
Sore ini Reno pulang lebih cepat dari biasanya, beberapa waktu lalu dia selalu pulang larut malam, dan bahkan pulang subuh, namun hari ini Reno sudah pulang jam 04.00 sore seperti dulu.
Namun ada yang berubah, saat Reno pulang sore, Novia tidak menyambutnya seperti dulu, Vio juga tidak berlari-lari mengejarnya seperti dulu, Novia terlihat sedang membantu Mbak Darmi memasak untuk makan malam, sementara Vio sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya di ruang keluarga.
Pada saat Reno masuk ke dalam rumahnya sendiri, dia merasakan ada satu kecanggungan dan kekakuan yang selama ini belum pernah dia rasakan, seolah dia berada di tempat asing, meskipun itu adalah rumahnya sendiri.
"Vio, lihat papa bawa apa? Sini sayang, papa ada hadiah untuk Vio!" seru Reno berharap kalau Vio akan berlari datang padanya, dan bergelayut manja seperti dulu.
"Oh, Papa sudah pulang? Tumben Papa pulang cepat, biasanya Papa sudah pulang kalau aku sudah tidur!" sahut Vio yang matanya masih terlihat fokus pada mainan mobil-mobilan.
Reno yang merasa dicuekin akhirnya berjalan mendekati Vio, lalu menyodorkan bungkusan yang dia beli tadi sebelum pulang.
"Ini ada mainan baru dan ayam goreng crispy kesukaan Vio, kan Vio suka makan ini, sengaja Papa belikan untuk Vio!" ucap Reno.
"Iya Pa, tapi sekarang aku sudah tidak terlalu suka ayam crispy lagi, aku lebih suka masakan mama!" sahut Vio.
Kemudian Vio berdiri dan melangkah menuju ke kamarnya, seolah enggan berbicara dengan Reno.
Reno menarik nafas kecewa, dia tidak menyangka kalau sikap anaknya akan seperti itu, dia menyadari bahwa beberapa waktu ini dia memang selalu pulang malam setelah Vio sudah tidur, mungkin karena kebiasaan itulah yang membuat Vio jadi bersikap acuh terhadapnya.
Novia nampak menata meja makan, Reno pun beringsut mendekati Novia, seperti dahulu, tangannya memeluk pinggang Novia dan berusaha untuk menciumnya, tapi dengan perlahan Novia menepiskan tangan Reno.
"Sebaiknya kamu mandi dulu Mas, setelah mandi Istirahatlah, setelah itu baru makan malam!" ucap Novia datar tanpa ekspresi.
Lagi-lagi Reno kecewa melihat perubahan sikap istrinya itu, dia menyadari bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam rumah tangganya, yaitu kehangatan dan keromantisan.
Dengan langkah gontai, Reno pun berjalan menuju ke kamarnya, Dia segera menyambar handuknya dan membuka lemarinya, mengambil pakaian ganti.
Biasanya Novia yang selalu menyiapkan pakaian untuk Reno, menyiapkan air hangat untuk mandi Reno, dan melayaninya dengan sepenuh hati.
Namun kali ini sikap Novia berubah menjadi dingin, dan Reno pun harus melayani dirinya sendiri, begitu menyakitkan bagi Reno, tapi dia menyadari semuanya ini adalah konsekuensi atas apa yang telah diperbuatnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Reno pun Kembali keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang makan, waktunya makan malam.
Novia dan Vio nampak sudah duduk di ruang makan, Reno pun kemudian ikut bergabung dengan mereka, meskipun dia merasa begitu canggung dan asing dengan keluarganya sendiri.
Bahkan pada saat makan malam dimulai, mereka hanya fokus dengan makanannya masing-masing tanpa ada pembicaraan ataupun candaan seperti biasanya.
Vio pun terlihat makan sedikit dan kadang disuapi oleh Novia, setelah selesai dia kemudian langsung kembali bermain di ruang keluarga dengan mainannya tanpa banyak bicara lagi.
"Sayang, aku merasa asing di rumahku sendiri, kenapa sikap kalian berubah padaku, padahal saat ini aku sudah berusaha untuk pulang lebih awal seperti dulu!" ucap Reno.
"Entahlah Mas, dulu Memang kita punya kebiasaan mengobrol dan bercanda di ruang makan, tapi sejak Mas Reno jarang di rumah, kebiasaan itu hilang begitu saja!" jawab Novia.
"Sayang, bisakah kita mengembalikan kebiasaan kita yang dulu?" tanya Reno.
"Aku tidak tahu Mas, hatimu sendiri yang tahu jawabannya!" jawab Novia singkat.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Novia pun segera berdiri dan sedikit membereskan meja makan, lalu berjalan ke dapur meninggalkan Reno yang masih duduk di ruang makan.
