Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kunjungan Tina


__ADS_3

Ini adalah hari ke tiga Novia dirawat di rumah sakit, kondisinya kini lebih baik dari kemarin.


Wajahnya sudah tidak terlihat pucat, dan sepertinya Novia sudah mulai merasa tenang.


Sejak mengetahui kalau istrinya sakit dan dirawat di rumah sakit, Sejak saat itulah Reno mengambil cuti dalam beberapa hari ke depan.


Padahal Reno sudah memiliki jadwal bertemu dengan Para investor dan meeting-meeting penting perusahaan.


Namun bagi Reno, istri adalah prioritas nomor satu, sehingga dia sementara mengabaikan jadwal pentingnya itu hanya demi menemani sang istri tercinta.


Reno dengan telaten menemani dan merawat Novia dengan penuh kasih sayang, menyuapi Novia makan, bahkan membantu Novia untuk membersihkan tubuhnya.


"Cepatlah sembuh sayang, aku berjanji saat kau sembuh nanti, aku akan mengadakan syukuran lagi di rumah!" ucap Reno yang saat ini tengah duduk di samping Novia, sambil membelai rambut istrinya yang terbaring itu.


"Mas Reno jangan berlebihan! Aku ini tidak sakit parah, hanya kecapean saja, aku malah risih Kalau Mas Reno memperlakukan aku seolah-olah aku sedang sakit parah!" tukas Novia.


Sesungguhnya Novia merasa tidak enak terhadap Reno suaminya itu, sudah banyak pengorbanan yang Reno lakukan.


Hal itu justru membuat Novia semakin merasa bersalah, dan dia merasa sangat tidak layak untuk menjadi istri Reno.


"Aku tidak pernah berlebihan, semua yang aku lakukan mata-mata karena aku sangat sayang padamu!" ucap Reno.


"Iya Mas, aku tahu kalau Mas Reno itu sangat menyayangiku!" gumam Novia lirih.


Ada yang sesak di dada Novia, suaminya itu adalah suami yang sempurna, yang mungkin diidam-idamkan oleh banyak wanita di luar sana, namun Novia entah kenapa masih belum bisa memberikan 100% hatinya untuk Reno.


Seorang Dokter kandungan yaitu Dokter Fanny yang menangani Novia, masuk ke ruangan itu untuk mengunjungi dan mengontrol keadaan Novia.


"Selamat pagi Novia, Bagaimana keadaannya hari ini? Sepertinya wajahnya sudah terlihat memerah, syukurlah kalau begitu!" sapa Dokter Fanny ramah.


"Iya dokter, Kondisi saya sudah lebih baik sekarang!" jawab Novia.


"Selama ada suaminya yang selalu menemani dan menjaganya, dia pasti akan baik-baik saja dokter!" timpal Reno, Dokter Fanny terlihat tersenyum melihat mereka.


"Wah, Bu Novia beruntung sekali punya suami yang sangat perhatian seperti Pak Reno! Lain kali Bu Novia jangan terlalu capek, apalagi kehamilan yang sudah semakin besar ini, jangan terlalu stres atau cemas untuk menghadapi persalinan nanti!" ujar dokter Fanny.


"Iya dokter!"


"Jadi bagaimana Dokter? Kapan istri saya akan diperbolehkan pulang ke rumah? Karena mungkin di rumah akan lebih nyaman daripada di rumah sakit!" tanya Reno.

__ADS_1


"Pak Reno sabar dulu, kalau kondisi Ibu Novia sudah stabil, tekanan darahnya juga stabil, dan semua baik-baik saja, baru boleh pulang!" jawab dokter Fanny.


"Baiklah dokter, saya akan sabar menunggu!" ujar Reno.


"Baiklah kalau begitu, Pak Reno, Bu Novia, saya pamit mau mengunjungi pasien yang lain, Semoga lekas pulih bu!" pamit Dokter Fanny.


"Terima kasih Dokter!" ucap Reno dan Novia bersamaan.


Dokter Fanny pun kemudian tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Mas Reno, Sejak hari pertama Aku dirawat Mas Reno selalu menemaniku, kasihan Mas Reno pasti capek, menunggu Pasien itu pasti sangat melelahkan, Mas Reno pulang saja untuk beristirahat, aku tidak apa-apa kok di sini bersama dengan suster!" kata Novia.


"Siapa bilang aku capek? Aku cukup nyaman kok di sini asal bisa menemanimu!" tukas Reno.


"Mas Reno jangan bohong, aku tahu sebenarnya Mas Reno meninggalkan banyak hal-hal penting hanya demi menungguku disini, Mas, pekerjaan dan bisnis Mas Reno juga penting, aku akan sedih kalau Mas Reno terlalu memperhatikan aku tapi mengabaikan pekerjaan!" ungkap Novia.


