Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Hutang


__ADS_3

Teeeeet ... Teeeeet


Suara bel sekolah berbunyi, murid-murid berhamburan dari ruang kelas masing-masing, dan berbaris rapi di depan kelas untuk segera pulang.


David duduk di lobby sekolah Vio, untuk menunggu anak itu pulang sekolah, karena David melihat keadaan Novia yang sedang tidak baik-baik saja, makanya David berinisiatif untuk menjemput Vio ke sekolah.


Vio nampak berlari-lari kecil menghampiri David yang sedang menunggunya itu, wajahnya terlihat begitu ceria seolah tanpa dosa dan tanpa beban dalam hidupnya.


"Lho kok Om David yang jemput? Mama ke mana Om?" tanya Vio.


"Mama lagi tidak enak badan, Biarin Mama istirahat di rumah, Vio pulang sama Om David saja ya!" jawab David.


"Iya deh om! Aku suka kok pulang sama Om David!" kata Vio.


"Oke deh, Vio sudah lapar belum? Kita makan yuk makanan kesukaan Vio, ayam goreng crispy!" ajak David.


"Asiik Om David ajak aku makan! Aku sudah lapar Om! Ayo Om kita jalan sekarang yuk!" sahut Vio antusias.


David kemudian berdiri dan langsung menggandeng tangan Vio keluar dari lobby dan berjalan menuju ke parkiran, paling tidak inilah satu-satunya kebahagiaan David, bisa berada dekat dengan anak yang diyakininya adalah anak kandungnya.


"Nanti aku boleh minta es krim tidak sama Om David?" tanya Vio saat mereka hendak masuk ke dalam mobil.


"Tentu saja boleh, tapi Vio harus makan dulu, makan yang banyak dan dihabiskan, setelah itu Om David akan belikan Vio es krim kesukaan Vio!" jawab David.


"Horeee! Om David baik deh! Terima kasih ya Om!" ucap Vio sambil memeluk David dan mencium pipinya.


David pun membalas pelukan Vio dan mengucupi wajah anak itu.


Setelah itu, David segera melajukan mobilnya keluar dari sekolah menuju ke restoran tempat di mana mereka hendak makan.


Restoran cepat saji kebetulan tidak berada jauh dari sekolah Vio, tidak perlu menunggu lama, mereka pun sudah tiba di sana, David segera memarkirkan mobilnya lalu menuntun Vio masuk ke dalam restoran itu.


Dengan antusias Vio memilih menu kesukaannya. Sudah beberapa lama ini sejak Reno sakit, Vio jarang sekali makan di luar karena Novia yang kini mulai hidup hemat tidak lagi membiasakan Vio untuk makan makanan di luar, dia selalu berusaha untuk makan melalui masakan di rumah yang lebih sehat higienis dan hemat.


Setelah pesanan mereka tiba, Vio terlihat dengan sangat antusias menikmati ayam goreng crispy kesukaannya.


Anak itu makan begitu lahap Sekali, David memandangnya sambil tersenyum, senyuman kebahagiaan melihat anak yang dikasihinya itu makan dengan begitu lahapnya.


"Om David tidak makan?" tanya Vio saat dilihatnya David hanya tersenyum memandanginya.


"Melihat Vio makan, Om David jadi kenyang deh, Vio makan yang banyak ya, Om David senang kalau Vio bisa menghabiskan makanannya!" jawab David.


"Pasti Om! Aku pasti akan menghabiskan makananku, karena aku memang lapar! Tapi Om David juga makan dong, kan nggak asik Kalau aku cuma makan sendirian saja!" cetus Vio.


"Oke deh, Om David pasti akan makan, yuk kita makan sama-sama!" ucap David yang langsung menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapannya itu.


Baru saja beberapa suap David menikmati makanannya, tiba-tiba matanya menangkap sosok orang yang pernah dikenalnya.


Dia adalah Tina, namun kini Tina tidak sendirian dia bersama dengan seorang laki-laki, dan sudah pasti laki-laki itu bukan Reno.


Tina sepertinya tidak menyadari kalau di situ ada David dan Vio, Tina terlihat begitu manja dan mesra dengan laki-laki itu.


