
Ceklek!
Reno masuk ke dalam ruang perawatan Vio, Vio nampak berbaring diranjang pasien, ditemani oleh Novia yang duduk sambil menelungkupkan wajahnya di tepi ranjang Vio.
Perlahan Reno pun melangkah mendekati mereka, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Novia menengadahkan wajahnya saat mendengar suara langkah kaki Reno yang berjalan mendekatinya.
"Apa yang terjadi dengan Vio? Kenapa kau tidak memberitahu aku kalau Vio sakit?" tanya Reno yang kemudian duduk di samping ranjang dan mengusap wajah Vio.
"Beberapa kali aku menghubungi ponsel Mas Reno, tapi mas Reno tidak pernah mengangkat teleponku!" sahut Novia.
"Kalau aku tidak mengangkat, kan kamu bisa mengirim pesan singkat! Apa karena kamu tidak mau diganggu atas kebersamaanmu dengan mantanmu itu!" ujar Reno.
"Mas Reno! Apa maksudmu? Sedikitpun aku tidak pernah berpikiran seperti apa ya kau pikirkan itu mas!" sahut Novia.
"Yah, seharusnya aku tidak menanyakan itu padamu, karena itu tidak penting, sekarang kau pulang saja ke rumah, biar aku yang menunggu Vio, bukankah kau belum pulang ke rumah sama sekali sejak Vio dirawat?" kata Reno.
"Tidak Mas! Vio anakku! Aku Yang Akan menunggunya di sini!" tukas Novia.
"Oh, jadi kau pikir aku bukan Papanya Vio? Sehingga hanya kau yang berhak untuk mengurus dia?" tanya Reno.
"Bukan begitu maksudku Mas!" sahut Novia.
"Sudah! Aku malas berdebat, lebih baik kau pulang saja, lagi pula bukankah di rumah kau bisa bebas bertemu dengan David?" ujar Reno dengan senyumnya yang menyeringai.
"Jaga ucapanmu Mas! Di sini ada Vio, tidak sepantasnya kita berdebat seperti ini di depan Vio!" kata Novia, matanya mulai panas.
"Papa! jangan marahin mama, Papa!" kata Vio yang tiba-tiba membuka matanya.
Spontan Novia langsung beringsut memeluk Vio, begitu pula dengan Reno yang matanya langsung fokus terhadap Vio yang mulai terbangun itu.
"Vio Tenang saja sayang, papa yang akan menjaga Vio di sini, pokoknya Vio harus cepat sembuh, nanti papa akan ajak Vio jalan-jalan, kalau Vio sudah sembuh!" ucap Reno sambil membelai rambut Vio.
"Papa ke mana saja? Kenapa Papa baru datang sekarang? Kemarin-kemarin Om David yang menemani aku sama Mama, papa ke mana?" tanya Vio polos.
Spontan Reno langsung menoleh ke arah Novia.
"Kau dengar itu? Anak kecil tidak pernah berbohong!" cetus Reno.
"Tapi Mas, bukan seperti itu, aku bisa menjelaskan Kenapa dia berada di sini!" sahut Novia.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan! Semuanya sudah jelas, sekarang kau pulanglah ke rumah, Vio akan aman bersamaku, karena aku Papa kandungnya!" ujar Reno.
"Tapi mas!"
"Aku bilang pulang sekarang!" tegas Reno.
Tanpa membantah lagi, Novia kemudian melangkah gontai ke arah pintu ruangan itu.
"Mama! Mama mau ke mana?" seru Vio yang melihat kepergian Novia.
Novia menghentikan langkahnya dan kini air matanya mulai kembali mengalir.
"Mama mau istirahat sayang, Vio di sini sama Papa ya, hari ini Papa tidak bekerja kok, papa akan jaga Vio sampai Vio sembuh!" jawab Reno.
"Kenapa Mama tidak di sini saja biar kita sama-sama?" tanya Vio lagi.
"Tidak sayang, Mama kan sudah dari kemarin menjaga Vio, Sekarang gantian Mama yang istirahat, Papa yang jaga Vio!" jawab Reno.