__ADS_1
Tiba-tiba Reno jadi tak bernafsu untuk menghabiskan makanannya, dia seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga hari menjelang malam, Novia nampak berbaring di tempat tidurnya sambil membaca beberapa artikel di ponselnya, Reno pun kemudian mulai tidur di samping Novia dan perlahan mulai memeluk pinggang wanita itu.
Namun lagi-lagi Novia menepiskan tangan Reno, kemudian dia bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
"Maaf Mas, malam ini sepertinya aku harus menemani Vio di kamarnya, aku janji mau membacakan dongeng untuknya!" kata Novia sambil melangkah keluar dari kamarnya itu.
Reno terpaku menatap kepergian Novia, dia merasa tertolak di rumahnya sendiri, padahal hatinya sangat merindukan Novia sudah lama juga dia tidak menyentuh istrinya itu.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Tiba-tiba ponsel Reno kembali bergetar, Reno pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu mengusap layar ponselnya itu, lagi-lagi Tina yang menelepon nya.
"Mau apa lagi kamu menelponku? Bukankah kita sudah sepakat beberapa hari ini aku pulang sore, setelah apa yang kamu inginkan aku lakukan?" tanya Reno pada saat dia mengangkat panggilan teleponnya.
"Ya aku tahu, tapi aku kesepian malam ini, bisakah kau datang ke sini? Aku kangen Reno!" jawab Tina.
"Tidak, untuk kali ini please Jangan lagi menggangguku! Aku sudah bertanggung jawab padamu, mengikuti semua kemauanmu, beri aku kesempatan untuk memperbaiki keluargaku!" ujar Reno.
"Kamu memperbaiki keluargamu? Lalu bagaimana dengan aku? Aku yang selalu jadi nomor 2, aku yang selalu jadi yang terbelakang, kamu benar-benar keterlaluan Reno!" Sungut Tina.
"Kamu yang keterlaluan! Bukankah kamu duluan yang menggodaku? Kamu itu memang pelakor Tina! Aku saja yang terlalu bodoh jatuh dalam perangkapmu!" cetus Reno yang kemudian langsung mematikan ponselnya.
Nafas Reno naik turun menahan amarah, dia mengepalkan tangannya, sesungguhnya dia sudah muak dengan permainan ini, semua kebohongan dan rahasia yang membuat dirinya terjebak.
Kalau bukan karena Tina sudah hamil benihnya, Reno tidak akan pernah sudi untuk mendekati wanita itu lagi, Reno benar-benar menyesal.
Saat pagi hari, Reno bangun kesiangan, biasanya dulu dia selalu dibangunkan oleh Novia, tapi saat ini bahkan Novia tidak ada di sisinya, semalaman Novia tidur di kamar Vio.
Reno langsung buru-buru menyambar handuknya dan mandi, atau sebentar lagi dia akan terlambat ke kantor, apalagi siang ini dia ada meeting penting dengan Kepala Divisi.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Reno pun kemudian bergegas turun menuju ke ruang makan, Novia terlihat sedang menyuapi Vio yang kini terlihat sudah rapi berseragam.
"Wah anak Papa sudah rapi nih, nanti kita berangkat sama-sama ke sekolah ya?" kata Reno yang kemudian langsung duduk di samping Vio.
"Aku berangkat sekolah diantar Mama saja Pa, Papa berangkat saja ke kantor duluan!" sahut Vio.
"Lho kok Vio begitu, kan ada Papa, biasanya juga dulu Vio berangkat sekolah bareng Papa!" ujar Reno.
"Ya itu kan dulu! Sekarang aku udah biasa diantar Mama, lagi pula sekarang aku lebih suka diantar sama Om David, Karena Om David itu baik, selalu mengajakku bermain dan bercanda!" kata Vio polos.
Reno langsung melotot dan menatap ke arah Novia yang juga sedikit terkejut karena ucapan dari Vio itu.
"Jadi kau Ajari anak kita untuk lebih menyayangi orang lain daripada papanya sendiri?" tanya Reno sambil menatap tajam ke arah Novia.
"Aku tidak pernah mengajarkan Vio untuk tidak menghargaimu! Tapi mas Reno sendiri yang membuat Vio menjauh!" sahut Novia.
"Ya Aku tahu aku salah, tapi apakah aku tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki diri?" tanya Reno.
__ADS_1
"Mas Reno, luka yang sudah tergores mungkin Sakitnya akan hilang, tapi bekasnya membutuhkan proses untuk bisa sembuh dan benar-benar hilang!" jawab Novia.
Reno termangu mendengar ucapan dari Novia, dia memang mengakui saat ini dirinya penuh dengan kebohongan dan dusta, mungkin Novia sudah mencurigai kalau Reno itu berselingkuh, tapi sedikitpun Novia tidak pernah menanyakan siapa yang diselingkuhi oleh Reno.
