
Hari masih pagi sekali, sekitar pukul 05.00 pagi, David mondar-mandir masih di depan ruang UGD di rumah sakit.
Karena luka Reno yang terlalu parah, Reno harus menjalani serangkaian operasi dan perawatan yang intensif, apalagi Kini dia masih belum sadar dan kondisinya benar-benar memprihatinkan.
Mbak Darmi juga terlihat duduk di bangku yang ada di depan ruang UGD, meski wanita itu terlihat lelah namun dia juga tidak bisa untuk memejamkan matanya.
Sejak semalam sampai dengan pagi ini, David dan Mbak Darmi tidak tidur sama sekali, mereka menunggui Reno dan sampai saat ini pun mereka belum memberi kabar pada siapapun mengenai kondisi Reno.
"Mbak Darmi, sebaiknya Mbak Darmi pulang saja dulu ke rumah, supaya kita Jangan sama-sama lelah, nanti kalau Mbak Darmi ke sini lagi aku titip beberapa pakaianku ya, kebetulan rumah tidak terkunci karena semalam aku buru-buru!" kata David.
"Iya pak, nanti sekalian rumahnya saya kunci, Sebelumnya saya mohon izin untuk mengambil pakaian Pak David di dalam rumah ya Pak!" jawab Mbak Darmi.
"Untuk sementara, kita jangan memberitahukan dulu kondisi Reno pada siapapun, apalagi Novia takut kalau kalau dia tambah syok dan terluka, kalau suaminya dalam keadaan seperti ini!" kata David.
"Iya Pak, Saya juga pikir begitu, kasihan kalau ibu Novia tahu Pak Reno kecelakaan, takutnya itu berpengaruh pada Vio juga!"Jawab Mbak Darmi.
"Iya mbak, Ya sudah sekarang lebih baik Mbak Darmi pulang saja duluan, biar aku yang menunggu si Reno!" ujar David yang kemudian duduk Karena dia sudah terlihat capek mondar-mandir sedari tadi.
Mbak Darmi menganggukkan kepalanya, setelah itu dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu Kembali menuju ke rumah dengan naik kendaraan umum.
Seorang dokter kemudian keluar dari ruang UGD, David lalu berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan tetangga saya dokter?" tanya David.
"Pak Reno masih belum sadar sampai saat ini, kami akan memindahnya ke ruangan ICU untuk perawatan yang intensif, mohon jikalau ada keluarganya diberitahu, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi!" jawab dokter itu.
"Memangnya kondisinya separah itu dokter?" tanya David.
"Ya sampai saat ini, Pak Reno masih belum sadar, sementara kondisi fisiknya semakin lemah, itulah mengapa di harus di pindahkan ke ruangan khusus!" jawab Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk dia dokter, Saya tidak ingin keluarganya juga terluka hatinya, melihat kondisi dia seperti itu!" ucap David.
Sang dokter menganggukan kepalanya sambil menepuk bahu David, setelah itu dia berlalu meninggalkan tempat itu, meninggalkan David yang masih berdiri terpaku di depan ruang UGD itu.
Sementara itu Mbak Darmi yang saat itu sedang naik angkutan umum menuju ke rumah Reno terlihat lelah dan gelisah, dia akan kembali sendirian lagi di rumah itu, dan hatinya sangat prihatin dengan apa yang menimpa majikannya itu, majikan yang sudah sekian lama dia mengabdi padanya.
__ADS_1
Mbak Darmi kemudian turun dari angkutan umum itu setelah tiba di tujuan, baru saja dia hendak membuka gerbang, tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumah Reno itu.
Mbak Darmi menoleh ke belakang, Tina terlihat turun dari mobil itu sambil tersenyum, kemudian menghampiri Mbak Darmi yang berdiri terkesiap melihat kedatangan Tina yang sepagi ini.
"Selamat pagi Mbak Darmi! Reno ada di rumah kan?" tanya Tina.
"Ya pagi, maaf Bu Tina, Saya tidak tahu di mana Pak Reno berada, sejak semalam dia belum pulang!" jawab Mbak Darmi.
"Masa sih dia belum pulang juga, dia juga tidak datang ke tempatku! Lalu ke mana dia? Apakah dia menyusul Novia ke Semarang?" tanya Tina lagi.
"Tidak! Pak Reno tidak menyusul ke Semarang, lebih Baik Bu Tina pulang saja, karena percuma juga mencari Pak Reno di sini, orang dia tidak ada kok!" sahut Mbak Darmi yang kemudian langsung membuka pintu gerbang rumah itu untuk masuk ke dalam.
"Awas ya Mbak Darmi, kalau sampai kau membohongiku dan ternyata kau tahu di mana keberadaan Reno, aku tak segan-segan berlaku kasar padamu!" ancam Tina.
"Ya terserah Bu Tina mau percaya atau tidak, sudah ya Bu, Kepala saya pusing, Saya mau masuk dulu ke dalam!" sahut Mbak Darmi yang kemudian langsung masuk dan kembali menutup pintu gerbang rumah itu.
