Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Permintaan Novia


__ADS_3

Pagi itu Novia berdiri di depan gerbang luar rumahnya. Dia sengaja berdiri di sana setelah Reno suaminya berangkat ke kantor.


Mata Novia menatap ke arah pagar gerbang tinggi yang ada di sebelah rumahnya itu, berharap kalau David, tetangga Sebelah rumahnya itu akan keluar, meskipun Novia tidak pernah melihat David keluar untuk bekerja, karena memang mereka usaha online di rumah.


Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya pintu gerbang samping rumah Novia terbuka, namun bukan David yang keluar dari rumah itu, melainkan Silvi istrinya.


Silvi langsung tersenyum sambil melambaikan tangannya ketika dia melihat Novia berdiri di depan gerbang rumahnya, wanita itu pun kemudian langsung berjalan mendekati Novia.


"Mbak Novia sedang olahraga pagi ya, wanita yang sedang hamil memang sangat dianjurkan olahraga pagi!" sapa Silvi.


"Yah, berolahraga sekalian berjemur! Kamu sendiri mau ke mana pagi-pagi Sil?" tanya Novia.


"Dari tadi aku tengok-tengok mencari tukang sayur belum ada yang lewat, di mana sih yang jual tukang sayur mangkal?" tanya Silvi balik.


"Oh, kalau tukang sayur yang mangkal ada di ujung jalan sana, coba saja ke sana, biasanya kalau masih pagi semuanya masih komplit!" jawab Novia sambil menunjuk ke arah ujung jalan Komplek rumahnya itu.


"Wah, bagus deh, jadi aku bisa belanja di sana! Sekalian yuk Mbak, sambil ngobrol kita!" ajak Silvi.


"Maaf ya Sil, Mbak Darmi sudah belanja kemarin, stok masih banyak!" tolak Novia.


"Okelah kalau begitu! Lain waktu lagi kita ngobrolnya ya, kadang-kadang aku jenuh kalau di rumah, cuma berdua saja sama Bang David!" ujar Silvi.


"Iya, Maaf ya aku tidak bisa menemanimu belanja sayur di sana!" sahut Novia.


"Oh tidak apa-apa! Kalau begitu aku langsung jalan ke sana ya Mbak, bye!" ujar Silvi yang kemudian langsung melangkahkan kakinya sambil melambaikan tangannya ke arah Novia, Novia pun tersenyum dan membalas lambaian tangan Silvi.


Saat Silvi sudah berjalan semakin menjauh, kesempatan ini dipergunakan Novia untuk menemui David di rumahnya, mumpung Silvi sedang pergi ke tukang sayur di ujung jalan sana.


Dengan cepat, Novia kemudian berjalan dan memasuki gerbang rumah yang tidak dikunci itu, kemudian bergegas mencari keberadaan David.


David nampak sedang mencuci mobilnya di halaman samping rumahnya yang terbilang luas itu, wajahnya sedikit terkejut melihat kedatangan Novia yang tiba-tiba itu.

__ADS_1


"Novia? Ada apa kau ke sini, tumben!" tanya David yang terlihat asyik mencuci dan menyemprot mobilnya itu pakai selang.


"Jangan GR dulu David! Waktuku tidak banyak, atau kau mau Istri mu tahu tentang rahasia kita ini!" sahut Novia.


"Ada apa sih? Aku jadi penasaran!" tanya David yang kemudian langsung mematikan keran airnya untuk mendengarkan Novia berbicara.


"David, sebentar lagi bundaku akan datang dari Semarang, karena beliau sangat ingin mengadakan acara syukuran 7 bulanan kehamilanku!" ucap Novia.


"Wah bagus dong! Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Bunda!" kata David.


"David kamu jangan gila! Bunda sangat mengenalmu, apa kamu mau semuanya hancur hanya karena Bunda melihatmu berada di sini, bahkan kamu menjadi tetanggaku?" sengit Novia.


"Lalu kau mau aku bagaimana? Mungkin memang sudah takdir kalau kita harus bertetangga, bahkan hampir setiap hari bertemu!" ujar David.


