Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Menunggu


__ADS_3

"Mama!"


Vio berlari-lari dari kelasnya menuju ke arah Novia yang masih duduk dan menangis di sudut lobby bersama David.


Spontan David langsung melepaskan pelukannya dan duduk menjauhi Novia.


Vio menatap heran pada Novia dan juga David.


"Mama, kenapa tadi aku lihat mama pelukan sama Om David?" tanya Vio.


"Oh tidak sayang, mungkin Vio salah lihat, ya sudah Yuk kita langsung pulang!" sahut Novia yang buru-buru mengusap matanya yang basah dan mengalihkan perhatian Vio.


Novia kemudian segera menggandeng tangan Vio dan berjalan cepat menuju ke arah di mana mobilnya terparkir.


"Novia! Kalau ada apapun yang membuatmu bersedih, katakanlah padaku, aku pasti akan mendengarkanmu!" seru David yang berjalan di belakang mereka.


Novia tidak mengindahkan teriakan David, dia langsung membawa masuk Vio ke dalam mobilnya, dan dia pun segera melajukan mobilnya itu keluar dari parkiran sekolah.


"Mama, sudah berapa hari ini aku tidak bermain bersama Om David, Memangnya Om David itu penjahat Ma? kenapa aku tidak boleh ke rumahnya lagi?" tanya Vio saat dalam perjalanan pulang menuju ke rumah.


"Vio, Vio kan bisa bermain dengan Mama atau dengan Mbak Darmi atau dengan Papa, jadi Vio tidak harus ke rumah Om David, Om David kan ada pekerjaan yang lain di rumahnya!" jawab Novia berusaha untuk membuat pengertian pada putranya itu.


"Lho kenapa? Kan Om David sendirian, kasihan Ma dia tidak ada temannya di rumah! Tante Silvi kan tidak pulang-pulang!" kilah Vio.


"Vio, sudah patuhi saja apa kata Mama, sekarang lebih baik Vio istirahat saja, tidak usah banyak bertanya!" sahut Novia.


"Iya Ma!"


Tak lama kemudian mereka pun sudah sampai di rumah, Mbak Darmi terlihat sedang menata meja makan untuk makan siang mereka, Novia Segara membawa Vio ke kamarnya, untuk mengganti pakaian dan membersihkan tubuhnya sebelum makan siang.


"Tadi ada telepon Bu dari Bu Silvi, katanya ponsel ibu tidak aktif saat dia menelpon ke ponsel ibu!" kata Mbak Darmi.

__ADS_1


"Oh ya, kalau begitu biar nanti aku telepon balik dia Mbak!" kata Novia.


Novia kemudian mulai mengeluarkan ponselnya yang memang sejak tadi tidak dipergunakan, ada banyak panggilan tak terjawab di sana, terutama dari Silvi.


Novia kemudian mulai menelepon Silvi.


"Halo, Silvi, Maaf tadi karena kesibukan, aku sampai lupa pegang ponsel!" kata Novia pada saat Silvi mengangkat panggilan teleponnya.


"Mbak Novia, ibuku sudah meninggal dan sekarang aku di kampung sedang mengalami sakit yang cukup serius, tapi aku hanya memberitahu ini pada Mbak Novia, tolong jangan bilang Bang David ya mbak!" ucap Silvi yang kini suaranya agak berbeda dari biasanya.


"Aku turut berduka cita atas kepergian ibumu Silvi, tapi kenapa kamu tidak kembali ke sini? Sebenarnya kamu sakit apa?" tanya Novia.


"Sebenarnya sudah 3 bulan terakhir ini, aku terdeteksi sakit kanker rahim, Aku tidak ingin Bang David tahu, dan sepertinya penyakitku ini tambah parah Mbak, makanya untuk sementara aku memilih tinggal di kampung saja!" Jawab Silvi.


"Silvi, walau bagaimana Bang David itu suamimu, dia harus tahu apa yang terjadi dengan istrinya, sehingga kalian bisa saling mendukung satu sama lain!" ucap Novia.