"Vio, Vio habiskan makanannya ya, Om David tinggal dulu sebentar, Om David tidak lama kok!" kata David.


"Iya Om!" sahut Vio sambil terus menikmati makanannya.


David kemudian melangkah menuju meja tempat di mana Tina dan laki-laki itu duduk, di sudut restoran ini yang tempatnya agak tersembunyi.


Tina terlihat kaget saat melihat kedatangan David yang tidak pernah diduganya itu.

__ADS_1


"David? ngapain kamu ada di restoran ini juga?" tanya Tina.


"Ya Makan lah, masa berenang! Ngomong-ngomong kamu sudah izin suami belum mau jalan dengan laki-laki lain?" tanya David.


Wajah Tina nampak pias mendengar pertanyaan David, terlebih wajah laki-laki yang ada di sebelah Tina.


"Apa? Suami? Kadi kamu sudah punya suami sayang? kamu bilang katanya kamu janda!" tanya laki-laki itu sambil menatap ke arah Tina.


"Janda? Eh Mas, asal Mas tahu ya, suaminya perempuan ini saat ini sedang sakit dan sedang lumpuh! Bukannya melayani suami malah pergi dengan laki-laki lain! Apakah wanita seperti itu wanita baik-baik?!" cetus David.


"David kamu jangan macam-macam ya! Lebih baik kau pergi saja dari sini mengganggu saja!" sengit Tina.


"Kenapa? kamu malu ketahuan berbohong? katanya kamu sedang hamil anaknya Reno kan, Kok bisa-bisanya kamu jalan dengan laki-laki lain?" tanya David lagi dengan santainya, wajah Tina nampak merah padam.


"Apa? Jadi kau sedang hamil? dasar kau tukang bohong! kamu mengaku janda, sekarang kamu malah terciduk sedang hamil! menyesal aku pernah kenal kamu! sudah kita sudahi saja hubungan ini! Aku muak melihatmu!" cetus laki-laki itu yang kemudian langsung berdiri dan meninggalkan Tina begitu saja.


"Sayang tunggu! aku bisa menjelaskannya padamu!" Panggil Tina sambil berusaha berdiri dari tempatnya, namun dengan cepat David menahannya agar Tina masih tetap duduk di tempatnya.


"Kamu ini kurang ajar sekali David! Aku tidak akan tinggal diam! Aku akan buat perhitungan padamu!" berang Tina.


"Sudahlah Tina! kamu ini memang bukan perempuan baik-baik, Anggap saja ini Karma untukmu! Kamu sudah berpura-pura, sudah menusuk sahabatmu sendiri, dan sekarang kau malah jalan dengan laki-laki lain, benar-benar tidak ada akhlak!" sengit David.


"Bodo amat! Lagian Reno juga tidak bisa memberikan aku keuntungan apa-apa! Dia sudah bangkrut! Mana Sudi aku mengurus orang yang bangkrut yang Bahkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dasar Novia saja yang bodoh, masih saja dia mau mengurusi suaminya itu!" sungut Novia.


"Hei, jangan pernah membandingkan Novia denganmu! Semua laki-laki pasti akan memilih Novia dibandingkan kamu, pantas saja tidak ada laki-laki yang betah bersama denganmu, dan kupastikan setelah ini kau akan jadi jomblo selamanya!" cetus David yang kemudian langsung berlalu meninggalkan Tina dan kembali ke mejanya di mana Vio telah menghabiskan makanannya.


Tina yang kesal akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan restoran itu, tanpa menoleh lagi, laki-laki yang bersamanya kini telah pergi meninggalkannya.


****


Sementara itu, Novia nampak sedang mengantarkan makan siang untuk Reno di kamarnya.


"Mas Reno, ini makan siangnya, kata Bunda makanan yang tadi pagi tidak dimakan, jaga kesehatanmu Mas!" kata Novia sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan siang itu ke arah Reno.


Reno pun mengambil nampan yang disodorkan oleh Novia, meskipun perutnya tidak merasa lapar dan dia tidak berselera makan, namun dia harus tetap bertahan demi kesehatannya. Reno tidak mau dia menjadi beban dan menyusahkan Novia lagi.


