
Dengan tangan gemetar, Novia membuka pintu ruangan di mana Reno dirawat intensif.
Sementara Mbak Darmi bersama dengan Vio menunggu di kantin rumah sakit, karena Novia tidak ingin Vio melihat kondisi Papanya, Novia khawatir Itu akan mempengaruhi psikologis Vio kalau dia melihat kondisi Papanya seperti itu.
Reno masih terbaring di rumah ICU, dengan peralatan medis yang melekat di hampir seluruh tubuhnya, dan perban yang membalut di banyak bagian tubuhnya, yang membuat kondisi Reno saat ini terlihat sangat memprihatinkan.
Jantung Novia berdebar sangat keras, manakala dia melihat keadaan suaminya itu, dadanya terasa sesak dia tidak pernah menyangka kalau Reno akan mengalami hal se tragis ini.
Padahal meskipun Novia sangat sakit hati karena perselingkuhan Reno waktu itu, namun seketika rasa sakit hatinya hilang, berganti dengan rasa belas kasihan. Novia sungguh tidak tega melihat keadaan Reno yang seperti itu.
David yang saat itu sedang duduk di samping tempat tidur Reno menoleh dengan sedikit kaget, karena Novia kini sudah ada di ruangan ini.
"Novia, Kamu sudah tahu kalau Reno... "
"Ya aku sudah tahu, aku kecewa padamu David! Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku? Kamu lupa kalau Reno itu masih suamiku? Namun kamu tidak memberitahu aku apa yang sedang dialaminya kini!" ujar Novia kecewa.
"Maafkan aku Novia, Aku hanya tidak tega mengatakan ini padamu, tapi aku sadar kalau kamu memang harus tahu kenyataan ini!" jawab David.
Novia duduk di tepi tempat tidur Reno, tidak lagi menggubris semua perkataan David.
Air matanya kini sudah mulai mengalir melihat kondisi suaminya yang sampai saat ini belum sadar.
"Mas Reno bangunlah Mas, Kenapa kamu sampai seperti ini? bangunlah, bukalah matamu!" isak Novia sambil memegang tangan Reno yang terasa dingin, kemudian dengan perlahan Novia mengecup tangan itu, tangan yang dibalut oleh perban putih.
"Sudahlah Novia, dia akan baik-baik saja, dokter akan menanganinya dengan baik, kita berdoa saja supaya dia segera sadar!" ucap David sambik menepuk lembut bahu Novia yang terguncang karena tangisannya itu.
"David aku mohon, kau tunggulah di luar, terima kasih karena kau sudah baik terhadap Mas Reno, tapi saat ini aku tidak ingin berada bersama denganmu di ruangan ini!" minta Novia.
"Baiklah Novia, Aku harap kau akan baik-baik saja, dan suamimu juga cepat sadar kembali, kalau kau butuh apapun, Aku siap, aku akan menunggu di depan!" jawab David yang kemudian langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Novia terus duduk sambil menggenggam tangan Reno, dia tidak bisa berkata-kata apa-apa karena memang Reno tidak bisa merespon saat itu, namun Novia tidak berhenti menangis, Entah mengapa hatinya begitu sedih melihat keadaan suaminya seperti itu.
Tiba-tiba seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu, untuk memeriksa kondisi Reno dan memeriksa keadaan peralatan medis yang menempel di sebagian besar tubuh Reno.
"Maaf apakah Anda istrinya?" tanya dokter saat melihat Novia yang duduk di samping Reno sambil menggenggam tangan nya.
"Benar dokter, saya Novia istri mas Reno, Bagaimana kondisi Mas Reno saat ini? Apakah lukanya begitu parah sampai dia tidak bisa membuka matanya atau berbicara?" tanya Novia.
"Lukanya cukup parah Bu, kalaupun nanti dia bisa sadar, kemungkinan akan terjadi kelumpuhan sementara, karena banyak sekali otot yang cedera, dan kami juga tidak tahu apakah ada syarat yang kejepit, sejauh ini kami masih melakukan observasi!" ungkap sang dokter.
"Lalu bagaimana dokter? Apakah dia akan seperti ini terus?" tanya Novia lagi.
"Sepertinya tidak, karena setelah kami periksa bagian dalam terlihat normal meskipun sebenarnya tidak normal!" ungkap sang dokter.
"Apa maksud dokter?" tanya Novia.
