
Pagi itu Reno nampak berada di taman samping bersama dengan Novia untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi.
Tina juga berada di situ, meskipun kehadirannya sangat tidak diharapkan, namun Tina seolah tidak memperdulikan itu, dia tetap saja berada dan menginap di rumah itu tanpa merasa malu.
Sikap Reno juga memperlihatkan ketidaksukaannya dengan Tina, terlihat dari ekspresi wajahnya ketika dia berada dekat dengan Tina, berbeda ketika dia berada dekat dengan Novia.
Sejatinya Reno hanya mencintai Novia seorang dalam hidupnya, apa yang terjadi waktu itu adalah suatu kesalahan, karena rasa kecewa dan pelampiasan diri, namun Reno juga sama sekali tidak menyangka, kalau kesalahannya itu akan berbuntut panjang.
Apalagi kini Reno mengetahui bahwa sebenarnya Tina hanya pura-pura hamil saja, Kalaupun dia hamil beneran itu juga bukan dari benihnya, karena Reno mengetahui fakta bahwa dirinya mandul.
"Bawa aku ke kamar!" tulis Reno dalam kertas memo yang selalu dibawanya, karena sampai saat ini Reno pun masih kesulitan untuk berbicara, lidah dan lehernya terasa tercekat dan itu juga akibat dari Kecelakaan yang dialaminya.
"Iya mas, kita ke kamar sekarang ya!" jawab Novia yang kemudian mulai mendorong kursi roda Reno menuju ke kamar mereka, Tina mengikutinya dari belakang.
"Novia, kamu jangan egois, selalu membawa Reno ke kamar, kalau mau adil bawalah ke kamarku, jangan ke kamar kalian saja!" cetus Tina yang wajahnya terlihat masam dari tadi.
"Sekarang kita tanya saja Mas Reno, Mas Reno Apa kamu mau di kamar Tina?" tanya Novia. Dengan cepat Reno langsung menggelengkan kepalanya.
"Tuh kamu lihat kan, Mas Reno tidak mau ada di kamar Kamu, bukannya aku memaksa dia! Aku harap kau paham ini! Jangan memaksakan kehendak!" lanjut Novia yang kini kembali mendorong kursi roda Reno menuju ke kamarnya.
Sementara Tina nampak bersungut-sungut dengan wajah yang kesal, karena dia selalu kalah dalam hal ini, Reno selalu memprioritaskan Novia di atas segalanya dibandingkan dirinya.
Karena kesal, Tina kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu hingga mengejutkan Vio yang sedang bermain mobil-mobilan di karpet lantai ruang keluarga itu.
"Dasar menyebalkan! Memangnya mereka pikir mereka siapa? Aku kan juga punya hak yang sama karena aku juga istrinya Reno! Kurang ajar mereka!" sungut Tina.
"Tante Tina kenapa marah-marah? Tiap hari mukanya kelihatan judes, nanti kalau marah-marah terus pasti cepat tua!" celetuk Vio yang masih asik bermain dengan mainannya.
"Sudah kamu diam saja Vio! Tidak tahu urusan orang dewasa, gara-gara kamu juga nih, Tante jadi diperlakukan seperti ini!" cetus Tina.
"Tante Tina selalu marah-marah, Siapa orang yang suka marah-marah selain tante? Aku tidak suka orang yang suka marah-marah! karena kalau Tante Tina marah-marah, mukanya jadi jelek!" ujar Vio.
"Kurang ajar kamu! Pagi-pagi sudah membuatku sewot! Sudah kamu pergi sana jangan ganggu tante!" sengit Tina.
"Aku tidak mau pergi, ini kan rumahku, biasa juga aku bermain di sini!" bantah Vio.
"Ayo pergi sana, main di luar kek di mana kek, melihatmu membuat aku semakin darah tinggi!" seru Tina.
Mbak Darmi yang melihat perdebatan itu kemudian langsung cepat-cepat datang menghampiri mereka, dan menuntun tangan Vio.