"Mas Reno jangan khawatir, kalau memang Mas Reno ingin menceraikan aku, aku akan terima Setiap keputusan Mas Reno, Tapi satu hal yang Mas Reno harus tahu, Setelah kita bercerai nanti, aku tidak akan menikah dengan siapa-siapa, termasuk dengan David!" ucap Novia.


Reno terdiam sambil menyantap sedikit makanan yang kini ada di hadapannya itu, sesungguhnya hatinya begitu hancur mendengar ucapan Novia.


Karena Reno berharap Novia bisa mendapatkan kebahagiaannya bersama dengan David, dan Reno tidak menyangka kalau Novia akan mengucapkan kata-kata seperti itu, di mana Dirinya mengatakan bahwa dia tidak akan menikah dengan siapapun bahkan dengan David sekalipun.


"Kalau Mas Reno berpikir dengan menceraikan aku maka aku akan bahagia, Mas Reno salah besar! karena kebahagiaanku bukan ketika aku berpisah dengan mas Reno!" lanjut Novia.


Reno meletakkan makanannya di atas meja kemudian dia mulai menuliskan sesuatu di buku yang selalu ada dekat dengannya.


"David orang yang baik, aku tahu saat dia pernah menunggu aku di rumah sakit saat aku kecelakaan, dan saat itulah aku tidak pernah lagi cemburu terhadapnya!" tulis Reno.


"David memang baik, tapi laki-laki yang aku cintai itu bukan David, tapi mas Reno!" ucap Novia.


"Aku tidak pantas dicintai olehmu, apalagi Vio itu adalah buah cinta kalian yang tidak terwujud, dan aku ingin mewujudkan mimpi Kalian yang pernah hilang dulu!" tulis David lagi.


"Dulu mungkin aku memang pernah mencintai David, Dulu aku memang pernah berbuat kesalahan padanya, Tapi sejak aku menikah dengan mas Reno, Aku belajar Bagaimana mencintai Mas Reno dengan sepenuh hatiku, dan cinta itu terus bertumbuh bahkan sampai hari ini!" ucap Novia sambil mulai meneteskan air matanya.


Reno nampak tidak menulis lagi, butiran bening pun jatuh dari kedua bola matanya. Sesungguhnya saat ini hatinya begitu hancur dan perih.


Kemudian Reno mulai kembali menuliskan sesuatu di bukunya.


"Aku mandul, aku tidak bisa memberikanmu anak dan Vio juga Bukan Anakku, mungkin bersama David kamu dan Vio akan bahagia, karena dia memang laki-laki yang baik!" tulis Reno.

__ADS_1


"Tidak, terserah Mas Reno mau menceraikan aku atau tidak! Tapi aku tidak akan pernah menikah dengan David!" tegas Novia.


"Aku tidak bisa lagi memberikanmu perlindungan, usahaku sudah bangkrut, aku tidak bisa lagi menafkahi dirimu dan juga Vio, saat ini hanya David yang layak untukmu, Aku sudah tidak punya apa-apa lagi Novia!" tulis Reno sambil menangis.


Buku dan pena yang ada di pangkuan Reno pun jatuh karena guncangan dari Reno, yang tak kuasa menahan tangisan.


Reno menyadari dirinya kini hanyalah menjadi beban bagi Novia, sejak dia mengalami kecelakaan, usahanya mulai bangkrut dan dia harus menerima kenyataan bahwa semua teman-teman dan rekan-rekan bisnisnya meninggalkannya saat dia terpuruk, hanya Novia yang tidak meninggalkannya, bahkan Tina pun sudah tidak peduli lagi padanya.


Melihat keadaan Reno yang seperti itu, hati Novia teriris, terluka dan sakit. Dia tidak tega melihat kondisi Reno yang seperti saat ini, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan dia baru saja mengalami Kasus penipuan perusahaan yang jumlahnya miliaran yang harus dia tanggung sendirian, karena tidak produktif, mau tidak mau Reno harus menjual beberapa asetnya.


