Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Curahan Hati Reno


__ADS_3

Taksi online yang ditumpangi oleh Reno berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, Reno terlihat turun dari taksi online itu, namun dia terlihat enggan masuk ke dalam rumahnya sendiri, karena dia tahu anak dan istrinya tidak ada di sana.


Mbak Darmi yang membukakan pintu gerbang rumah itu nampak heran melihat Reno yang tidak langsung masuk ke dalam, dia hanya berdiri di depan gerbang rumahnya seolah ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumahnya itu


"Lho bapak sudah sampai rumah? kok cepat sekali Pak? Bukankah subuh tadi Bapak baru berangkat?" tanya Mbak Darmi.


"Iya mbak, aku tidak lama-lama di sana, Novia masih marah padaku, dan dia butuh waktu sendiri saat ini!" jawab Reno.


"Ya iyalah Pak, wanita mana ada wanita yang bisa begitu saja terima dan ikhlas dengan apa yang dialaminya?" sahut Mbak Darmi.


"Ya makanya itu Mbak, aku sepertinya harus menembus semua kesalahanku, Oh iya, Apakah selama aku pergi Tina ke sini?" tanya Reno.


"Iya Pak, tadi pagi Bu Tina ke sini, cuma karena Bapak tidak ada, dia pulang lagi deh!" jawab Mbak Darmi.


"Mbak, Lain kali kalau dia ke sini lagi, mau ada aku atau tidak Tolong jangan biarkan dia masuk ya!" kata Reno.


"Iya Pak, Bapak tenang saja, pokoknya kalau Bu Tina datang lagi, saya pastikan dia tidak akan masuk ke rumah!" jawab Mbak Darmi.


Di sebelah rumah, David nampak sedang mencuci mobil yang terparkir di halaman rumahnya itu.


Entah mengapa Reno yang melihatnya kemudian langsung berjalan menghampiri David, padahal biasanya Reno paling enggan kalau berhubungan dengan David.


David terlihat terkejut saat melihat kedatangan Reno yang tidak pernah diduga sebelumnya itu, dia masih saja terus mencuci mobilnya itu.


"David, bisa ku minta waktumu sebentar?" tanya Reno.


"Kalau mau bicara bicara saja Bro, aku sambil cuci mobil!" sahut David.


Reno kemudian duduk di bangku yang ada di dekat David yang sedang mencuci mobil.


"David, Novia saat ini sedang di Semarang, dia menggugat cerai aku, karena aku berselingkuh dengan Tina sahabatnya, Aku tahu aku salah, tapi aku tidak ingin kehilangan Novia!" ungkap Reno.


David tertegun dan langsung menghentikan aktivitasnya dia tidak menyangka bahwa Reno akan menceritakan semua keluh kesahnya padanya.


"Wajar dia menggugat cerai dirimu! Lelaki sepertimu memang pantas di ceraikan!" cetus David.


"Ya aku tahu aku salah! Kalau bukan karena Tina hamil, aku juga tidak akan mungkin menggubrisnya!" sahut Reno.


David kemudian mematikan Keran air, dan kini dia duduk di bangku di hadapan David.


"Kau memang bodoh Reno! Hanya karena Tina mengatakan kalau dirinya hamil, Lantas kau percaya begitu saja, dan langsung mau menikahinya! Memangnya kau yakin kalau Tina itu benar-benar hamil anakmu?" tanya David dengan ekspresi santai.


Reno terkesiap mendengar pertanyaan David, selama ini dia tidak pernah berpikir sejauh itu, dia memang terlalu percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Tina, Karena dia pun mengakui pernah ada hubungan intim dengan Tina, walaupun itu cuma satu kali, dan dari hubungan itu Tina menjadi hamil.


"Apa maksudmu David?" tanya Reno balik.


"Aku tahu siapa Tina! Karena kami memang satu kampus dulu, Tina itu walaupun kelihatannya baik, tapi dia licik! Kalau dia menginginkan sesuatu, dia akan melakukannya dengan cara apapun!" jawab David.


"Jadi maksudmu, belum tentu Tina hamil anakku?" tanya Reno menegaskan.


"Ya, kan kau tidak tahu dengan siapa saja dia berhubungan? Sejak awal Tina memang terlihat iri dengan Novia, karena Novia bisa mendapatkan cinta dan kebahagiaan, sementara sejak dulu Tina hanya terobsesi namun tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan!" jawab David.


"Kurang ajar Tina! Dia benar-benar memperdaya aku! Aku telah termakan perangkap busuknya!" geram Reno.


"Seharusnya sejak awal kau jangan dekat dengan Tina, kan tahu Tina itu sahabat istrimu, mana ada seorang sahabat yang menikam sahabatnya sendiri! Kau memang benar-benar bodoh!" sungut David.


"Ya Aku tahu aku salah! Tapi saat ini aku bukan butuh penghakiman, tapi solusi, kupikir karena kau pernah ada hubungan dengan Novia, kau bisa memberikan solusi yang terbaik!" sahut Reno.