"Maaf Bu Tina, Tidak sepantasnya Bu Tina berdebat dengan anak kecil!" kata Mbak Darmi.
"Siapa juga yang mau berdebat dengan anak kecil? Karena sikapnya membuat aku kesal, enak saja dia menceramahi aku!" sahut Tina.
"Tante Tina juga bikin aku kesal! kenapa Tante Tina ada di sini terus? Kenapa tidak pulang ke tempatnya Tante Tina saja!" seru Vio yang terlihat begitu emosi.
Mbak Darmi mengusap-usap dada Vio untuk menenangkan anak itu, yang sepertinya terlihat kesal dengan Tina.
"Sudah Vio, lebih baik Vio main di kamar dulu ya, Mbak Darmi temani, nanti sore Vio boleh Panggil Om David untuk bermain seperti biasanya!" usul Mbak Darmi.
__ADS_1
"Ayo Mbak! Aku juga tidak suka melihat Tante Tina terus!" sahut Vio yang kemudian langsung menarik tangan Mbak Darmi menuju ke kamarnya.
"Dasar setan kecil kurang ajar!" maki Tina.
Wajah Tina terlihat merah padam karena kekesalannya itu, dia sudah merasa tertolak oleh Reno, dia juga merasa sudah direndahkan oleh Novia dan kini dia malah berdebat dengan Vio, hatinya benar-benar kesal saat itu.
Sebenarnya bisa saja Tina pergi dari rumah itu, kembali ke apartemennya seperti dulu, di sini dia hanya butuh pengakuan dan dia juga berusaha mencari cara untuk mengambil perhatian Reno, walau Bagaimana Tina sudah merasa memiliki Reno meskipun pernikahan yang berlangsung saat itu adalah pernikahan Siri.
Pada dasarnya Tina sangatlah menyimpan iri hati sejak lama, melalui cerita-cerita dan curahan hati Novia, di situ Tina merasa kalau Novia begitu banyak mendapat cinta sejak dulu, meskipun ada rahasia yang tersembunyi. Hal itu membuat Tina menjadi terobsesi ingin menjadi seperti Novia, meskipun dengan cara yang salah.
Ting ... tong
Tiba-tiba terdengar suara bel yang berasal dari pintu gerbang depan rumah Reno, Mbak Darmi yang sedang menemani Vio di kamar kemudian langsung keluar dari kamar Vio dan bergegas menuju ke gerbang depan untuk membukakan pintu.
Tak lama kemudian Mbak Darmi masuk lagi ke dalam bersama dengan Bunda Lasmi yang ternyata baru datang dari Semarang, Bunda Lasmi nampak terkejut melihat Tina berada di rumah ini.
"Kamu? Ngapain kamu ada di rumah anak menantu saya?" tanya bunda Lasmi to the point.
"Ya saya berada di rumah suami saya lah, wajar kan Bunda!" jawab Tina.
"Oh, jadi perempuan yang telah merebut suami anak saya itu kamu? Dasar perempuan tidak tahu di untung! Kamu telah merusak rumah tangga sahabatmu sendiri, benar-benar keterlaluan kamu!" cetus Bunda Lasmi.
"Jadi bunda Baru tahu ya kalau sekarang saya ini adalah istri Reno juga, Bunda jangan marah-marah nanti bisa kena stroke!" sahut Tina.
"Dasar perempuan tidak tahu malu! Semakin kau berada di sini semakin membuat anakku tersiksa, Kenapa kau tidak pulang ke tempatmu?" tanya bunda Lasmi lagi.
"Untuk apa saya pulang bunda, saya kan mau menemani suami saya di sini!" jawab Tina.
"Lama-lama aku melihatmu Di sini membuat darah tinggiku semakin naik! dasar pelakor!" cetus bunda Lasmi yang kemudian langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan lagi Tina yang berada di situ.
Novia yang melihat kedatangan Bunda Lasmi langsung berjalan cepat dan memeluk Bundanya itu, sambil mencium tangannya, kemudian dia membawa Bundanya itu duduk di ruang keluarga.
