Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Ke Kantor Reno


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bunda Lasmi sudah bertandang ke rumah sebelah. Gerbang rumah itu setengah terbuka, dan pintu rumah itu pun terbuka lebar, menandakan kalau di dalamnya sudah ada penghuni nya.


Tanpa permisi dulu, bunda Lasmi langsung masuk ke dalam rumah David, lalu menggedor-gedor pintu rumahnya.


Tak lama kemudian David pun keluar dari dalam rumahnya, matanya nampak sayu dan wajahnya terlihat lelah.


David begitu terkejut saat melihat Bunda Lasmi yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Bunda?"


David seolah tak percaya akan kedatanganmu Bunda Lasmi yang dirasa sangat mendadak itu.


Biasanya kalau Bunda Lasmi datang, Novia selalu memberitahu David untuk pergi atau menghindar, sehingga Bunda Lasmi tidak melihat David.


Namun hari ini justru Bunda Lasmi yang langsung datang ke rumah David, David semakin bingung, kenapa Novia tidak memberitahukan kalau Bunda Lasmi datang.


"Bagus ya! Dulu aku tidak menyukaimu karena menurutku kamu laki-laki yang tidak punya masa depan dan tidak cocok untuk Novia putriku, sekarang kamu datang dan menghancurkan segalanya!" sengit Bunda Lasmi.


"Maaf Bunda, apa maksud bunda? Aku sungguh tidak mengerti!" tanya David bingung.


Plakk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi David, David meringis menahan sakit dan memegangi pipinya itu.


"kamu ini berpura-pura bodoh atau apa David! Kau tidak berhasil mendapatkan Novia, sekarang kau mengganggu rumah tangganya melalui kau tinggal di sebelah rumahnya!" geram Bunda Lasmi.


"Bunda Boleh tanya pada Novia, Apakah aku seperti itu? Pertemuan kami sebagai tetangga hanya kebetulan, ini sama sekali tidak dibuat-buat Bunda!" sahut David.


"Novia itu terlalu lemah, kalau kau tidak memulai tidak mungkin saat ini dia hancur seperti itu, kau tahu apa yang terjadi pada rumah tangga Novia?" tanya bunda Lasmi sambil menunjuk wajah David dengan telunjuknya.


David hanya menunduk saja, tanpa berani menatap wajah Bunda Lasmi.


"Sekarang Reno marah pada Novia, semua itu gara-gara kamu! Kalau bukan karena kamu, tidak mungkin rumah tangga mereka seperti sekarang ini, kau tahu saat ini Vio di bawah lari oleh Reno!" lanjut Bunda Lasmi.


"Apa Bunda? Vio dibawa lari Reno?! Tidak! Itu tidak boleh terjadi!" seru David yang langsung mengangkat wajahnya, dan kini memiliki keberanian untuk menatap mata Bunda Lasmi.


"Kenapa? Apa ada masalah kalau Reno membawa Vio? Semua itu kan gara-gara kamu! Aku benar-benar kecewa padamu David! Bukan hanya dulu kau menyusahkan, bahkan sekarang juga kau menyusahkan aku, kau ganggu keluarga Novia sampai sekarang!" ungkap Bunda Lasmi yang kemudian langsung berlalu meninggalkan David dan kembali ke rumah Novia.


David hanya termangu menatap kepergian Bunda Lasmi, kini yang ada di pikirannya bukan soal kemarahan Bunda Lasmi, sekarang Bunda Lasmi sudah tahu keberadaannya, David hanya memikirkan Vio yang selama ini diakuinya sebagai anaknya.


Setelah berpikir beberapa saat lamanya, David kemudian berjalan menyusul Bunda Lasmi menuju ke rumah Novia, dia tidak lagi memperdulikan kemarahan Bunda Lasmi terhadapnya, saat ini yang ada di pikirannya hanya Vio.


"Kamu mau apa lagi datang ke sini David? Kurang puas kamu sudah menghancurkan semuanya?" berang Bunda Lasmi saat melihat David kini berjalan di belakangnya mengikuti langkahnya.


