Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Novia Sakit


__ADS_3

Setelah Novia memberi peringatan pada David, Novia semakin merasa tidak tenang.


Kadang dalam tidur pun Novia tidak terlalu nyenyak, seringkali dia bermimpi buruk dan tiba-tiba saja dia terbangun begitu saja.


Namun sejauh ini, Novia masih berusaha menutup rapat dan mencoba mengubur dalam-dalam masa lalunya yang kelam itu.


Novia sadar dia telah memiliki sebuah dosa besar yang mungkin siapapun tidak bisa memaafkan kesalahannya itu, kesalahan sekali seumur hidup yang bahkan membuat dirinya tidak tenang.


Pagi ini seperti rutinitas biasanya, Novia menemani Reno sarapan pagi sebelum suaminya itu berangkat ke kantor.


Meskipun saat bangun tidur tadi kepala Novia agak pusing, namun Novia memaksakan diri untuk membantu Mbak Darmi menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.


"Sayang, kamu kenapa sejak tadi diam saja? Wajahmu juga kelihatan pucat, apa kamu sakit?" tanya Reno cemas.


Karena sejak tadi Reno memperhatikan kalau Novia kelihatan tidak bergairah dan lesu.


"Aku tidak apa-apa, Mas Reno jangan khawatir!" jawab Novia singkat.


"Tapi wajahmu tidak bisa bohong lho, Kamu memang berbeda dari biasanya, pokoknya aku tidak mau kamu menutupi keadaanmu yang sebenarnya, kalau memang kamu merasa tidak enak badan atau sakit atau apa, tolong katakan padaku!" ujar Reno.


"Aku kan sudah bilang! Aku ini tidak apa-apa Mas! Lagi pula aku ini sudah dewasa, bisa menjaga diriku sendiri, Mas Reno jangan berlebihan!" sahut Novia dengan nada suara agak tinggi.


Reno tertegun melihat sikap istrinya yang tidak biasa itu, Novia tidak pernah selama ini berbicara tinggi di depan Reno, tutur kata Novia begitu lembut dan santun.


Namun pagi ini Reno melihat ada sesuatu yang berbeda di atas diri Novia, tiba-tiba saja Novia menjadi tidak stabil dan sulit mengontrol emosinya.


"Oh, maafkan aku Mas, maafkan aku, aku khilaf, maafkan aku!" ucap Novia yang tiba-tiba tersadar akan sikapnya itu.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Katakan saja padaku, aku ini suamimu sayang!" kata Reno sambil menggenggam tangan Novia dengan lembut.


Ada keteduhan yang terpancar dari mata laki-laki itu, yang membuat perasaan Novia semakin merasa tertekan dan berdosa.


Tiba-tiba saja Novia tidak dapat membendung air matanya, dia langsung memeluk Reno suaminya itu sambil menangis tersedu-sedu.


Reno mengusap-usap bahu Novia dengan lembut, meskipun dia sangat bingung apa yang terjadi dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas! Ya sudah, sekarang Mas Reno berangkat saja, aku sungguhan tidak apa-apa, mungkin ini bawaan bayi saja!" kata Novia sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Tapi ...."


"Sudah Mas, jangan khawatir! Aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya sedikit stress aja karena sebentar lagi akan melahirkan!" potong Novia cepat.


"Tapi berjanjilah padaku, kau akan memberi kabar kalau ada masalah! supaya pikiranku jadi tenang!" ucap Reno sambil membelai rambut Novia.


"Iya Mas, lagi pula aku kan tidak sendiri, ada Mbak Darmi yang menemaniku! Sudahlah, nanti kamu kesiangan lho Mas!" ujar Novia yang kemudian langsung menggandeng tangan suaminya itu berjalan menuju ke halaman depan rumah mereka.


Reno pun kemudian masuk ke dalam mobilnya bersiap akan berangkat menuju ke kantornya.


"Sayang, pak Sukri saat ini stand by di sini, kalau kau membutuhkan apapun, atau menginginkan apapun, Pak Sukri siap mengantarkan!" ucap Reno.


"Terima kasih Mas, hati-hati di jalan ya!" kata Novia sambil mencium punggung tangan suaminya itu.


Tak lama kemudian Reno pun sudah melajukan mobilnya itu keluar dari rumahnya.


Novia kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya itu dan langsung duduk di sofa ruang keluarga, entah mengapa kepalanya tiba-tiba menjadi pusing.


Mbak Darmi yang sedang menjemur pakaian di taman samping langsung tergopoh-gopoh menghampiri majikannya itu.


