Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Keributan Di Rumah Sakit


__ADS_3

Kondisi Reno sudah sadar, dia sudah dapat membuka matanya, dia juga sudah berusaha berbicara, meskipun kelihatannya sangat sulit.


Namun Reno tidak bisa menggerakkan sebagian tubuhnya, sepertinya dia mengalami kelumpuhan pasca kecelakaan tragis yang menimpanya itu.


Kini Reno sudah dipindahkan di ruang perawatan VIP, bukan lagi di ruang ICU, karena luka-luka fisiknya sudah terlihat ada kemajuan, sehingga berangsur-angsur pulih.


Novia masih menunggu Reno di sampingnya, sesekali dia menyeka tubuh Reno dan dengan perlahan dia pun membantu Reno makan dengan menyuapinya sedikit demi sedikit.


"Mas Reno, cepatlah sembuh, supaya Mas Reno bisa pulang ke rumah, Vio sangat merindukanmu!" ucap Novia sambil membersihkan mulut Reno sehabis dia menyuapinya.


Reno hanya bisa mengganggukan kepalanya tanpa bisa berkata-kata, seolah tenggorokannya tercekat ketika ia hendak berbicara.


Padahal banyak sekali yang ingin diutarakan oleh Reno, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benak Reno yang ingin dia sampaikan pada Novia, apalagi kini Reno mengetahui bahwa dirinya mandul, namun karena kondisi yang tiba-tiba dia harus mengalami musibah ini, dia harus mengalami kecelakaan nahas seperti ini.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruang perawatan itu dibuka dari luar, Novia menoleh dan terkejut saat melihat Tina yang datang tiba-tiba, dan langsung masuk begitu saja menghampiri dirinya dan juga Reno.


"Ternyata kalian di sini, tidak ada yang memberitahu aku kalau Reno kecelakaan, padahal aku ini kan juga istrinya!" ujar Tina yang kemudian langsung duduk di samping Reno.


"Tina, Mas Reno masih sakit parah, saat ini dia tidak bisa melakukan apapun! Aku mohon kamu jangan membuat suasana menjadi kacau!" kata Novia.


"Apa? Kacau? Memangnya kamu pikir aku siapa? memang kamu pikir aku tidak berhak berada di sini? Memangnya hanya kamu yang berhak untuk mendampingi Reno, sementara aku tidak?" tanya Tina sambil menatap tajam ke arah Novia.


"Tolong kecilkan suaramu Tina! Ini di rumah sakit, Seharusnya aku yang berhak marah padamu, tapi aku rasa aku harus bersikap lebih dewasa daripadamu!" ujar Novia.


Mulut Reno nampak megap-megap, sepertinya dia ingin sekali berbicara, namun lagi-lagi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Reno juga nampak berusaha untuk menggerakkan sebagian dari tubuhnya, namun dia tidak mampu, wajahnya terlihat tegang dan frustasi, Novia yang menyadari hal itu kemudian langsung mendekatinya.


"Mas Reno, Tenangkan dirimu! Kamu harus fokus akan kesembuhanmu! Jangan memikirkan banyak hal!" Ucap Novia.


"Reno, Apa yang terjadi padamu? kukira kamu selama ini ke mana, ternyata kamu kecelakaan, aku akan di sini menemanimu!" ujar Tina.


Reno terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian terdengar suara lenguhan dari mulutnya, karena dia berusaha keras untuk berbicara, namun tidak mampu.


Novia yang melihat itu langsung berinisiatif keluar dari ruangan untuk memanggil dokter atau suster.


Sementara Tina Masih bersama dengan Reno di ruangan perawatan


Tak lama kemudian, seorang dokter dan beberapa orang yang suster masuk ke dalam ruangan Reno untuk melihat Bagaimana kondisinya.


"Dokter, tensi pasien tinggi sekali! Sepertinya dia harus diberikan obat penurun tensi, sepertinya emosinya juga sedang tidak stabil saat ini!" seru Seorang perawat yang terlihat sedang memeriksa tubuh Reno.


"Ya berikanlah obat penurun tensi melalui selang infus, dan berikan dia obat penenang!" perintah dokter.


