
Reno menimang bayinya yang habis disusui oleh Novia, dia memberikan nama bayinya itu Elvio Putra Pratama.
Ini sudah hari ketiga dari saat Novia melahirkan bayinya.
Sejak kedatangan Reno sampai hari ini, Reno juga belum pulang ke rumahnya, hanya Mbak Darmi yang bolak-balik mengantarkan pakaian untuk Reno dan Novia.
Bunda Lasmi dan kedua orang tua Reno juga sudah sampai di Jakarta, ketika mendengar kabar Kalau Novia sudah melahirkan.
Mereka tanpa membuang waktu langsung datang ke rumah sakit, untuk melihat cucu mereka yang telah lahir itu.
Sejak hari pertama Novia di rumah sakit, dan ketika David dan Silvi sudah pulang ke rumah mereka, mereka tidak lagi datang menjenguk Novia.
"Bayi ini sangat tampan sekali, sepertinya wajahnya sangat mirip denganku!" ucap Reno sambil matanya tak berkedip memandang bayi yang kini ada dalam pangkuannya itu.
Novia hanya tersenyum mendengar ucapan Reno, Reno terlihat sangat bahagia sekali, akhirnya kini menjadi seorang ayah.
"Mas Reno, Mas Reno terlalu sering menggendong Vio, Mas Reno kan juga harus istirahat, Apalagi sudah beberapa hari ini Mas Reno tidak pergi ke kantor!" kata Novia.
"Kamu tenang saja sayang, bagiku Putraku itu di atas segalanya, sampai dia pulang ke rumah nanti, aku akan tetap bersamanya!" jawab Reno.
Novia kembali menggigit bibirnya, padahal Novia juga tidak yakin Apakah Vio anak kandung dari Reno, apalagi di dalam surat lahir yang diberikan oleh dokter kepadanya tertera bahwa golongan darah Vio itu O, sementara Novia dan Reno memiliki golongan darah A.
Namun Reno sepertinya tidak menyadari itu, baginya Vio adalah anak kandungnya yang berasal dari benihnya.
Tidak pernah sedikitpun Reno mencurigai bayi yang dikandung oleh Novia, cintanya pada Novia menutupi segalanya.
"Ya iya dong, di sini cucunya Nenek Lasmi kan memang paling tampan, Ya mirip siapa lagi kalau bukan mirip Papanya, masak iya mirip tetangga!" celetuk Bunda Lasmi yang memang sejak kemarin sudah ada di situ.
"Nanti kalau sudah pulang ke rumah kita akan ada syukuran untuk kelahiran baby Vio, Apalagi kan semua keluarga akan kumpul!" kata Bu Anis ibunya Reno.
"Ya itu pasti dong, kan Vio adalah cucu pertama kita, dia adalah generasi pertama yang akan mendapatkan banyak sekali cinta!" timpal Pak Darta, ayahnya Reno.
__ADS_1
Semua keluarga yang ada di ruangan itu nampak bahagia sekali, menyambut kelahiran cucu pertama mereka.
Namun di sudut hati Novia, ada terbersit sesuatu rasa bersalah, karena dia merasa kalau baby Vio itu terlihat mirip dengan David, tapi Novia mencoba menutupi itu dan menepiskan semua pikiran-pikiran negatifnya.
Ceklek!
Dokter Fanny dan seorang perawatnya masuk ke dalam ruangan itu untuk mengontrol kondisi Novia dan bayinya.
"Selamat pagi Bu Novia, Pak Reno, baby Vio dan semuanya, wah ramai ya!" sapa dokter Fanny ramah.
"Selamat pagi dokter!" jawab Novia dan juga Reno bersamaan.
"Bagaimana Bu Novia? Apakah sudah bisa latihan berjalannya?" tanya Dokter Fanny.
"Sudah dokter, saya sudah berjalan beberapa meter bersama dengan Mas Reno, tapi masih belum bisa cepat sih jalannya!" jawab Novia.
"Tidak apa-apa, sehabis operasi memang harus sedikit demi sedikit latihan bangun dari tempat tidur dan berjalan, asal rutin dilakukan lama-lama juga bisa cepat!" ucap dokter Fanny.
