
Novia turun dari mobil David sambil menggendong Vio yang nampak sudah tertidur, kini matahari sudah benar-benar tenggelam dan hari sudah menjelang malam.
"Novia kamu tidak apa-apa?" tanya David sambil menatap ke arah Novia dengan tatapan cemas.
"Tidak apa-apa David, Terima kasih sudah menemaniku hari ini, aku masuk ya!" jawab Novia.
"Aku akan selalu menjagamu dari sebelah Novia, kalau ada apa-apa denganmu, jangan sungkan hubungi aku!" seru David dari dalam mobilnya, saat melihat Novia sudah berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Novia kemudian langsung menidurkan Vio di kamarnya, Mbak Darmi dengan cekatan kemudian langsung menyeka dan mengganti pakaian Vio.
Ting ... Tong ...
Terdengar suara bel dari arah depan gerbang rumah, Mbak Darmi hendak membukakan pintu, namun Novia mengangkat tangannya memberikan isyarat, agar Mbak Darmi melanjutkan saja aktivitasnya, Novia yang akan membuka pintu gerbang depan.
Novia terkejut pada saat dia membuka gerbang rumahnya, Reno sudah berdiri di hadapannya.
Biasanya Reno kalo datang langsung membunyikan klakson, tapi kali ini tidak.
"Novia, maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf padamu, Aku benar-benar menyesal dan izinkan aku untuk berbicara dan menjelaskan semuanya padamu!" ucap Reno dengan menautkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Maaf Mas, sudah tidak ada lagi yang perlu mas Reno jelaskan padaku! Semakin Mas Reno berbicara kepadaku semakin pusing, Sekarang pergilah, Aku tidak ingin melihatmu lagi!" sahut Novia yang hendak menutup kembali gerbang rumahnya itu, namun tangan Reno cepat-cepat menahannya.
"Aku mohon sayang, Jangan perlakukan aku seperti ini! Ini sangat menyiksaku, Aku benar-benar tidak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang, tapi izinkan Aku bicara padamu!" kata Reno.
"Oh iya Mas, aku lupa kalau ini juga rumahmu, sekarang terserah kamu mau masuk atau bagaimana, tapi aku mohon jangan ganggu aku, saat ini aku ingin menenangkan diri!" ujar Novia yang kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam rumahnya itu.
__ADS_1
Novia kemudian berjalan menuju ke kamarnya, Reno mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai di kamarnya, Novia kemudian mengambil beberapa barang dan pakaian miliknya, kemudian dia langsung memasukkannya ke dalam kopernya, saat ini Novia hanya ingin menenangkan dirinya, dia berniat akan pulang ke Semarang besok bersama dengan Vio.
"Novia, Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mengemasi barangmu?" tanya Reno yang juga masuk ke dalam kamarnya itu.
"Besok aku mau pulang ke Semarang dengan Vio, lagi pula ini kan rumahmu Mas, kalau kita bercerai nanti aku tidak akan lagi tinggal di sini!" jawab Novia.
"Siapa bilang Ini rumahku? Rumah ini adalah hadiah pemberianku untukmu, jadi rumah ini adalah milikmu!" ujar Reno.
"Ya milik siapapun rumah ini, itu semua sudah tidak penting lagi bagiku, Aku hanya ingin pulang ke Semarang bersama dengan Vio!" sahut Novia yang tangannya terus saja membereskan barang dan pakaian miliknya.
"Aku tidak akan menceraikanmu! Apapun alasannya! Aku tidak akan pernah menceraikanmu, kau dengar itu?" tegas Reno.
Novia kemudian menghentikan aktivitasnya, dia menatap Reno dengan tatapan tajam, ada raut kekecewaan yang dalam di mata Novia.
"Aku akui aku salah! Aku mengaku di hadapanmu, aku memang telah menikah siri dengan Tina, tapi semuanya itu Bukan tanpa alasan, Tina mengaku hamil anakku dan dia menuntut aku untuk bertanggung jawab, akhirnya dengan terpaksa aku pun menyetujui permintaannya, tapi aku berniat untuk menceraikannya lagi, karena aku hanya mencintaimu seorang!" ungkap Reno.
