Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Kedatangan Tina


__ADS_3

Novia masih menunggui Vio di ruang perawatan di rumah sakit, setelah melalui serangkaian pemeriksaan di laboratorium, diketahui bahwa Vio terkena gejala penyakit liver.


Vio harus mengalami istirahat total, apalagi kondisi Vio saat itu sudah terlihat mengkhawatirkan.


Selama itu pula, Novia menunggu Vio di rumah sakit, kadang-kadang Novia bergantian dengan David untuk menunggu Vio, karena Reno pun tidak bisa menunggu Vio di rumah sakit karena kondisi Reno juga belum pulih benar.


Novia sengaja tidak memberitahu Bunda Lasmi kalau Vio sedang dirawat di rumah sakit, Novia tidak ingin kalau Bunda Lasmi menjadi khawatir dan kepikiran, apalagi Novia tahu kalau Bunda Lasmi juga sedang ada masalah di Semarang, terkait usaha peninggalan ayahnya yang kini juga sedang mengalami krisis.


Sebenarnya Novia sendiri juga merasa lelah, dia harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, bukan hanya mengurusi Vio, tapi Novia juga masih mengurusi Reno.


Ceklek!


Pintu ruangan perawatan dibuka dari luar, David masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Maaf aku terlambat datang, hari ini pesanan banyak sekali, aku sampai kewalahan mengerjakannya!" kata David yang langsung duduk di bangku yang ada di samping Vio.


"Buat apa kamu minta maaf? Seharusnya aku membantu pekerjaanmu, tapi kamu tahu sendiri aku sibuk mengurus Vio, apalagi Papanya Vio kan juga harus diurus juga!" jawab Novia.


"Novia, ini aku bawakan makanan, kamu makanlah dulu sebelum pulang, pastikan perutmu tidak lapar!" kata David sambil menyodorkan bungkusan makanan ke arah Novia.


Novia pun mengambil bungkusan makanan yang sudah diberikan David itu, meskipun perutnya tidak lapar, David selalu memaksanya untuk makan.


"Terima kasih David, lagi-lagi aku merepotkanmu!" ucap Novia.


"Kamu jangan bilang begitu, Vio itu kan anakku juga, Sudahlah jangan sungkan-sungkan padaku, apalagi kita kan sudah kenal lama!" sahut David.


Novia membuka bungkusan makanannya, kemudian dia langsung memakan makanan yang diberikan David itu, sejak dulu Novia mengenal sosok David, yang memang adalah seorang pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan juga dewasa.


Dulu Novia pernah sangat mencintai David, bahkan rela menyerahkan kesuciannya untuk laki-laki yang dia cintai sebelum hari pernikahannya, namun takdir mempertemukan Novia dengan Reno yang juga adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, terlebih sangat mencintai Novia.


Melalui ketulusan dan kebaikan hati Reno, akhirnya Novia pun luluh dan perlahan mulai memberikan Reno sebuah cinta yang tulus dari dalam hatinya.


Seandainya Novia tidak dipertemukan dan dijodohkan oleh Reno, mungkin sampai saat ini Novia masih akan tetap bersama dengan David.


"Hei, makan jangan sambil bengong! Nanti kamu bisa kesambet tahu!" seru David yang membuat Novia sedikit kaget.


"David, aku akan lanjutkan makananku di rumah ya, aku harus cepat-cepat pulang, Kasihan juga Mas Reno di rumah sendirian, hanya ada Mbak Darmi!" kata Novia yang kembali membungkus makanannya itu, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik.


"Ya sudah kamu pulang, biar aku yang menjaga Vio sampai besok, Tidurlah yang nyenyak malam ini pulihkan tenagamu!" ucap David.


"Terima kasih David! Aku titip Vio ya, aku sekarang pulang dulu!" pamit Novia yang kemudian bangkit dan melangkah menuju ke pintu keluar.


Novia terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke tempat parkiran, di mana motornya terparkir.


