempar sampah!!" Ucapnya dengan nada rendah.


Devano dan Erigo tertawa melihat ekspresi Aira yang kesal. Mereka menurut dan mulai memunguti sampah disekitar kaki mereka, serta berkonsentrasi membersihkan wajah sendiri setelahnya.


Aira dengan tenang kembali melanjutkan pekerjaaannya.


Erigo selesai membersihkan wajahnya. Ia menjauh dari Devano dan mendekati Aira. "kau langsung pulang?" Tanya Erigo dengan suara pelan.


"Iya.. Kurasa begitu" Jawab Aira mengangguk. "Kenapa berbisik padaku?" Tanya Aira melirik pada Devano yang masih membersihkan wajahnya.


"Makan malam lah dulu denganku.. Aku akan menunggumu di tempat parkir" Ucap Erigo setengah berbisik.


"Tidak mau" Jawab Aira juga berbisik.


"Harus mau. Aku akan menunggumu sampai kau datang" Ucap Erigo lagi lalu pergi begitu saja.


Aira menatap punggung Erigo yang berlalu 'apa-apaan kau, seenaknya' pikir Aira.


Berbeda dari Devano, Erigo selalu bertindak sesuka hatinya. Dia dikenal dekat dengan banyak wanita. Dan tidak terlalu memperdulikan gosip-gosip yang beredar disekitarnya. 'Jika memang tidak benar, cukup membantahnya saja' begitu prinsipnya.


Aira merasa tidak enak hati. Ia tak ingin berakhir menjadi sumber masalah bagi siapapun, entah itu Devano, Erigo, Summer maupun perusahaan. Ia sudah menolak, tapi Erigo tidak mau mendengarkannya. Dia sangat keras kepala.


Devano penasaran apa yang dibisikkan Erigo pada gadis itu. Ia menduga Erigo telah mengajak Aira pergi. Devano hanya ingin tau jawaban Aira. Jadi ia memancingnya. "Kau akan pergi bersama Erigo?" Tanya Devano menebak.


Aira memiringkan kepalanya. "Apa kau juga ikut?" Tanya Aira. Secara tidak langsung menjawab rasa penasaran Devano.


Devano tersenyum padanya "kau polos sekali Aira" Ucap Devano membungkuk ke arah Aira. Devano mengusap lembut kepala Aira.


Tersenyum tidaklah mudah saat ini, tapi Devano berhasil melakukannya "kau selalu menolak ajakanku tapi malah pergi bersama Erigo".


Devano berusaha tetap tenang, namun hatinya terbakar karna cemburu.

__ADS_1


"Bersenang-senanglah dan jangan pulang terlalu malam" Ucap Devano lagi.


Aira ingin menjelaskan bahwa ia sudah menolak, tapi Erigo memaksanya. Namun Devano tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara.


__ADS_2