
Aira meminta Erigo mengantarnya ke apartemen untuk mengumpulkan barang-barangnya yang ketinggalan di kamar dan memasukkannya ke dalam kotak untuk dibawa ke rumah ayahnya. Sementara Erigo berdiri bersandar di kusen pintu melipat tangannya di dada dan menyilangkan kakinya yang panjang. Ia menatap lekat pada Aira yang bergerak kesana kemari mengumpulkan barang berukuran kecil-kecil.
Aira terlihat sangat mungil dan feminim dalam balutan blus biru muda dan celana jeans ketat yang sempurna melekat di kakinya yang ramping. Rambutnya tergerai di bahu dan punggungnya. Bergoyang kesana kemari karna gerakan kepala dan menguarkan aroma strawberry. I love strawberry, pikir Erigo.
Ia berjalan ke arah Aira dan memeluk pinggangnya dari belakang. Menarik nafas panjang mencium rambut Aira, menghirup aroma strawberry segar. Ciumannya turun ke tengkuk Aira. "Aku suka aromamu" Ucapnya pelan di telinga Aira.
Getaran aneh menjalari Aira membuatnya bergidik. Aira berbalik dalam pelukan Erigo. Langkah yang salah karna begitu ia melihat kedalaman mata Erigo, tatapan Erigo menusuk matanya, memercikkan api yang tak pernah Aira sadari ada dalam dirinya.
Erigo sendiri menegang, gelisah berusaha mengendalikan respon spontan itu. Tatapannya menjelajah dari mata hingga jatuh pada bibir Aira yang terbuka dan ia menunduk menguasai bibir paling menggoda yang pernah ditemukannya. Tubuh Aira bergetar dalam dekapannya.
Ciuman-ciuman Erigo terasa pelan dan membujuk. Aira mulai tenggelam. Rasa penasaran meledak-ledak dalam dirinya. Aira melingkarkan tangannya di sekitar leher Erigo. Pikirannya berteriak melawan, sementara tubuhnya menyerah pada sensasi panas ciuman Erigo.
Dalam semenit Erigo mengukur jarak mereka ke tempat tidur Aira, mengabaikan pertentangan yang terjadi dalam dirinya. Ia memeluk Aira, menginginkannya sekarang juga. Tapi ia adalah makhluk beradab. Ia berusaha mengendalikan diri dengan seluruh tekad yang ia miliki. Ia harus mencegahnya dengan cara apapun.
Erigo dengan cepat mendorong tubuh Aira, melepaskan ciumannya dan segera berbalik. Rahangnya mengeras. Ia menarik rambutnya sendiri untuk meredakan rasa sakit. "Sial, Aira." Ucapnya lirih.
Aira terhenyak di tempatnya. Merasa dingin karna kehilangan pelukan lelakinya. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.
Erigo tertawa frustasi. "Aku takut tidak bisa menahan diri Aira. Aku benar-benar menginginkanmu. Tapi aku ingin melakukannya dengan cara yang tepat" ucap Erigo.
"Maafkan aku.. " ucap Aira lirih.
Erigo berjalan cepat memegang bahu Aira. "Tidak sayang. Jangan minta maaf padaku." Erigo memeluk Aira. "Tolong selesaikan dengan cepat agar aku bisa berpikir jernih" ucapnya terkekeh.
_____________________________________
Aira dan Erigo baru saja keluar ketika pintu depan Devano terbuka. Tiga orang keluar dari sana. Aira merasa dejavu, tapi kali ini yang keluar adalah Kei.
Alis mata Aira terangkat melihat gadis mungil itu. Senyumnya merekah.
Kei Monita, penyanyi muda bersuara khas yang akan berkolaborasi dengan Devano keluar bersama manajernya. Kei adalah adik sepupu Aira yang tiga tahun lebih muda dari dirinya. Usianya mungkin sekitar 22 tahun, bertubuh mungil seperti Aira, berkulit putih, rambut berwarna gelap dan panjang, dengan mata bulat, hidung kecil dan wajah yang cantik sempurna.
Kei berlari memeluk Aira. "Aira.. " Serunya.
__ADS_1
Aira balas memeluk Kei. "Hai Kei. Senang bertemu denganmu." Ucap aira tersenyum. "Hai Devano." Ucapnya lagi.
Devano memasukkan tangannya ke saku celana. "Hai Aira. Bagaimana kabarmu?" Tanyanya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Erigo di samping Aira.
Kei tersenyum manis pada Erigo. "Aira adalah kakak sepupuku dari pihak ibu" Ucap Kei seceria biasanya.
Mereka bertukar kabar selama kurang lebih sepuluh menit, lalu Aira dan Erigo berpamitan untuk pulang. Dan sang manajer pergi mengambil mobil untuk Kei.
__________________________________
Devano menatap kepergian Aira tanpa berkedip. Hal itu terlihat jelas oleh Kei. Ia memperhatikan cara Devano menatap Aira. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah tatapan putus asa yang berusaha di sembunyikan Devano dalam sikap tegar. Kei mengenalinya, karna seperti itulah dirinya menatap Devano selama ini.
Hatinya tiba-tiba sakit mengetahui kenyataan bahwa Devano ternyata menyukai Aira.
