Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Di Antar Pulang


__ADS_3

Novia baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, setelah dia memeriksakan kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya itu, juga melihatnya melalui USG.


Di ruang tunggu, nampak David dan Silvi yang masih setia menunggunya, Novia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka benar-benar akan menunggunya.


Novia kemudian melangkah mendekati mereka yang sejak tadi melambaikan tangannya memanggil Novia.


"Gimana Mbak Novia? Bayinya sehat-sehat saja kan? Kapan dia akan lahir?" tanya Silvi beruntun.


"Bayinya sehat, usianya 36 Minggu, sudah hampir 7 bulan lah, kemungkinan dua bulan lagi dia akan lahir!" jawab Novia.


David nampak mendengarkan penjelasan Novia dengan seksama dan penuh perhatian.


"Wah, pasti kamu dan Pak Reno bahagia sekali ya! Sebentar lagi rumah kalian akan ramai dengan tangisan dan celotehan bayi, dan kamu juga pasti akan bahagia bisa menjadi Ibu yang sesungguhnya!" ujar Silvi, entah mengapa dari bola matanya, ada sedikit mendung yang tersimpan.


"Sudahlah, hari sudah hampir sore, sebaiknya kita pulang saja, lagi pula kasihan wanita hamil yang terlalu lama berada di luar rumah, dia kan juga butuh istirahat!" ucap David tiba-tiba.


"Iya deh yuk, kita pulang sekarang ya mbak!" sahut Silvi sambil berdiri dan menggandeng Novia berjalan ke arah parkiran, melewati koridor rumah sakit. Sementara David berjalan di belakang mereka.


"Oh ya, tadi ke dokter kandungan konsultasi apa? Apakah kamu juga hamil Silvi?" tanya Novia.


"Tidak, kami hanya berkonsultasi sama dokter saja, karena sudah beberapa bulan aku tak kunjung hamil, tapi menurut pemeriksaan tidak ada masalah, baik aku maupun bang David!" jawab Silvi.


"Sabar saja Silvi, baru juga beberapa bulan, Siapa tahu sebentar lagi Mbak Silvi bisa segera hamil!" kata Novia mencoba menghibur Silvi.


"Iya Mbak, aku juga berharap begitu!" sahut Silvi.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di parkiran mobil, David segera membuka pintu mobil lalu mulai menyalakan mesin mobilnya itu.


Sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam, hanya terdengar celotehan Silvi beberapa kali, hingga tanpa sadar mereka sudah berada di depan gerbang rumah Novia.


"Mbak Novia, Kalau Pak Reno ada di Malaysia, Berarti mbak Novia tidur sendiri dong!" kata Silvi.


"Iya, tapi tidak apa-apa kok! Ya sudah kalau begitu, aku turun duluan ya, terima kasih untuk tumpangannya lho!" ucap Novia yang kemudian langsung membuka pintu mobil itu dan segera turun.

__ADS_1


Mbak Darmi terlihat membukakan gerbang rumah Novia, dan Novia pun langsung masuk ke dalam gerbang itu, meninggalkan David dan Silvi yang mobilnya masih terparkir di depan rumahnya.


"Lho kok pulangnya bisa bareng sama tetangga sebelah Bu?" tanya Mbak Darmi.


"Iya Mbak, tadi kebetulan ketemu di rumah sakit, terus mereka menawarkan untuk pulang bareng, ya sudah tidak ada salahnya kan!" jawab Novia yang langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.


"Duh, mereka baik sekali ya Bu, walaupun baru kenal, beruntungnya kita tetanggaan sama mereka!" ucap Mbak Darmi.


Novia hanya tersenyum menanggapi ucapan Mbak Darmi.


"Aku haus Mbak, tolong buatkan minuman hangat!" pinta Novia.


Mbak Darmi kemudian langsung beranjak ke dapur, membuatkan minuman hangat untuk Novia, setelah selesai, Mbak Darmi lalu membawanya ke ruang keluarga itu, dan menyodorkannya ke arah Novia.


Novia pun langsung meneguk minuman yang di berikan oleh Mbak Darmi.