Plakk!!
Sebuah tamparan keras lagi-lagi mendarat di wajah Reno, Novia begitu emosi mendengar semua pengakuan Reno, dia Hampir saja tidak dapat mengendalikan dirinya, nafasnya tersengal-sengal dan wajahnya memerah menahan amarah.
"Bisa-bisanya kau bilang cinta setelah Apa yang kau perbuat terhadap Tina, kalau Tina minta tanggung jawabmu itu wajar karena kamu telah membuat dia hamil! Perbuatanmu itu sungguh menjijikan, sekarang pergi keluar dari kamar ini! Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu itu mas!" sengit Novia.
"Oke, aku akan keluar, tapi aku tidak akan pergi meninggalkanmu, aku akan tetap di rumah ini, tetap berada dekat denganmu dan juga Vio anakku!" sahut Reno yang kemudian langsung keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Novia terduduk di tempat tidurnya sambil menangis tersedu-sedu, dia sudah tidak dapat lagi menyembunyikan air matanya yang selama ini selalu ditahannya agar tidak tumpah keluar.
Hati Novia begitu sakit dan perih, kini telah nyata bahwa suaminya benar-benar menghianati dia, bermain di belakangnya bahkan dengan Tina sahabatnya sendiri, bukan hanya itu saja, bahkan sampai membuat Tina hamil.
Rasanya Novia tidak percaya mendengar semua kenyataan ini, ini semua seperti mimpi buruk baginya, dan Novia berharap dia akan cepat-cepat bangun.
Sambil mengusap wajahnya yang basah, Novia kemudian menutup kopernya dan berjalan pelan keluar meninggalkan kamarnya itu, kamar yang selama ini menjadi saksi bisu keharmonisan dan keromantisannya dengan Reno.
Novia berjalan menuruni tangga lalu menaruh kopernya itu di dalam kamar Vio, malam ini dia akan tidur bersama dengan Vio, dan besok pagi-pagi Novia berencana akan ke stasiun, dia bertekad akan pulang ke Semarang bersama dengan Vio.
"Bu Novia bawa koper mau ke mana Bu?" tanya Mbak Darmi dari ambang pintu kamar Vio.
"Mbak, besok pagi-pagi aku mau ke stasiun, aku dan Vio akan pulang ke Semarang, ke rumah Bunda!" jawab Novia.
"Jadi ibu akan pulang ke Semarang? Lalu bagaimana dengan saya bu? saya Sendirian dong di rumah!" tanya Mbak Darmi.
"Tidak apa-apa Mbak, kan masih ada Bapak di sini, masih ada Pak Sukri juga, Mbak Darmi tidak sendirian, kan selama ini bapak yang menggaji Mbak Darmi, jadi Mbak Darmi tetap saja di sini!" jawab Novia.
"Tapi kalau tidak ada ibu di sini, buat apa? Saya kan bekerja untuk membantu ibu di sini, Bolehkah saya ikut ke Semarang Bu, tidak apa-apa saya tidak usah dikasih gaji, saya masih punya sedikit tabungan yang penting saya ikut ibu!" ucap Mbak Darmi dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Novia kemudian berdiri dari tempat tidur Vio, kemudian melangkah mendekati Mbak Darmi lalu memegang kedua bahu Mbak Darmi dengan tangannya, sambil menatapnya lembut.
"Mbak Darmi, Mungkin sebentar lagi aku dan Mas Reno akan bercerai! Dan untuk saat ini aku masih belum bisa untuk memberikan Mbak Darmi gaji atau fasilitas, Bukan aku tidak mau mengajak Mbak Darmi ikut, Tapi alangkah lebih baiknya kalau mbak Darmi tetap di sini, aku berjanji akan sering menelepon Mbak Darmi!" kata Novia.
"Baiklah Bu, kalau memang Ibu menginginkan saya tetap di sini, saya akan tetap disini, tapi saya akan selalu menunggu Ibu kembali!" ucap Mbak Darmi yang kini air matanya mulai mengalir keluar.
__ADS_1
Bersambung ....