"Terserah Bunda mau berkata apa, dari dulu sampai sekarang toh Bunda tetap saja membenciku, aku selalu salah di mata bunda, aku sudah tidak peduli lagi, saat ini aku hanya ingin bicara pada Novia!" kata David.


"Apa? Berani Betul kau menemui Novia dan ingin bicara padanya! Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bicara pada Novia!" cetus Bunda Lasmi.


Di luar dugaan, David langsung menerobos masuk ke dalam rumah Novia lalu berteriak-teriak memanggil Novia.


"Novia! Novia! Aku ingin bicara padamu, tolong Novia! Ini hal yang penting!" seru David.


Novia yang saat itu berada di kamarnya dan sedang menangis, kemudian langsung keluar dari kamarnya, ketika mendengar suara teriakan dari David.


Novia terkejut saat melihat David sudah ada di rumahnya, dan di situ juga ada Bunda Lasmi yang terlihat sangat marah terhadap David, buru-buru Novia turun dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya Novia.


"Novia! Bunda kecewa padamu, selama ini David berada dekat denganmu! Kau tahu itu yang menyebabkan Reno berubah terhadapmu!" ujar Bunda Lasmi.


"Novia, Apakah benar Vio dibawa oleh Reno? Ayo jawab aku Novia!" seru David yang saat itu tidak memperdulikan Bunda Lasmi.


"Hei! Apa urusanmu dengan Vio? Kau ini semakin Lancang dan kurang ajar David! Sekarang kau pergi dari sini, atau aku panggilkan satpam Kompleks untuk mengusirmu!" Bunda Lasmi.


"Tolong bunda, ini sangat penting aku butuh bicara pada Novia!" ujar David berusaha untuk mengontrol perasaannya.


Novia yang menyadari maksud David langsung mengerti, daripada David keceplosan mengenai Vio, apalagi David yang mengaku-ngaku kalau Vio adalah anaknya, sehingga akan membuat Bunda Lasmi semakin syok, Novia kemudian langsung menarik tangan David keluar dari rumah itu.


Bunda Lasmi melotot saat melihat Novia yang berjalan keluar sambil menarik tangan David.


"David, kuasai dirimu, Bunda tidak tahu apa-apa, kau jangan memperkeruh suasana!" kata Novia.


"Kalau berhubungan dengan Vio aku tidak bisa menguasai diriku, Vio itu Anakku Novia, sejak di dalam kandungan aku merasa kalau dia itu adalah benihku!" sahut David.


"Kecilkan suaramu! Hanya kau sendiri yang merasa kalau Vio adalah anakmu! Tapi tidak untuk yang lain, aku mohon kau pulanglah ke rumah, suasana sedang tidak nyaman! Aku janji aku akan menghubungimu, tapi tolong kau pulanglah ke rumahmu sebelum bunda benar-benar marah!" ujar Novia yang langsung mendorong tubuh David keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Dengan wajah kesal akhirnya David keluar dari rumah Novia, dan kembali berjalan masuk menuju ke rumahnya.


"Kau ini kenapa Novia? Dari dulu sampai sekarang kau masih saja membela pecundang itu! Bunda heran, Apa jangan-jangan kamu masih ada rasa dengan dia?" tanya bunda Lasmi yang sudah berdiri di belakang Novia.


"Bukan seperti itu Bunda, tapi aku tidak mau ada ribut-ribut di rumahku, malu dengan tetangga yang lain Bunda!" sahut Novia.


Kemudian Novia langsung masuk ke dalam rumahnya, dan menghempaskan tubuhnya di sofa, perasaan hatinya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


"Dasar David, laki-laki tak tahu diri! Dari dulu sampai sekarang bisanya hanya menyusahkan orang saja!" sungut Bunda Lasmi.