"Trimakasih Mbak, aku mau ke kamar dulu, mau mandi dan beristirahat sebentar!" kata Novia yang kemudian meletakan gelas kosong di atas meja, lalu segera beranjak dari duduknya dan melangkah naik ke atas menuju ke kamarnya.


Novia hanya menganggukan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya.


****


Novia baru saja menutup panggilan teleponnya setelah tadi Reno menelponnya dengan menggunakan video call.


Kurang lebih 15 menit mereka berbicara melalui video call, Novia kemudian melangkah keluar dari kamarnya, hendak turun ke bawah.


Dia berencana akan menonton televisi sambil melanjutkan rajutannya.


"Bu, malam ini mau makan apa? Atau mau Mbak masakan sesuatu?" tanya Mbak Darmi yang terlihat sedang mengepel lantai.


"Aku belum lapar Mbak, nanti gampang tinggal pesan makanan saja, Mbak Darmi makan saja duluan!" sahut Novia.


"Saya sudah makan duluan tadi sore Bu, tapi Ibu jangan lupa makan lho ya, kasihan dedek bayinya!" kata Mbak Darmi.

__ADS_1


"Iya Mbak, tenang saja!" jawab Novia.


Ting ... Tong ...


Tiba-tiba terdengar suara bel dari arah gerbang rumah Novia, dengan cepat Mbak Darmi kemudian bergegas berjalan ke arah depan untuk membukakan gerbang.


Novia sedikit terperanjat ketika Silvi bersama dengan mbak Darmi masuk ke dalam rumahnya sambil membawa sesuatu.


"Eh Silvi, Ayo duduk, Kirain siapa yang datang!" sapa Novia sambil tersenyum.


Silvi kemudian duduk lalu meletakkan bungkusan yang dia bawa di atas meja.


"Ini Mbak Novia, tadi Bang David baru saja beli seafood yang ada di dekat Stasiun itu, yang aku pernah cerita itu lho Mbak, terus katanya suruh kasih ke Mbak Novia!" kata Silvi.


"Aduh, kok pada repot-repot sih, kalau soal makan gampang kok tinggal pesan, aku jadi tidak enak lho, selalu merepotkan kalian!" ucap Novia Sungkan.


"Jangan sungkan Mbak, namanya juga bertetangga, apalagi Mbak kan sedang hamil, suami juga sedang jauh, kata Bang David kalau orang hamil itu suka sekali makan seafood!" lanjut Silvi.


Novia tercenung mendengar ucapan Silvi, betapa polosnya wanita itu, dia begitu percaya sepenuhnya dengan suaminya itu.


Padahal Novia tau betul, bahwa seafood yang ada di stasiun itu adalah memang seafood kesukaannya, karena dulu memang mereka sering makan di sana.


Tiba-tiba ada perasaan sedih yang menggelayutinya, kenapa dia harus berada dan terjebak dalam situasi seperti ini.


"Lho lho lho lho, kok Mbak Novia menangis? Ada apa Mbak?" tanya Silvi bingung ketika melihat air mata Novia yang mengalir begitu saja di pipinya.


"Eh, tidak apa-apa, aku cuma terharu saja, kalian benar-benar tetangga yang baik, padahal belum lama kita saling kenal!" tukas Novia yang langsung menghapus matanya yang basah itu.


"Oh begitu, tidak apa-apa lho Mbak, mana tahu aku juga suatu hari nanti butuh bantuan Mbak, Nanti kalau aku hamil kan siapa tahu aku seperti Mbak, Aku juga senang kok Mbak, baru pindah sudah punya tetangga yang bahkan sudah seperti saudara!" ucap Silvi sambil menggenggam tangan Novia.


Ada yang perih di sudut hati Novia, seandainya saja Silvi tahu rahasia terbesarnya, kalau dia dan suaminya memiliki hubungan yang sangat istimewa di masa lalu, bahkan pernah sangat dekat dan intim, entah apa yang akan dipikirkan oleh Silvi, rasanya Novia tidak sampai hati untuk melukai wanita yang kini ada di hadapannya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2