Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 27


__ADS_3

Hampir satu jam berlalu di perjalanan. Aira tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi pria di sampingnya menyetir dalam diam. Erigo terlihat Sangat marah dan Aira bahkan tidak berani bertanya. Ia hanya menggigit bibirnya karna cemas.


Suasana muram meliputi di dalam mobil yang bergerak melaju ke arah jalan pulang.


Ponselnya berdering, Aira melihat Erigo sekilas lalu menjawabnya "Halo Winne.. " Ucapnya.


Suara Winne terdengar gusar dan khawatir. "Dimana kau Maretha? Apa yang terjadi disini? Kenapa semua orang pergi?" Tanyanya cepat. Winne sama bingungnya seperti Aira.


Aira mulai menggigiti ujung ibu jarinya karna cemas. "Aku di jalan pulang bersama Erigo. Maafkan aku. Aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi akan ku kabari setelah kami sampai, oke." Ucap Aira takut-takut melirik Erigo. "Apa Kei sudah kembali ke villa?" Tanya Aira khawatir. Aira cemas karna Kei pergi sendirian sementara ia diseret pulang oleh Erigo.


"Dia sudah kembali sekitar setengah jam yang lalu. Kei menelpon manajernya untuk menjemputnya pulang, sekarang dia sedang berkemas, kurasa." Jawab Winne ragu-ragu. "Dia mengunci diri di kamarnya Aira."


Winne menghembuskan nafas frustasi. "Aku tak tau apa yang terjadi, Kei tampak kalut dan sedih, dia tidak mau bicara padaku atau siapapun. Dan Devano sudah menggedor pintu kamar Kei sejak tadi tapi gadis itu tidak mau keluar ataupun bersuara. Aku cemas sekali Aira." Suara Winne bergetar.


Aira memejamkan matanya. "Aku juga sedang tidak bisa membantumu Winne, aku benar-benar minta maaf. Erigo juga tampak__mmm__kurang baik" Ucap Aira hati-hati.


Erigo menyetir masih dalam batas kecepatan wajar, namun melihat dari genggamannya pada setir Aira bisa tau ada sesuatu yang mengganggunya.


"Aku akan bicara padamu lagi nanti. Bisakah kau mengawasi Kei untukku?"


"Baiklah." Ucap Winne pelan. "Yansen dan Toddy juga masih ada disini."


Aira mengangguk. "Itu melegakan Anantha, untunglah. Aku benar-benar akan menelponmu lagi nanti. Bye." Ucap Aira mengakhiri panggilan.


Sekarang ia hanya bisa menunggu sampai Erigo mau bicara padanya.


___________________________________

__ADS_1


Di tempat lain, Kei duduk terdiam di tengah lautan kesedihan, memeluk lutut dengan lengannya dan membenamkan kepalanya disana. Sementara di luar kamar, Devano mengetuk pintu dan berusaha membujuk agar ia membukanya.


Kei mengabaikan panggilan-panggilan itu. Ia butuh waktu untuk mengendalikan diri agar tidak meledak.


Hatinya luka. Kata-kata Devano menyakitinya. Ia memejamkan mata berharap ia tidak pernah melangkah ke sana, ke ruangan tempat Devano sedang menghinanya, menghina perasaannya.


Ia menatap barang-barangnya. Itu tidak banyak, hanya satu tas kecil. Ia siap untuk pergi, pergi melarikan diri menyelamatkan sisa-sisa hatinya dengan menjauhi Devano.


Kenangan manis dan pahit berkelebat di benaknya. Mengingat saat pertama kali ia menjejakkan kaki sebagai peserta pelatihan dan bertemu sosok Devano yang tampan penuh kharisma dengan senyum ramah. Kei seketika jatuh cinta.


Ia dengan cinta khas remaja, memuja Devano yang selalu tampak luar biasa. Ia berusaha mendekati Devano, bersikap manja padanya, berusaha menarik perhatiannya dan setengah mati berjuang untuk masuk kedalam lingkup pergaulan Devano.


Kei berusaha selalu 'terlihat' oleh Devano dimanapun mereka berada. Prestasi demi prestasi di raihnya hanya agar Devano memperhatikannya.


Sekali waktu ia memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Devano. Waktu itu Devano tersenyum sangat manis, mengelus puncak kepalanya dan berkata agar ia tumbuh lebih dewasa agar Devano bisa mengajaknya berkencan dengan benar.


Ia dengan bodohnya mempercayainya. Ia mengira suatu saat perasaannya akan terbalas dan berusaha mati-matian menjadi wanita yang akan di ajak Devano kencan. Sampai kini ia dewasa ia masih membawa perasaannya, membawa harapannya.


Namun kenyataan pahit menghantamnya telak. Devano tidak pernah tertarik padanya sejak dulu. Bahkan Devano bilang bahwa dia terganggu oleh Kei yang membuntutinya seperti anak ayam. Itu kasar sekali.


