
Hellena Galleni duduk di bangku taman halaman belakang rumahnya. Wanita itu hanya memandangi bunga-bunganya dalam diam. Will Galleni mendekati istrinya dan bertanya, "Kau sedang apa? Kenapa duduk sendirian disini?" Will Galleni duduk di samping istrinya.
Hellena mendesah. "Semua gara-gara Jun." Ucapnya sembari memandang jendela lantai dua rumahnya, jendela kamar Jun.
"Kenapa dengan Jun?" Tanya suaminya polos. Hellena tidak mengerti mengapa semua laki-laki di keluarganya tidak ada yang berpikiran sama dengannya.
"Kau tau, Jun sudah menginjak usia menikah. Tapi entah kenapa, setiap kali aku membicarakannya, dia pasti akan merasa kesal." Hellena memandang suaminya yang mengangguk-angguk. "Aku juga kesal setiap kali harus membicarakan hal ini. Dia semakin tua, dan aku semakin khawatir." Keluhnya lagi.
"Itu mungkin karena pernikahan, tidak ada dalam agendanya saat ini." Will galleni mencoba membela putri kesayangannya.
Namun Hellena yang sudah kesal karena Jun, menjadi semakin jengkel mendengar suaminya. "Kau seharusnya mencoba membicarakan hal ini pada Jun. Kenapa kau tidak membicarakannya?" Suara Hellena semakin meninggi. "Dia kan harus menikah. Apa kau akan terus memanjakannya seperti itu?" Cecar Hellena lagi, sementara suaminya hanya duduk dan mengangguk.
Will tidak suka berdebat dengan istrinya karena tidak ingin membuat Hellena lelah. Jadi ia hanya mengangguk setuju.
"Aku akan bicara lagi padanya. Kau harus mendukungku dan jangan mengatakan hal-hal bodoh." Ucap Hellena lagi sembari bangkit dari bangku taman.
"Baiklah. Baiklah, aku tak akan mengatakan apapun." Ucap Will setuju.
Hellena masuk ke dalam rumahnya dan menemukan Jun sedang mengutak-atik ponselnya. Dengan penuh tekad ia mendekati Jun. "Jun, kita harus menyelesaikan kesalah pahaman ini." Ucap Hellena dan duduk di samping Jun.
"Kesalah pahaman apa?" Tanya Jun tidak mengerti. Matanya masih mengarah pada layar ponsel pintarnya sementara jemarinya sibuk menggeser di layar.
"Kita harus menyelesaikan masalah sensitif ini." Ucap Ibunya.
Jun segera memahami maksud sang ibu. Ia menoleh dengan tudak percaya. "Ah ibu, kenapa ibu membahasnya lagi? Hentikan itu." Rengek Jun.
"Yah, setidaknya kau harus terbuka pada ibu, dan membuka kesempatan agar ibu bisa memperkenalkan seseorang." Ucap ibunya lagi, dan jun menggelengkan kepalanya.
"Jangan memperkenalkanku pada siapapun. Aku sudah bilang, aku tidak mau. Aku akan bertemu pasanganku nanti. Aku bukannya tidak akan menikah ibu, jadi tolong hentikan." Ucap Jun kesal.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat keras kepala?"
"Kenapa ibu memaksakannya? Aku akan mengurusnya sendiri." Bantah Jun lagi.
Hellena mendesah frustasi dan menggumam. "Orang lain dengan mudah menikah di usia muda."
Jun yang mendengar kata-kata ibunya menjadi semakin sakit hati. "Jika ibu akan terus membahasnya, maka aku akan pergi." Ucap Jun sembari berdiri. Ia mengambil ponselnya dan pergi begitu saja.
Tepat saat itu Erigo baru menuruni tangga setelah melihat anak kembarnya dan membiarkan si kembar menyusu pada ibunya. Ia berpapasan dengan jun yang tampak sangat kesal. Erigo bahkan tidak berani bertanya Jun mau kemana. Ia lalu melihat ibunya duduk sendiri di ruang tamu, dan Erigo langsung bisa menebak apa yang terjadi. Ia menghampri sang ibu dan duduk di sampingnya di tempat Jun duduk sebelumnya.
"Kenapa kakakmu tidak mau mendengarkanku?" Keluh ibunya.
"Kenapa ibu terus saja membahasnya?" Erigo merasa ibunya sudah agak berlebihan hingga membuat Jun marah.
"Ibu hanya frustasi, itu saja. Dia tidak bertambah muda, dan dia harus menikah. Orang-orang seusianya sudah menikah dan memiliki anak. Apa dia tidak merasa iri?" Keluh ibunya lagi.