Perawat-perawat itu kemudian mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan suami saya dokter?" tanya Novia.


"Sepertinya Pak Reno baru saja mengalami hal yang membuatnya begitu syok dan depresi. Saya minta, hanya satu orang saja yang menunggu di ruangan ini!" jawab sang dokter.


"Biar saya saja menunggui dia dokter, saya ini kan istrinya!" cetus Tina tiba-tiba.


Dokter itu menatap ke arah Tina dengan tatapan heran, kemudian dia beralih menatap Novia yang diam saja tanpa ada pembicaraan apapun.


"Apa maksudnya ini? Bukankah Bu Novia istrinya pak Reno?" tanya dokter yang terlihat bingung.


"Sudahlah dokter, tidak usah membahas hal itu, lebih baik tolong suami saya, biar dia bisa segera pulih kembali!" sahut Novia.


"Baiklah Bu, tapi ini kondisi Pak Reno sepertinya tidak sedang baik-baik saja, sepertinya psikologis Beliau juga terganggu, alangkah baiknya jangan membuat kondisinya semakin parah, Saya tidak tahu masalah apa yang terjadi, tapi kalian pasti paham!" ungkap sang dokter.


"Ya dokter, lakukanlah yang terbaik untuk suami saya!" kata Novia.


"Kalau begitu saya mohon, kalian tunggu di luar dan setelah ini hanya boleh satu orang yang menunggu di dalam!" ujar sang dokter.


Novia dan Tina kemudian segera beranjak dari tempat itu dan keluar dari ruangan perawatan Reno. Mereka duduk di depan ruangan itu, duduk saling bersebelahan namun tidak saling bicara.


"Novia, kamu kan sudah sejak kemarin menunggu Reno, sekarang giliran aku yang menunggunya, kamu pulang saja!" kata Tina tiba-tiba.


"Kenapa kamu sangat ingin menunggui Mas Reno?" tanya Novia.


"Ya kan aku ini istrinya juga! Ya wajar dong aku menunggui Reno, karena dia itu juga suamiku!" sahut Tina.


"Ya ya, suami dari hasil merebut suami sahabatnya sendiri, Bahkan aku sendiri tidak tahu saat ini kamu ini siapa! Apakah teman, sahabat atau apa!" cetus Novia.


"Ya, sampai kamu tidak tahu di mana hati nuranimu sendiri, melukai tanpa perasaan, menusuk dari belakang! Apa kamu tidak sadar ada Vio di antara kami!" sahut Novia.


Tina nampak tertawa mendengar ucapan dari Novia, dia tertawa sampai memegangi perutnya, sementara sebaliknya Novia diam saja tidak menanggapi ataupun merespon Tina


"Novia Novia, sekarang kamu pakai alasan Vio, Bukankah sejak dulu kamu selalu galau kalau Vio itu anak siapa?" Tanya Tina yang masih terus menahan tawanya.


"Kamu boleh melecehkan aku Tina! Tapi tetap saja Vio itu adalah anak mas Reno, karena sejak dia dalam kandungan sampai dia lahir dan sebesar ini, banyak andil Mas Reno di dalamnya!" sahut Novia.


"Oke, tapi kau juga jangan lupa saat ini aku mengandung anak Reno lho!" kata Tina sambil mengelus perutnya. Novia langsung memalingkan wajahnya, semakin dia melihat Tina, makin hatinya semakin sakit.


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat, kalau kamu ingin menunggui Mas Reno silahkan, tapi aku tidak akan pulang, aku akan menunggu di sini!" sahut Novia.


Tina terdiam, kembali mereka dalam keheningan dengan pikiran masing-masing, semakin mereka berbicara, semakin berdebat, mereka memutuskan untuk saling diam tanpa bicara.


Novia menggigit bibirnya miris, memang dulu mereka menjalin persahabatan dengan sangat erat, sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara, namun kini mereka ada sangat dekat bersebelahan, namun jurang terbentang di antara mereka.


Seorang dokter dan dua orang perawat itu pun keluar dari ruangan perawatan, sepertinya mereka sudah selesai menangani Reno.