Kei merasa kesal, sedih, putus asa dan malu sekaligus hingga otaknya bingung dan tak bisa mencerna emosinya, bahkan air matanya menolak untuk keluar. Ia tidak bisa menangis, ia merasa pening dan kebas. Ia ingin menangis dan mengeluarkan perasaannya, namun ia tak bisa melakukannya. Hatinya mati rasa.


Dering ponsel menghentikan lamunan Kei. Manajernya memberitahukan bahwa dia sudah menunggu di depan villa. Kei mengumpulkan kesadarannya. Sudah waktunya bagiku untuk pergi, ucapnya dalam hati. Kei menyibakkan rambutnya ke belakang, menegakkan tubuhnya, dengan dagu terangkat dan tekad sekuat baja, ia mencengkram tasnya dan menentengnya keluar kamar.


Sudah waktunya aku pergi, ucapnya dalam hati.


_________________________________

__ADS_1


Kei akhirnya membuka pintu setelah hampir satu jam Devano mengetuk dan memanggil. Devano nyaris merobohkan pintu itu jika dalam lima menit Kei tidak juga membukanya. Diam-diam Devano mengamati gadis itu, menebak-nebak bagaimana perasaannya.


Devano melihat Kei menenteng tasnya di satu tangan. "Kau mau kemana Kei?" Tanyanya tajam. "Kita perlu bicara." Ucapnya tegas.


Kei tersenyum dengan tenang. Setidaknya ia mencoba untuk terlihat tenang. "Aku ingin pulang Dev. Dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku sudah cukup mendengar semuanya dan aku mengerti." Ucapnya dengan segala kepahitan dalam kata-katanya. "Aku minta maaf atas ketidaknyamanananmu selama ini. Aku sungguh tidak peka. Tolong maklumi aku." Ucapnya.


Kei menatap lurus ke arah Devano dengan ketenangan yang mengesankan. Ia pantas bangga pada dirinya sendiri.


Sementara Devano gelisah. "Kei, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku tidak tau kau berdiri disitu dan mendengar semuanya. Aku pantas di pukul." Ucap Devano.


Kei terlihat santai namun di balik tatapan matanya, Devano melihat rasa sakitnya. Kilatan mata itu berubah ketika memandangnya.


Kei tertawa sumbang. "Itu tidak perlu. Yang kau katakan  tidak salah." Ucapnya. "Maafkan aku, tapi aku harus segera pergi, manajerku sudah menunggu." Ucapnya sambil melangkah. Ia tidak berniat berlama-lama menghadapi Devano karna ia tidak tau kapan kendali dirinya akan runtuh.


"Itu sangat salah Kei. Kata-kataku sangat kasar dan tidak bisa di terima. Kumohon, izinkan aku menjelaskannya" Ucap Devano berusaha menghentikan langkah Kei.


Kei mencengkram kuat pegangan tas yang ditentengnya. "Tolong aku Dev. Aku sudah cukup malu padamu. Kau hanya menganggapku anak kecil dan seharusnya aku sadar, bukannya malah memanfaatkan kebaikan hatimu dan menempel padamu. Aku yang salah." Ucapnya getir.


Kei mengepalkan jemarinya berusaha menguatkan diri. "Aku benar-benar harus pergi. Trimakasih atas kesempatan yang kau berikan untuk bernyanyi bersamamu. Aku mendoakan kesuksesanmu. Selamat tinggal Dev." Ucapnya lagi.


Kei melangkah pergi sebelum Devano sempat menanyakan maksud dari kata-katanya.


Kei memeluk Winne dan meminta maaf lalu mengucapkan selamat tinggal pada Toddy dan Yansen yang masih terheran-heran.


Kei dengan tenang duduk di mobil mengatur nafasnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ia mengumpulkan kendali dirinya dan seluruh harga diri yang tersisa dan pergi dengan kepala tegak meskipun hatinya terkoyak.


Kei menghubungi Airez. Ia sudah membulatkan tekad. Ia akan pergi dan meninggalkan semua kenangan pahitnya disini dan melupakan cintanya pada Devano untuk selamanya.

__ADS_1


Sementara itu, Devano merasa gamang. Tidak ada lagi keramah tamahan dalam suara Kei yang di kenalnya. Tidak ada lagi senyuman ceria yang selalu dipersembahkan Kei untuknya. Devano bahkan tidak melihat lagi binar-binar kekaguman dimata Kei untuknya yang baru kini disadarinya. Hanya kilatan sakit hati yang terpancar disana.


Devano tidak pernah menyangka dirinya akan terpengaruh ketika Kei meninggalkannya. Lalu ucapan selamat tinggal itu, meninggalkan kekosongan dalam hatinya.


__ADS_2