Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Harus Di Lahirkan


__ADS_3

Novia membuka buka matanya perlahan, kini dia kembali berada di sebuah ruangan berhawa dingin, yang aroma khasnya sudah sangat dia kenal.


Jarum infus nampak sudah kembali terpasang di tangannya, di ruangan itu hanya ada Dokter Fanny dan juga dua orang perawat yang sedang mencatat sesuatu.


Dokter Fanny tersenyum ketika Novia menatap ke arahnya.


"Dokter Fanny, apa yang terjadi dengan saya?" tanya Novia.


"Bu Novia, Ibu baru saja mengalami pecah ketuban, itu berarti bayi ibu harus segera dilahirkan, jadi saat ini kita coba normal dulu ya Bu, saya sudah pasang induksi untuk mempercepat proses persalinan!" jawab Dokter Fanny.


"Tapi apakah bayi saya akan baik-baik saja dokter?" tanya Novia.


"Bu Novia Jangan khawatir, bayi anda baik-baik saja, untung segera cepat dibawa ke sini Bu, karena kasus pecah ketuban itu adalah kasus gawat darurat, jadi harus cepat-cepat ditangani!" jawab Dokter Fanny.


Novia terdiam sesaat, Dia teringat saat David membawanya dengan penuh kepanikan masuk ke dalam mobilnya, kemudian langsung membawanya ke rumah sakit.


Lagi-lagi ada andil David di balik semuanya ini, dan secara kebetulan Reno sedang berada di Singapura untuk urusan bisnis yang sangat penting.


Entah ini Kebetulan atau apa namanya, namun Novia tidak bisa berbuat apapun, semuanya sudah terjadi.


"Oh ya Bu Novia, induksi ini adalah untuk perangsang bayi dan pembukaan rahim, kalau dalam beberapa jam ke depan tidak ada kemajuan, dengan terpaksa kami harus mengambil tindakan operasi!" kata dokter Fanny sedikit mengejutkan Novia.


"Operasi Dokter? apa tidak ada pilihan yang lain selain operasi?" tanya Novia.


"Operasi itu adalah pilihan terakhir Bu, Kami akan usahakan normal, tapi kembali lagi pada kondisi ibu, apalagi ini adalah anak pertama, sementara air ketuban sudah berkurang banyak dan ini sangat beresiko untuk bayi, kalau sampai dia kekurangan air ketuban!" jawab Dokter Fanny.


"Baiklah dokter, apapun itu asalkan bayi saya selamat!" ucap Novia.


"Oh ya, di mana suami Ibu Pak Reno? Kenapa dia tidak mengantar Ibu ke Rumah Sakit?" tanya Dokter Fanny.


"Mas Reno sedang ada di luar negeri, Karena kan menurut prediksi dokter HPL nya minggu depan, jadi kebetulan dia tidak ada, siapa yang sangka kalau akan mengalami kejadian seperti ini!" jawab Novia lirih.

__ADS_1


"Baiklah, tidak masalah, asal ada yang mendampingi Ibu itu sudah cukup, mungkin sebentar lagi Bu Novia akan merasakan mules di perut ya, itu tidak apa-apa, nanti akan ada perawat yang membantu Bu Novia!" kata dokter Fanny.


"Iya dokter, Terima kasih!" ucap Novia.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu, nanti beberapa jam ke depan saya akan pantau lagi sekarang keluarga dan kerabat Anda boleh menjenguk masuk ke sini!" ucap dokter Fanny, yang kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian Mbak Darmi, Silvi dan David langsung menghambur masuk ke dalam ruangan dan berdiri mengelilingi Novia yang berbaring diranjang itu, wajah Mereka terlihat tegang dan cemas.


"Bagaimana Bu? Jadi ibu akan kembali dirawat di sini?" tanya Mbak Darmi.


"Iya mbak, kata dokter memang bayi ini harus dilahirkan secepatnya, makanya aku diinduksi supaya lebih cepat pembukaannya!" jawab Novia sambil mengelus-elus perutnya yang kini mulai terasa mulas.


"Kalau begitu saya telepon Bapak ya Bu, walau Bagaimana kan Bapak harus tahu kalau Ibu di rumah sakit, dan akan melahirkan sebentar lagi!" kata Mbak Darmi.


"Jangan telepon Mas Reno sekarang Mbak, Dia kan baru mulai pertemuannya, baru juga datang ke sana, lagian aku juga tidak apa-apa kok, nanti kalau bayinya sudah lahir baru Mbak Darmi boleh telepon!" tukas Novia.