"Kemungkinan pak Reno akan mengalami kelumpuhan Meskipun tidak permanen, Ya kita harus siap saja menerima kemungkinan tersebut!" ungkap sang dokter.
Hati Novia begitu hancur mendengar ucapan dari dokter yang mengatakan bahwa suaminya tidak akan mungkin pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Reno seperti mengerjapkan matanya, tangan yang sudah dari tadi digenggam oleh Novia pun terlihat mulai bergerak meskipun lemah, Novia kemudian langsung berdiri dan memperhatikan Apa yang terjadi.
"Dokter Lihatlah! sepertinya Mas Reno mulai bergerak!" seru Novia.
"Iya benar Bu! Sepertinya dia sudah mulai sadar!" kata Sang dokter.
Dokter kemudian mulai memeriksa keadaan Reno, dan Dia memanggil dua orang perawat untuk masuk.
Sementara Novia tetap berada di situ, berada di samping suaminya sambil berharap kalau suaminya itu akan sadar dan melihat dirinya.
"Maaf Bu Novia, sepertinya Pak Reno sudah mulai sadar, namun dia belum bisa merespon, sementara Bu Novia menunggu saja di luar, saya akan memeriksa intensif keadaan Pak Reno!" kata dokter yang kini mulai memeriksa seluruh tubuh Reno dibantu oleh dua orang perawat.
Novia kemudian menganggukkan kepalanya lalu melepaskan genggaman tangannya.
Setelah itu dia melangkah keluar dari ruangan itu menunggu dokter dan perawat memeriksa kondisi Reno, yang sepertinya sudah mulai sadar namun belum bisa merespon dan berbicara.
Di depan ruang ICU, David masih duduk menunggu, dia bersandar di bangku dengan kepala yang tertunduk Sepertinya dia sedang tidur.
Tidak mau mengganggu David, Novia pun hanya duduk di sebelahnya, tanpa membangunkan David.
Dari ujung koridor nampak Mbak Darmi yang berjalan menuntun Vio, sepertinya mereka sudah selesai dari kantin, dan Novia juga merasa kalau dia sudah lama meninggalkan Vio bersama dengan mbak Darmi.
Novia kemudian bangkit dan melangkah mendekati mereka.
"Mama! kok Mama lama sekali! Papa mana?" tanya Vio.
"Sejak tadi Vio merengek terus Bu, Dia minta diantarkan ke sini, saya jadi bingung bagaimana lagi membujuk dia!" ujar Mbak Darmi.
"Kenapa aku tidak boleh ikut? Aku kan juga ingin menjaga Papa!" tanya Vio.
"Sayang, bukannya Vio tidak boleh ikut, tapi kan Vio masih kecil, di sini tidak baik untuk anak kecil, Kalau Vio sayang mama dan papa, lebih baik Vio menurut pulang sama Mbak Darmi, dan istirahat di rumah, nanti besok Vio boleh datang lagi ke sini!" jawab Novia.
"Iya bener Vio, nanti Mbak Darmi masakin masakan kesukaan Vio, pokoknya Mbak Darmi akan coba Bikin dongeng yang bagus deh buat Vio nanti di rumah!" Timpal Mbak Darmi.
"Tapi aku besok boleh ke sini lagi kan? Aku kan belum ketemu papa!" kata Vio.
Tiba-tiba David nampak terbangun dari tidurnya, Dia kemudian berdiri dan melangkah mendekati Novia yang masih berdiri bersama dengan Vio dan Mbak Darmi.
"Kalau Vio sama Om David mau tidak?" tanya David tiba-tiba.
"Om David!" Vio kemudian langsung berlari ke arah David dan David langsung mengangkat Vio dalam gendongannya.
"Biar Vio bersama Mbak Darmi saja! kau boleh pulang untuk istirahat, Aku tidak ingin merepotkanmu lagi David!" ujar Novia.
"Tidak! Mana mungkin aku repot bersama dengan Vio, kalau Vio mau biar dia menginap di tempatku, mungkin itu akan membuat dia lebih nyaman karena aku juga sudah merindukannya!" kata David.
"Iya Ma! kalau aku sama Om David Aku mau deh, soalnya aku juga sudah kangen sama Om David, mau main sama Om David juga!" sahut Vio yang kini nampak nyaman dalam gendongan David.