Novia pun kembali melangkah dan langsung keluar dari ruangan itu.
Di balik pintu ruangan Vio, Novia menangis sejadi-jadinya.
Kemudian Novia langsung melangkah menyusuri koridor itu, setengah berlari menuju ke mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit itu.
Novia sangat menyesal, hanya karena satu kebohongan membuat rumah tangganya seperti ini, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengembalikannya seperti semula.
Dengan perasaan tak menentu, akhirnya Novia melajukan mobilnya itu keluar dari rumah sakit menuju ke rumahnya, wajahnya kelihatan pucat, matanya sembab.
Dia sangat kurang tidur dan istirahat, apalagi banyak pikiran yang berkecamuk, membuat dirinya semakin stress, bahkan tak lagi sempat mengurus dirinya sendiri.
Mbak Darmi membukakan pintu gerbang, saat Novia sudah tiba di rumahnya, Novia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga, tempat yang biasanya Paling Nyaman saat bercengkrama dengan keluarga kecilnya.
Namun saat ini ruang keluarga terasa sepi dan hampa, tidak ada lagi gelak tawa Vio, sentuhan kelembutan dan kata-kata manis dari Reno suaminya, yang setiap hari selalu membuatnya berbunga-bunga.
"Bu Novia, saya sudah masak dan makanannya ada di meja makan, Bu Novia sebaiknya makan dulu, Bu Novia kelihatan semakin kurus, kalau begini terus nanti Ibu bisa sakit!" kata Mbak Darmi.
"Aku mau langsung istirahat ke kamar saja Mbak, aku tidak ingin makan sekarang, nanti saja kalau aku sudah benar-benar lapar!" jawab Novia.
"Jangan seperti itu Bu, Nanti ibu Malah sakit beneran, makan itu jangan tunggu lapar, makan saja sedikit demi sedikit yang penting ada makanan masuk!" kata Mbak Darmi.
"Kepalaku pusing Mbak, aku sepertinya mau tidur dulu di kamar, nanti saja Mbak Darmi siapkan makanan untuk aku ya!" ujar Novia yang kemudian langsung berdiri dan melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Mbak Darmi hanya bisa terpaku menatapnya, tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Sebenarnya dia sangat ingin memaksa Novia untuk makan, demi kesehatannya, tapi Novia tidak bisa dipaksa.
Akhirnya dengan terpaksa, Mbak Darmi harus mengambil keputusan, dia mulai berjalan ke meja telepon, mencari nomor telepon bunda Lasmi, mau tidak mau Mbak Darmi harus memberitahu masalah yang menimpa keluarga Novia pada Bunda Lasmi.
Mungkin hanya Bunda Lasmi yang bisa membantu Novia dalam menghadapi masalahnya ini, setelah menemukan nomor telepon bunda Lasmi, Mbak Darmi kemudian langsung meneleponnya.
"Halo!" terdengar suara Bunda Lasmi dari seberang telepon.
"Halo bunda, ini Darmi!"
"Ada apa Darmi? Tumben sekali kau menelpon aku?" tanya bunda Lasmi.
"Sepertinya Bunda Lasmi harus ke sini deh, Vio sedang dirawat di rumah sakit, dan sepertinya Bu Novia yang sedang ada masalah!" jawab Mbak Darmi.
"Apa? cucuku Vio sedang dirawat? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin bilang padaku? Lalu Novia sedang ada masalah apa?" tanya bunda Lasmi lagi.
"Saya juga tidak tahu bunda, tapi sepertinya saat ini Ibu benar-benar membutuhkan Bunda, tapi jangan bilang kalau saya yang menelpon ya Bunda, takutnya nanti Ibu marah sama saya!" jawab Mbak Darmi.
"Oke, kamu tenang saja Darmi, sore ini aku langsung datang ke Jakarta!" kata Bunda Lasmi yang kemudian langsung menutup teleponnya.
****
Bunda Lasmi yang biasanya naik kereta api kalau ke Jakarta, kini dia memilih naik pesawat, supaya datang lebih cepat.
