
Tin ... Tin ... Tin
Suara klakson yang terdengar dari depan gerbang rumah Novia, membuat Novia yang sedang duduk merajut sedikit terkejut.
Dia menyibakkan tirai hordeng jendela besar rumahnya itu, terlihat dari balik gerbang, ada mobil Reno yang berhenti di sana.
Mbak Darmi nampak tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang yang masih tertutup rapat itu.
Novia mengikuti Mbak Darmi dari belakang, mobil Reno pun masuk, dan Reno turun kemudian langsung memeluk Novia yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku kangen sekali padamu sayang! Walaupun hanya sebentar aku di Malaysia, rasanya seperti setahun saja!" ucap Reno sambil mengecupi wajah Novia.
"Mas Reno Baru juga sampai, masuk dulu istirahat dulu, Oh ya, tadi aku dan Mbak Darmi masak makanan spesial buat Mas Reno, nanti setelah ganti baju langsung makan ya!" kata Novia sambil menggandeng tangan suaminya itu masuk ke dalam rumah.
Sementara Mbak Darmi menurunkan beberapa barang dari bagasi mobil, dan membawanya masuk ke dalam.
"Ibu dan Bapak apa kabar Mas? Gimana kesehatan ibu? Apakah ibu sudah sembuh?" tanya Novia sambil membantu Reno membuka pakaiannya ketika mereka sampai di kamar.
"Kondisi Ibu sudah berangsur pulih, kamu dapat salam dari Bapak dan ibu, mereka juga kangen padamu, mereka bilang kalau Ibu sudah benar-benar pulih, Ibu ingin datang saat kamu melahirkan cucunya nanti!" jawab Reno.
"Semoga saja Ibu bisa segera pulih, pasti dia juga ingin melihat cucunya nanti, apalagi ini adalah cucu pertama!" gumam Novia.
Novia termangu mendengar ucapannya sendiri, dalam hati dia tidak begitu yakin kalau bayi yang dikandungnya ini adalah benar-benar darah daging dari Reno.
Lagi-lagi Novia teringat pada peristiwa itu, peristiwa satu minggu sebelum dia menikah dengan Reno, saat dia melakukan dosa terkutuk di saat pertemuan terakhirnya dengan David.
Tiba-tiba dada Novia begitu bergemuruh, peristiwa itu seperti sebuah bom waktu yang kapanpun bisa saja meledak.
"Hei, kau kenapa sayang? kenapa raut wajahmu menjadi sedih begitu?" tanya Reno sambil membelai rambut Novia.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya kangen saja dan teringat Bunda, sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Bunda!" jawab Novia berbohong.
"Ya ampun sayang, kalau kamu kangen kan kamu bisa telepon! Atau bisa video call, zaman sekarang apa sih yang tidak bisa!" ujar Reno sambil mengacak rambut Novia dengan gemas.
__ADS_1
"Iya Mas, nanti aku akan telepon bunda!" sahut Novia.
Reno kemudian menyambar handuknya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan berganti pakaian.
Sementara Novia duduk terpekur di atas tempat tidurnya, kini hatinya benar-benar galau, apalagi menjelang kelahiran yang semakin mendekat.
Setelah selesai, Reno dan Novia kemudian keluar dari kamarnya, dan langsung turun menuju ke ruang makan, sedari tadi Reno sudah merasakan lapar yang amat sangat, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari Malaysia.
Mereka kemudian langsung duduk di ruang makan, menghadap meja makan besar yang sudah terhidang berbagai macam hidangan yang lezat dan nikmat.
"Sayang, banyak sekali makanannya! Kita juga tidak mungkin menghabiskan semua makanan ini, Kenapa tidak kita undang saja Pak David dan istrinya untuk makan bersama kita di sini!" kata Reno.
"Uhuk Uhuuk!!"
Tiba-tiba Novia tersedak air ludahnya sendiri, dia terkejut dan sama sekali tidak menyangka kalau Reno akan punya pikiran untuk mengundang tetangga sebelah makan bersama.
"Kamu kenapa sayang? Ini minum air putihnya!" ujar Reno yang langsung menyodorkan segelas air putih itu ke arah Novia. Novia langsung meneguk minuman nya itu.
