
Erigo menyapa para paman dan bibinya juga bercengkrama bersama para sepupunya. Mereka berfoto dengan latar gazebo kecil yang di penuhi tumbuhan merambat dengan bunga-bunga kuning terselip di antara dedaunan.
Secara keseluruhan, acaranya sangat menyenangkan. Berada di antara keluarganya membuatnya bahagia, di tambah kehadiran Aira yang tampak anggun dan bisa membaur dengan baik. Hanya ada satu kekhawatiran Erigo sejak mereka datang. Gadis berambut pirang yang provokatif, Kathy.
Sudah sejak lama Erigo tau bahwa gadis itu menyukainya. Sepupu-sepupu lainnya bahkan pernah berkata bahwa Kathy sangat berharap bisa menjalani perjodohan dengan Erigo.
Kathy adalah gadis yang sangat impulsif. Ia tidak akan repot-repot memikirkan akibat dari tindakan yang di lakukannya. Ia suka bermain-main dan sangat tidak bertanggung jawab. Ia tidak perduli orang lain tersinggung atau tidak karna prilakunya atau kata-katanya. Dan Erigo dapat menangkap getaran permusuhan yang di tujukannya pada Aira sejak dia menghambur ke pelukan Erigo tanpa peringatan.
Keluarganya mungkin bisa memakluminya karna dia selalu berulah pada Erigo. Namun Aira, kekasihnya bisa saja salah paham. Padahal hari ini Erigo berencana akan melamar Aira di depan kedua orang tuanya. Tapi Kathy selalu saja menempel dan menariknya kesana kemari.
Sanak saudaranya sudah berpamitan satu persatu meninggalkan taman. Erigo juga berniat menyusul Aira karna dia sudah meninggalkannya terlalu lama. Namun tiba-tiba Kathy menggandengnya.
"Erigo, ayo berfoto denganku di gazebo." Ucapnya manja.
Erigo memaksakan senyum. "Kita sudah banyak mengambil foto sejak tadi Kathy. Sebaiknya kita kembali ke rumah." Ucap Erigo menolak. Ia merasakan getaran ganjil dari prilaku Kathy yang kemungkinan besar sengaja di tujukan untuk membuat Aira kesal.
Kathy menarik tangannya lagi. "Ayolah. Dari tadi kita hanya berfoto di luar gazebo. Sekarang ayo berfoto di dalamnya." Kathy mulai merengek.
Erigo merasa harus memberinya waktu agar berhenti merengek padanya lagi. "Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku harus menemani Aira dan ada yang harus ku lakukan." Cetus Erigo.
Kathy tampak tidak perduli. Ia menarik Erigo ke tengah gazebo dan mengambil beberapa foto. Ia dengan ceria memamerkan hasil fotonya pada Erigo.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Kathy padanya.
Erigo tersenyum setengah hati. "Secantik biasanya." Ucapnya berbasa basi. Erigo tidak mungkin mengatakan sesuatu seperti 'warna rambutmu sangat jelek' atau 'pakaianmu terlalu norak' atau 'sifatmu sangat menjengkelkan' pada sepupunya bukan?
Kathy tiba-tiba mendekatkan diri padanya, melirik sekilas ke balik bahu Erigo menandakan ada yang datang. Erigo bisa merasakan Kathy sedang merencanakan sesuatu yang tidak akan di sukai Erigo dan siapapun yang berada di luar gazebo ini. Ia baru akan menoleh ke belakang ketika tanpa di sangka-sangka, Kathy melingkarkan tangannya dengan cepat di leher Erigo dan menarik Erigo ke arahnya.
Kathy berusaha menciumnya, tapi Erigo menjauhkan bibirnya. Tepat saat itu, Erigo mendengar suara dahan kering yang patah di belakangnya dan ia menoleh. Betapa terkejutnya Erigo mendapati Aira membelalak menatap ke arahnya. Keterkejutan, kalau bukan kengerian, tergambar di wajah Aira yang seketika memerah.
Aira berbalik dan berlari sekuat tenaga. Erigo mengumpat marah pada Kathy menyadari bahwa lirikan sekilas yang dilakukan Kathy sebelumnya dikarenakan gadis itu melihat kedatangan Aira dan dia sengaja melakukannya. Memprovokasi Aira. Sungguh manipulatif, pikir Erigo.