"Solusi yang terbaik itu, kau pastikan kalau bayi di dalam kandungan Tina itu anakmu atau bukan!" cetus David.

__ADS_1


"Bagaimana caranya?" tanya Reno.


"Setelah bayi itu lahir, kau kan bisa tes DNA, atau bisa juga kau tes ke dokter kandungan, Apakah benihmu sehat atau tidak!"Jawab David.


"Kenapa aku harus memeriksakan diriku ke dokter? Memangnya kau pikir aku mandul?" tanya Reno yang kini terlihat sewot.


"Ya Tidak ada salahnya sih kau memeriksakan diri, Apalagi kan sudah lama Novia tidak hamil, dan Vio juga tidak memiliki adik, siapa tahu saja benihmu bermasalah!" sahut David.


"Enak saja! Sejak aku menikah dengan Novia, dia bisa cepat langsung hamil kok, hanya setelah itu saja Tuhan masih belum memberikan kami kepercayaan lagi!" kata Reno.


"Ya makanya, itu kan hanya saranku, tapi terserah kalau kau memang mau menganggap kalau bayinya Tina itu memang bayimu, dan semoga saja seperti itu, tapi kalau kau tidak yakin, lebih baik kamu periksa semuanya, beres kan!" sahut David yang kemudian langsung berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan cueknya.


"Hai David! Aku belum selesai bicara! dasar tetangga tidak sopan!" seru Reno yang kini juga berdiri dan dengan kesal melangkah keluar dari rumah David menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Reno kemudian langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga, entah mengapa perkataan David yang terlihat Sembarangan itu, terus terngiang-ngiang di telinganya.


Reno mulai memikirkan apa benar bayi yang dikandung oleh Tina itu adalah benihnya? Sementara Reno pun kurang yakin, karena yang Reno ingat dia hanya melakukan hubungan terlarang itu satu kali, apakah mungkin dalam sekali berhubungan bisa langsung terjadi kehamilan, seperti pada saat dia menikah dengan Novia dulu.


Reno menjambak rambutnya frustasi, pikirannya benar-benar bingung dan kalut, apalagi perkataan David yang sedikit menyinggungnya, seolah-olah Reno memiliki kualitas benih yang buruk.


"Bapak Mau saya buatkan kopi? Atau minuman hangat yang lain?" tanya Mbak Darmi yang berjalan mendekati Reno yang masih duduk di situ.


"Buatkan aku kopi saja Mbak! Biar kepalaku ini tidak pusing!" sahut Reno.


"Baik Pak, tunggu sebentar!" jawab Mbak Darmi yang langsung bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Reno.


Drrrrt .... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Reno bergetar, Reno merogoh ponsel yang ada di saku celananya itu, ada panggilan masuk dari Tina, kemudian Reno langsung mengusap layar ponselnya itu, untuk menjawab panggilan telepon dari Tina.


"Halo!"


"Tidak! Kau jangan ke sini! Biar aku yang menemuimu, tapi aku tidak mau menemuimu di apartemenmu, kita janjian di cafe saja, ada hal yang ingin aku katakan padamu!" jawab Reno.


"Ada apa? kenapa tidak apartemen saja? lagi pula aku sudah sangat merindukanmu, Ayolah ke apartemenku!" kata Tina.


"Sorry Tin, Aku sedang tidak berselera, kalau kamu mau bertemu denganku, kita bertemu saja di cafe yang tidak jauh dari apartemenmu jam 07.00 malam ini!" sahut Reno yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.


****


Sementara itu di Semarang, Novia nampak sedang menyuapi Vio sambil duduk memandang ikan yang berenang Kian kemari, meskipun di sini dia terlihat lebih tenang, namun seringkali pikiran-pikiran dan ingatan-ingatan kembali datang menghampirinya.


"Mama, kita sampai kapan di rumah nenek? Kasihan Papa sendirian di rumah Ma!" kata Vio.


"Mama juga tidak tahu Nak, tapi untuk sekarang ini, mama belum bisa pulang ke Jakarta!" jawab Novia.


"Memangnya kenapa Ma? Mama sama Papa masih belum baikan ya? Padahal kan aku sudah kangen sekolah Ma!" ujar Vio.


Novia menatap Vio yang kini ada di hadapannya itu, dia sadar karena keegoisan orang tuanya, anaklah yang akhirnya menjadi korban.


Sebenarnya Novia tidak sampai hati membawa-bawa Vio dalam urusan dan masalahnya dengan Reno, apalagi Vio yang belum mengerti apa-apa harus turut merasakan apa yang orang tuanya rasakan.


"Vio mau sekolah?" tanya Novia.


"Iya Ma, aku kangen sama temen-temen juga ibu guru!" jawab Vio.