Ibunya langsung menoleh. "Benarkah? Dia mengencani seseorang?" Tanyanya. Mendadak wajah sang ibu berubah cerah.
"Mmm.. " Erigo mengangguk. Dirinya sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin, namun jika informasi ini bisa membuat ibunya dan Jun sama-sama tidak kesal, ia akan mencobanya. "Dia sudah mengatasinya. Lagi pula, dia tidak bisa mengatakan apapun sebelum hubungannya berubah menjadi serius." Ucap Erigo. Kemudian ia melanjutkan, "Jun tidak bisa mengatakan detilnya pada ibu setiap hari."
'Padaku apa lagi.' Pikirnya dalam hati.
"Kenapa? Tentu saja dia bisa mengatakannya. Ibu akan senang mendengarnya." Ucap ibunya bersemangat.
"Tidak bisa seperti itu." Jawab Erigo lagi. "Jun dan aku, kami mengerti apa yang ibu inginkan, kami paham bahwa ibu merasa waktu terus berjalan. Kami mendengarkanmu ibu." Kata Erigo lembut menenangkan ibunya.
Hellena mengangguk. "Aku hanya ingin Jun mendengarkanku, atau pura-pura saja mendengarkanku. Tapi dia tidak mau melakukannya, dia hanya membantah." Ucapnya.
Erigo memeluk ibunya. "Kami mendengarkanmu ibu." Ucapnya lembut. Erigo mengecup dahi ibunya dan mengusap punggungnya agar tenang.
__ADS_1
Erigo sudah lama tidak tinggal serumah dengan kedua orang tuanya dan Jun karena dia menyewa apartemen dan studio sejak berkarir. Dulu ia hanya mendengar sedikit dari Jun, sedikit pula dari ibunya. Erigo tidak menyangka topik sensitif ini ternyata sering membuat ibu dan kakaknya bertengkar.
Sukup sulit berupaya menjadi penengah bagi keduanya, namun karena Erigo sekarang sudah dewasa, dia ingin mengambil peran itu dalam keluarganya.
Sementara itu, dua jam telah berlalu sejak Jun meninggalkan rumah. Will Galleni duduk di bangku taman menunggu putrinya kembali. Ketika Jun datang, Will berdiri dengan senyum cerah menyapa sang putri. "Hai Junny." Sapanya ceria.
Jun segera tersenyum melihat ayahnya. "Apa yang ayah lakukan disini?" Tanya Jun sembari ikut duduk di bangku disamping sang ayah.
"Aku menunggumu pulang. Kemari dan duduklah, disini sejuk." Ucap Will seraya menepuk bangku di sampingnya. "Kau pergi kemana tadi? Apa sudah cukup mendapat udara segar?" Lanjutnya lagi sembari memandangi wajah putrinya yang lesu.
"Sudah" Jawab Jun ringan sembari memaksakan tawa. "Augh ayah tau, ibu mengamuk hari ini." Keluhnya. Jun duduk disamping ayahnya dan bersandar malas di sandaran bangku taman.
"Karena dia menyinggung tentang pernikahan?"
Jun mengangguk malas. "Ibu mengatakannya berulang kali, bahkan aku memintanya berhenti tapi dia mengatakannya lagi dan lagi, hingga membuatku kesal." Jun menggeleng frustasi.
"Bagaimana sebenarnya pendapatmu tentang itu?" Tanya ayahnya.
Jun mendesah berat. "Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang. Aku dekat dengan keluargaku." Jun melirik ayahnya sekilas lalu melanjutkan, "Aku tinggal jauh dari kalian, bahkan setelah ibu sakit, aku tidak bisa merawatnya. Aku ingin mencurahkan waktu dan usahaku untyk merawat ibu sampai ibu pulih dan membaik. Jadi, aku belum memikirkan soal pernikahan, aku bahkan tidak tertarik. Aku hanya ingin menjaga ibu. Itu saja."
"Mmm.. Ayah mengerti." Will mendengarkan keluh kesah putrinya dengan sabar.
"Tapi aku tidak mengerti kenapa ibu ingin sekali melepaskanku." Ucap Jun lagi dengan nada kecewa.
"Ayah tau ibumu sedikit memaksa dengan topik itu, tapi lakukan apa yang ingin kau lakukan, karena yang terpenting adalah keinginanmu. Mengerti?"
Jun memandang ayahnya dan tersenyum. "Aku mengerti." Ucap Jun seraya memeluk ayahnya.
"Sekarang ayo kita masuk ke dalam dan bicara pada ibumu." Ajak ayahnya. Mereka berdua bangkit dari bangku taman dan berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1