Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 20


__ADS_3

Sudah lewat dari pukul 8 malam dan Aira belum melihat Airez lagi. Airez juga melewatkan makan malam di hari pertamanya setelah pulang ke rumah. Aira bertanya-tanya apa saja yang di lakukan Airez di perusahaan hari ini. Apa dia benar-benar memaki direktur cabangnya? Airez kadang agak gila, pikirnya.


Ponsel Aira berbunyi, menampilkan nama Erigo di layar. Suasana hatinya seketika berubah. Ia tersenyum sekilas sebelum mengangkatnya. "Halo" Ucapnya riang.


Terdengar tawa kecil di ujung telpon. "Kau sesenang itu?" Tanya Erigo.


Sepertinya rasa senang Aira tercermin dari suaranya. "Apa kedengaran?" Tanyanya. "Aku senang bahkan hanya dengan melihat namamu di layar" Aira mengakuinya.


"Aku senang mendengarnya. Aku sangat khawatir karna Winne bilang kau di jemput paksa oleh orangtuamu, dan ponselmu tidak bisa di hubungi" Ucap Erigo.


Aira mengangkat bahu. "Mereka tidak memaksa. Hanya saja aku yang terlalu takut untuk membantah" Ucap Aira membuat Erigo tertawa. "Mereka menyuruhku mematikan ponsel agar aku tidak membaca komentar-komentar itu." jawab Aira sedih.


"Jangan membacanya, tapi aktifkan ponselmu agar aku bisa menghubungimu. Aku akan sesak nafas bila tidak berbicara denganmu." ucap Erigo terkekeh.


Aira tertawa. "Kau konyol. Baiklah. Kau sedang dimana? Melakukan apa?"


"Aku sedang di studio rekaman dan Aku sangat merindukanmu Aira." Ucapnya pelan. "Sangat sulit bahkan hanya untuk pergi ke mini market, Apalagi untuk menemuimu" Ucap Erigo lagi.


"Aku tau" Jawab Aira. Ia juga merindukan Erigo.


"Apa itu adikku?" Tanya seseorang di belakang Erigo.


Aira mengenali suara berat itu. Itu Airez. Aira membelalak terkejut. Apa yang di lakukan Airez di tempat Erigo?


"Aira, kita bicara lagi nanti." Ucap Erigo dan memutuskan sambungan.


Aira berdiri dengan panik, ia mondar mandir di sekitar tempat tidurnya, mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan. Ia dengan cepat menekan nomor telpon Airez.


"Apa yang kau lakukan disana?" Desis Aira. "Menjauhlah darinya, Airez" Ucapnya dengan nada mengancam.


"Aku belum melakukan apapun padanya dan kau sudah ketakutan, sister" Ucap Airez malas.


"Sudah ya.. Ada yang harus kami bicarakan" Ucapnya lagi dan memutuskan sambungan.


Aira menggertakkan giginya menahan amarah dan kepanikan yang meningkatkan adrenalinnya. "Ada apa dengan semua pria yang seenaknya memutus sambungan telpon saat orang lain sedang bicara?!" Ucapnya frustasi.


Kali ini Aira menekan nomor ponsel Winne.


"Anantha. Bantu aku" Ucapnya buru-buru.


________________________________________

__ADS_1


Dua wanita berlari menaiki tangga naik ke lantai tiga karna Aira tidak ingin repot-repot menunggu lift turun dari lantai sepuluh, sedangkan Winne mengeluh di belakangnya karna lelah.


"Sialan kau Maretha" Ucapnya terengah-engah.


Sampai di lantai tiga, Aira menghambur masuk dan membuka semua pintu yang ia temui di sepanjang koridor. Kepalanya tidak lagi bisa berpikir dimana letak studio rekaman yang tepat.


Ketika akhirnya ia membuka pintu yang benar, Aira menyerbu masuk dan menarik kerah Airez yang sedang duduk di sofa studio tanpa melihat sekitarnya.