"Itu bukan takdir David! Kebetulan!" sahut Novia.


"Di dunia ini tidak ada yang kebetulan!" tukas David.


"Katakanlah, apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya David.


"David, aku ingin dalam minggu depan, Kamu ajak istrimu pergi, entah berbulan madu atau entah liburan ke mana, selama satu minggu saja, aku tidak ingin Bunda melihatmu ada di sini!" ungkap Novia.


"Nov, jujur sebenarnya aku juga ingin menghadiri acara 7 bulan kehamilanmu, entah mengapa aku seperti ada ikatan batin dengan bayimu itu!" ucap David.


Novia melotot seketika mendengar ucapan dari David itu.


"Kamu jangan macam-macam David! Aku tidak sedang bercanda sekarang! Pokoknya aku mohon padamu, pergilah dengan Silvi minggu depan, apakah aku harus berlutut di hadapanmu!" kata Novia dengan suara sedikit bergetar.


"Novia, aku tahu perasaanmu, dan aku juga tahu rasa kekhawatiranmu! Baiklah, kalau memang kau menginginkan aku pergi minggu depan bersama Silvi, aku akan menurutimu, aku tidak ingin membuat Ibu dari bayi yang kau kandung itu sedih!" ucap David, matanya menatap lembut ke arah Novia.


Novia tidak berani menatap wajah David, karena dia selalu tidak tahan dengan tatapan mata itu, tatapan yang selalu membuat hatinya bergetar, namun saat ini bukan waktunya lagi untuk hal itu.

__ADS_1


"Terima kasih David, aku mau pulang dulu!" ucap Novia yang kemudian melangkah gontai meninggalkan David yang masih berdiri termangu.


"Novia tunggu!" cegah David tiba-tiba.


Novia kemudian menghentikan langkahnya, namun tidak menengok ke arah David.


"Waktuku tidak banyak! Aku harus pulang!" ujar Novia.


"Aku yakin dia adalah benih ku Novia!" seru David.


"Tutup mulutmu David! Jangan pernah kau katakan hal itu lagi!" sergah Novia.


"Perasaanku tidak pernah salah! Bayi dalam perutmu itu adalah anakku!" lanjut David.


Novia kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh lagi, dan memperdulikan ucapan David, meskipun dalam hatinya begitu teriris.


David begitu yakin kalau bayi yang Novia kandung saat ini adalah benihnya, entah mengapa laki-laki itu begitu yakinnya, Novia sendiri juga bimbang Apakah dia mengandung anak David atau Reno.


"Ya ampun Ibu! Saya cari ibu kemana-mana, saya pikir Ibu hilang, ternyata Ibu dari rumah tetangga toh!" seru Mbak Darmi saat melihat Novia keluar dari gerbang rumah David.


"Oh, tadi aku sedang jalan-jalan olahraga pagi Mbak, terus kebetulan aku melihat bunga yang cantik di rumah Bu Silvi, Aku cuma lihat sebentar kok, kita masuk yuk mbak!" ajak Novia yang kemudian langsung menggandeng tangan Mbak Darmi masuk ke dalam rumahnya.


Mbak Darmi yang sedikit heran menurut saja saat Novia mengajaknya cepat-cepat masuk dan langsung menutup gerbang rumahnya itu.


Kemudian mereka pun segera masuk ke dalam rumah dan Novia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga.


"Bu, Ibu kok seperti orang yang ketakutan? Ada apa sih Bu?" tanya Mbak Darmi saat melihat ekspresi wajah Novia, wajah itu penuh dengan keringat.


Sesungguhnya Novia sangat takut kalau Mbak Darmi mengetahui Novia berbicara dengan David di sebelah rumahnya tadi.


"Tidak apa-apa kok Mbak, mungkin aku terlalu capek jalan tadi! Sekarang aku mau mandi dulu deh Mbak, setelah itu aku mau istirahat sebentar!" jawab Novia yang kemudian langsung melangkah naik ke atas menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2