Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 17


__ADS_3

Erigo menelpon Aira setengah jam setelah rekaman acara selesai. Ia meninggalkan studio begitu saja tepat setelah mendengan kata 'cut'. Tidak mau repot-repot tinggal untuk berbasa basi karna suasana hatinya sudah berantakan. Ia menghambur ke ruang tunggu untuk mencari Aira namun tidak menemukannya. Asisten Winne, Raka, memberi tahu bahwa mereka pulang duluan. Dengan perasaan bercampur aduk ia menunggu Aira mengangkat panggilannya.


Aira sedang makan malam dirumah bersama Winne ketika ponselnya berdering.


"Halo"


"Aira, kau baik-baik saja?" Sembur Erigo melewatkan sapaan basa-basi.


"Aku baik-baik saja. Syutingnya sudah selesai?" Aira memberi kode pada Winne agar ia bisa berbicara di kamar. Winne menjawab dengan anggukan kepala.


"Baru saja. Aku mencarimu kemana-mana. Apa yang terjadi? Aku melihat Winne merangkulmu keluar studio." Erigo mencecarnya.


Aira diam sebentar lalu berkata dengan lembut "Erigo, tenangkan dirimu. Aku benar-benar baik-baik saja." Ucap Aira tanpa menjawab pertanyaan Erigo.


Hening sebentar di ujung sana. Lalu suara Erigo melembut. "Bisakah aku menemuimu sekarang? Aku tak ingin mengatakannya di telpon, aku ingin bertemu langsung denganmu."


"Boleh saja. Katakan dimana, aku akan kesana" Ucap Aira.


Mereka bertemu di cafe dekat persimpangan tidak jauh dari apartemen Aira. Memilih duduk di meja paling sudut yang di lengkapi partisi pembatas, bersembunyi dari pandangan pengunjung lain.


Erigo mengulurkan tangannya ke seberang meja dan menggenggam tangan Aira. Kepalanya menunduk dan dahinya mengernyit menahan sakit kepala.


Aira yang lebih dulu bicara. "Maafkan aku sudah memaksamu melakukan rekaman acara itu"


Erigo menggeleng. "Bukan salahmu Aira, tak perlu minta maaf. Justru aku lah yang seharusnya minta maaf padamu karna harus melihat kejadian tadi. Foto sialan itu." Ucap Erigo marah.


Aira hanya terdiam memandangi Erigo yang tampak sangat lelah dan marah.


"Ini sangat menyebalkan Aira. Dia manusia terburuk yang pernah ku temui sepanjang hidupku" Keluh Erigo. Ada sorot benci dalam pandangan matanya.


Aira membelai wajah Erigo dengan sebelah tangannya. "Malang sekali.. " Ucapnya lirih. "Apa yang akan terjadi setelah ini?" Tanya Aira.

__ADS_1


Erigo menangkap tangan Aira dan menahannya di pipinya lalu mencium telapaknya sekilas.


Erigo menatap Aira dengan sorot mata serius. "Setelah acara sialan itu tayang di hari sabtu malam, itu akan menimbulkan kehebohan di media. Mereka akan menggila Aira." Ucap Erigo. "Mereka akan mengejarku bahkan sampai ke lubang semut sekalipun. Ku rasa member lainnya juga akan terkena imbasnya dan pekerjaan yang di jadwalkan untuk beberapa minggu kedepan akan sangat sulit dilakukan." Erigo mengingatkan.


Aira tidak terkejut sama sekali soal itu. Ia sudah pernah melihat beberapa selebriti diberitakan berkencan oleh media secara brutal sampai pada level mengganggu sang artis.


Erigo mendengus dengan jijik. "Moza akan memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan popularitasnya. Dia akan mengatakan apa saja ke media. Membayangkannya saja sudah membuatku mual." Cetus Erigo lagi.


"Muntahkan saja" Ucap Aira asal. Aku sudah melakukannya, pikir Aira.


Erigo tersenyum mendengar perkataan Aira. "Jangan percaya apapun yang dikatakan atau di siarkan oleh media, apapun yang terjadi. Apapun yang Moza katakan di depan media, semuanya adalah kebohongan. Jangan mempercayainya." Genggaman Erigo mengerat. "Bisakah kau melakukannya? Aku tak ingin kehilanganmu Aira" Ucapnya lagi.


Aira tersenyum. Ia sudah menyaksikan sendiri betapa mengerikannya orang seperti Moza yang rela melakukan apa saja demi ketenaran.


Aira mengamati Erigo yang tampak merengut. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Aira lembut.


Sorot marah itu kembali. "Aku sangat ingin mengumpatinya, lebih dari itu, aku ingin dia menghilang dari bumi" Ucap Erigo.


