Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 23


__ADS_3

Airez kembali ke rumah sekitar pukul empat sore dan menemukan adik kesayangannya tersenyum manis menyambutnya. Ia memeluk Aira dan mencium puncak kepalanya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya.


"Tidak banyak, hanya menunggumu pulang untuk berterimakasih" Ucap Aira tersenyum.


Airez melepas pelukannya dan berjalan ke dapur. "Tidak perlu, melindungimu sudah jadi tugasku" Jawabnya. Ia mengambil segelas air dan meminumnya. "Aku yang akan berterimakasih padamu" Ucapnya lagi.


Aira menatapnya bingung "untuk apa?"


Untuk Zora, ucapnya dalam hati. Ia tidak bisa berhenti tersenyum. "Aku menemukan targetku." Jawabnya lalu pergi ke kamarnya.


Aira memonyongkan bibirnya, menyipitkan matanya lalu menggelengkan kepala. "Eeiiii.. Tidak mungkin seperti yang kupikirkan bukan?" Ucapnya mengenyahkan pikiran bahwa kakaknya bertemu wanita menarik di luar sana. Airez tidak pernah tertarik pada gadis manapun walau mereka mengejarnya. Dia laki-laki berhati dingin.


______________________________________


Erigo menelpon Aira mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang dari studio musik. "Toddy bilang dia merindukanmu" Ucapnya.


Aira tersenyum lebar. "Benarkah? Ahhh... Aku ingin kembali bekerja" Ucapnya.


"Aku akan sangat senang jika kau kembali, jadi aku bisa melihatmu sepanjang waktu" Ucap Erigo.


"Kau tau? Banyak penggemar berkumpul di depan gedung. Mereka berteriak padaku bahwa mereka mendukung aku dan kau" Erigo terkekeh.


Aira senang. "Oh itu melegakan. Kalian bisa bekerja kembali tanpa gangguan" Ucapnya.


"Benar sekali. Ahh iya, apa aku boleh kesana kapan-kapan? Aku ingin menemui orangtuamu" Ucap Airez.


"Tentu saja boleh" Ucap Aira senang. "Aku akan mengatur waktunya sebelum Airez kembali ke Amerika" Ucap Aira lagi.


_______________________________________


Dan disinilah Erigo tiga hari kemudian. Duduk di meja makan besar dengan banyak hidangan menggoda selera. Aira dan ibunya duduk tersenyum di depannya. Ibunya Aira adalah wanita yang sangat ramah dan murah senyum, walaupun Erigo pernah melihat wanita paruh baya itu mengomeli Aira saat ia dan Aira sedang bersembunyi di dalam lemari. Mengingat hal itu membantu meringankan perasaannya yang tidak nyaman karna duduk bersebelahan dengan Airez. Lalu di ujung meja, duduk seorang ayah yang terlihat berwibawa dengan tatapan menilai pada Erigo.


Frans adalah orang yang menakutkan, benar, jika menyangkut anak-anak dan perusahaannya. Namun sebenarnya dia adalah sosok orang yang penyayang dan perhatian, tidak hanya pada keluarganya, tapi juga pada semua artis di bawah naungan Mouse Entertainment.


Frans selalu hadir dalam acara-acara penting dan selalu menyenangkan bertemu dengannya. Tetapi kali ini berbeda. Erigo bukannya akan mengisi acara amal atau apapun. Ia ada disini untuk menegaskan hubungannya dengan Aira.


Keheningan menyeruak di meja makan. Sejenak Aira takut ayahnya akan memaki Erigo karna skandal yang disebabkan Moza. Ayahnya selalu bersikap sangat protektif padanya meskipun dia selalu ramah pada artis-artisnya.


"Aku sudah melihatmu bertumbuh sejak menjadi peserta didik di perusahaan ketika kau masih remaja, Erigo. Kau orang yang sangat gigih dan berkemauan keras." ucap ayahnya memecah keheningan.

__ADS_1


Ayahnya menatap lekat pada Erigo. "Aku harus meyakinkan diriku bahwa kau akan selalu mendahulukan dan melindungi putriku di atas kepentinganmu. Jika melihat kebelakang, aku tak akan setuju." ayah Aira menggeleng.


Aira menatap cemas pada Erigo di depannya yang tampak serius mendengarkan kata-kata ayah Aira.


Erigo duduk tegak dengan sikap hormat, ia sudah bertekad untuk mendapatkan restu malam ini juga.


"Aku sangat mengerti kekhawatiranmu pak, dan setelah semua yang terjadi, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar menyayangi putrimu dan aku akan menjaganya dengan penuh tanggung jawab."


Frans mengangguk. "Kau sudah mengatakannya. Jika kau benar berjanji akan menjaganya dengan penuh tanggung jawab, maka aku akan memberimu kesempatan." ucap Frans tegas.


"Trimakasih pak, aku sangat menghargainya" ucap Erigo lega. Dan tidak disangka, ayahnya tiba-tiba bersikap ramah.


"Putriku sangat cantik bukan? Dia mirip ibunya" Ucap ayah Aira. Suaranya berat dan berwibawa. "Dia punya perasaan yang sangat halus. Aku harap kau bisa menjaganya" Ucap ayahnya lagi.


"Putri anda memang sangat cantik. Aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Erigo.


Ibu Aira tersenyum. "Ibu sangat menghargai keberanianmu Erigo. Trimakasih." ucap ibunya sambil menggenggam tangan Aira.