"Ya ampun Bunda! Kenapa tidak mengabariku kalau mau datang ke sini?" tanya Novia.
"Novia, Kenapa kamu tidak katakan pada Bunda kalau sahabatmu itu yang telah merebut suamimu darimu, yang telah menghancurkan rumah tanggamu dan kebahagiaanmu!" tanya bunda Lasmi.
"Maafkan aku bunda, Aku hanya tidak ingin Bunda kepikiran hanya karena itu, sekarang aku sudah terbiasa menghadapi itu semua Bunda!" jawab Novia.
"Tapi bunda tidak bisa membiarkan ini semua Novia, Kamu jangan terlalu lemah! Biar saja nanti bunda yang usir dia keluar dari sini!" cetus Bunda Lasmi.
"Jangan Bunda, walaupun gimana dia adalah istri mas Reno juga, lagi pula saat ini kan dia sedang hamil, Aku tidak mau berbuat jahat padanya!" tukas Novia.
"Tapi sikapnya sudah keterlaluan Novia! Ini adalah rumahmu dengan Reno! Dia tidak berhak berada di rumah ini, kalaupun memang benar dia istrinya Reno juga, dia kan bisa di tempat lain!" sergah Bunda Lasmi.
"Sudah Bunda! Aku mohon jangan ribut di rumah ini, saat ini Mas Reno sedang sakit, dia mengalami kecelakaan dan sekarang dia lumpuh, tidak bisa berbuat apapun, tidak bisa berjalan bahkan bicara saja pun kesulitan!" ujar Novia.
Bunda Lasmi terdiam seketika, ketika mendengar ucapan dari Novia yang mengatakan bahwa saat ini Reno baru mengalami kecelakaan dan dalam kondisi lumpuh.
"Apa? Reno kecelakaan? Kenapa hal sebesar ini kamu sembunyikan dari Bunda Novia?" tanya bunda Lasmi sambil mengguncangkan kedua bahu Novia.
__ADS_1
"Maafkan aku bunda, aku hanya tidak ingin Bunda kepikiran, aku juga tahu Mas Reno kecelakaan setelah aku pulang dari Semarang, saat itu dia sedang dirawat di rumah sakit, hanya David dan Mbak Darmi yang tahu dan menunggui Mas Reno selama di rumah sakit!" jawab Novia.
"Yah kalau memang begitu, apa boleh buat mungkin apa yang terjadi pada Reno ada hikmah dibalik itu semua, sementara ini bunda akan tinggal di sini untuk menemani kalian, sekalian memantau Si Ular betina itu!" kata Bunda Lasmi.
Sementara Tina nampak duduk menyendiri di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Tina terlihat cuek dan seperti tidak punya rasa malu, karena Sekarang dia sudah tidak bisa lagi menutupi dirinya, dan bersandiwara menjadi sahabat Novia, sekarang tinggallah sifat aslinya yang dia Perlihatkan.
****
Sejak Reno mengalami kecelakaan, Dia tidak bisa lagi bekerja seperti dulu, Hal itu membuat perusahaannya goyang dan bisnisnya pun semakin runtuh.
Aset-aset pun sudah mulai dijual, Karena perusahaan juga tidak berjalan dengan normal. Hal itu membuat Novia berpikir keras untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang kini tengah mengancam keluarganya.
Sementara Reno juga Kondisinya masih sama, dia masih tidak bisa berjalan dan sulit untuk berbicara, bahkan untuk melakukan kegiatan pun dia harus dibantu oleh Novia, misalnya seperti mandi dan makan, Reno tidak bisa melakukannya sendiri.
Setelah beberapa lama tinggal di rumah Reno, Tina akhirnya tidak tahan juga, selain dirinya yang merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang terlihat sinis terhadapnya, ditambah lagi dia juga tidak bisa mendapatkan apa-apa dari Reno, karena Reno pun kini sudah lemah tak berdaya.
Akhirnya dengan kerelaan hati, Tina pun kembali ke apartemennya, meninggalkan Reno dan semua yang ada di rumah ini, kembali mencari kenyamanan dirinya sendiri.