"Cukup Bunda! Jangan membuat pikiranku semakin pusing! Saat ini aku tidak tahu di mana Vio dan aku juga tidak mungkin melaporkan Reno ke polisi, karena Reno adalah Papanya Vio!" ungkap Novia yang kini air matanya kembali mengalir.


Bunda Lasmi kemudian duduk di samping Novia, lalu membelai rambut putrinya itu dengan lembut, setelah itu dia merangkul bahunya.


"Novia, Apakah sudah coba menghubungi Reno?" tanya bunda Lasmi.


"Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungi Mas Reno Bunda, tapi mas Reno tidak pernah mengangkat teleponku, bahkan sampai aku mengirim pesan singkat dan memohon padanya supaya dia mengembalikan Vio, tapi tetap dia tidak membalas pesan singkat ku itu!" jawab Novia


"Sabar Nak, saat ini pikiran kita harus dingin dan tenang, sehingga kita bisa berpikir dengan jernih, kita berharap saja semoga Reno dan Vio kembali ke rumah ini, dan keluarga kalian kembali rukun dan bahagia!" ucap Bunda Lasmi.


"Iya Bunda!"


"Sekarang begini saja, kamu tahu kan kantornya Reno? Kamu datang ke kantornya, dan bicara baik-baik padanya!" usul Bunda Lasmi.


"Bunda mau ikut?" tanya Novia.


"Tentu saja tidak Nak, ini adalah urusan rumah tanggamu, Bunda tidak berhak ikut campur, dan Ingat, jangan pakai emosi, bicaralah dengan tenang padanya!" jawab Bunda Lasmi.


"Baiklah Bunda, sekarang aku mau bersiap-siap dulu, aku akan pergi ke kantornya Mas Reno, mudah-mudahan saja dia ada di sana!" kata Novia.


Kemudian Novia bangkit dari duduknya, dan berjalan kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Benar apa yang dikatakan Bunda Lasmi, mungkin Novia yang harus datang ke kantornya Reno, siapa tahu akan ada jalan.


Setelah rapi berpakaian, Novia kemudian pamit untuk pergi ke kantornya Reno, selama Novia menikah dengan Reno, Novia hanya beberapa kali pergi ke kantornya, itu juga karena ada acara-acara penting.


Biasanya Novia lebih suka berada di rumah daripada ikut Reno ke kantornya, apalagi di kantornya itu banyak sekali karyawan yang membuat Novia sedikit risih, dan merasa kurang nyaman kalau berada di kantornya Reno.


Namun kali ini Novia bertekad, dia akan mencari Reno di kantornya


Novia kemudian langsung melajukan mobilnya itu ke kantor Reno, kantor yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.


Novia kemudian langsung berjalan menuju ke ruangan Reno, dia tidak perlu lagi meminta izin pada siapapun karena dia memang adalah istri Reno yang kapanpun berhak untuk datang ke ruangan pribadinya.


Namun pada saat Novia membuka ruangan Reno, ruangan itu terlihat sepi.


Novia akhirnya kembali ke ruangan Ambar, sekretaris Reno.


"Ambar, Bapak tidak ada di ruangannya ya?" tanya Novia.


"Iya Bu, terakhir Bapak ada janji dengan investor, Setelah itu Bapak belum ke ruangannya lagi! belakangan ini Bapak juga sudah jarang ke ruangan!" jawab Ambar.


"Oh begitu ya, terus Sekarang jadwalnya Bapak apa?" tanya Novia lagi.


"Sebenarnya kalau menurut jadwal sih, agenda Bapak hari ini adalah meeting Kepala Divisi, Tapi bapak tidak dapat hadir!" jawab Ambar lagi.


Novia menarik nafas panjang, dia tidak tahu lagi di mana dia harus mencari Reno dan juga Vio.


"Oh ya Ambar, selain aku, Apakah ada orang lain yang suka menemui bapak di ruangannya, atau di kantor ini?" tanya Novia.


Ambar terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Novia.


"Itu Bu, paling hanya temannya saja yang beberapa kali datang ke ruangannya!" jawab Ambar.