"Ada apa Bu?" tanya Mbak Darmi.


"Tolong buatkan aku teh hangat Mbak, kalau ada obat masuk angin, tolong ambilkan juga! Kepalaku rasanya pusing sekali!" jawab Novia sambil memegangi kepalanya yang pusing itu.


"Ya ampun Bu, Wajah Ibu pucat sekali! Baiklah kalau begitu saya langsung buatkan teh hangat dan Ambilkan obat masuk angin!" sahut Mbak Darmi yang kemudian langsung beranjak meninggalkan Novia, dia ingin cepat-cepat membuatkan teh hangat supaya kondisi Novia membaik.


Tak lama kemudian, Mbak Darmi sudah kembali dengan sebuah nampan yang berisi teh manis hangat dan obat masuk angin yang diminta Novia tadi.


"Ini Bu teh hangatnya, langsung diminum ya Bu, Apa perlu saya telepon Bapak Bu?" tanya Mbak Darmi sambil meletakkan nampan itu di atas meja dan menyodorkan teh hangat itu ke arah Novia.


"Jangan mbak! Jangan ganggu Bapak, dia baru saja berangkat, Masa harus ditelepon sih! Lagi pula aku tidak apa-apa kok!" sergah Novia.


"Tapi bapak pernah bilang, kalau ada apa-apa dengan Ibu langsung telepon Bapak!" tukas Mbak Darmi.

__ADS_1


"Ya tapi kan aku tidak kenapa-napa Mbak! Sudahlah, jangan lebay, setelah ini aku mau istirahat di kamar, terima kasih ya teh hangat dan obatnya!" ucap Novia yang kemudian berusaha berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.


Mbak Darmi berusaha untuk membantu memegang tangan Novia, namun tangan Novia menepiskannya, karena dia tidak mau Mbak Darmi terlalu khawatir seperti Reno suaminya.


Novia kemudian langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya ketika dia sudah sampai di kamarnya.


Dia merasakan kalau kepalanya benar-benar pusing dan tiba-tiba saja perutnya menjadi mual.


Karena tidak tahan Novia kemudian langsung bangkit dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi, lalu dia memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah Novia memuntahkan semua isi perutnya hingga tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan, dengan tertatih-tatih dan terlihat lemah, Novia berusaha berjalan menuju ke tempat tidurnya dan kembali merebahkan tubuhnya.


Dia kemudian meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya Itu, dan mulai menekan nomor telepon seseorang.


"Halo!"


"Halo dokter Fanny, ini Novia, Apakah diperbolehkan wanita hamil meminum obat masuk angin?" tanya Novia to the point.


"Seharusnya sebelum mengkonsumsi obat, Bu Novia konsultasi dulu dengan saya, sebenarnya apa yang Bu Novia rasakan?" tanya Dokter Fanny balik.


Dokter Fanny adalah dokter kandungan yang menangani kehamilan Novia.


"Entahlah dokter, tiba-tiba saja sejak bangun tidur tadi, kepala saya menjadi pusing, tubuh saya lemah dan sepertinya perut saya juga mengalami masalah, apakah itu berpengaruh dengan bayi saya?" ungkap Novia.


"Maaf Bu Novia, tapi Setahu saya apa yang dialami Bu Novia kemungkinan karena Bu Novia kurang tidur, kurang istirahat dengan baik, dan mungkin juga karena Bu Novia terlalu banyak pikiran, sehingga membuat sedikit stres dan efeknya adalah tubuh Bu Novia yang mengalami hal yang seperti itu!" jelas dokter Fanny.


Novia terdiam mendengar penuturan dokter Fanny, mungkin saja karena pikiran Novia yang sedikit terganggu, sehingga berpengaruh ke kesehatan tubuhnya.


"Sebaiknya Bu Novia banyak-banyak beristirahat dan tenangkan pikiran, mudah-mudahan dengan seperti itu, kesehatan Bu Novia berangsur pulih, nanti saya akan resepkan vitamin dan obat yang diperbolehkan dikonsumsi oleh wanita hamil!" lanjut dokter Fanny.


Tiba-tiba saja Novia merasakan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya, dan lama-kelamaan pandangannya menjadi gelap dan tiba-tiba saja dia tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.


"Halo? Bu Novia? Bu Novia tidak apa-apa kan?" masih terdengar suara dokter Fanny di ponsel yang digenggam oleh Novia, yang saat ini benar-benar sudah memejamkan matanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2