Setelah itu Novia langsung naik ke atas motor dan menyalakan mesin motornya itu, lalu melajukannya keluar dari rumah sakit menuju ke rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


Setelah Novia sampai di rumah, Dia sedikit tertegun melihat ada mobil yang terparkir di depan rumahnya, Novia sangat mengenali mobil siapa itu


Novia kemudian langsung membuka gerbang dan masuk ke dalam, di ruang tamu nampak Reno duduk bersama dengan Tina, yang ternyata datang ke rumahnya.


Entah dengan maksud apa, karena sudah lama sekali Tina tidak datang ke rumah ini, padahal dulu biasanya Tina selalu mencari Reno, sejak Reno tak berdaya dan mengalami masalah dalam keuangan, Tina tidak pernah datang-datang lagi, padahal status Tina masihlah istri siri dari Reno.


"Eh kamu sudah pulang Novia! Enak ya berdua-dua di rumah sakit sama mantan dan anak kalian!" seru Tina yang melihat Novia masuk.

__ADS_1


"Tina, tumben kamu datang ke sini, aku pikir kamu sudah lupa sama suami kamu sendiri!" kata Novia yang kini duduk di samping Reno.


"Ya kalau bukan karena aku ada kepentingan, aku juga sebenarnya segan datang ke tempat ini lagi, tapi akhirnya aku datang juga!" sahut Tina


"Novia, Tina datang ke sini mengajukan gugatan cerai, dan aku langsung menyetujuinya dan menandatangani surat cerai itu, nanti akan ada prosesnya, jadi aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" kata Reno.


"Oh jadi kamu ke sini cuman mau menceraikan Mas Reno saja? Baguslah Tina, aku semakin mengenal siapa dirimu yang sebenarnya!" ujar Novia


"Ya, aku juga harus realistis, Reno sudah tidak menguntungkan lagi, lebih baik aku cari laki-laki lain yang lebih mapan, lagi pula aku sudah tidak iri lagi padamu!" jawab Tina.


"Sekarang tunggu apa lagi? Apa yang kau inginkan sudah tercapai, silakan keluar dari rumahku!" ujar Reno dengan suara yang agak keras.


"Oke, aku juga tidak mau lama-lama di sini! Lebih baik aku pulang saja!" sahut Tina yang kemudian berdiri lalu melangkah begitu saja keluar dari rumah, kemudian terdengar suara mesin mobil Tina yang menderu dan berlalu dari rumah mereka.


"Mas Reno tidak apa-apa kan?" tanya Novia sambil menoleh ke arah Reno.


"Aku tidak apa-apa, aku malah senang tidak berhubungan lagi dengan dia, dasar wanita penipu! Mengaku hamil anakku, Padahal dia sama sekali tidak hamil!" sungut Reno.


"Sudah lah Mas, yang sudah terjadi Biarkan saja, saat ini yang harus kita hadapi adalah hari depan, kita belajar melupakan masa lalu, dan mencoba memperbaiki diri untuk masa depan!" ucap Novia.


"Iya, aku juga banyak belajar dari pengalaman hidup, Oh ya, apakah kamu sudah makan, aku menunggumu makan malam sama-sama, sudah lama sekali kita tidak makan sama-sama di meja makan!" kata Reno.


"Iya Mas, Ayo kita makan sama-sama, aku juga sudah lapar!" jawab Novia.


Novia kemudian berdiri dan berjalan menuntun Reno menuju ke meja makan, padahal baru saja di rumah sakit Novia makan, tapi demi menyenangkan hati Reno, Novia terpaksa sedikit berbohong, mengatakan kalau dia lapar dan belum makan.


Sisa makanan yang tidak habis di rumah sakit tadi, sengaja Novia abaikan tetap tergantung di gantungan motor, dia lebih memilih mengorbankan sisa makanan itu, daripada mengorbankan kenyamanan Reno.


"Besok pagi aku ingin menjenguk Vio, bisakah kamu menemaniku?" tanya Reno sambil menyuap kan makanan ke mulutnya.


"Lho, memangnya kenapa kalau aku ke rumah sakit? Lagi pula aku merasa kondisiku semakin membaik, wajar kan kalau aku ingin sekali menjenguk anakku!" sahut Reno.


"Iya Mas!" ucap Novia.