"Sialan kau Airez, apa yang kau lakukan padanya?" Ucap Aira membabi buta.


Airez memeluk adiknya dan tertawa keras. "Apa kau benar-benar menyukainya?" Ucapnya geli. Airez membalikkan tubuh Aira menghadap ruang rekaman. Ia menunjuk ke arah Erigo yang terdiam.


"Pria pujaanmu sedang meracau di sana, adikku sayang" Ucapnya berbisik di telinga Aira.


Aira terduduk lemas di sofa, menghembuskan nafas, lega luar biasa. Rasa sakit kepalanya menguap, berganti haus.


Erigo tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada kedua kakak beradik di depannya. Tapi melihat Aira duduk tertunduk, ia segera berlari keluar.


"Aira?!" Ucapnya lembut menghampiri Aira. Ia duduk berlutut di depan Aira, menggenggam jemari Aira.


Erigo menunduk mencari wajah wanitanya. Ia bisa merasakan tangan Aira yang gemetar.


Winne mendorong dada Airez. "Bercandamu sangat tidak lucu Zuma" Ucapnya marah. Tapi ia tetap melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Airez dan Airez tertawa.


Airez menyuruh semua orang di studio rekaman pulang, mengingat Erigo mungkin tak akan melanjutkan rekamannya malam ini.


"Antar aku pulang Anantha. Aku juga sudah cukup melihat mereka. Besok aku punya banyak agenda, dan sekarang aku sangat lelah." Ucapnya lagi dan mereka pergi meninggalkan Erigo dan Aira.


___________________________________


Erigo melonggarkan pelukannya, duduk di samping Aira dan mengangkat wajah Aira yang basah. Ia menghapus air mata Aira dengan telapak tangannya.


"Jangan menangis Aira" Ucapnya lembut. "Katakan padaku, apa yang terjadi?" Tanya Erigo.


Aira berusaha keras menenangkan dirinya. Ia kesal sekali pada Airez. Aira ingin sekali meninjunya, menjambaknya atau mencakarnya, apa saja lah itu. Ia takut Airez akan benar-benar meninju Erigo, mematahkan hidungnya dan merusak wajah tampannya.


"Dia tidak menyakitiku, sayang. Hanya mengatakan beberapa hal dan__yah sedikit mengancam, kalau boleh ku bilang. Dia memintaku__" Erigo terkekeh. "Dia memerintahkanku untuk menjagamu, jika tidak, dia akan menghancurkanku. Kira-kira begitu."


Erigo tersenyum memandangi wajah Aira. Bulu matanya yang panjang kini basah terkena air mata. Hidungnya yang mungil kini memerah di ujungnya. Lalu bibirnya___bibirnya sempurna. Menggoda Erigo untuk menciumnya. Erigo menunduk mencari bibir Aira. Ketika menemukannya, ia berlama-lama disana. Melepaskan semua pikiran yang membebaninya, melepaskan semua rasa rindu yang sudah di tahannya. Mencium Aira membuatnya merasa tidak ingin beranjak dari sana sampai kapanpun.


Erigo menarik pinggang Aira, mengangkat gadis mungil itu ke pangkuannya, merapatkan tubuhnya, menciuminya dengan pelan, lalu cepat, lalu pelan lagi. Membenamkan jemarinya di sela-sela rambut Aira yang tebal dan panjang, menahan kepala Aira disana. Erigo tak ingin melepaskan Aira. Sementara Aira mengalungkan tangannya di leher Erigo.

__ADS_1


Ciuman Erigo memabukkan. Aira mencari-cari akal sehatnya. Ia tidak pernah berciuman dengan siapapun, Erigo adalah yang pertama dan satu-satunya yang membuatnya ingin lepas kendali. Ciuman Erigo adalah candu baginya. Ia ingin menarik diri, namun masih ingin nanti dan nanti dan nanti lagi, hingga kemudian Erigo yang mengakhirinya dengan perlahan.