"Wah Pak Reno sepertinya sudah tidak sabar, kalau kondisi Bu Novia sudah stabil sebenarnya besok pun kalian sudah boleh pulang, supaya lebih nyaman merawat baby Vio di rumah!" jawab dokter Fanny.
"Terima kasih Dokter, mudah-mudahan besok Kondisi saya lebih baik dari hari ini, sehingga saya bisa langsung pulang ke rumah!" ucap Novia.
"Kalau begitu, lanjutkan saja aktivitas kalian kelihatannya baby Vio ini akan jadi baby yang paling bahagia di dunia, karena dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya!" ucap dokter Fanny.
"Iya dong dokter, baby Vio ini kan baby yang selalu ditunggu-tunggu kelahirannya, pastinya kami yang ada di sini semua berbahagia!" kata Bunda Lasmi.
"Saya juga ikut berbahagia, kalau begitu saya permisi keluar dulu, akan ada perawat yang akan melayani setiap keluhan dan keperluan Ibu Novia!" ucap dokter Fanny yang kemudian langsung melangkah meninggalkan ruangan itu.
****
Hari ini Novia dan bayinya sudah diperkenankan pulang oleh dokter Fanny, Bunda Lasmi dan kedua orang tuanya Reno sudah pulang duluan untuk mempersiapkan segala sesuatunya di rumah.
__ADS_1
Kini yang ada di rumah sakit adalah Novia dan Reno juga baby Vio, mereka akan bersiap pulang bersama dengan Pak Sukri yang sudah menunggunya di depan lobby rumah sakit.
Reno mendorong kursi roda Novia yang sedang menggendong Vio. Mereka menyusuri koridor menuju ke lobby rumah sakit, di mana Pak Sukri sedang menunggunya di depan.
Setelah sampai di depan lobby, Reno kemudian mulai membantu Novia berdiri dan naik ke dalam mobil pelan-pelan, karena Novia masih belum bisa normal berjalan sepenuhnya, sehabis operasi.
Kemudian setelah itu Pak Sukri langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan Rumah Sakit menuju ke rumah mereka.
"Sayang, sini berikan Vio padaku, aku sangat ingin sekali menggendongnya!" kata Reno yang duduk di samping Novia.
"Lho, bukannya dari tadi sebelum kita pulang, Mas Reno sudah menggendong Vio?" tanya Novia.
"Iya sih, tapi rasanya aku selalu ingin dekat bayi ku!" jawab Reno.
Dengan perlahan Novia kemudian memberikan Vio yang digendongnya itu ke dalam gendongan Reno.
Reno langsung mencium bayi mungil itu dan menimangnya dengan penuh kasih sayang, Novia terharu, ternyata Reno sangat kebapakan sekali, cinta kasihnya terhadap Vio sangat terlihat jelas.
"Anak papa cepat besar ya, Papa tidak sabar ingin bermain dengan Vio, Vio akan jadi anak kebanggaan papa, kita bisa main bola sama-sama nak!" ucap Reno terhadap bayinya itu, sambil sesekali menguncupi nya.
Tanpa sadar Novia meneteskan air matanya, dia tidak bisa membayangkan kalau Reno harus melihat kenyataan, kalau bayi yang kini ada dalam gendongannya itu bukan darah dagingnya.
Ini masih merupakan rahasia terbesar dalam hidup Novia, Novia tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, tapi dia tenang karena Reno sangat menyayangi Elvio.
"Hei, lihat Vio, kenapa Mama menangis? Mama menangis melihat kita, Apakah Mama iri karena papa sayang sama Vio?" tanya Reno terhadap bayinya itu sambil menoleh ke arah Novia yang buru-buru mengusap wajahnya yang basah.
"Mas Reno, terima kasih ya sudah sangat menyayangi Elvio!" ucap Novia.
"Kenapa kau berkata seperti itu sayang, wajar aku sangat menyayangi Vio, karena Vio adalah darah dagingku, dia adalah benih cinta kita, dan aku akan mencurahkan seluruh hidupku untuknya!" kata Reno yang kembali mengecupi wajah bayi mungil itu.
Bersambung ...
__ADS_1