"tapi.. "


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka, Tina sahabat Novia nampak berjalan sambil tersenyum ke arah mereka.


"Aduh Novia, Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu dirawat di rumah sakit?" tanya Tina sambil menaruh bungkusan buah-buahan di atas nakas.


"Lho, itu kamu tahu dari mana Kalau aku dirawat di sini?" tanya Novia balik.


"Aku beberapa kali menelponmu, tapi tidak diangkat! Lalu saat aku menelepon ke rumahmu, Mbak Darmi bilang kalau kamu dirawat di rumah sakit, makanya aku langsung datang ke sini!" jawab Tina.


Novia kemudian menoleh ke arah Reno suaminya yang kini berdiri di sebelahnya.


"Mas Reno, sudah ada Tina di sini yang menemaniku, sebaiknya Mas Reno pulang dan beristirahat!" kata Novia


"Tapi sayang... "


"Kalau Mas Reno sayang padaku, Pasti Mas Reno akan mendengarkan aku, semuanya Itu demi kesehatan Mas Reno juga kok!" potong Novia cepat.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menurutimu, aku akan pulang tapi nanti sore aku pasti akan balik ke sini!" kata Reno yang kemudian Mulai mengambil tas dan barang-barang.


"Pak Reno tenang saja, aku akan menemani Novia, jadi dia tidak akan kesepian, lagi pula hari ini aku sengaja meliburkan diri!" Kata Tina.

__ADS_1


"Oke, aku titip istriku ya, pokoknya kalau ada apa-apa harus cepat hubungi aku!" ujar Reno yang kemudian langsung melangkah keluar dari kamar itu.


Novia menarik nafas panjang ketika Reno sudah benar-benar keluar dari kamar itu.


Saatnya Novia akan mencurahkan seluruh isi hatinya pada Tina, paling tidak Tina adalah satu-satunya sahabat Novia yang Novia begitu percayai


"Nov, Aku kagum juga sama suamimu, Sepertinya dia itu benar-benar tulus menyayangimu!" kata Tina.


"Iya Tin, bahkan sejak hari pertama aku disini, dia sudah mengambil cuti beberapa hari ke depan, seringkali aku merasa tidak enak dengan perlakuannya yang selalu menomor satukan aku, karena aku bukanlah wanita yang baik untuknya!" ungkap Novia.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu Nov? Siapa bilang kamu bukan wanita yang baik untuknya? Kamu jangan rendah diri begitu ah!" tanya Tina.


"Entahlah Tin, pokoknya aku merasa tidak layak saja Untuk Reno, apalagi..."


Novia menghentikan ucapannya, wajahnya menunduk menatap perutnya yang kini terlihat begitu besar.


Ada air mata yang bergulir membasahi pipinya, kemudian dengan cepat Tina mengambil tissue yang ada di atas nakas, dan menghapus air mata Novia.


"Kalau kamu mau mengungkapkan sesuatu, ungkapkan saja Nov, aku tahu di depan suamimu kamu tidak bisa menangis seperti ini!" ucap Tina.


"Iya Tin, Kamu benar, mana bisa aku menangis di depan Mas Reno!" sahut Novia.


"Novia, Aku tahu kamu sakit karena banyak pikiran, banyak beban, juga banyak tekanan, menurutku kamu tidak usah terlalu memikirkan soal David!" kata Tina.


"Aku sudah berusaha Tin, tapi entah kenapa Semakin lama aku semakin takut!" ucap Novia lirih.


"Takut kenapa?"


"Lama-lama David semakin berani padaku, Bahkan dia terang-terangan mengatakan padaku, kalau dia tidak akan pernah mau jauh-jauh dari bayi ini, yang dia pikir Adalah anaknya!" ungkap Novia.


"Memangnya kau yakin kalau bayi itu anaknya David?" tanya Tina.


"Aku tidak tahu Tin, Aku benar-benar tidak tahu!" jawab Novia.


"Kalau kamu ingin tahu, hanya ada satu jalan, setelah bayi itu lahir, di tes DNA, dari situ pasti kamu akan tahu siapa Ayah dari bayi itu!" kata Tina.


"Tidak! aku tidak mau melakukan itu! Anak ini adalah anak Mas Reno, bukan anak siapa-siapa! Aku selalu menganggapnya begitu!" seru Novia.


"Iya Iya, sudahlah, tenangkan dirimu!" ucap Tina melembut, sambil memeluk Novia dan mengusap-usap bahunya untuk menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2