Meskipun kondisi perekonomian mereka masih belum stabil, ditambah lagi hutang yang harus dibebankan oleh Reno yang tak kunjung selesai, namun Novia melihat ada semangat baru di atas diri Reno, setidaknya dia tidak terlihat terpuruk dan depresi seperti sebelumnya.


Ting ... Tong ...


Tiba-tiba terdengar suara bel dari arah depan gerbang, Mbak Darmi dari arah dapur berjalan cepat ke depan untuk membukakan pintu gerbang rumah itu.


Sementara Reno dan Novia melanjutkan makan malam mereka.


"Ada tamu di depan, katanya mau bertemu dengan Pak Reno!" kata Mbak Darmi yang kembali masuk menemui Novia dan Reno.


"Siapa tamunya Mbak?" tanya Novia.


"Katanya namanya Pak Lukman, katanya dia ingin bertemu dengan Pak Reno!" jawab Mbak Darmi.


"Oh iya iya mbak, aku memang ada janji dengan Pak Lukman, ya sudah kalau begitu aku langsung ke depan ya!" sahut Reno yang kemudian langsung mengambil minumnya dan minum, kemudian berdiri lalu berjalan ke depan ke arah ruang tamu, padahal makanannya belum dihabiskan.


Novia yang melihat itu nampak bingung, tidak biasanya Reno janjian sama orang, siapa sebenarnya Pak Lukman itu? Kenapa Reno begitu bersemangat sekali bertemu dengan dia.


Novia kemudian cepat-cepat menyelesaikan makannya, setelah itu dia menyusul Reno ke ruang tamu. Reno nampak asyik berbincang dengan orang yang namanya Pak Lukman itu.

__ADS_1


"Novia Ayo duduk sini, Kenalkan ini Pak Lukman, dia adalah seorang Notaris yang handal!" kata Reno memperkenalkan.


Novia kemudian menjabat tangan Pak Lukman, setelah itu dia duduk di samping Reno.


"Jadi bagaimana Pak Reno, kapan kita akan mengadakan pertemuan penjual dan pembeli, guna menandatangani surat akte jual beli?" tanya Pak Lukman.


"Sebentar, ini maksudnya apa ya? surat balik nama apa maksudnya?" tanya Novia tidak mengerti.


"Oh, rupanya Bu Novia belum tahu ya, Pak Reno ini menjual rumah ini, kebetulan ada pembeli yang berminat dengan rumah ini saat mereka melihat dari luar, mereka sudah benar-benar berminat, dan Saya adalah orang yang mengurusi jual beli rumah ini Bu!" jelas Pak Lukman.


"Beneran Mas? jadi kamu menjual rumah ini Mas?" tanya Novia tidak percaya sambil menatap ke arah suaminya itu.


"Iya Novia, maafkan aku ya, mungkin dengan menjual rumah ini kesulitan kita akan bisa teratasi, aku bisa membayar hutang-hutang meskipun kita harus pindah ke rumah yang lebih kecil!" jawab Reno menunduk.


"Tapi kenapa mas Reno tidak bicarakan dulu padaku? Kan kita bisa berdiskusi mengenai penjualan rumah ini, lagi pula harga rumah ini juga tidak sebanding dengan hutang-hutang yang harus Mas Reno tanggung!" ungkap Novia.


"Iya aku tahu Nov, tapi paling tidak kamu tidak terus-menerus membayar sedikit-sedikit untuk mencicil hutang yang tak kunjung lunas itu, kalau tidak dengan cara ini, dengan cara Apalagi kita bisa melampaui semuanya ini?" tanya Reno.


Novia terdiam mendengar ucapan Reno, meskipun tindakan Reno sedikit membuat Novia kecewa, karena setidaknya rumah ini adalah milik mereka berdua, tapi Reno mengambil keputusan sepihak.


Namun sebagai seorang kepala keluarga, maksud Reno adalah untuk menyelamatkan keluarga ini dari keterpurukan, Novia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia pasrah saja apa yang menjadi keputusan Reno.


"Jadi bagaimana Pak, Bu? Kalau memang kalian masih ingin berdiskusi, saya berikan kesempatan, kalian pikir-pikir saja dulu sebelum tanda tangan Akta Jual Beli, dan saya akan pamit pulang sekarang!" kata Pak Lukman sedikit mengagetkan Reno dan Novia.