Tina juga kelihatan bersungut-sungut dan kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan rumah Reno.
****
Sementara itu di Semarang, di tempat kediaman Bunda Lasmi, Novia nampak duduk di teras rumah dengan hembusan angin pagi yang terasa sejuk.
Vio nampak berlari-lari kecil dari arah taman samping menuju ke arah Novia, yang masih duduk di teras rumah itu, wajah anak itu terlihat riang sehabis dia bermain bola bersama dengan Mbok karsih juga bunda Lasmi.
Kehadiran Vio di rumah ini seolah memberikan suasana baru dan warna dalam rumah Bunda Lasmi yang biasanya begitu sepi dan sunyi.
"Mama, nanti siang nenek mau ajak aku ke alun-alun, katanya Di sana ada pameran!" kata Vio yang kini duduk di sebelah Novia.
"Oh ya? Vio mau ke alun-alun sama nenek? tidak apa-apa nak, yang penting Vio senang!" jawab Novia.
"Memangnya Mama tidak ikut? Ayo ikut saja ma biar rame, biar tambah seru!" ajak Vio.
"Iya, lihat nanti deh, Oh ya Vio, sepertinya Mama Rencana mau pulang ke Jakarta, Vio sudah kangen kan sama teman-teman sekolah?" tanya Novia.
"Kangen sih Ma, Tapi kalau mama senang tinggal di rumah nenek, aku juga ikut senang, asalkan ada Mama!" jawab Vio.
__ADS_1
"Mungkin sudah cukup mama tinggal di rumah nenek, saatnya Mama harus pulang ke rumah dan menghadapi semua kenyataan, supaya Vio juga bisa sekolah lagi dan ketemu sama teman-teman!" ucap Novia.
"Asyyik akhirnya kita bisa pulang juga ke Jakarta, Aku sudah kangen sama teman-teman juga sama papa!" seru Vio sambil melonjak kegirangan.
Novia tersenyum menatap buah hatinya yang nampak Bahagia itu, selama ini dia merasa telah menjadi Ibu yang egois, hanya demi kepentingan diri sendiri dan kenyamanan diri sendiri, mengabaikan kebahagiaan dan perasaan anak.
Novia kemudian langsung berdiri dan memeluk Vio dengan erat.
"Kalau begitu sekarang Vio bereskan semua pakaian-pakaian Vio, dan masukkan ke dalam koper, Mama juga, nanti setelah Vio jalan-jalan ke alun-alun, pulangnya kita langsung ke bandara ya biar cepat!" kata Novia.
Vio mengangguk senang, kemudian dia segera berlari masuk ke dalam rumah itu dengan penuh semangat, hendak membereskan semua barang dan pakaiannya untuk segera kembali ke Jakarta sore ini.
****
Sementara itu di rumah sakit, David nampak duduk terpekur di hadapan Reno yang masih berbaring dengan banyak balutan perban di tubuhnya.
Darah segar masih terlihat merembes dari kepala Reno dan sebagian wajahnya juga ditutupi oleh perban, karena mengalami luka-luka, dan banyak sekali jahitan di tubuhnya.
David bergidik miris melihat kondisi Reno saat ini, dulu David sangat jarang berhubungan apalagi berkomunikasi dengan Reno, terlebih soal kesalahpahaman kalau David adalah masa lalu Novia.
Namun kini semua rasa itu telah hilang berganti dengan rasa belas kasihan, walau bagaimana Reno adalah suami Novia dan mereka pernah hidup bahagia, meskipun saat ini rumah tangga mereka tengah diterpa badai.
Tiba-tiba ponsel David berdering, tidak ingin membuat suasana ruangan itu tidak nyaman David kemudian keluar dari ruang ICU lalu duduk di bangku yang ada di depan ruang ICU itu, untuk mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Tina.
"Halo, Tina? Ada apa kamu menelponku?" tanya David.
"David, Di mana keberadaan Reno?" tanya Tina balik tanpa basa-basi.
"Kenapa kamu tanya Reno padaku? kau urus aja dirimu sendiri, gara-gara perbuatanmu bahkan sahabatku sendiri telah menjadi korban! Aku tidak tahu harus menyebutmu wanita apa, tapi sumpah aku malu pernah menjadi satu angkatan denganmu dulu!" jawab David.
"Aku tidak perlu ceramah mu David! Aku hanya menanyakan soal Reno karena kamu kan tetangganya dia!" sahut Tina.
"Jangan tanyakan aku di mana Reno, kamu cari saja sendiri, lagi pula aku tidak mengurusi dia kok, sudah, aku sibuk, banyak pekerjaan!" ujar David.
"Ah dasar kau juga tidak berguna! Aku bahkan menyesal sudah menelepon kamu David!" cetus Tina yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya itu.
__ADS_1
David hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia kembali memasukkan ponselnya itu di dalam tasnya.
Bersambung ...