Novia kemudian merengkuh bahu suaminya itu, dan mereka menangis bersama tanpa ada perkataan apapun, mengungkapkan dan mewakili isi hati mereka masing-masing.


Tok ... Tok ...Tok


Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar. Novia kemudian menguraikan pelukannya lalu melangkah ke arah pintu sambil mengusap wajahnya yang basah.


Saat Novia membuka pintu, Mbak Darmi sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Ada apa Mbak Darmi?" tanya Novia.


"Itu Bu, di depan ada tamunya Pak Reno!" jawab Mbak Darmi.


"Tamunya Pak Reno, Siapa?" tanya Novia bingung.


"Ya saya juga tidak tahu Bu, mereka ada dua orang, katanya Ada hal penting yang ingin dibicarakan, sekarang ada di ruang tamu!" jawab Mbak Darmi.


"Ya sudah deh Mbak, saya ke depan sekarang!" kata Novia.


Novia kemudian langsung keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu, sengaja dia tidak memberitahu Reno karena tidak ingin Reno kepikiran Siapa tamu yang datang mencarinya, apalagi saat ini Reno sedang benar-benar terpuruk.


Dua orang laki-laki berpakaian formal nampak sedang duduk di ruang tamu rumah itu, Novia kemudian langsung menghampiri mereka dan menyalami keduanya.


"Selamat siang, bapak-bapak ini siapa ya? Suami saya sedang sakit, Apakah ada yang penting yang ingin disampaikan?" tanya Novia yang kini duduk di hadapan mereka berdua.


"Maaf apakah ini dengan istrinya pak Reno? Apakah Pak Reno nya tidak bisa kami temui?" tanya salah satu dari dua orang itu.


"Kan tadi saya sudah bilang kalau suami saya sedang sakit, kalau ada keperluan bicara saja dengan saya, saya ini kan istrinya!" kata Novia.


"Baik bu, Kami dari bank ABC ingin menginformasikan, kalau perusahaan Pak Reno terlibat hutang yang sampai saat ini belum lunas terbayar!" kata laki-laki yang lain itu.


"Hutang bagaimana Pak? Barangkali ada kesalahan, biasanya suami saya itu jarang berhutang ke bank, meskipun saat ini perusahaannya sedang di ujung tanduk, tapi kami belum sempat meminjam pada siapapun atau pada pihak manapun!" ujar Novia.


"Tapi hutang Ini sudah berlangsung sekitar 2 tahun dan sampai saat ini belum ada penyelesaiannya, jumlahnya sangat besar loh bu, bahkan di dalam surat perjanjian itu ada tanda tangan Pak Reno!" kata salah satu dari mereka.


"Kalau begitu coba saya lihat surat perjanjiannya!" pinta Novia.


Salah seorang dari mereka kemudian mulai mengambil sebuah berkas dari dalam mapnya, Kemudian menyodorkannya pada Novia.


Novia kemudian membuka berkas itu, di situ tertulis kalau perusahaan meminjam dana sekian miliar dan di situ pula ada tanda tangan Reno suaminya.


Novia membulatkan matanya jumlahnya begitu fantastis dan dia tidak yakin kalau Reno menandatangani surat perjanjian ini, surat perjanjian yang ditulis sekitar 2 tahun yang lalu karena Reno bukan orang yang Sembarangan untuk menyetujui sesuatu, apalagi berkaitan dengan uang miliaran rupiah.


"Tidak mungkin! suami saya tidak mungkin mempunyai hutang sebesar ini! saat ini perusahaannya sedang bangkrut! Bagaimana cara kami membayar hutang-hutang ini? Ini pasti penipuan lagi!" sergah Novia.


"Maaf Bu, entah penipuan atau bukan, tapi yang pasti di dalam surat perjanjian itu ada tanda tangan Pak Reno sebagai penjamin, jadi mau tidak mau yang kami cari adalah Pak Reno untuk membayar semua sisa hutang-hutangnya!" kata salah seorang dari mereka.


Novia menggigit bibirnya, rasanya tubuhnya begitu lemas tak bertenaga, dia tidak dapat membayangkan betapa stressnya Reno kalau dia mengetahui hal ini, apalagi saat ini suaminya terlihat begitu depresi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2