"Airez akan segera kembali ke Amerika. Ibu akan senang jika kau sering datang. Ibu akan memasakkan makanan untukmu"


Erigo tersenyum membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi Airez duluan bicara. "Aku akan sering-sering pulang" Ucapnya penuh arti.


_______________________________________


Sementara ibu Aira berkutat di dapur memberi instruksi ini itu pada asisten rumah tangga mereka, Anna. Aira mencium sekilas pipi ibunya. "Aku dan Erigo akan berada di kamar atas ibu. Aku akan senang jika Anna dapat mengantarkan beberapa cemilan dan buah untuk kami" Ucap Aira tersenyum dan mengedipkan matanya pada Anna sang asisten rumah tangga.


Anna tersenyum mengangguk. "Akan ku bawakan ke atas nona Aira" Ucapnya.


"Trimakasih Anna. Kau baik sekali. Aku akan senang menculikmu ke apartemenku" Cetus Aira.


Ibunya dan Anna tertawa melihat kepergian Aira.


"Aira ku sudah kembali ceria, benar Anna?"


"Iya nyonya. Saya sangat senang melihatnya setelah badai air mata beberapa hari kemarin." Ucap Anna setuju.


Ibunya meletakkan beberapa kue kering ke dalam piring dan mengambil nampan. "Mereka pasangan yang serasi bukan? Aku menyukai bagaimana Erigo selalu menatapnya dengan penuh cinta. Dia orang yang sangat terus terang."


Ibunya menghentikan kesibukannya dan menghadap Anna yang sedang membasuh piring. "Apa menurutmu mereka sedang bermesraan di atas? Atau berciuman?" Ibunya mendelik penasaran ke arah tangga.

__ADS_1


"Ouugghh muda mudi jaman sekarang" Ucapnya tertawa mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. "Kenapa aku jadi merasa malu?" Ucapnya meraba kedua pipinya yang merona.


Anna tertawa. "Apa nyonya penasaran? Anda bisa ke atas dan mengintip" Ucap Anna setengah berbisik.


Ibu Aira tertawa malu dan menepuk lengan Anna. "Auugghh aku tak akan melakukannya. Kau pergilah ke atas, antarkan cemilan ini dan ceritakan padaku nanti" Ucap ibunya terkikik.


Anna tertawa melihat tingkah majikannya. Mereka sekeluarga memang terlihat berwibawa bagi orang-orang di luar sana. Akan tetapi, mereka sebenarnya adalah orang yang hangat dan terkadang suka bertingkah konyol. Bahkan tidak akan merasa canggung bercanda dengan para pekerja disini. Hal itu lah yang menghidupkan suasana di rumah dan membuat para pekerjanya betah. Terasa seperti keluarga.


___________________________________


Pintu kamar Aira di ketuk, ia mempersilahkan Anna masuk membawa nampan berisi sepiring kue kering, sepiring buah dan dua gelas jus jeruk. Anna meletakkannya di atas meja kecil di antara Erigo dan Aira yang sedang duduk mengobrol di balkon kamar.


"Trimakasih Anna" Ucapnya tersenyum.


Anna balas tersenyum kepadanya. "Sama-sama nona Aira. Saya pamit kebawah. Panggil saja jika butuh hal yang lain" Ucap Anna yang dibalas dengan anggukan kepala Aira.


Setelah pintu di tutup, Aira menoleh pada Erigo yang sedang menatapnya. Aira tersipu malu. "Apa yang kau lakukan? Jangan menatapku, aku malu." Ucapnya mengalihkan pandangan.


"Aku ingin melihatmu lama-lama. Aku sudah merindukanmu berhari-hari karna aku tidak bisa melihatmu sesering dulu." Ucap Erigo. Ia menjangkau jemari Aira di seberang meja. "Aku tak bisa memintamu kembali bekerja sebagai stylist di tim lagi." Erigo tergelak. "Mereka yang dulu membicarakanmu, bahkan tidak berani membuka mulutnya lagi sejak pengumuman itu. Mereka takut nasibnya akan berakhir seperti Moza."


Aira tertawa. Wajahnya sudah kembali cerah.


"Kau tau, Raka memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya dari lubuk hati yang paling dalam. Dia bilang, jika dia sampai bergosip tentangmu lagi, dia akan memaku bibirnya ke gigi dengan sukarela"


Aira tergelak mendengarnya. "Bohong. Kau pasti melebih-lebihkan." Ucap Aira tertawa.


Erigo ikut tertawa. "Aku berkata apa adanya. Tanya saja pada Devano. Karna Dev bilang, dia yang akan dengan senang hati mengambilkan palu dan pakunya. Kau harus melihat wajah Raka saat Dev mengatakannya."


Aira tertawa mengerutkan hidungnya. Erigo selalu mengatakan hal yang konyol padanya, dan ia amat sangat menyukainya.


Suara tawa Aira membuat segala kepenatan yang di rasakan Erigo seharian seakan menguap dan menghilang. Ia selalu menyukai suara tawa itu.


Erigo mencium buku-buku jari Aira. "Kau bertahan melewati badai yang belum pernah kau temui, aku sangat berterimakasih" ucap Erigo. "Ku pikir orangtuamu akan memakiku, atau memaksa kita putus hubungan atau semacam itu"


"Ayahku melakukannya" ucap Aira dengan cengiran. "Tapi ibu membelaku" ucapnya lagi.


"Aku harus berterimakasih pada ibumu" ucap Erigo.


Aira tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2