Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kekecewaan Reno


__ADS_3

Setelah satu jam di ruang operasi, terdengarlah suara tangisan bayi, yang menandakan bahwa bayi Novia sudah lahir.


Mbak Darmi, Silvi dan David yang masih menunggu di depan ruang operasi itu nampak saling berpandangan sambil tersenyum.


"Suara bayi!" kata Silvi sambil menunjuk ke arah ruang operasi.


"Itu pasti bayinya Bu Novia, syukurlah bayinya sudah lahir!" sambung Mbak Darmi.


Tak lama kemudian Dokter Fanny keluar dari ruang operasi, bersama dengan seorang perawat yang mendorong box bayi yang terbuat dari kaca, untuk dipindahkan ke ruangan lain.


"Bagaimana bayinya Dokter? apakah Itu bayinya Bu Novia?" tanya Mbak Darmi yang berjalan cepat ke arah Dokter Fanny.


"Iya benar, bayi Bu Novia sudah lahir dengan selamat, berjenis kelamin laki-laki, Apakah Ayah sang bayi sudah datang? Karena kami butuh tanda tangan untuk surat lahirnya dan kelengkapan bayi sekarang!" jawab Dokter Fanny.


Mbak Darmi, Silvi, dan David saling berpandangan, karena memang Reno belum sampai ke rumah sakit.


"Maaf dokter, sepertinya Pak Reno suami Bu Novia belum sampai dari Singapura!" kata Mbak Darmi.


"Oh begitu ya, apakah masih lama sampainya? Bagaimana kalau di wakilkan saja, supaya lebih cepat prosesnya, hanya menyaksikan cap tangan dan kaki kok, untuk surat lahirnya kan bisa menyusul!" ujar Dokter Fanny.


"Bagaimana kalau saya yang mewakilkannya saja dokter!" usul David tiba-tiba.


"Anda siapanya ya?" tanya Dokter Fanny.


"Oh dia itu tetangga sebelah rumah kami Dokter, kebetulan beberapa kali dia memang membantu Bu Novia ke rumah sakit!" jawab Mbak Darmi.


"Baiklah, untuk mempersingkat waktu Bapak boleh ikut saya ke ruangan!" kata dokter Fanny yang kemudian berjalan mendahului mereka, David kemudian berjalan bersama dengan perawat yang membawa box kaca itu.


David masuk ke dalam ruangan di sebelah ruang operasi, sementara Mbak Darmi dan Silvi duduk menunggu di depan ruangan operasi, karena sebentar lagi Novia akan dipindahkan ke ruangan perawatan.


Sementara itu David yang sudah masuk ke dalam ruangan di sebelah ruang operasi, nampak berdiri sambil melihat bayi itu diangkat dari box bayi kaca oleh Dokter, kemudian mulai di buat cap telapak tangan dan kaki.


David terpaku menatap bayi mungil yang kini ada di hadapannya itu, entah mengapa hatinya merasa hangat melihat bayi itu.

__ADS_1


"Dokter, Bolehkah saya menggendong bayi itu sebentar?" tanya David.


"Oh tentu saja boleh, silakan Pak hati-hati!" kata dokter.


Perawat itu kemudian mulai mengangkat perlahan bayi yang baru lahir itu dan diberikannya pada David.


"Kau benar-benar jagoan sejati Papa!" bisik David di telinga bayi mungil itu.


Kemudian David mengecup bayi itu beberapa kali, lalu kembali menyerahkannya pada perawat yang masih berdiri sambil menatap heran padanya.


"Aneh, Bapak ini katanya tetangganya tapi sepertinya sayang sekali dengan bayi ini!" kata dokter Fanny.


"Oh, karena saya dan istri saya juga sedang merencanakan program kehamilan!" sahut David yang terlihat salah tingkah.


"Oh begitu ya Pak, Baiklah, walaupun hanya wakil dari ayah sang bayi, ini bayinya lahir dengan sempurna ya Pak, tanpa ada kekurangan sedikitpun, wajahnya juga tampan!" ucap dokter Fanny.


****


Sementara itu Novia sudah di pindahkan oleh dua orang perawat ke ruang perawatan, tubuh Novia tampak menggigil setelah operasi.


Mbak Darmi kemudian menyelimuti tubuh Novia yang agak menggigil itu.