"Teman? Teman siapa? Temannya itu laki-laki atau perempuan?" tanya Novia lagi.


"Perempuan Bu!" jawab Ambar lirih.


Novia menggigit bibirnya, Sejak kapan Reno punya teman perempuan, setahu Novia, Reno selalu tidak punya waktu untuk yang lain selain pekerjaan dan keluarganya.


Dengan langkah gontai akhirnya Novia keluar dari kantor Reno. Percuma saja dia datang, toh Reno juga tidak ada di kantornya.


Novia kembali masuk ke dalam mobilnya, namun dia tidak langsung menjalankan mobilnya itu, Novia berpikir di mana lagi tempat Reno selain di rumahnya. Dan Siapa teman wanita Reno yang beberapa kali datang ke kantor Reno.


Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan di kepala Novia, sudah begitu rumit, apalagi Vio yang kini tidak tahu di mana keberadaannya.


Apakah mungkin Novia akan mencari Vio di seluruh rumah sakit yang ada di Jakarta ini, rasanya itu mustahil dia lakukan, apalagi Vio sudah mulai membaik kondisinya, tidak mungkin dia berada lama-lama di rumah sakit, tapi di mana?

__ADS_1


Kemudian Novia merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu mulai menelepon Tina sahabatnya, untuk saat ini Novia benar-benar membutuhkan Tina untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.


"Halo, ada apa Novia?" tanya Tina saat mengangkat panggilan telepon dari Novia.


"Tina kamu ada waktu nggak sebentar?" tanya Novia balik.


"Aku masih di kantor, Memangnya ada apa sih?" tanya Tina lagi.


"Tin, aku ke kantormu sebentar ya, kita ketemuan di cafe yang ada di bawah kantormu saja deh!" jawab Novia.


"Jam berapa kamu mau datang Nov?" tanya tanya Tina.


"Sekarang Tin, sebentar lagi kan jam istirahat, ada hal yang ingin aku ceritakan padamu Tin!" ungkap Novia.


"Soal apa lagi? soal Reno? atau soal David?" tanya Tina.


"Banyak hal Tin, pokoknya aku langsung jalan sekarang nih ya, aku akan tunggu di cafe bawah!" sahut Novia.


"oke!"


Novia kemudian langsung mematikan ponselnya dan melajukan mobilnya itu keluar dari kantor Reno, dia langsung meluncur menuju ke kantor Tina, yang kebetulan juga jaraknya tidak terlalu jauh dari kantornya Reno.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit, Novia sudah sampai di kantornya Tina, dia kemudian langsung menuju ke Cafe yang ada di bawah kantornya Tina, dan duduk di sana menunggu sahabatnya itu.


Novia mengetik pesan singkat di ponselnya, memberitahu pada Tina kalau dia sudah ada di cafe bawah dan tengah menunggunya.


Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya Tina datang dan dia langsung duduk di hadapan Novia.


"Kamu mau minum apa Nov?" tanya Tina.


"Apa sajalah Tin, saat ini aku tidak terlalu berselera untuk makan ataupun minum!" jawab Novia.


"Lho kenapa? jangan terlalu banyak pikiran loh, lihat tuh wajahmu makin banyak keriput, Karena Kau terlalu banyak berpikir, lama-lama kau akan seperti nenek-nenek! " kata Tina.


"Aku tidak punya waktu banyak untuk mengurus diri sendiri, sekarang yang ada di pikiranku adalah Vio, Reno telah membawa Vio pergi Tin, aku harus bagaimana, Vio itu anakku, aku tidak bisa jauh-jauh dari dia, bahkan semalam pun aku tidak bisa tidur nyenyak karena aku memikirkan Vio!" ungkap Novia sambil menitikkan air matanya.


"Nov, kamu jangan terlalu berlebihan, Reno itu kan Papanya Vio, dia tidak akan mungkin menyakiti Vio, kamu tenang saja Nov!" kata Tina sambil menepuk-nepuk bahu Novia.