_____________________________________


Winne sedang menyeduh kopi ketika melihat Aira kembali ke rumah. "Bagaimana Erigo? Kau sudah bicara padanya? Apa yang dikatakannya?" Tanya Winne.


Aira mengangguk, mengambil minuman dingin dari kulkas. "Pertanyaanmu banyak sekali Anantha" Ucap Aira tertawa.


"Sialan kau Maretha" Winne ikut tertawa. "Aku cemas sekali. Kau tau, aku sudah menghubungi perusahaan dan menceritakan kejadian tadi. Mereka bilang akan menghubungi member lainnya dan kemungkinan besar jadwal lain akan terganggu. Namun jika tim bisa mengusahakan untuk melindungi member, kegiatan akan dapat di jalankan seperti biasa. Tapi masalahnya, wartawan-wartawan itu sangat mengerikan" Ucap Winne lagi.


Aira mengangguk. Erigo mengatakan hal yang sama.


___________________________________________


Benar saja. Sehari setelah penayangan acara yang di bintangi Erigo dan Moza, seluruh internet dan sosial media menggila. Seluruh stasiun tv memberitakan perihal dua sejoli yang kembali bersama. Berita itu sudah bertahan selama hampir satu minggu.

__ADS_1


Erigo bersembunyi dari kejaran wartawan. Merasa muak dengan pemberitaan mengenai dirinya. Sementara orang-orang berspekulasi, menggiring opini, menganalisa bahkan meramal kan masa depan Erigo dan Moza.


Terjadi pro kontra antar penggemar. Ada yang setuju mereka kembali bersama, banyak pula yang tidak suka.


Tidak hanya Erigo yang merasa kesulitan, namun semua member terkena imbasnya. Banyak wartawan yang mengejar mereka untuk menanyakan perihal Erigo dan Moza. Beberapa orang berkerumun di depan gedung apartemen Erigo dan para member. Termasuk di sekitar apartemen Aira, karna Devano tinggal di gedung yang sama. Keadaan seakan tak terkendali.


Sementara Moza, sang ratu drama, berseliweran dari stasiun tv yang satu ke stasiun tv lainnya. Menebar berita bohong tentang dirinya dan Erigo. Lalu membawa-bawa soal projek kolaborasinya bersama Devano.


Ulah Moza merupakan bencana bagi Agensi. Sangat sulit bagi semua member dan tim untuk melakukan pekerjaan.


Hari ini seharusnya member sudah tiba di lokasi syuting untuk acara senin malam, namun para wartawan yang berkerumun di pintu depan gedung penyiaran membuat mereka terlambat karna kesulitan untuk keluar dari mobil.


Tim memutuskan untuk membuat barikade agar para member dapat masuk tanpa cedera. Namun ketika para wartawan melihat Erigo, kerumunan memadat dan pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan. Salah satu kamera wartawan mengenai pelipis Aira yang berjalan di depan Devano dan Erigo.


Melihat Aira hampir terjatuh Devano segera menangkap lengannya. Erigo langsung berhenti. Ia menarik Aira ke dalam rangkulan tangannya dengan posesif, memeriksa wajah Aira.


Ketika ia melihat darah mengalir dari pelipis Aira, wajahnya berubah tidak ramah dan menatap marah ke arah wartawan tsb.


"Harusnya kau memperhatikan sekitarmu." Ucapnya marah. "Apa yang kalian inginkan dariku? Pengumuman?" Cacinya tajam.


Erigo masih merangkul Aira dengan sebelah tangannya, dengan Devano disampingnya, Toddy dan Yansen di belakang mereka serta seorang manajer. Ia menatap tajam ke arah kamera wartawan. Keadaan menjadi hening.


Erigo berbicara dengan suara rendah dan tegas, kemarahan berkilat-kilat di matanya.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tak pernah menjalin hubungan apapun dengan perempuan bernama Moza. Hubungan itu sudah lama berakhir bertahun-tahun lalu. Jika dia mengatakan hal sebaliknya, maka itu semua adalah kebohongan untuk mendompleng popularitas grup Summer. Jadi berhentilah mengait-ngaitkan ku dengannya ataupun dengan grup dan para member." Ucap Erigo.


"Lalu kenapa selama ini kau diam saja?" Tanya seseorang dari tengah kerumunan.


"Karna mempermalukan seseorang di depan publik bukanlah gaya ku. Tapi jika itu sudah keluar batas dan membuat orang lain terluka, maka sudah waktunya aku bicara. Sekarang tolong beri kami jalan." Ucap Erigo yang akhirnya membelah kerumunan.


Mereka meninggalkan para wartawan yang sibuk merekam dan memotret. Masuk ke dalam gedung penyiaran yang sejuk berAC. Yansen mengumpat pelan sambil berjalan lalu tertawa menepuk pundak Erigo. "Kau keren sekali" ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2