Mata Erigo menggelap, rahangnya mengeras, lagi. Kendali dirinya hampir lepas. Wanita yang di rindukannya selama berhari-hari kini berada di sini, di dalam pelukannya, menari-nari di bibirnya, membuatnya mabuk. Jantungnya berpacu. Kepalanya berdenyut sampai ke kaki. Logikanya berperang melawan hasratnya.


Ia bisa saja melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman pada Aira, tapi ia memilih untuk menjaga kekasihnya. Termasuk dari dirinya sendiri.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aira melihat ekspresi Erigo yang tampak frustasi. .


Erigo membelai punggung Aira. "Aku hampir mati karenamu Aira" ucapnya serak.


"Tadinya ku pikir juga begitu, karna Airez bilang dia akan meninju pria yang menciumku" Ucap Aira polos.


Erigo tergelak. Bukan itu yang dimaksudnya. Tapi ya sudahlah. Ia senang melihat betapa Aira memperdulikannya. Entah bagaimana cara gadis itu melarikan diri dari rumahnya dan mencarinya, bahkan mencengkram kerah kakaknya. Sekarang, kejadian tadi barulah tampak lucu baginya.


Ada banyak rintangan di depannya. Airez mungkin sudah di lewatinya. Lalu bagaimana dengan Frans Maxim Zuma, ayah Aira. Sebagai pendiri Agensi Mouse Entertainment, tentu tidak akan mudah bagi orang seperti Frans menyerahkan putrinya yang berharga kepada Erigo. Citranya sebagai playboy agensi kini mencekik dirinya sendiri.


Erigo perlahan menurunkan Aira dari pangkuannya, mencium pipi Aira sekilas dan berkata dengan lembut. "Jadi, ceritakan padaku Aira, siapa dirimu sebenarnya?" Tanyanya.


Bukannya Erigo belum mendengarnya dari Airez, Ia bahkan terkejut tadi. Hanya saja ia ingin mendengar langsung dari Aira.


Aira tersenyum. "Namaku Aira Maretha Zuma. Kakakku adalah pria posesif yang kau temui tadi. Dan ayahku, Frans Maxim Zuma bahkan lebih posesif dari itu." Ucap Aira mengangkat bahu.


"Aku bukannya ingin menakutimu." Aira tersenyum jahil.


Erigo tersenyum mendengarkan penjelasan Aira. "Kau benar-benar anak Frans Maxim Zuma." Erigo mengangguk. "Lalu bagaimana kau bisa bekerja sebagai stylist?" Tanyanya.


Aira mengangkat bahunya. "Dunia fashion adalah yang paling ku sukai, jadi aku mempelajarinya di sela-sela pendidikan formalku." Ucap Aira.


"Aku memohon pada ayah agar aku bisa bekerja tanpa bayang-bayang namanya. Dan dia setuju hanya untuk 1 tahun. Tapi belum juga setahun, aku sudah membuat masalah" Ucapnya lagi.


"Kau menyesal menjalin hubungan dengan ku?" Tanya Erigo.


Aira menegakkan duduknya. "Tidak. aku tidak bilang begitu" Jawabnya panik.


Erigo tertawa. "Aku tau. Kalau kau menyesal, kau mungkin tak akan menemuiku lagi" Ucap Erigo. Erigo mengambil sejumput rambut dan menyelipkannya di belakang telinga Aira. Telinganya bagus, pikir erigo.


"Apa kau tau apa yang di rencanakan Airez besok?"  Tanyanya.


Aira menatap Erigo. "Tidak, aku tidak tau"


Erigo tersenyum. "Besok kau akan tau. Untuk sekarang, aku akan mengantarmu pulang" Ucapnya lagi sembari mencuri satu ciuman singkat di bibir Aira.

__ADS_1


__ADS_2