"Benar juga tuh, nanti pak Reno kan jadi panik kalau ditelepon sekarang, yang ada dia langsung balik lagi dan semua jadwal agendanya ambyar!" timpal Silvi.


Sementara David dari tadi hanya diam saja, tidak berbicara, namun dari pancaran wajahnya jelas terlihat rasa kekuatiran dan kegelisahan yang tidak bisa ditutupi.


Novia yang menyadari akan hal itu, ikut merasakan perasaan yang begitu kuat, walaupun mereka tidak saling bicara satu sama lain.


"Mbak Novia, kan Pak Reno belum datang Jadi aku saja yang menemani Mbak Novia di sini, Bang David mengizinkan kok!" kata Silvi.


"Tapi Silvi .... "


"Aku tidak apa-apa Mbak, aku kan jadi tahu bagaimana dunia kehamilan dan persalinan, hitung-hitung supaya aku juga siap mental kalau suatu hari nanti aku juga hamil sama seperti Mbak Novia!" lanjut Silvi.


"Bu Novia beruntung lho, jarang-jarang ada tetangga yang rasa saudara seperti ini, jadi saya bisa bolak-balik sama Pak Sukri!" kata Mbak Darmi.


Novia terdiam tidak melanjutkan lagi ucapannya, kini rasa mules di perutnya semakin lama semakin terasa dan sesekali Novia meringis menahan sakit, induksi yang diberikan oleh dokter kini mulai bereaksi.

__ADS_1


"Ya sudah Bu, di sini kan ada Pak David dan Bu Silvi yang menemani, saya mau pulang sebentar mau beres-beres rumah, masak, nanti saya kembali lagi siang, yang penting rumah sudah beres bu, lagi pula perlengkapan yang Ibu siapkan kan belum ke bawa semua ke sini!" kata Mbak Darmi.


"Iya mbak Darmi pulang saja, lagian di sini juga kan ada aku dan Bang David, mendingan siap-siapin keperluan buat bayi yang akan lahir sebentar lagi!" timpal Silvi.


Novia tidak ada pilihan lain kecuali menganggukkan kepalanya, memang Mbak Darmi harus pulang, banyak tugas yang menantinya di rumah, apalagi semua perlengkapan belum siap karena ini termasuk mendadak.


Akhirnya Mbak Darmi pun pulang bersama dengan Pak Sukri yang telah menyusulnya ke rumah sakit.


Kini Novia pun mulai merasakan sakit yang amat Dahsyat yang durasinya semakin lama semakin cepat.


"Ya ampun Mbak Novia, ternyata begini ya kalau orang mau melahirkan, Sabar ya Mbak Mbak mau makan sesuatu Bilang saja nanti aku akan carikan! "kata Silvi yang berusaha untuk mengusap-usap punggung Novia.


Novia hanya menggeleng lemah sambil menggigit bibirnya, kini mules di perutnya sudah semakin terasa dan rasanya lebih sakit daripada saat di rumah dan air ketuban pun semakin banyak yang keluar.


Tiba-tiba Silvi berdiri sambil memegangi perutnya.


"Aduh! aku kenapa jadi ikut-ikutan mules ya, Bang David jangan kemana-mana ya, aku mau ke toilet sebentar!" seru Silvi yang kemudian berjalan cepat keluar dari ruangan itu.


Kini di ruangan itu hanya ada Novia dan David saja, Novia sudah tidak lagi memperdulikan kehadiran David, dia lebih fokus ke perutnya yang kini semakin lama semakin sakit.


Perlahan David mendekati Novia kemudian mengusap lembut perut Novia.


"Nak, jangan buat Mamamu sakit ya, kamu tenang saja, Papa akan menjagamu di sini!" bisik David sambil terus mengelus perut Novia dengan penuh perasaan.


Dengan refleks Novi kemudian mendorong tubuh David menjauhinya.


"David! Kamu jangan macam-macam! aku sangat menghargai istrimu, dan kamu tahu kalau anak ini adalah anak Mas Reno suamiku!" cetus Novia.


"Saat seperti ini kau butuh dukungan Novia, dan aku yang akan mendukungmu, terserah kau mau bilang itu bayi siapa, tapi perasaanku mengatakan ini adalah benihku!" sahut David yang kembali melangkah maju mendekati Novia.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2