Erigo melepaskan paksa rangkulan tangan Kathy di lehernya, ia meledak dan kata-kata hinaan meluncur keluar dari mulutnya. Ia memaki sepupunya. "Kau culas Kathy. Jangan berani muncul di hadapanku lagi." Ucapnya dan berlari dengan kaki panjang dan langkah lebar mengejar Aira. Meninggalkan Kathy yang membelalak terkejut.
Erigo hampir tidak bisa mengejarnya. Untungnya Aira bertabrakan dengan Jun dan membuat langkahnya terhenti. Erigo langsung menangkap lengan Aira dan mencengkramnya. Dalam keadaan panik Erigo tidak berpikir untuk mengontrol kekuatannya.
Erigo tidak mau melepaskannya meskipun ia harus meremukkan gadis itu. Ia terlalu takut Aira terlepas dan pergi darinya dalam keadaan terluka.
Erigo di dera rasa takut hingga mulutnya terasa kering. Kemarahannya meletup-letup, dan Aira sendiri tampak membencinya. Tatapannya menusuk Erigo. Air matanya menghancurkan hati Erigo.
__ADS_1
Jun membujuknya, mengatakan bahwa Aira akan bersamanya, di kamarnya. Erigo melepaskannya dan merasa lega bahwa Aira tidak mencoba kabur. Aira butuh waktu untuk tenang. Dan ia butuh waktu untuk berpikir.
Ketika Kathy lewat dan berdiri di antara mereka, Erigo merasakan dorongan kuat untuk menendangnya keluar dari rumah ibunya namun setengah mati di tahannya demi kesopanan.
Ibu dan ayahnya tergopoh-gopoh ke ruang tengah dan bertanya dengan khawatir karna melihat Kathy menangis. Dan lebih terkejut ketika melihat mata Aira yang basah dan wajah Erigo yang muram.
Acara pesta yang bahagia berubah jadi bencana dan Erigo tak tau ingin menyalahkan siapa kecuali dirinya sendiri. Dan rencana lamarannya, hancur lebur.
______________________________
Tubuh Aira bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang meluap-luap. Ia tidak pernah menyangka bahwa Erigo akan tega mengkhianatinya. Rasa mual menjalar di perutnya.
Jun memberikan segelas air pada Aira dan menyuruhnya duduk.
"Apa yang terjadi Aira? Kenapa kalian bertengkar?" Tanyanya.
Aira hanya diam menatap jari-jari kakinya. Ia tidak ingin membicarakannya. Ia sudah merasa mualnya naik ke tenggorokan dan ia menahannya. Ia mengedarkan pandangan ke arah pintu kamar mandi Jun.
"Apa ada hubungannya dengan Kathy?" Tanya Jun.
Aira masih tetap diam. Kepalanya pening, perutnya begolak, mual mual dan mual.
"Dia menciumnya." Cetus Aira.
"Tidak mungkin. Erigo sangat membencinya. Gadis itu manipulatif Aira. Jangan bubu-buru__" Jun berhenti lagi ketika melihat wajah aira yang pucat pasi. "Aira? Kau baik-baik saja?"
Aira berdiri dan berlari menuju kamar mandi di dalam kamar jun. Ia muntah sejadi-jadinya.
Jun yang panik berteriak memanggil Erigo. Dengan langkah panjang Erigo menaiki 2 anak tangga sekaligus dan menyerbu ke dalam kamar. Ia melihat Aira muntah-muntah di wastafel.
Erigo mengulurkan tangan untuk membantu Aira memegang rambutnya. Aira berusaha menepis namun Erigo tetap melakukannya hingga Aira menyerah dan membiarkannya membantu.
Aira memuntahkan semua isi perutnya keluar hingga kakiknya lemas dan ulu hatinya terasa sakit. Erigo membopongnya keluar kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur.
Jun membawakan segelas teh manis hangat dan memberikannya untuk diminum Aira. Aira meminumnya sedikit lalu menangis. Ia sangat marah dan membenci Erigo namun ia terlalu letih untuk melawan dan hal itu membuatnya frustasi.
Jun keluar dari kamar dan menutup pintunya meninggalkan Aira dan Erigo berdua.
Aira berbaring lemas. Ia hanya ingin tidur. Hal terakhir yang di inginkannya hari ini adalah melihat Erigo. Tapi disinilah Erigo. Duduk di tepi tempat tidur mengelus lembut kepalanya, menepis rambut-rambut halus yang menempel di wajahnya yang basah.