"Iya aku tahu Tin, tapi aku tidak tahu di mana keberadaan mereka, Aku ini seorang ibu yang selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya, meskipun dia berada bersama dengan papanya!" ujar Novia.


"Lalu bagaimana dengan David? Bukankah dulu kamu begitu yakin kalau Vio itu anaknya David?" tanya Tina.


"Aku tidak peduli lagi soal itu, mau Vio anak David atau Reno dia adalah tetap anakku! Aku hanya ingin bertemu dengan Reno dan bertanya kabar tentang Vio, Kenapa tiba-tiba Reno begitu membenci aku hanya karena masa lalu yang tidak penting itu!" ucap Novia sambil mengusap pipinya yang mulai basah.


"Nov, walau bagaimana laki-laki itu tidak suka kalau dibohongin, apalagi dibohongi selama bertahun-tahun! Butuh waktu untuk memulihkan semuanya, dan Aku sarankan kau jangan terlalu khawatir, Vio aman bersama dengan papanya!" kata Tina.


"Dari mana kamu tahu? Kenapa kamu begitu yakin kalau Vio aman bersama Mas Reno?" tanya Novia.


"Ya kan selama ini Reno memang sangat menyayangi Vio, bahkan sejak dalam kandungan pun Reno selalu memanjakan kalian, jadi ya aku mengambil kesimpulan kalau Vio akan baik-baik saja bersama dengan Reno!" jawab Tina.


"Kamu benar Tin, Vio memang akan baik-baik saja bersama dengan Reno, aku tahu betul siapa Mas Reno, dia dasarnya adalah orang yang baik dan lembut, memang aku yang salah! Aku yang selalu berlindung dalam kebaikan hatinya, hingga suatu saat Bom ini meledak, dia tidak salah aku yang salah!" ujar Novia yang merutuki dirinya sendiri.


"Novia, Bagaimana dengan David? Aku lihat sepertinya David masih menaruh hati padamu, hanya saja perasaannya itu terpendam karena kalian sama-sama tidak saling memiliki!" tanya Tina.


"Sorry Tin, Aku sedang tidak mau membahas soal David, bagiku David hanyalah masa lalu, sejak aku menikah dengan mas Reno, aku selalu berusaha menjadi istri yang baik, mencintai suamiku dengan sepenuh hati, dan Bahkan aku sudah mengubur semua kenangan-kenangan bersama dengan David!" jawab Novia.


"Ya memang seharusnya seperti itu, Menurut saranku kamu lebih baik pulang ke rumah, tenangkan dirimu, berpikirlah yang baik-baik saja, siapa tahu akan ada jalan keluar untukmu, dan Vio akan kembali padamu!" ucap Tina.


"Terima kasih Tina, Kamu Memang sahabat terbaikku sejak dulu, mau mendengarkan apa saja curahan hatiku, sepertinya aku harus pulang, siapa tahu Mas Reno dan Vio pulang ke rumah, karena tadi di kantor tidak ada!" kata Novia yang langsung memeluk Tina.


"Ya pulanglah Novia, ingat Tenangkan pikiranmu dan Jangan berburuk sangka terhadap siapapun, karena itu akan semakin membuatmu depresi!" ucap Tina.


Novia menganggukkan kepalanya setelah itu dia segera bangkit dan berjalan keluar dari Cafe dan Tina mengantarkannya sampai ke parkiran.


Novia langsung naik ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju ke rumahnya, Tina yang masih berada di parkiran kemudian langsung mengambil ponselnya dan menelepon Reno.


"Halo!"


"Halo Reno, kalian baik-baik saja kan di apartemenku?" tanya Tina.


"Ya aku baik-baik saja, Vio juga baru selesai makan burger kesukaannya, dia sepertinya sudah benar-benar pulih!" jawab Reno.


"Oke, baik-baiklah kalian di sana, sebentar lagi aku akan pulang cepat dari kantor!" ujar Tina. Kemudian dia langsung mematikan panggilan teleponnya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2