Novia menghela nafas panjang, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena anaknya memang terlihat nyaman dan cocok berada bersama dengan David, mau tidak mau dia pun menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi Vio jangan nakal ya, pokoknya Vio harus baik-baik dan besok Vio sudah boleh ke sini!" ujar Novia akhirnya.
"Baiklah, kalau begitu Sekarang aku pulang bersama dengan Vio, Ayo Vio!" ucap David yang kemudian langsung melangkah sambil menggendong Vio.
Vio Melambaikan tangannya ke arah Novia dan Mbak Darmi yang masih berdiri menatapnya.
"Biarkan Vio bersama Pak David Bu, mungkin itu memang jalan terbaik supaya Vio juga lebih tenang dan semangat!" kata Mbak Darmi.
"Iya mbak!" sahut Novia.
Novia membenarkan Apa yang diucapkan oleh Mbak Darmi, karena di dalam diri Novia juga yakin, kalau Vio kemungkinan besar adalah anak David, anak dari sebuah hubungan kesalahan di masa lalunya.
****
Sementara itu David terus menggendong Vio di atas pundaknya, sampai tiba di parkiran dan dia langsung membantu Vio untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Habis ini Om David mau ajak Vio makan di restoran, Vio mau makan apa?" tanya David yang mulai menyalakan mesin mobilnya itu.
"Aku pengen makan ayam goreng crispy Om, waktu di Semarang Aku jarang makan ayam goreng crispy, Soalnya di sono jauh yang jual!" jawab Vio.
"Oke, kita akan meluncur ke sana, nanti Vio makan yang banyak ya, Vio boleh nambah dan Vio boleh makan sepuasnya oke!" sahut David.
Mereka kemudian keluar dari parkiran itu menuju ke sebuah restoran cepat saji, yang berada tidak jauh dari rumah sakit, karena sepertinya dia terlihat sudah lapar.
David kemudian langsung masuk ke dalam area restoran dan memarkirkan mobilnya, setelah mereka menemukan restoran cepat saji itu Setelah itu mereka Langsung berjalan masuk ke dalam dan duduk.
David mulai memesan makanan dalam jumlah yang banyak, hari ini dia sangat ingin sekali memanjakan Vio setelah beberapa waktu lamanya dia tidak bertemu dengan Vio karena Vio berada di Semarang.
Pada saat David membawa nampan yang berisi beraneka macam makanan yang dia pesan, tiba-tiba saja dia melihat ada Tina di restoran ini juga, tanpa basa-basi Tina langsung datang menghampiri mereka.
"Hai David, kamu ke mana saja? tumben kamu jalan sama Vio mana Novia?" tanya Tina.
"Mama lagi di rumah sakit, Papa sakit! Tante jangan ganggu Mama lagi ya!" cetus Vio tiba-tiba.
David terhenyak seketika, tidak menyangka Vio akan keceplosan seperti itu.
"Apa? Reno di rumah sakit? benar begitu David? apa yang terjadi dengan Reno?" tanya Tina beruntun.
"Oke, aku akan katakan padamu, tapi aku peringatkanmu agar kamu tidak membuat kerusuhan, saat ini Reno sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan, dan Novia sedang berada di sana untuk menemaninya, aku mohon kamu jangan ke sana, jangan ganggu mereka!" jawab David.
"Hai David, kamu lupa kalau aku juga istrinya Reno? sekarang Katakan padaku di mana Reno dirawat?" tanya Tina lagi.
"Di Rumah Sakit Husada, berani kau macam-macam dengan mereka aku sendiri yang akan turun tangan!" ancam David.
"Oke, aku tidak ada urusan denganmu, kalau begitu aku langsung meluncur dan terima kasih untuk informasinya!" sahut Tina yang kemudian langsung pergi berlalu meninggalkan tempat itu.
"Om David, kenapa Tante Tina bilang kalau dia juga istrinya papa?" tanya Vio.
"sudahlah Vio, Tante Tina tidak usah didengerin, Sepertinya dia sedang mengigau, lebih baik kita makan saja yuk, Wah enak-enak nih! Vio pasti suka!" jawab David yang kemudian langsung meletakkan nampan yang berisi aneka makanan yang dia pesan tadi.
__ADS_1
Wajah Vio berubah cerah ketika melihat ayam goreng crispy kesukaannya sudah terpampang di atas meja yang ada di hadapannya.
Bersambung....