"Iya mbak, tapi aku belum siap mbak, aku belum siap memberikan kabar ini pada Bang David! Apalagi aku belum bisa memberikan Dia seorang anak!" sahut Silvi yang kini terdengar mulai terisak.


"Terima kasih Mbak, aku bilang pada Bang David Kalau aku masih di kampung, tapi aku tidak mengatakan kalau aku sedang sakit!" ujar Silvi.


"Iya, tapi kamu harus segera kembali Silvi, kamu membutuhkan orang-orang yang menyayangimu, yang mendukungmu, yang memberikan kamu support dan semangat!" ucap Novia.


"Iya mbak!" sahut Silvi yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya.


Novia menarik nafas panjang, dia sama sekali tidak menyangka kalau Silvi ternyata sedang mengidap suatu penyakit yang cukup serius, bahkan yang selama ini dia tutupi dari David.


****


Malam ini hujan turun begitu lebat, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, Vio juga sudah tertidur di kamarnya, tapi Reno tak kunjung pulang ke rumah.


Novia menunggu dengan gelisah di ruang keluarga, biasanya Reno selalu pulang tepat waktu di sore hari, dan Kalaupun dia akan pulang terlambat, dia pasti akan memberitahukan pada Novia.

__ADS_1


Namun hari ini tidak ada kabar dari Reno, bahkan saat Novia yang menghubungi ponselnya pun, Reno tidak mengangkatnya, Novia semakin bingung, Apakah Reno begitu marah dan kecewa padanya, karena persoalan David yang ternyata baru diketahui Reno kalau David adalah mantan kekasih Novia di masa lalu.


"Bu, Ibu istirahat saja di kamar, nanti kalau bapak pulang saya akan kasih tahu ibu!" kata Mbak Darmi yang sejak tadi memperhatikan Novia yang sudah sekian lama menunggu di ruang keluarga.


"Tidak Mbak, Biar aku saja yang menunggu di sini, kalau mbak Darmi sudah mengantuk Mbak Darmi tidur saja duluan!" tukas Novia.


"Ya saya tidak mungkin tidur duluan Bu, kalau ibu belum tidur, kalau begitu saya temani Ibu di sini ya Bu!" pinta Mbak Darmi.


Novia pun menganggukkan kepalanya, setelah itu Mbak Darmi duduk di sudut bangku ruang keluarga itu, untuk menemani Novia yang masih menunggu kepulangan suaminya itu.


Sementara itu hujan semakin deras di luar, suara petir menggelegar memekakkan telinga, ini adalah hujan terbesar dan terlama setelah Novia tinggal di sini.


"Barangkali Bapak terjebak banjir Bu, sudah sejak magrib tadi kan hujan turun dengan lebatnya!" kata Mbak Darmi.


"Iya mbak, mungkin saja begitu, tapi kenapa ya ponsel Mas Reno susah sekali untuk dihubungi!" ungkap Novia.


"Barangkali karena sinyal buruk Bu, kan hujan begitu lebat, biasanya sinyal itu jadi hilang, jadi susah untuk menghubungi!" sahut Mbak Darmi.


"Iya mbak, Mungkin karena sinyal kali ya!" ucap Novia berusaha untuk berpikiran positif seperti Mbak Darmi


Hujan masih saja turun, seolah dicurahkan langsung dari langit.


Novia kemudian Berjalan ke depan, angin dingin menyapu wajah dan tubuhnya saat dia membuka pintu depan, sesekali ada kilatan-kilatan petir yang menerangi suasana malam itu, dan hujan terlihat semakin lebat.


Novia semakin gelisah, dia mengkhawatirkan Reno, tidak mungkin jam segini Reno masih berada di kantor, tapi Novia tidak tahu gimana keberadaan Reno sekarang.


Ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Novia, juga rasa penyesalan yang semakin dalam.


Sesuatu yang dia simpan dan tutupi selama ini, suatu hari pasti akan terbongkar juga, dan kini Novia bingung bagaimana cara memperbaiki semuanya ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2