Setelah Mbak Darmi meneleponnya, Bunda Lasmi langsung memesan tiket penerbangan tercepat ke Jakarta, setelah itu tanpa membuang waktu, dia langsung meluncur ke Jakarta.
Bunda Lasmi sengaja tidak menelepon Novia untuk menjemputnya, dia lebih memilih naik taksi online untuk sampai ke rumah Novia.
Betapa terkejutnya Bunda Lasmi, ketika dia sudah tiba di rumah Novia, suasana rumah sudah tidak seperti dulu lagi, biasanya ketika sore menjelang malam, Reno sudah sampai di rumah, dengan celotehan-celotehan Vio yang begitu menggemaskan.
kini Bunda Lasmi melihat Novia bagaikan mayat hidup yang duduk melamun dengan wajah yang pucat dan tubuh yang tak terurus, sehingga wajahnya nampak lebih tua dari usianya, nampak kusam dan layu.
"Baru juga beberapa bulan Bunda tidak ke sini, kau begitu berubah Novia! Apa yang membuat kamu seperti ini?" tanya bunda Lasmi.
Novia tidak menjawab pertanyaan Bunda Lasmi, dia langsung memeluk Bundanya itu dan menumpahkan segala perasaannya melalui tangisannya yang meledak.
Sebagai seorang ibu, bunda Lasmi bisa merasakan apa yang saat ini Novia rasakan, meskipun dia tidak tahu sumber permasalahan Novia.
Bunda Lasmi hanya mendengarkan tangisan Novia, sambil menepuk-nepuk lembut bahunya, berusaha untuk menenangkan putrinya itu, sampai Novia benar-benar merasa tenang, dan bisa menceritakan segala permasalahan yang dia alami.
"Maafkan aku bunda! Aku memang salah, aku salah terhadap Mas Reno, terhadap Bunda, terhadap Vio dan juga terhadap semuanya!" ungkap Novia sesenggukan.
"Bunda ini adalah Bundamu, yang melahirkanmu, kenapa kau tidak terbuka pada Bunda, dan menceritakan segala permasalahanmu pada Bunda apapun itu!" tanya bunda Lasmi.
"Apa yang kau takutkan?"
"Bunda, David suaminya Silvi adalah David mantan kekasihku dulu, kami tidak sengaja bertetangga dan aku menyimpan rapat-rapat David dari Bunda, juga Mas Reno, dan David pun demikian, dia selalu bersembunyi saat Bunda datang, hingga akhirnya, saat acara reuni, terbongkarlah semua, Reno akhirnya tahu kalau David tetangga sebelah adalah David mantan kekasihku dulu!" ungkap Novia sambil terisak.
"Ya Tuhan Novia, kau menyimpan rahasia ini selama bertahun-tahun lamanya? Kenapa kau tidak menceritakan nya pada Bunda? Memangnya kau pikir bunda akan melakukan apa?" tanya bunda Lasmi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku takut Bunda, aku takut kalau Bunda tahu, bunda akan marah pada David atau padaku, sehingga suamiku tahu, tapi ternyata tanpa bunda beritahu pun dia sudah tahu!" jawab Novia.
"Jadi karena Reno sudah tahu semuanya, makanya dia berubah sikap terhadapmu? Dia marah dan tidak lagi memperlakukanmu seperti dulu?" tebak Bunda Lasmi.
Novia menganggukan kepalanya sambil mengusap wajahnya yang basah itu
"Maafkan aku bunda, Maafkan aku, Aku tidak menyangka kalau semuanya akan seperti ini, seandainya saja aku tahu, namun sekarang tinggallah penyesalanku, dan aku harus menerima semua akibatnya!" ucap Novia sambil kembali memeluk Bundanya itu.
"Baiklah, sekarang Bunda akan menjenguk Vio, Kita ke rumah sakit ya, Reno pasti ada di sana kan, Bunda tahu Reno sangat menyayangi Vio, meskipun sikapnya berubah terhadapmu, tapi dia tidak pernah berubah pada Vio!" kata Bunda Lasmi.
"Iya Bunda, aku sangat ingin berada dekat dengan Vio, tapi mas Reno melarangku dan malah menyuruhku pulang!" jawab Novia.
