Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Terciduk


__ADS_3

Novia kemudian bangun dari posisi duduknya dan sambil menuntun Vio Dia berjalan menuju ke lift.


Tekadnya sudah bulat, Novia akan datang ke apartemen Tina dan memergoki keberadaan Tina bersama dengan Reno.


Novia sudah menyiapkan mentalnya sedemikian, dia sudah siap dan menanggung resiko apapun yang terjadi, terutama untuk masalah psikologis Vio.


Sejak awal, Vio memang sudah mengetahui perselingkuhan Reno dengan Tina, hanya karena Vio masih kecil, dia tidak tahu apa arti selingkuh, yang dia tahu Papanya bersama dengan wanita lain selain mamanya.


Novia tidak ingin menyembunyikan apapun di depan Vio, toh dia juga mendapatkan informasi ini dari Vio, dan mau tidak mau Novia harus terbuka pada Vio, yang sebenarnya masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa.


Sepanjang perjalanan menuju ke apartemen Tina, Vio tidak banyak bicara dan bertanya, anak itu seolah mengerti dan memahami apa yang kini telah dirasakan oleh mamanya.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah kamar apartemen di paling pojok, itu adalah apartemen milik Tina.


"Mama, Mama mau ketemu Papa sama Tante Tina? Boleh aku bersama Om David di bawah?" tanya Vio sambil menatap ke arah Novia.


"Kenapa Vio tidak mau ikut mama? Kenapa Vio lebih memilih bersama Om David?" tanya Novia balik.


"Soalnya kalau mama masuk ke dalam, Mama pasti sedih kalau melihat Papa bersama dengan tante Tina, Aku tidak ingin melihat mama sedih makanya lebih baik aku dibawah saja dengan Om David!" jawab Vio.


Novia kemudian langsung berlutut dan memeluk buah hatinya itu, ada perasaan bergemuruh di dalam dadanya, yang dia sendiri tidak bisa mengungkapkannya.


"Tidak Vio, Mama tidak sedih kok, apalagi kalau ada Vio yang menemani Mama, Vio Jangan tinggalin Mama sendiri, saat ini mama butuh Vio!" ucap Novia.


"Beneran mama tidak sedih? Kalau begitu aku akan temani Mama di sini, pokoknya kalau Papa dan tante Tina jahat sama Mama, aku akan melindungi mama!" kata Vio.


Novia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia menangkup wajah mungil putranya itu sambil menatapnya dalam.


"Terima kasih Vio, Vio adalah semangat mama untuk tetap hidup saat ini, kita berjuang sama-sama ya!" ucap Novia, dengan mantap Vio pun menganggukkan kepalanya.


Dengan tangan sedikit gemetar, Novia kemudian memencet bel yang ada tepat di depan pintu apartemen milik Tina itu, dengan hati yang berdebar-debar, karena sebentar lagi mungkin dia akan menyaksikan sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya.

__ADS_1


Dan Tak lama kemudian, pintu apartemen itu pun terbuka, Tina menyembulkan wajahnya, dan matanya membola saat melihat kedatangan Novia bersama dengan Vio.


"Novia? kamu datang kemari Kenapa tidak telepon aku dulu?" tanya Tina yang terlihat sedikit panik.


"Aku sengaja tidak menelepon dulu Tin, memangnya aku tidak boleh main ke apartemenmu? Bukankah kamu sudah pulang kerja, berarti kita ada waktu dong untuk mengobrol!" jawab Novia sambil tersenyum dan berusaha Tetap tenang.


"Aduh maaf Nov, sebentar lagi aku ada janji sama orang, jadi aku tidak bisa menemanimu mengobrol, tapi aku janji nanti aku akan menelponmu dan mendengarkan semua ceritamu!" kata Tina yang belum membuka pintu apartemen dengan sepenuhnya, seolah tidak memberikan kesempatan Novia untuk masuk ke dalam.


"Sebentar saja kok Tin, 10 menit Masa tidak ada waktu? Aku sudah datang loh! masa kamu tega menyuruh aku pulang!" ujar Novia.


"Aduh bagaimana ya, kalau begitu gini deh kita ngobrol di bawah ya, di lobby apartemen, lebih enak dan santai, kalau di sini kamarku berantakan Aku kan nggak enak sama Vio juga, Jadi kurang nyaman, Ayo kita ke bawah yuk!" ajak Tina yang langsung berusaha keluar dari apartemennya untuk menutup pintunya namun tangan Novia menahannya sehingga pintunya tidak tertutup..


"Kamu kenapa kelihatan gugup Dan Panik begitu Tin? Aku kan cuman ingin masuk sebentar mau ngobrol 10 menit, Kenapa kamu begitu takut?" tanya Novia sambil menatap ke arah Tina yang sejak tadi terlihat begitu gelisah.


"Tin! Tolong ambilkan handukku, Ayo cepat!" terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi dan suara itu adalah suara Reno.


Tina nampak semakin pucat dan dia tidak langsung menjawab panggilan dari kamar mandi.


"Maaf Novia, itu suamiku di dalam, makanya aku tidak enak mengajakmu masuk!" potong Tina cepat.