"Bagus juga Bu usulnya bapak! Tadi kan kita masak banyak sekali, tidak mungkin kita menghabiskan makanan itu bertiga saja, kan lebih seru kalau kita undang Tetangga Sebelah!" Timpal Mbak Darmi yang sejak tadi sibuk membereskan peralatan bekas masak.
Tiba-tiba saja telepon rumah berdering, dengan sigap Mbak Darmi langsung meninggalkan aktivitasnya dan berjalan cepat menuju meja telepon untuk mengangkat telepon.
Tak lama kemudian Mbak Darmi datang menghampiri Reno dan Novia yang masih duduk bersiap untuk makan.
"Telepon dari siapa Mbak?" tanya Reno.
"Itu Pak, telepon dari Bundanya ibu, telepon dari Semarang!" jawab Mbak Darmi.
Tanpa menunggu lagi, Novia kemudian beranjak dari tempatnya dan langsung berjalan menuju ke meja telepon untuk mengangkat panggilan dari Bundanya itu.
"Halo, bunda! Kebetulan sekali Bunda telepon, aku kangen Bunda!" seru Novia antusias.
"Bunda juga kangen nak, gimana kandunganmu? Bukannya sudah hampir 7 bulan ya, Bunda mau ke sana, mau memperingati acara 7 bulanan kehamilanmu!" kata Bunda Lasmi, bunda kandung dari Novia, yang kini sudah menjadi janda setelah ditinggal pergi selamanya oleh Ayah Gibran suaminya, ayah kandung dari Novia.
__ADS_1
"Bunda mau ke sini?" tanya Novia meyakinkan.
"Iya dong, tradisi kita setiap anak pertama yang kandungannya menginjak usia 7 bulan kan memang harus dirayakan, pokoknya kamu tenang saja, nanti bunda akan datang ke sana!"Jawab Bunda Lasmi.
"Tapi Bunda... "
Novia menghentikan ucapannya, tiba-tiba ada kegelisahan yang mendalam dalam hati Novia, Bunda Lasmi sangat mengenal sosok David, apa jadinya kalau dia tahu kini David tinggal di sebelah rumah Novia, Novia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kenapa Nov??"
"Bunda, rasanya kok aku ingin sekali merayakan 7 bulan kehamilanku ini di Semarang, Bagaimana kalau aku dan mas Reno saja yang pulang kampung?" tanya Novia.
"Lho kok kamu aneh sih Nov, semua teman-temanmu, juga teman-teman kantor suamimu itu kan ada di sana, masa kamu malah mau pulang kampung, di sini kan hanya ada saudaramu saja!" jawab Bunda Lasmi.
"Tapi Bunda, Aku sangat ingin sekali pulang kampung!" tukas Novia.
"Begini saja, kalau kamu kangen Semarang, nanti setelah acara 7 bulanan kamu boleh datang ke rumah Bunda, kamu boleh menginap sesuka hatimu, bahkan kamu juga boleh melahirkan di sini, tapi untuk acara 7 bulanan kamu, Bunda yang akan datang ke sana kasihan suamimu lho!" tegas Bunda Lasmi.
"Baiklah Bunda!"
Novia tidak ada pilihan lain, dia juga tidak akan berani menyanggah apa yang sudah Bundanya putuskan, karena sejak dulu Novia memang selalu mendengarkan perkataan ayah dan bundanya, apalagi kalau ayah dan bundanya sudah mengambil keputusan.
Dengan langkah gontai, Novia kemudian berjalan kembali ke ruang makan, bergabung dengan Reno suaminya sejak tadi sudah menunggunya dengan wajah yang tidak sabar untuk mendengarkan cerita Novia.
"Ada kabar apa Sayang?" tanya Reno tidak sabar.
"Bunda mau ke sini Mas, dia mau memperingati 7 bulan kehamilanku di sini!" jawab Novia.
"Ya ampun, aku sampai lupa, padahal Niatku ingin sekali mengundang semua teman-temanku dan kolega-kolega aku untuk datang ke acara 7 bulanan calon anakku!" ucap Reno dengan wajah yang berbinar.
Novia hanya bisa menghela nafas panjang tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Bersambung ...
__ADS_1
*****