
Brakk!!
Tiba-tiba pintu kamar Novia terbuka dari luar dengan kasar, Reno datang dengan wajah tegang, dan mata yang memerah seperti menahan amarah.
Novia terkesiap melihat kedatangan Reno, yang tiba-tiba itu, padahal yang dia tahu Reno sedang berada di kantornya, tapi mengapa sore ini tiba-tiba dia pulang dan langsung membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Mas Reno, ada apa tiba-tiba kamu datang dengan sikap yang seperti ini?" tanya Novia.
"Dasar wanita murahan! Pada saat aku tidak ada, aku tidak pernah menyangka kamu begitu munafik! Apa kamu bisa menjelaskan apa maksudnya ini?!" seru Reno sambil melemparkan beberapa lembar foto ke arah Novia.
Beberapa lembar foto itu berserakan di lantai dan Novia mengambilnya satu, matanya melotot saat melihat foto itu, foto dirinya bersama dengan David ketika mereka Mampir ke cafe kantor Tina
Foto di mana memperlihatkan David sedang duduk berdua di cafe bersama dengan Novia, dan Novia tidak mengerti Mengapa ada orang yang memfoto dirinya dengan David di kantornya Tina.
"Dari mana Mas Reno mendapatkan ini semua?" tanya Novia bingung.
"Kamu tidak perlu tahu aku mendapatkannya dari mana! Tapi bukti sudah terlihat nyata, kalau memang di belakangku kamu ada main dengan David si brengsek itu! Selama ini aku mengagumimu sebagai istri yang setia dan lembut terhadap suami, tapi ternyata aku salah! kamu sama munafiknya dengan kebanyakan wanita di luar sana!" sahut David, nafasnya terlihat naik turun menahan emosi.
"Mas Reno, itu foto ketika Aku ingin pergi ke kantornya Tina, namun David ingin ikut karena David juga adalah teman kuliah kami dulu, apa salahnya Kalau kami hanya jalan biasa saja lalu menemui Tina!" jelas Novia.
"Aku tidak mau lagi mendengar penjelasanmu! Aku sudah cukup tahu selama ini kalian memang menusukku dari belakang, dan itulah mengapa aku jadi tidak betah di sini, di rumah ini!" sengit Reno yang kemudian berlalu meninggalkan kamar itu, dengan menutup pintunya keras sekali.
Novia menggigit bibirnya sambil menangis, dia masih tidak menyangka kalau dirinya bersama David akan menjadi bumerang, dia tidak habis pikir siapa orang yang dengan tega menyebarkan berita bohong itu, padahal jelas-jelas dirinya tidak ada apa-apa dengan David, hanya sekedar menunggu Tina di cafe.
__ADS_1
Perlahan Novia bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya, Mbak Darmi masih terlihat sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam, sedangkan Vio terlihat asik bermain lego di ruang keluarga. Reno sudah tidak ada lagi di sana, mungkin dia sudah pergi meninggalkan rumah ini.
"Tadi Bapak pulang Bu, tapi terus dia balik lagi pergi!" kata Mbak Darmi.
"Iya mbak, Biarkan saja dia pergi, mungkin dia memang sudah tidak betah lagi tinggal di sini!" ucap Novia.
"Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi di keluarga ibu, saya akan terus di sini menemani Ibu!" ujar Mbak Darmi yang kemudian berjalan mendekati Novia dan mengusap bahunya dengan lembut. Wanita itu seolah tahu apa yang saat ini terjadi dan dialami oleh majikannya itu.
"Terima kasih Mbak, terima kasih Sudah menemani aku juga Vio!" ucap Novia.
Novia kemudian langsung kembali berjalan menuju ke teras depan rumahnya.
Kala itu Matahari mulai tenggelam, senja mulai turun, kini sudah tidak ada harapan lagi bagi Novia untuk menanti Reno pulang ke rumah, semua harapan dan impiannya sudah pupus.
Untuk curhat dengan Tina pun kini Novia mulai berpikir, dia tidak ingin mengganggu ketenangan sahabatnya itu, dengan curhatan-curhatannya, saat ini Novia memilih sendiri, dia membuka-buka ponselnya mencari-cari peluang, siapa tahu saja ada pekerjaan atau kegiatan yang bisa di jalaninya, sehingga pikirannya tidak terus-menerus terkuras memikirkan Reno.
"David! Kamu mengagetkan Aku saja, aku pikir kamu yang jadi setan nya!" sungut Novia.
David nampak tertawa mendengar celetukan Novia.
"Ada apa Novia? Kau bermasalah lagi dengan si Reno? Mukamu kelihatan kusut seperti setrikaan yang tidak digosok seminggu!" tanya David.
Mereka masih berbicara dengan jarak beberapa meter, David berdiri di balik tembok sebelah rumah, sementara Novia masih duduk di teras rumahnya.
__ADS_1
"David, Apakah kamu ada informasi mengenai lowongan pekerjaan? Atau ada bisnis sampingan? Tolong dong info ke aku!" kata Novia.
"Lowongan pekerjaan? Memangnya kamu mau bekerja lagi? Bukankah hidupmu sudah enak?" tanya David.
"Aku mau cari kesibukan David! Lagi pula saat ini hubunganku dengan mas Reno juga tidak baik-baik saja! Aku harus berjaga-jaga paling tidak aku bisa punya sesuatu untuk anakku!" sahut Novia.
"Novia, kamu jangan lupa, Vio itu kan juga darah dagingku, jadi kalau untuk kebutuhannya dia, aku yang akan bertanggung jawab!" cetus David.
"Hush! Kecilkan suaramu! Kamu ini percaya diri sekali, jangan sampai ada yang orang yang mendengar Perkataanmu itu!" hardik Novia.
"Makanya kalau bicara itu jangan jauh-jauh, Ayo maju ke sini biar kita hanya berjarak setengah meter saja Kita ini seperti Tarzan saja!" kata David.
Novia bangkit dari duduknya kemudian mendekati David yang masih berdiri di balik tembok rumahnya, dan kini Mereka pun saling berdiri dan hanya dibatasi oleh tembok setinggi dada orang dewasa
"Aku serius David, saat ini aku membutuhkan pekerjaan, aku tidak mungkin lagi tergantung pada nafkah suamiku, meskipun dia masih menafkahiku!" ucap Novia.
"Novia, aku tahu saat ini Kamu sedang ada masalah dengan Reno, Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Aku selalu ada untukmu, sejak dulu bahkan sampai hari ini!" kata David.
Ada Butiran bening yang jatuh dari kedua pelupuk mata Novia, dia tidak tahu apakah dia bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Reno atau tidak, apa lagi setelah kejadian yang baru saja terjadi, saat Reno melemparkan foto-foto Novia dan David pada ketika mereka pergi ke cafe kantor Tina.
"Ada orang yang menjebak kita David, Dia mengirimkan foto-foto saat kita ada di cafe kantornya Tina, lalu memberikannya pada Reno, dan karena foto-foto itu Reno begitu marah, dan menuduhku berselingkuh denganmu di belakangnya! Sekarang dia pergi lagi dari rumah, entah ke mana!" ungkap Novia.
David tidak menjawab semua curahan hati Novia saat ini, dia hanya menjadi pendengar yang baik membiarkan Novia menumpahkan segala isi hatinya, kemudian David mengusap air mata Novia yang kini mulai berjatuhan dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kalau memang kamu harus bercerai dengan David, aku mendukungmu! Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sakit, dan bahkan tidak ada saling kepercayaan di dalamnya!" ucap David dengan Tatapan yang teduh, menatap ke arah Novia yang masih menangis di hadapannya itu.
Bersambung .....