Pagi ini setelah memandikan Reno dan menyuapinya, Novia pun membawa Reno duduk di sofa ruang keluarga sambil menghadap ke TV, biasanya dengan menonton televisi akan merangsang syarat-syaraf Reno untuk merespon dan bereaksi atau melakukan kegiatan lain seperti jalan-jalan mengelilingi rumah.
Reno nampak duduk ditemani oleh Vio yang pada saat itu sedang libur sekolah karena hari ini tanggal merah.
Novia kemudian berjalan keluar berniat akan membeli sayur di tukang sayur yang mangkal Di Ujung Jalan Kompleks itu.
Kalau dulu mbak Darmi seringkali pergi ke pasar untuk membeli stok bahan makanan untuk satu minggu ke depan, namun sejak Reno sakit Novia setiap hari membeli makanan yang baru, demi untuk menghemat keuangannya.
Pada saat Novia baru saja keluar dari gerbang rumahnya itu, dia berpapasan dengan David yang pada saat itu juga keluar dari rumahnya, sepertinya David hendak pergi mencari makanan.
"Hai Novia, kamu mau ke mana?" tanya David.
"Aku mau ke tukang sayur di ujung jalan sana, kamu sendiri mau ke mana Vid?" sahut Novia.
"Aku mau ke warung Padang, mau beli makanan, kamu tahu sendiri sekarang ini aku sudah duda dan tidak ada lagi yang mengurusi Aku, mau tidak mau ya aku harus mengurus diriku sendiri!" kata David.
"Oh ya David, sepertinya aku perlu bantuanmu, Adakah bisnis atau peluang yang bisa aku kerjakan untuk menambah penghasilan?" tanya Novia.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin menambah penghasilan? Apakah perusahaan Reno benar-benar di ujung tanduk?" tanya David balik.
"Iya David, kamu tahu sendiri Mas Reno saat ini juga belum bisa berbuat banyak, kondisi ini membuat perusahaannya goyang dan mau tidak mau aku harus memangkas semua pengeluaran, dan harus mencari sumber pendapatan!" jawab Novia.
"Kalau begitu begini saja, kebetulan toko online ku sedang membludak permintaan, sedangkan selama ini aku mengerjakannya sendiri, Kamu bisa bekerja membantuku untuk mengirim paket-paket ataupun membungkus produk-produk, Aku akan memberimu gaji yang pantas sesuai dengan pendidikanmu!" usul David.
"Benarkah? kalau begitu aku mau David, daripada aku mencari kerja yang jauh, paling tidak kalau aku dekat kan aku bisa mengurus Mas Reno, terus hemat ongkos juga!" sahut Novia antusias.
"Ya Benarlah, masa iya aku bohong, Kalau begitu kamu bisa mulai siang ini, nanti aku akan berikan padamu siapa-siapa saja yang memesan produk dan aku meminta bantuanmu untuk mengemas untuk pengiriman, nanti aku akan training sebentar bagaimana cara kerjanya!" ujar David.
"Baiklah David, sebelumnya aku terima kasih ya kamu sudah banyak membantuku, meskipun saat ini hubungan kita hanya sebatas pertemanan biasa, tapi itu sangat berarti bagiku juga bagi Vio!"ucap Novia.
"Kamu jangan sungkan padaku! Ingat Vio itu adalah darah daging kita, meskipun kita tak lagi berhubungan, tapi Vio itu adalah tanda cinta kita dulu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah jauh dari dia!" kata David dengan suara yang Lirih.
__ADS_1
Novia hanya tersenyum kemudian dia melangkah meninggalkan David menuju ke tukang sayur yang ada di ujung jalan itu, kalau Novia terlalu menanggapi perkataan David, maka David akan terus berkata-kata hingga Novia seringkali kehabisan kata untuk menjawab semua ucapan-ucapan David, terutama mengenai Vio yang selalu David anggap sebagai anak kandungnya.
Bersambung ...