Karena Novia berpikir, kalau dia bertanya siapa wanita itu, dan kalau dia tahu wajah wanita itu, itu akan lebih menyakiti hatinya, lebih baik Novia berpura-pura tidak peduli saja, karena dia tidak sanggup kalau harus menanggung sakit hati yang dalam, karena perselingkuhan suaminya yang terselubung itu.
Novia menyetir sendiri mobil untuk mengantar Vio ke sekolah, Reno pun menyetir mobilnya sendiri untuk berangkat ke kantor, mereka pergi masing-masing di waktu yang hampir bersamaan.
"Mama, mama masih berantem sama papa?" tanya Vio saat dalam perjalanan menuju ke sekolahnya.
"Tidak, Mama tidak sedang berantem sama papa, Vio Jangan khawatir, mama dan papa hanya butuh sendiri dulu!" jawab Novia.
"Teman aku Nadia juga begitu ma, Papanya tidak pernah pulang-pulang, ternyata Papanya menikah lagi dengan orang lain, dan sekarang mama papanya Nadia sudah berpisah!" ucap Vio.
Novia terkesiap mendengar ucapan putranya itu, seolah Vio bisa merasakan akibat yang akan terjadi di depan, karena masalah dirinya dan Reno.
Novia tidak ingin Vio terluka batinnya, hanya karena melihat ketidak harmonisan kedua orang tuanya.
Novia kemudian membelai rambut Vio dengan lembut.
"Tidak sayang, kamu tidak seperti Nadia, Vio akan jauh lebih bahagia daripada teman Vio, Mama janji!" kata Novia.
"Iya Ma, aku juga tidak ingin seperti Nadia yang kadang-kadang di rumah Mamanya, kadang-kadang di rumah Papanya!" ungkap Vio.
"Itu tidak akan terjadi sayang! Mama tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada keluarga kita!" ucap Novia.
Tak lama Vio pun sudah sampai di sekolah, dia segera turun dari mobilnya dan berlari ke arah lobby, disambut oleh security dan guru-guru yang berjejer seperti biasanya.
Setelah melambaikan tangannya, Novia kemudian langsung melajukan mobilnya itu keluar dari gerbang sekolah Vio.
Novia kemudian menepikan Mobilnya di depan sebuah minimarket, karena dia hendak menelepon Tina, sepertinya Novia ingin sekali mencurahkan isi hatinya pada Tina, pada siapa lagi dia curhat kalau bukan pada sahabatnya itu.
"Halo, Novia? Pagi-pagi kamu sudah Menelpon aku? Ada apa?" tanya Tina yang ada di seberang telepon.
"Tina aku yakin Mas Reno berselingkuh, aku sangat yakin itu, aku takut Rumah tanggaku akan hancur, Aku hanya memikirkan Vio Tin, Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Novia.
"Kamu yakin suamimu itu berselingkuh?" tanya Tina balik.
"Yakin, aku yakin 100% kalau Mas Reno berselingkuh, sejak awal memang aku sudah curiga padanya, dengan siapapun dia berselingkuh, Aku tidak mau tahu, aku hanya ingin sekali memperbaiki hubungan Rumah tanggaku, Bagaimana menurutmu? Satu-satunya yang aku pikirkan hanyalah Vio!" jawab Novia.
"Kamu mau tahu pendapatku? Kalau menurutku, kalau kamu curiga suamimu itu berselingkuh, lebih baik gugat cerai saja dia, toh di luar sana masih banyak laki-laki yang baik dan bertanggung jawab terhadapmu juga Vio!" ucap Tina.
"Apa? Menggugat cerai? Apakah itu jalan satu-satunya? Aku tidak pernah berpikiran kalau aku akan menggugat cerai Mas Reno, selama ini dia tidak pernah bersikap kasar terhadapku juga Vio, lagi pula kalau bisa diperbaiki Kenapa harus berpisah?" ungkap Novia.
"Jangan bodoh Novia! Kalau laki-laki itu sudah berselingkuh, itu berarti keluarganya sudah tidak lagi berharga, dan dia mencari wanita lain untuk kepuasannya, untuk apa dipertahankan?" sahut Tina.
"Tapi Tin, masa aku harus menggugat cerai Mas Reno, apa kata keluargaku? keluarganya? Lalu bagaimana dengan Vio?" tanya Novia makin frustasi.
"Ya itulah risiko, daripada setiap hari kepalamu pusing memikirkan suamimu yang berselingkuh, lebih baik gugat cerai saja, beres kan!" cetus Tina.
__ADS_1
Novia tertegun mendengar saran dari Tina sahabatnya, Dia sedikit heran, kenapa Tina langsung saja memberikan saran untuk berpisah dengan Reno? Padahal dulu Tina terlihat bijak kalau memberikan solusi, tapi kali ini Tina seolah menyuruh Novia untuk bercerai dengan Reno, hati Novia Semakin menjadi Bimbang.
Bersambung.....