"Baiklah Pak Lukman, nanti untuk kepastiannya saya akan pastikan telepon Bapak, sepertinya saya memang perlu bicara dengan istri saya dulu, supaya sama-sama enak!" jawab Reno.


Tak lama kemudian Pak Lukman pamit dari rumah Reno, Setelah Pak Luman pergi Reno kemudian menuntun Novia untuk masuk ke dalam kamarnya, dia bermaksud untuk bicara dari hati ke hati dengan istrinya itu.


Setelah mereka masuk ke dalam kamar, Mereka kemudian duduk bersandar di dipan tempat tidur mereka, namun mereka masih saling diam, belum ada yang memulai pembicaraan, suasana menjadi hening seketika.


"Mas, kalau memang kamu ingin menjual rumah ini untuk membayar hutang-hutang itu, lalu kita akan tinggal di mana?" tanya Novia.


"Kita akan tinggal di rumah yang lebih kecil, sebagian uang hasil menjual rumah ini kita belikan rumah kecil, untuk kita tinggal, setelah itu sisa uangnya baru untuk membayar hutang-hutang itu!" jawab Reno.


"Jangankan sebagian uang Mas, seluruh uang dari penjualan rumah ini pun masih belum cukup untuk melunasi hutang-hutang yang jumlahnya fantastis itu!" gumam Novia.


"Bukan cuman itu saja, aku juga akan menjual Semua aset-aset perusahaan yang masih sisa, menjual saham-saham, meskipun kini usahaku sudah tidak produktif lagi, tapi paling tidak masih ada beberapa aset yang bisa dijadikan uang!" kata Reno.


Novia terdiam beberapa saat lamanya, sesungguhnya hatinya begitu miris, sesuatu yang sudah dibangunnya dari nol bahkan dari sejak Reno bujangan dulu, Kini harus berakhir begitu saja.


Dalam hati Novia begitu kasihan pada Reno saat ini, dia benar-benar terpuruk dan tidak berdaya, Ditambah lagi dengan keadaan kondisi fisiknya yang belum 100% pulih, apalagi saat ini Vio juga sakit dan dirawat di rumah sakit.


Ada Butiran hangat yang mengalir dari kedua bola mata Novia, saat ini dia bisa merasakan apa yang Reno rasakan sebagai seorang kepala keluarga.


"Jangan menangis Novia, aku tidak bisa melihatmu menangis, anggap saja ini adalah suatu karma yang harus aku bayar atas setiap kesalahan-kesalahanku di masa lampau!" ucap Reno sambil mengusap kedua pipi Novia dengan kedua tangannya.


"Tidak Mas, ini bukan Karma, kesalahanmu bukanlah kesalahan yang besar, lagi pula Tina juga tidak hamil beneran kok, semua itu hanya pura-pura, karena Tina begitu iri padaku, kamu hanya terjebak di dalam situasi ini!" ungkap Novia.


"Ya, Tapi tetap saja, walau Bagaimanapun aku pernah mengkhianatimu meskipun Hanya Sekejap!" ujar Reno.


"Mas Reno, akulah yang bersalah padamu, akulah yang menyimpan rahasia begitu banyak bahkan selama bertahun-tahun! Itu adalah satu kesalahan yang besar!" ucap Novia yang kini kembali menangis.


"Sudahlah Novia, yang lalu Biarlah Berlalu, masih banyak badai yang harus kita hadapi di depan, lagi pula kalau tidak karena kebohonganmu itu, mungkin sampai saat ini aku tidak pernah tahu kalau aku mandul, dan mungkin saja sampai saat ini tidak akan ada Vio di tengah-tengah kita!" kata Reno.

__ADS_1


Novia kemudian memeluk Reno dan merebahkan kepalanya di dada laki-laki itu, Novia menyadari bahwa Reno memiliki hati yang begitu luas, hanya saja badai-badai kehidupan rumah tangga tidak pernah luput dari siapapun itu, selama dia masih hidup, termasuk dirinya dan Reno suaminya.


Bersambung....


__ADS_2