__ADS_1
"Kau pasti sangat membenciku ya?" Ucapnya pelan. "Aku tidak melakukan kesalahan apapun Aira. Aku tidak menciumnya seperti yang kau kira."
Ucapan Erigo membuat Aira menangis. Ia merasa di bohongi sekali lagi. Padahal ia jelas-jelas melihat Erigo mencium Kathy.
"Dia menjebakku. Dia tau kau datang ke gazebo dan dia membuatnya terlihat seperti aku menciumnya. Percayalah padaku. Aku tidak tertarik padanya atau siapapun di dunia ini selain dirimu." Ucap Erigo lembut.
Aira terisak. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan kau masih menyangkalnya. Kau membodohiku."
Erigo mengerang frustasi. "Aku bersumpah padamu Aira. Aku tidak melakukannya. Aku bahkan sudah memakinya."
Aira terdiam mengingat bagaimana Kathy pulang sambil terisak. Erigo pasti sudah menyinggungnya. "Kenapa kau memakinya? Dia sepupumu."
"Untuk apa kau membelanya?" Cetus Erigo. "Aku punya banyak kosa kata dari Yansen dan punya kesempatan bagus untuk menggunakannya." Cetusnya lagi.
Aira tersenyum samar. Sebagian dirinya mungkin mempercayai Erigo. Pria itu tidak akan menyakiti Aira sedikitpun. Berdasarkan kata-kata Jun dan pengakuan Erigo, Kathy mungkin sengaja. Namun sebagian lagi merasa sangat terluka.
Aira terlalu lelah untuk mencerna. "Aku ingin tidur." Ucapnya lemah.
"Baiklah." Erigo membuka kemejanya dan menyampirkannya di tepi tempat tidur. "Aku juga lelah. Kita bisa bicara lagi besok." Ucapnya dan naik ke tempat tidur.
Aira duduk dengan bingung. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aira.
"Tidur tentu saja." Ucap Erigo.
"Aku akan tidur dengan Jun. Kau pergilah ke kamarmu." Ucap Aira mengusir.
Erigo mengernyit menatap Aira. "Ini kamarku. Bukan kamar Jun. Dan kau tidur denganku. Bukan dengan Jun." Erigo terkekeh pelan. "Jun tidak akan membiarkan siapapun masuk ke kamarnya yang berantakan Aira." Ucapnya lagi. "Jadi sekarang berbaringlah di sampingku agar kita bisa beristirahat. Kau mungkin butuh banyak tenaga untuk memerangiku besok. Dan aku tidak berniat kalah dalam peperangan yang bodoh ini Aira, ku ingatkan padamu." Ucapnya tegas.
Aira baru menyadari hawa maskulin yang meliputi ruang tidur dan aroma samar yang dikenalinya sebagai aroma Erigo. Tentu saja, ini kamarnya.
Aira masih menganga tak percaya ketika Erigo menarik Aira ke dalam pelukannya. "Kau sedang cemburu sayang. Dan aku bodoh karna memberi celah bagi Kathy untuk menyakitimu. Maafkan aku."
Aira tidak punya pilihan lain selain menerima pelukan Erigo. Ia tidak bisa kemana-mana dan ia tau bahwa ia membutuhkan Erigo.
"Aku membenci Kathy dan semua orang tau. Aku tidak mungkin menciumnya dengan sukarela. Gadis itu sangat menyebalkan Aira. Dan dia membuatmu salah paham." Ucap Erigo lembut. "Jantungku nyaris copot melihatmu disana memandangku dengan sorot yang aneh. Aku benar-benar takut."
Aira tidak menjawab, tidak membantah, tidak mau bicara. Ia lelah. Aira merasakan gerakan Erigo menyesuaikan posisinya pada Aira. Erigo mengecup lembut puncak kepala Aira dan diam. Pada akhirnya mereka berdua tertidur.
Sementara di lantai bawah, Jun memaki Kathy di telpon dan mengancamnya. Jika Kathy tidak datang untuk menjernihkan masalahnya besok siang, maka dia tidak boleh datang lagi untuk selamanya.
__ADS_1
Ibu dan Ayah Erigo hanya mampu menggeleng frustasi. Kejadian yang sungguh tak terduga terjadi akibat ulah Kathy. Kathy benar-benar sudah melampaui batas.