"Suami? Sejak kamu menikah aku belum pernah diperkenalkan dengan suamimu, kebetulan dong aku datang ingin berkenalan langsung dengan suamimu itu!" jawab Novia.


"Tina! kau ini ada di mana sih! Dari tadi aku teriak-teriak minta ambilkan handuk kau diam saja!" terdengar suara teriakan dan sungut-sungut dari kamar mandi.


Dan tanpa dikomando Novia tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar itu bersama dengan Vio, sehingga membuat Tina terlihat kalang kabut Dan Panik.


"Novia tunggu Novia!" Panggil Tina yang berusaha mencegah langkah Novia namun Novia menepiskan tangan Tina, dan dia langsung mengambil handuk yang memang sudah ada di atas tempat tidur, Kemudian dia menyodorkan handuk itu ke dalam kamar mandi yang terbuka sedikit.


Reno yang berada di dalam kamar mandi terlihat terkejut ketika melihat tangan yang terulur, namun itu bukan tangan Tina, Dia sangat mengenal tangan siapa itu.


cepat-cepat Reno menyambar handuk dan menutup tubuhnya kemudian membuka pintu kamar mandi itu, matanya terbuka lebar saat melihat Novia bersama dengan Vio kini berada di hadapannya.

__ADS_1


"Novia! Novia, ada hal yang aku harus Jelaskan padamu! Aku mohon kamu jangan salah paham dulu! Kita bicara baik-baik!" kata Reno yang terlihat gugup dan panik, kemudian dia segera mengambil pakaiannya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.


Dan Tak lama kemudian dia pun langsung keluar dari kamar mandi dan berusaha menarik tangan Novia untuk keluar dari apartemen itu namun Novia Tetap Bertahan dan menepis tangan Reno yang hendak menarik tangannya.


Sementara Tina hanya diam berdiri mematung tanpa bisa berbuat apapun, wajahnya sudah terlihat pucat dan dia pun sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"Aku ingin di sini, mengobrol di sini, Kenapa kalian berdua begitu panik? Bukankah Kalian berdua sudah terbiasa setiap pulang kerja dan siap sore selalu seperti ini kan?" tanya Novia sambil menatap keduanya dengan tatapan mata yang tajam.


"Novia Maafkan aku, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti ini tapi.. "


"Cukup Tina! Kau adalah sahabatku, tempat menuangkan isi hatiku, tempat di mana aku bisa bersandar dan percaya padamu, sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara tapi bahkan kau lebih dari pada musuh, bukan hanya menusuk dari belakang, terlebih kau menikamku dari depan!" sergah Novia..


"Dan kamu Mas Reno! Aku juga tidak menyangka kalau kau serendah ini, selama ini aku begitu menghormatimu sebagai suami, aku begitu menghargaimu aku buang seluruh waktuku untuk menunggumu setiap hari, tetapi ternyata kau memang tidak layak untukku dan juga Vio!" lanjut Novia.


"Novia! asal kau tahu semuanya ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan! Aku terpaksa menikahi Tina dia yang terus memaksaku, Bahkan dia juga tahu di hatiku hanya ada dirimu dan juga Vio, tapi kondisi yang memaksaku berbuat seperti ini!" ujar Reno.


"Jangan menyalahkan siapa-siapa Mas! Di depan mata kepalaku sendiri aku sudah memergoki kalian, tapi kau masih menyangkalnya juga!" sengit Novia dengan suara yang semakin meninggi.


"Novia aku mencintaimu! Aku tidak pernah berniat untuk berselingkuh darimu, Aku benar-benar terjebak dengan keadaan! "seru Reno.


"cukup! bahkan di depan Vio kau tidak menjadi seorang laki-laki yang jantan! Sekarang kalian teruskanlah permainan kalian dan aku menggugat cerai Mas Reno!" ucap Novia yang kemudian langsung menggandeng tangan Vio dan melangkah keluar dari apartemen milik Tina, dengan hati yang hancur lebur.


"Novia Tunggu! aku sangat mencintaimu Novia! Jangan pernah kau meninggalkan aku, bagaimana aku bisa hidup tanpamu!" teriak Reno sambil berusaha mengejar Novia.


Namun dengan cepat tangan Tina menahan tangan Reno untuk tidak Terus Berlari mengejar Novia, Reno menatap tajam ke arah Tina.


"Sudahlah Reno, semuanya sudah terjadi dia sudah tahu untuk apa ditutupi lagi? Lebih baik kita lanjutkan saja hidup kita dan kita bisa sama-sama saling memiliki juga mencintai!" kata Tina.


"Tutup mulutmu Tina! Asal kau tahu semua yang pernah aku lakukan padamu itu adalah satu kesalahan! Dan aku harus menebus kesalahan itu dengan harga yang mahal! Bahkan mengorbankan harta yang paling kujaga dan ku sayang selama ini!" sengit Reno yang kemudian langsung masuk ke dalam kamar apartemen itu, dan mengambil barang-barangnya kemudian dia pergi meninggalkan Tina yang masih berdiri termangu di tempat itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2