
Novia mulai terlihat sadar, Kini dia sudah berada di ruang perawatan di rumah sakit, yang ada tidak jauh dari rumahnya.
Di ruangan itu ada Mbak Darmi, ada David dan juga Silvi.
Novia sedikit mengerutkan keningnya, saat diliriknya selang infus sudah menancap di tangannya, kemudian dia menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu.
"Ah, syukurlah akhirnya Ibu sadar juga, tadi kami benar-benar panik saat ibu pingsan di rumah!" kata Mbak Darmi yang langsung menghampiri Novia dan menggenggam tangannya.
"Mbak Darmi? kok aku bisa ada di sini?" tanya Novia bingung.
"Tadi pagi Mbak Darmi datang ke rumah kami, dia minta bantuan karena Mbak Novia pingsan, untung ada Bang David yang langsung dengan Sigap mengangkat Mbak Novia dan membawa ke rumah sakit!" jawab Silvi.
Sekilas Novia menatap ke arah David yang saat itu berdiri di samping Silvi.
Novia berpikir, benarkah David yang sudah mengangkat dan membawanya ke rumah sakit? Bagaimana kalau Reno tahu? Saat ini perasaan Novia sangat sulit untuk digambarkan.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dari luar, Reno langsung masuk menghambur dengan wajah cemas, dan tanpa basa-basi dia langsung datang menghampiri Novia dan memeluk wanita itu.
"Maafkan aku sayang, seandainya saja ponselku tidak ketinggalan di ruangan, mungkin saat Mbak Darmi telepon, aku bisa langsung cepat datang! Maafkan aku!" ucap Reno sambil mengecupi seluruh wajah Novia.
"Aku tidak apa-apa Mas!" jawab Novia lirih.
"Kata Dokter, tekanan darah Ibu naik, saat ini Ibu sedang drop, makanya dokter menganjurkan ibu untuk dirawat di sini!" jelas Mbak Darmi.
"Sayang, aku sudah berkali-kali bilang padamu, kalau kamu sakit, pusing atau apapun Katakan padaku! Baiklah, aku akan menemanimu di sini sampai kamu sembuh!" ucap Reno.
"Maaf Pak Reno, sepertinya kami harus pamit pulang, karena di sini sudah ada Pak Reno dan Mbak Darmi yang menemani Bu Novia, masih ada pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan!" pamit David tiba-tiba.
__ADS_1
Reno kemudian langsung menoleh ke arah David dan Silvi, seolah baru menyadari kehadiran mereka, yang sedari tadi berdiri di situ.
"Oh, untung saja ada kalian, tetangga terdekat yang bisa membantu istriku, Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian, karena sudah peduli pada istriku!" ucap Reno yang kemudian langsung berdiri dan menepuk bahu David.
David nampak tersenyum, lalu kemudian dia menggandeng tangan Silvi dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Untung saja kita punya tetangga sebaik mereka! Jadi kalau terjadi apa-apa denganmu, aku sudah tidak terlalu kuatir lagi!" ucap Reno yang kembali mengelus rambut Novia.
Novia hanya menggigit bibirnya dan tidak menjawab lagi apa yang diucapkan oleh Reno.
Reno tidak tahu di belakang itu semua, bagaimana berkecamuknya pikiran dan perasaan Novia saat ini.
Seandainya Reno tahu siapa David yang sebenarnya, mungkin Reno tidak akan mengatakan kalau dia beruntung memiliki tetangga seperti mereka.
"Pak, saya mau izin pulang sebentar, soalnya tadi saya buru-buru ke rumah sakit, jadi saya lupa mengunci pintu Pak, takut kenapa-napa di rumah!" kata Mbak Darmi tiba-tiba.
"Iya mbak, sebaiknya kau pulang saja ke rumah, tapi nanti sore minta tolong bawakan beberapa bajuku dan baju istriku, karena istriku akan dirawat beberapa hari di sini!" sahut Reno.
****
Sementara itu, sepanjang perjalanan David dan Silvi hanya diam saja, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Silvi melihat ada sesuatu yang sedikit berbeda dengan suaminya itu, belakangan ini sejak mereka pindah rumah, David cenderung lebih diam dan tertutup.
David tidak akan pernah mau berbicara duluan Kalau bukan hal yang penting, padahal pertama kali Silvi mengenal David, David adalah sosok laki-laki periang yang selalu menebarkan senyum manisnya dan senantiasa bersikap ramah terhadap semua orang.
Namun Silvi merasakan akhir-akhir ini sikap David berubah menjadi lebih dingin, meskipun beberapa waktu yang lalu David mengajaknya untuk liburan ke Puncak, tapi tetap saja sikapnya dingin dan David juga tidak banyak bicara.
"Bang David, Bagaimana rencana kita untuk Kembali konsultasi ke dokter mengenai program kehamilan?" tanya Silvi pada saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
"Kamu Atur saja jadwalnya, aku ikut saja!" jawab David datar.
"Kalau begitu hari minggu besok kita ke dokter kandungan Ya bang, Aku sangat ingin sekali hamil seperti Mbak Novia!" ucap Silvi.
"Ya!"
"Bang David lihat kan, Mbak Novia itu sangat disayang sama suaminya, Pak Reno kelihatan Perhatian sekali sama mbak Novia, siapa tahu saja kalau aku hamil nanti, Bang David bakal perhatian dan tambah sayang padaku!" ungkap Silvi.
Tidak ada jawaban dari David, mata David menatap lurus ke depan, fokus kepada jalanan yang saat itu sedang padat merayap.
Meskipun Silvi merasa sedih karena David kurang antusias mengenai program kehamilan yang selama ini didambakan oleh Silvi, namun Silvi berusaha berpikiran positive terhadap suaminya itu.
"Aku yakin, kalau Bang David pasti akan tambah sayang padaku kalau aku hamil nanti, waktu Mbak Novia pingsan saja Bang David kelihatan panik, apalagi kalau aku yang pingsan!" lanjut Silvi.
"Silvi, kita mampir ke rumah makan Padang ya, perutku sangat lapar!" kata David tiba-tiba.
"Iya Bang, perutku juga lapar dari tadi!" jawab Silvi.
David menggenggam tangan istrinya itu, dia tahu Silvi begitu mencintainya, meskipun selama ini David berusaha untuk menjadi suami yang terbaik untuk Silvi.
Entah mengapa muncul perasaan bersalah dalam diri David, dan dia tidak tahu harus dengan cara apa Dia memberikan kebahagiaan untuk Silvi.
Ada senyum yang tersungging dari bibir Silvi, ketika David menggenggam tangannya dengan hangat, selama ini David memang terkesan tidak romantis, dan jarang sekali memperlakukan Silvi dengan manis, meskipun David juga bukan orang yang kasar.
Perlahan Silvi menyandarkan kepalanya di bahu David yang saat itu sedang menyetir.
"Aku beruntung punya suami seperti Bang David, orangnya baik hati, suka menolong sesama, dan yang lebih penting sayang sama istri!" ucap Silvi.
David tidak menjawab apapun, kecuali dengan belaian lembut tangannya yang kini mulai mengusap rambut Silvi yang saat ini sedang bersandar di bahunya.
__ADS_1
Bersambung ....