
Tin ... Tin ... Tin
Suara klakson mobil tiba-tiba mengejutkan Novia yang tertidur di sofa ruang keluarga itu.
Dia terperanjat, saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari.
Novia kemudian bangun dan berjalan ke arah depan, dan mobil Reno sudah terparkir di depan gerbang yang belum dibuka itu.
Cepat-cepat Novia membuka pintu gerbang itu, lalu mobil Reno pun masuk ke dalam dan terparkir di halaman depan rumah Novia.
Novia kemudian dengan sigap mengambil tas kerja suaminya itu, namun tangan Reno menepiskannya.
Reno segera turun dan berjalan masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke kamarnya.
Novia pun mengikuti di belakangnya, Kendati hatinya sangat sedih melihat suaminya yang berubah seperti itu.
"Mas Reno dari mana? Kenapa baru pulang sekarang? kenapa mas Reno tidak memberitahu aku dulu? Aku menunggumu Mas!" tanya Novia saat dia masuk ke dalam kamar dan melihat Reno langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
"Aku capek, jangan banyak bertanya, aku mau tidur!" sahut Reno yang langsung memeluk gulingnya itu.
Novia tidak lagi bertanya, untuk saat ini dia tidak bisa berbicara dari hati ke hati dengan Reno, karena mungkin Reno memang lelah dan dia butuh istirahat.
Akhirnya Novia menyusul Reno di sampingnya, meskipun matanya tidak dapat terpejam, tapi paling tidak dia bersyukur karena suaminya itu sudah pulang ke rumah.
Novia merasakan dadanya yang begitu sesak melihat perubahan Reno, yang bahkan sejak mereka menikah Reno tidak pernah bersikap seperti itu.
Biasanya Reno selalu bersikap manis, memperlakukan Novia seperti Ratu, memanjakan Novia dan memberikan apapun yang Novia butuhkan dan inginkan.
Namun kini kondisinya berbalik 100%, Reno menjadi cuek, dingin dan acuh tak acuh, meskipun dia tidak berlaku kasar pada Novia, namun dari sikapnya membuat hati Novia sakit.
Novia hanya bisa menangis tanpa bisa untuk kembali memejamkan matanya.
Hingga pagi menjelang, sebelum Reno bangun Novia buru-buru turun ke bawah, untuk menyiapkan sarapan pagi.
Mbak Darmi nampak sibuk membereskan dapur dan menyiangi bahan makanan.
__ADS_1
"Bu, semalam itu Bapak pulang jam berapa ya Bu? saya sudah keburu ngantuk jadi ketiduran!" tanya Mbak Darmi.
"Jam 03.00 Subuh Mbak!" Jawab Novia singkat.
"Ya ampun si bapak, tidak biasanya dia pulang sampai subuh seperti itu, padahal kan biasanya Bapak pulang sore, Bapak lagi ada masalah ya Bu?" tanya Mbak Darmi lagi.
"Sudahlah Mbak, ya mungkin Bapak memang lagi ada masalah di kantor! Yuk kita mulai masak sekarang Mbak, supaya nanti sudah siap semua!" kata Novia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Mereka akhirnya bergulat di dapur dan sibuk mempersiapkan sarapan pagi hingga matahari sudah mulai muncul dan sinarnya masuk melalui celah jendela dapur.
Novia kemudian bergegas ke kamar Vio untuk membangunkan anak itu, dan membantunya untuk mandi dan memakai seragam.
Sementara Mbak Darmi menata meja makan Karena sarapan pagi telah siap.
"Vio sayang, ayo bangun, hari ini kan Vio harus sekolah yuk bangun yuk!" ajak Novia sambil menyibakkan jendela kamar Vio lalu mulai membuka selimutnya.
Namun dia seperti enggan untuk bangun, dia hanya membuka matanya sebentar kemudian kembali memejamkan matanya.
"Sayang ayo dong Bangun Nak, mandi dulu pakai air hangat, setelah itu sarapan, terus bareng papa deh berangkat sekolah seperti biasa!" ucap Novia sambil mengguncangkan tubuh Vio.