"Selamat ya Bu, bayinya sangat tampan!" kata Mbak Darmi.


"Iya lho mbak Novia, pokoknya bayinya itu keren deh, nanti kalau sudah besar dikit wajahnya pasti sangat tampan!" timpal Silvi.


"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu ya, nanti sebentar lagi bayinya akan dipindahkan ke ruang ini juga untuk diberikan ASI!" kata perawat itu yang kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.


Novia nampak belum stabil keadaannya, dia masih memejamkan matanya sambil sesekali giginya gemeretuk dan tubuhnya sedikit menggigil karena terasa dingin.


Setelah beberapa saat kemudian Novia sudah pulih kesadarannya, lalu perawat memindahkan bayi yang tadi di ruangan bersama David untuk masuk dan rawat gabung bersama dengan Novia di ruang perawatan.


Perawat pun kemudian mulai mengajari Novia untuk memberikan ASI pada bayinya, karena Novia habis menjalani operasi maka ASI diberikannya sambil berbaring.

__ADS_1


Mbak Darmi tetap berada di dalam ruangan, sementara David dan Silvi menunggu di luar ruangan perawatan itu.


Setelah berjuang untuk memberikan ASI pada bayinya, akhirnya Novia berhasil memberikan walaupun hanya sedikit demi sedikit, hingga kemudian bayi itu pun tertidur dan perawat kembali meletakkan bayi itu di box kaca yang ada di samping ranjang Novia.


Setelah itu David dan Novia kembali masuk ke dalam ruangan.


"Mbak Novia, aku dan Bang David mau izin pulang sebentar ya, karena kita sudah dari tadi di sini, mau pulang sebentar lihat rumah!" kata Silvi.


"Iya Sil, Terima kasih ya karena sudah menemaniku di sini!" ucap Novia perlahan.


Ceklek!


Baru saja David dan Silvi akan melangkah keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Reno muncul dan langsung masuk ke dalam ruangan itu, dia menatap tajam ke arah Novia.


"Mas Reno? cepat sekali sampai di sini!" kata Novia.


"Novia, Kenapa kamu tidak memberitahu aku sebelum kamu berangkat ke rumah sakit? kenapa kamu tidak memberitahu Aku sebelum kamu dioperasi?" tanya Reno sambil terus menatap ke arah Novia.


"Maaf Mas Reno, Mas Reno kan baru berangkat, masa aku sudah telepon Mas Reno sih! Apalagi mas Reno ke Singapura itu kan dalam rangka urusan yang penting!" jawab Novia.


"Ya memang itu adalah urusan yang penting! Tapi kelahiran Bayiku itu juga jauh lebih penting, apalagi aku orang pertama yang harus berada di samping istriku saat hendak melahirkan dan melihat Bayiku untuk yang pertama kali!" ungkap Reno. Wajahnya menyiratkan kekecewaan karena dia tahu kalau dirinya datang terlambat.


"Maaf, semuanya serba terburu-buru, karena ini adalah kondisi yang tidak biasa, jadi tolong jangan salahkan Bu Novia mengenai hal ini!" ujar David tiba-tiba.


Kemudian Reno beralih menatap ke arah David yang tadinya ada di belakangnya.


"Aku ini ayah kandungnya! jadi aku adalah prioritas utama kalau ada apa-apa dengan kandungan istriku!" cetus Reno.


"Sudah sudah, Kenapa jadi berdebat di sini? Mbak Novia baru saja melahirkan kok, Seharusnya kita semua merayakannya dengan gembira bukan jadi tegang begini!" sergah Silvi.


Seperti tersadar, Reno kemudian melangkah mendekati Novia dan duduk di samping pembaringannya, dia lalu mulai mengecupi dan menciumi kening Novia yang terlihat berkeringat itu.


"Maafkan aku sayang, aku hanya tidak bisa rela kalau kau berjuang sendirian seperti ini, tanpa ada aku di sampingmu, kenapa kau tidak memberitahu aku lebih awal sayang?" ucap Reno.

__ADS_1


Novia hanya bisa menatap wajah Reno tanpa bisa berkata apa-apa lagi, karena dirasakannya kini perutnya mulai nyeri.


Bersambung....


__ADS_2