"Bagaimana kalau besok Vio Mama daftarin sekolah di sini? Belajar baca tulis di dekat rumah nenek, nanti Vio akan ketemu teman-teman baru juga ibu guru yang baru!" ucap Novia.


Vio nampak terdiam seperti sedang memikirkan kata-kata Dari mamanya itu, kemudian bocah itu menatap ke arah Novia dengan tatapan dalam.

__ADS_1


"Jadi aku harus pindah sekolah cuma gara-gara papa dan mama lagi berantem?" tanya Vio.


Lagi-lagi Novia merasa tertampar dengan pertanyaan putranya itu, dalam hal ini Novia yang menyadari bahwa dirinya begitu egois, bahkan kini Vio yang menjadi korban keegoisannya sendiri.


"Sayang, Vio sabar dulu ya, nanti mama mau diskusi dengan nenek, kalau memang Vio tidak mau pindah sekolah, nanti Vio juga akan kembali sekolah di Jakarta, ketemu teman-teman!" ucap Novia.


"Beneran ma?" tanya Vio dengan mata berbinar.


"Iya sayang, Sejak kapan sih Mama bohong sama Vio? Pokoknya Vio tenang saja, mama hanya perlu bicara sebentar dengan nenek, mana tau nenek punya usul yang bagus banget!" jawab Novia sambil membelai rambut Vio.


Vio tertawa senang kemudian dia berlari kecil masuk ke dalam rumah Bunda Lasmi, Novia pun beranjak berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumahnya karena sebentar lagi matahari akan segera tenggelam.


*****


Di sebuah cafe yang berada di tengah kota Jakarta yang malam itu terlihat ramai, Tina duduk di sudut meja yang menghadap keluar, sedang menunggu kedatangan Reno.


Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Reno terlihat muncul dari arah parkiran dan langsung melangkah mendekatinya, kemudian duduk di hadapan Tina.


"Kau ini selalu datang terlambat Reno! Seharusnya kamu yang menungguku bukan aku!" sungut Tina.


"Memang dari dulu kau yang selalu menungguku!" cetus Reno.


"Sudahlah Reno, Aku capek terus berdebat denganmu! Sekarang Kamu mau minum apa atau mau makan apa? aku pesankan ya!" tawar Tina.


"Aku sedang tidak ingin makan maupun minum, Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu!" kata Reno.


"Apa yang kamu mau Katakan padaku?" tanya Tina.


"Tolong kamu Jawab dengan jujur, kalau perlu kamu bersumpah! Apakah benar kamu hamil benihku?" tanya Reno to the point.


Tina nampak membulatkan matanya mendengar pertanyaan Reno yang sebelumnya tidak pernah diduganya itu, dan Tina juga tidak pernah menyangka kalau Reno akan menanyakan itu padanya.


"Apa maksudmu Reno? Ya tentu saja bayi yang aku kandung ini adalah benihmu! Benih siapa lagi? Memangnya kau lupa pernah berbuat apa padaku?" tanya Tina sambil melotot.


"Ya aku mana tahu kau berhubungan dengan siapa saja selain aku? aku juga menyesal kenapa aku begitu bodohnya, terlalu percaya dengan ucapanmu dan langsung menyetujui untuk menikahimu, dan bahkan membuat keluargaku hancur berantakan!" sahut Reno.


"Kau ini benar-benar keterlaluan Reno! Bisa-bisanya kau menanyakan itu padaku! Aku benar-benar kecewa padamu!" ujar Tina.


"Mungkin dulu aku yakin kalau bayi yang ada dalam kandunganmu itu adalah benihku, tapi sekarang aku tidak yakin karena aku tahu orang seperti apa dirimu!" lanjut Reno.


Plakk!!


Tina kemudian langsung menampar Reno karena emosi, beberapa orang yang ada di cafe itu melihat ke arah mereka dengan tatapan heran, ada beberapa di antara mereka juga yang berbisik-bisik.


"Kurang ajar kau Reno! Kenapa sekarang kau jadi berpikir begitu? Apa karena kau ingin lari dari tanggung jawabmu?" berang Tina.


"Oke, aku pasti akan membuktikannya! Aku sudah muak dengan permainan ini!" cetus Reno yang kemudian langsung pergi berlalu meninggalkan tempat itu.


"Reno tunggu!" seru Tina yang kemudian langsung mengejar Reno sampai di parkiran.


"Jangan ganggu aku! Lebih baik kau pulang ke apartemenmu sekarang!" ujar Reno.


"Aku tidak bisa menerima perlakuanmu seperti itu! Walaupun gimana kita ini suami istri, meskipun hanya menikah Siri!" sahut Tina.


"Mana ada hubungan suami istri yang tidak ada cinta di dalamnya? sebentar lagi aku juga pasti akan menceraikan!" cetus Reno yang kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan mobilnya itu keluar dari parkiran.


Tina hanya bisa berdiri termangu memandang mobil Reno yang pergi meninggalkannya begitu saja dengan wajah yang memerah menahan amarah.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2