"Ya Tuhan Vio, Kamu demam? Ya sudah kalau begitu, hari ini kamu izin tidak sekolah ya, Mama mau ambilkan kompresan dulu!" ucap Novia yang sedikit panik.
Novia kemudian langsung bergegas keluar dari kamar Vio untuk mengambilkan kompresan, karena biasanya kalau Vio demam, Novia tidak langsung memberikannya obat tapi melalui kompresan, kalau demamnya tidak turun baru Novia akan memberikannya obat.
"Lho Bu, ada apa kok buru-buru? Mbak Darmi yang heran melihat Novia yang terburu-buru keluar dari kamar Vio menuju ke dapur.
"Vio demam Mbak, Aku mau buat kompresan dulu!" sahut Novia.
Setelah mengambil kompresan, Novia kemudian Langsung kembali masuk ke kamar Vio, dan mengompres dahi anak itu.
"Mama, Kepalaku pusing!" keluh Vio
"Iya Sayang, hari ini Vio istirahat di rumah ya, Mama akan temani Vio di sini!" jawab Novia sambil duduk di tepi ranjang Vio dan membelai lembut rambutnya.
"Mama, Papa di mana?" tanya Vio.
__ADS_1
"Oh iya Papa, bahkan Mama belum menemani papa sarapan, Vio tunggu sebentar di sini ya, Mama mau temani papa sebentar!" kata Novia yang langsung Kembali keluar dari kamar Vio, karena teringat akan Reno suaminya.
Namun setelah sampai di meja makan, Reno belum ada di situ, kemudian Novia menyusulnya ke kamar.
Alangkah kagetnya Novia, saat tiba di kamar, Reno pun sudah tidak ada di kamar.
Novia mencari ke setiap sudut kamar, bahkan ke dalam kamar mandi, Reno tidak ada di sana, kemudian Novia kembali turun ke bawah.
"Mbak Darmi! Apa Mbak Darmi melihat Mas Reno? Dia tadi sudah turun belum ya?" tanya Novia.
"Lah Bu, barusan Bapak pamit mau berangkat, tiba-tiba saja dia sudah rapi dan pamit berangkat ke kantor, saya bilang Ibu sedang di kamar Vio, tapi dia langsung pergi begitu saja!" jawab Mbak Darmi.
"Kenapa Mbak Darmi tidak bilang aku?" tanya Novia.
"Orang bapaknya juga buru-buru Bu, Tuh dia baru keluar!" sahut Mbak Darmi sambil menunjuk ke arah luar, mobil Reno masih terparkir di halaman depan rumahnya.
Buru-buru Novia berlari untuk mengejar suaminya itu.
"Mas Reno!" Panggil Novia.
Namun mobil yang Reno kendarai sudah terlanjur melaju keluar dari gerbang rumahnya, dan menghilang di tikungan jalan.
"Mas Reno!" teriak Novia lagi.
Tidak seperti biasanya Reno bersikap seperti ini, biasanya pagi-pagi dia masih bercengkrama dan sarapan bersama dengan Vio.
Namun pagi ini dia seperti acuh tak acuh dan Bahkan dia tidak tahu kalau Vio saat ini sedang demam.
Kembali butiran bening mengalir dari pelupuk mata Novia, Dia sangat tidak menyangka kalau rumah tangganya akan seperti ini, hilang sudah keharmonisan yang selama ini mereka jaga, hanya karena suatu ketidakjujuran yang baru tersingkap setelah sekian lama.
Dengan langkah gontai, Novia kembali masuk ke dalam rumahnya aneka hidangan untuk sarapan pagi pun masih utuh di meja makan, dan tidak tersentuh sedikitpun.
Novia kembali ke kamar Vio, dia menangis, tidak dapat menyembunyikan lagi perasaannya, apalagi melihat si kecil Vio yang tidak tahu apa-apa itu, hatinya pedih bagai teriris Sembilu.
Bersambung ....
__ADS_1