"Kau menyukai Aira, rupanya." Ucap Kei. "Kakak sepupuku sangat cantik bukan?" Kata Kei lagi.
Devano tersenyum memutar tubuhnya ke arah Kei dan mengubah elspresinya menjadi seceria mungkin. "Kau juga tidak kalah cantik Kei" Ucap Devano memuji.
Kei mengangkat bahunya. "Kalau menurutmu aku cantik, lalu kenapa kau tidak mengajakku kencan?" Tanya Kei terus terang.
Ia sudah menyukai Devano sejak masih menjadi peserta pelatihan. Dan setiap kali ada kesempatan berbicara dengan Devano, Kei selalu menyatakan ketertarikannya tanpa ragu-ragu. Tapi sayangnya, Devano tidak pernah menanggapinya dengan serius. Sama seperti sekarang.
Devano tertawa, mengacak poni Kei. "Pasti sudah banyak pria yang mengajakmu kencan, jadi aku akan memberi mereka kesempatan." Ucap Devano.
Kei memajukan bibir bawahnya. "Aku tidak tertarik pada pria lain. Aku hanya tertarik padamu." ucapnya lagi.
"Malang sekali pria-pria itu" ucap Devano lagi.
Kei mengangguk, tak ada lagi yang bisa ia katakan. Devano tak akan pernah tertarik padanya. Hatinya mulai terasa sakit mendengar penolakan halus Devano selama ini. Kei mengatupkan bibirnya rapat-rapat takut suaranya akan bergetar menunjukkan perasaannya. Ia menunduk sebentar mengendalikan dirinya lalu mendongak menatap Devano sambil berjalan mundur. Ia melempar senyum manis dan melambaikan tangannya tanpa bersuara. Kei berbalik ke depan di tengah lorong, kepalanya tetap tegak, walaupun ia merasa runtuh. Air mata putus asa yang di tahannya sejak tadi akhirnya mengalir.
Devano sepertinya masih saja menganggap Kei anak kecil. Bahkan setelah selama ini ia memberikan sinyal-sinyal yang jelas, Devano malah menyukai orang lain. Kali ini Kei sudah sampai pada batasannya. Ia akan bertahan hanya sampai proyek duetnya selesai. Lalu Kei akan benar-benar mencoba melupakan perasaannya pada Devano.
__ADS_1
___________________________________
Pagi-pagi sekali, Airez sudah sibuk bersiap-siap. Sekitar jam sepuluh hari ini ia akan merilis pernyataan resmi untuk mengklarifikasi berita yang beredar. Ia sudah menginstruksikannya pada direktur cabang perusahaan.
Zora Bashiel. Direktur cabang termuda di agensi, umurnya mungkin sekitar 27 tahun. Dia cerdas, berpenampilan baik, berkacamata, juga cantik dengan fitur wajah Eropa.
Kemarin Airez memarahinya habis-habisan karna terlalu lambat menangani pemberitaan. Sementara Zora beralasan bahwa ia tidak bisa menghubungi pihak-pihak yang berkaitan dengan rumor tsb untuk meminta keterangan yang pasti.
Airez melemparkan salinan struktur organisasi perusahaan ke atas meja kerja Zora dan menyuruhnya membaca nama Aira.
Wajah Zora memerah, ia jelas sakit hati pada Airez.
Setibanya di rumah barulah Airez berpikir ulang tentang sikapnya.
Sekarang, bayangan wajah Zora yang terluka merusak seleranya karna rasa bersalah. Ia tak akan bisa mencerna sarapannya.
Aira menggigit pinggiran rotinya dan mengamati wajah Airez yang tampak seperti mumi. "Apa yang salah dengan wajahmu pagi ini?" Tanya Aira. Ia masih merasa kesal pada kakaknya.
"Zora" Ucap Airez datar.
Aira mengernyit. Kakaknya melamun. "Zora Bashiel?" Tanya Aira.
Airez melihat Aira dengan tatapan penuh harap. "Kau mengenalnya?" Tanya Airez.
Aira mengangkat bahu. "Tidak" Ucapnya. "Winne menelponku tadi malam, dia bilang kau membentak Zora Bashiel di kantornya dan membuat wanita itu malu di depan para karyawan." Aira menyipitkan matanya menatap Airez. "Sifatmu itu sangat buruk dan kau selalu seenaknya" Caci Aira.
Airez menghela nafas berat. "Sepertinya aku sudah berlebihan" Ucapnya.
Aira mengangguk. "sangat___sangat berlebihan" ucapnya menekankan.
"Sudah ku bilang, jangan melampiaskan kesalahan yang dibuat seseorang, pada orang yang lainnya. Kau masih tidak mengerti padahal kau sudah dewasa. Berapa umurmu? Tiga puluh?" omel Aira.
Airez memelototinya.
__ADS_1
"Pergilah. Minta maaf padanya dan akui bahwa kau salah." Ucap Aira lagi. "Walaupun itu tidak akan mengembalikan harga dirinya di depan orang-orang." Aira menyipit menghakimi ke arah Airez.
"Tutup mulutmu. Jangan pergi kemana-mana hari ini!" perintah Airez yang di balas Aira dengan memutar bola matanya.