"Sekarang bersiaplah, tapi sebelum ke rumah sakit, kamu makan dulu, pulihkan tenagamu, supaya kamu punya kekuatan, jangan cengeng Novia, hidup itu tak perlu untuk ditangisi tapi dihadapi!" ucap Bunda Lasmi sambil menepuk-nepuk bahu Novia.
Novia pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan menuju ke meja makan, berusaha untuk menelan makanannya meskipun terasa tidak enak, demi kekuatan untuk dirinya sendiri.
****
Menjelang malam, Novia dan Bunda Lasmi datang ke rumah sakit tempat Vio dirawat.
Bunda Lasmi berencana akan bicara baik-baik dengan Reno menantunya, terkait masalah rumah tangga yang sekarang mereka sedang hadapi.
Namun Betapa terkejutnya mereka, saat membuka pintu ruang perawatan itu, Vio sudah tidak ada di sana begitu juga dengan Reno.
"Vio! Vio! Mas Reno!" Panggil Novia berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari mereka.
Novia mencari ke setiap sudut ruangan, bahkan ke dalam kamar mandi, namun Vio dan Reno juga tidak ditemukan di sana, hingga akhirnya Novia dan Bunda Lasmi menemui suster yang berjaga di sana.
"Suster! ke mana Vio dan papanya? kenapa mereka tidak ada di ruangan mereka?" tanya Novia cemas.
"Oh, tadi sore Pak Reno meminta izin dokter untuk memindahkan Vio untuk dirawat di rumah sakit lain, Katanya supaya lebih dekat dengan tempat tinggal nya!" jawab suster jaga itu.
"Apa? Vio dipindahkan ke rumah sakit lain? Tapi kenapa suster dan dokter mengizinkannya? Saya mamanya, saya yang berhak memutuskan!" berang Novia.
__ADS_1
"Lho, Pak Reno itu kan juga Papanya Vio, dia kepala keluarga dan berhak memutuskan yang terbaik untuk anaknya, makanya dokter mengizinkannya, karena mereka adalah hubungan ayah dan anak!" jelas suster jaga itu.
Novia tidak bisa berkutik, benar apa yang dikatakan oleh Suster itu, Reno dan Vio adalah ayah dan anak, tidak akan ada hukum yang menuntut ketika ayah membawa anaknya pergi.
"Sudahlah Novia, Tenangkan pikiranmu, sebaiknya kita pulang saja, Vio pasti ada aman di tangan Papanya!" ucap Bunda Lasmi berusaha menghibur Novia.
"Tapi ini sudah sangat keterlaluan Bunda! Aku ini mamanya, Kenapa Mas Reno tidak menghargai aku sebagai mamanya Vio?" ujar Novia yang terlihat mulai frustasi.
"Iya Bunda tahu, Memangnya kamu pikir Bunda tidak sedih melihat kondisi keluargamu seperti ini? sekarang sebaiknya kita pulang ke rumah dan tenangkan pikiranmu, setelah itu kita kembali bicara baik-baik!" ajak Bunda Lasmi yang kemudian menarik tangan Novia berlalu dari tempat itu.
Mereka kemudian Kembali menuju ke rumah Novia.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Novia tak henti-hentinya menangis, dia sangat kehilangan Vio, buah hatinya yang sangat dia cintai.
Meskipun Vio pergi bersama Reno Papanya, tapi tetap saja ada rasa khawatir yang terus saja menggelayuti hati dan pikiran Novia.
****
Sementara itu di tempat yang berbeda, Vio nampak berbaring di salah satu ruang perawatan VIP di rumah sakit yang ada di tengah kota Jakarta. Reno tampak menunggu di sisi tempat tidur bocah mungil itu.
"Papa, kenapa aku dipindahkan ke sini? Di mana mama? Kenapa Mama tidak ikut kita?" tanya Vio sambil menatap wajah Reno.
"Vio, di sini Vio lebih nyaman, kata dokter kalau Vio sudah sembuh besok Vio sudah boleh pulang, pokoknya Vio tenang saja, papa akan selalu jaga Vio!" ucap Reno.