Dengan bersamaan, Novia dan Tina kemudian berdiri dan langsung berjalan menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan suami saya dokter??" tanya Novia cepat.


"Saat ini Pak Reno sedang tidur, karena dalam pengaruh obat penenang, mudah-mudahan saja ketika dia bangun nanti, pikirannya lebih tenang, sehingga kondisinya stabil, karena ini sangat mempengaruhi kesehatannya!"Jelas dokter.


"Baiklah dokter terima kasih!" ucap Novia.


"Tapi ingat ya, hanya boleh satu orang yang menunggu di dalam, karena Pak Reno membutuhkan ketenangan!" lanjut sang dokter.


"Baik dokter, Saya akan berusaha untuk menjaga ketenangan suami saya!" sahut Novia.


Kemudian dokter itu pun segera berlalu dari ruangan itu.


"Novia, sesuai kesepakatan, aku yang akan menunggui Reno di dalam, terserah kamu mau menunggu di luar atau pulang!" kata Tina.


"Baik, silakan kamu menunggui Mas Reno di dalam, aku akan menunggu di sini!" sahut Novia.


Sambil tersenyum, Tina kemudian mulai membuka pintu ruangan itu, dan masuk ke dalamnya.


Sementara Novia kembali duduk di bangku yang ada di ruangan itu sambil menarik nafas berat.


Dia pun mulai menyadari bahwa Bukan dia lagi satu-satunya yang memiliki Reno, mau tidak mau, suka tidak suka, Novia harus menerima kenyataan bahwa Reno bukan lagi seutuhnya miliknya, tetapi juga milik wanita lain.


Tanpa terasa air mata Novia kembali mengalir, hatinya begitu pedih dan perih, sebenarnya dia sangat ingin sekali berada di sisi Reno, apalagi di saat dia sakit seperti itu, namun dia harus menahan dirinya dan memberikan kesempatan Tina untuk juga bisa menemani Reno.


Tiba-tiba ponsel Novia bergetar, Novia kemudian merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya lalu mengusap layarnya, ada panggilan telepon video dari Vio dengan memakai ponsel milik David.


"Halo Vio!"


"Halo Mama, mama kapan pulang? Mama sudah lama di rumah sakit, Aku kangen Mama!" kata Vio.


"Vio Sabar ya, Mama kan masih menemani papa, nanti Mama pasti pulang, tapi belum sekarang!" jawab Novia.


"Mama, Om David mau ngomong sama mama!" kata Vio.


"Mana?"


"Halo Novia, Bagaimana keadaan Reno? sepertinya Tina datang ke rumah sakit, karena sebelumnya dia bertemu dengan kami dan Vio tidak sengaja keceplosan kalau Reno ada di rumah sakit!" kata David.


"Iya, Tina memang ada di sini, sekarang dia yang menunggu Mas Reno di dalam, Aku sekarang di luar, karena Dokter bilang Mas Reno tidak boleh ditunggui oleh banyak orang, cukup satu orang saja!"Jawab Novia.


"Novia, kenapa kamu membiarkan Si Ular itu masuk ke dalam, kamu kan bisa saja mengusir dia pergi!" tanya David.


"Sudahlah David, Aku sudah tidak punya energi lagi untuk melakukan itu, saat ini yang aku pikirkan hanya kesembuhan Mas Reno, Biarkan saja Tina menunggu Mas Reno, Bagaimana Tina kan juga istrinya!" jawab Novia.


"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa aku harap kamu langsung menghubungiku!" ujar David.


"Iya David, Aku titip Vio padamu, Kalau kamu sibuk berikan Vio pada Mbak Darmi, aku pasti akan pulang, hanya aku belum pulang sekarang!" kata Novia.

__ADS_1


"Ya kamu tenang saja Novia, Vio akan aman Bersamaku, dan aku sama sekali tidak direpotkan sama sekali, Jaga dirimu baik-baik, kalau Tina berbuat sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu harus langsung hubungi aku!" ujar David yang kemudian langsung mematikan panggilan video teleponnya.


Bersambung ....


__ADS_2