"Tapi kan aku juga mau ada Mama, aku mau ada mama dan papa!" sahut Vio.
"Vio dengar papa, sekarang ini Vio ikut Papa saja dulu, nanti Papa janji akan mengantarkan Vio pulang ke rumah mama!" kata Reno.
"Kenapa kita tidak sama-sama ke rumah Mama saja Pa!" tanya Vio lagi.
"Sekarang Papa tidak bisa pulang dulu ke rumah mama, Pokoknya Selama ada Papa, Vio jangan takut, karena Papa sangat sayang pada Vio!" ucap Reno.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dari luar, Tina datang sambil tersenyum, dia berjalan menghampiri Vio yang masih berbaring itu.
"Halo Vio, kamu cepat sembuh ya, supaya bisa bermain lagi, nanti Tante akan ajak Vio bermain apa saja yang Vio mau!" kata Tina
"Tante Tina? kenapa Tante Tina ada sama papa? Mama di mana?" tanya Vio.
"Vio sayang, di sini tidak ada mama, mama ada di rumahnya, di sini hanya ada Vio, Papa juga tante!" jawab Tina.
"Tapi aku mau sama Mama Tante, kenapa Tante ada di sini? Bukankah tante temannya mama? Kenapa tidak sama-sama mama di sini?" tanya Vio lagi.
"Sudahlah Tin, jangan terlalu banyak bicara pada Vio, dia masih terlalu kecil, belum mengerti apapun!" ujar Reno.
"Ya ya, Aku hanya ingin bersikap baik padanya, supaya kelak dia tidak membenciku!" sahut Tina.
"Tapi kan kau bisa pendekatan pelan-pelan padanya, ingat aku tidak suka anakku dipaksa-paksa!" ujar Reno.
"Kau tenang saja sayang, aku kan juga sedang belajar bagaimana menjadi ibu, meskipun aku belum pernah melahirkan!" jawab Tina.
"Kenapa Tante Tina Panggil Papa sayang? Biasanya Papa selalu panggil mama sayang, Aku tidak suka sama Tante Tina!" cetus Vio.
"Vio Sayang, sekarang Vio istirahat saja ya, pokoknya nanti kalau Vio sudah sembuh, apapun yang Vio mau papa akan berikan!" ucap Reno.
"Beneran apa yang aku mau Papa pasti Kasih?" tanya Vio.
"Ya beneran lah, sejak kapan Papa suka bohong sama Vio?" sahut Reno.
"kalau begitu, aku ingin Mama! Aku Ingin ketemu Mama, Bagaimana Pa, gampang kan kemauanku?" tanya Vio.
Reno terdiam tidak dapat menjawab kata-kata dari Vio yang begitu polosnya.
"Reno, katanya kamu sedang ada janji dengan salah satu investor terkenal, kamu pergi saja biar aku di sini yang menemani Vio!" kata Tina.
"Tapi aku tidak ingin meninggalkan Vio sendirian di sini!" jawab Reno.
"kamu tenang saja, kan ada aku di sini, aku yang akan menjaga Vio!" tawar Tina.
"Tapi aku tidak yakin kalau Vio mau bersama denganmu!" ucap Reno.
"Jangan khawatir Reno, setidaknya aku masih punya rasa kasih sayang terhadap Vio, Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja!" ucap Tina.
"Baiklah, aku titip Vio beberapa jam saja ya, setelah urusanku selesai aku langsung kembali ke sini!" kata Reno akhirnya.
Vio terlihat kembali tertidur, mungkin karena pengaruh obat dan juga lelah, karena sejak bersama Reno, Vio tak henti-hentinya terus menanyakan di mana keberadaan Novia.
Reno pun berjalan perlahan menuju ke pintu ruangan itu.
"Vio Sayang, sekarang kamu hanya bersama dengan tante, kamu tenang saja sayang, tante tidak akan menyakitimu, tante hanya sedikit meminjam kebahagiaan kalian!" gumam Tina sambil membelai lembut rambut Vio.
Bersambung ...
__ADS_1