Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Vio Sakit


__ADS_3

Sejak pulang sekolah, Vio tidur lebih lama dari biasanya, biasanya menjelang sore hari anak itu sudah bangun dan bermain bersama dengan Reno, ataupun ke rumah sebelah bersama dengan David.


Namun sudah jam setengah lima sore, Vio belum juga bangun dari tidurnya, Novia berpikir mungkin Vio kelelahan karena kegiatan di sekolahnya cukup padat, apalagi dia mengikuti lomba antar sekolah sehingga pulang sekolah juga agak terlambat.


"Mbak Darmi, tadi siang sepulang sekolah Vio sudah makan kan?" tanya Novia pada saat dia membantu Mbak Darmi menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Sudah kok Bu, cuma yang biasanya habis, tadi cuman makan setengah, katanya Vio ngantuk mau bobo, ya sudah saya antarkan ke kamar, dan dia langsung tidur!" jawab Mbak Darmi.


Sementara Reno nampak duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi, meskipun kini Reno sudah bisa berjalan selangkah demi selangkah dengan menggunakan tongkat, tidak lagi menggunakan kursi roda, tapi tetap saja ruang gerak Reno terbatas, dia tidak bisa berjalan cepat dan melakukan kegiatan seperti dulu dalam keadaan yang normal.


Novia berjalan menghampiri Reno sambil membawakan cemilan pisang goreng, lalu disodorkan pada suaminya itu.


"Ini Pisang gorengnya dimakan mas, mumpung masih panas!" tawar Novia.


"Terima kasih Novia, tumben aku tidak melihat Vio, biasanya dia sudah main lari-larian kalau sore!" kata Reno.


"Iya tuh Mas, sepertinya tidurnya nyenyak sekali, Sebentar aku bangunkan dia deh, sudah waktunya mandi!" jawab Novia yang kemudian langsung beranjak dan berjalan menuju ke kamar Vio.


Ketika Novia membuka pintu kamar Vio, Vio masih nampak berbaring sambil memeluk gulingnya, perlahan Novia mendekati Vio lalu menyentuh bahu anak itu.


"Vio Bangun Nak, ini sudah sore! Vio harus mandi! ayo bangun!" kata Novia sambil sedikit mengguncangkan bahu Vio.


Vio Nampak tak bergeming, matanya masih terlihat terpejam, Novia kemudian langsung membalikkan tubuh Vio, Novia terkejut saat melihat wajah Vio yang pucat dengan bibir yang kebiruan, seluruh tubuh Vio juga dirasakan dingin.


"Ya Tuhan Vio! Apa yang terjadi denganmu! Apakah Vio sakit? Ayo Vio buka mata!" seru Novia sambil terus mengguncangkan tubuh Vio.


Perlahan Vio membuka matanya, mata Vio terlihat pucat dan berwarna kekuningan, tubuhnya juga terlihat begitu lemah.


"Vio tetap di sini ya, Jangan buat mama khawatir, Mama akan ambilkan air putih untuk Vio!" kata Novia yang kemudian langsung dengan cepat keluar dari kamar Vio, dan setengah berlari menuju ke dapur.


Reno yang melihat Novia berjalan cepat dari arah kamar Vio terheran-heran melihatnya.


"Ada apa Novia? Kenapa kamu jalan seperti orang dikejar setan begitu?" tanya Reno.


"Vio Mas! Mukanya pucat tapi tubuhnya tidak panas, malah dingin, aku takut terjadi apa-apa pada Vio!" jawab Novia.


"Ya Tuhan, aku harus lihat keadaannya!" sahut Reno yang kemudian berusaha untuk bangkit dan berjalan sedikit tertatih menuju ke kamar Vio.


Sementara Novia terlihat bingung, setelah mengambil air putih, Novia seperti orang yang linglung, dia menyadari bahwa saat ini kondisi keluarganya sedang krisis keuangan.


Novia berpikir, bagaimana caranya untuk membawa Vio ke rumah sakit, sementara uang gajinya pun diam-diam sudah dia bayarkan ke bank untuk menambah uang pembayaran hutang Reno.


Novia nampak berdiri terpaku sambil bengong di dapur, sementara tangannya memegang segelas air putih. Entah kenapa Novia jadi merasa bingung, kini pikiran-pikiran negatif mulai berkecamuk dalam dirinya.


Mbak Darmi yang melihat dari arah ruang laundry mengerutkan keningnya, karena heran melihat Novia yang seperti sedang kebingungan itu, kemudian wanita paruh baya itu melangkah mendekati Novia.


"Bu, Ibu kenapa? kok kayak orang bingung?" tanya Mbak Darmi.


"Mbak, Vio sakit, dia lemas dan wajahnya pucat, aku bingung Mbak, uang tabungan sudah menipis dan asuransi kesehatan kami pun sudah lama tidak aktif, aku takut terjadi sesuatu pada Vio!" gumam Novia.


"Jadi Vio sakit Bu? Pantas saja sejak pulang sekolah tadi, kok dia kelihatan lemas, Ibu jangan khawatir, saya masih punya uang tabungan, selama ini saya menyisihkan uang gaji saya untuk ditabung, dan mudah-mudahan saja bisa membantu kesulitan ibu dan bapak!" ucap Mbak Darmi.


Novia menatap wajah Mbak Darmi dengan tatapan dalam, dia tidak menyangka kalau asisten rumah tangga yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun di rumah ini, akan berinisiatif untuk membantunya melalui uang tabungannya, dalam hati Novia merasa malu dan terharu.

__ADS_1


"Tidak Mbak, uang tabungan itu adalah hak Mbak Darmi, meskipun saat ini Kami sedang kekurangan, tapi bukan berarti kami harus memakai uang tabungan Mbak Darmi, Jangan mbak!" kata Novia.


"Bu, saya sudah bisa di sini, tinggal, makan dan melayani Bu Novia dan Pak Reno, sudah suatu kebahagiaan buat saya, Apalagi saya ini sebatang Kara, apalah arti uang tabungan saya, dibandingkan dengan kebaikan Bapak dan Ibu selama ini!" ucap Mbak Darmi.


Novia kemudian langsung memeluk Mbak Darmi sambil menangis, ada rasa haru yang membuncah kian dalam dalam diri wanita itu, Mbak Darmi bahkan lebih daripada seorang saudara di rumah ini.


"Terima kasih Mbak, Aku hargai semua ketulusan dan keikhlasan Mbak Darmi, tapi Mas Reno pasti akan keberatan, sementara biar kami hadapi saja dulu sendiri masalah ini, yang penting saat ini Vio segera diobati!" ujar Novia.


Kemudian Novia mengurai pelukannya, dan dia kembali berjalan cepat menuju ke kamar Vio untuk memberikannya air putih


Di kamar Vio, Reno nampak sedang memangku Vio yang posisinya sedang berbaring, wajah Reno juga terlihat bingung, bahkan untuk menggendong Vio pun dia tidak mampu karena kakinya yang masih belum kuat menopang.


Dengan Sigap Novia kemudian mengambil alih Vio dan berusaha memberikan Vio air putih, Vio Minum sedikit dan tiba-tiba saja dia muntah, Hal itu membuat Reno dan Novia bertambah panik.


"Kita bawa Vio ke rumah sakit saja ya Mas!" kata Novia.


"Bagaimana caramu membawa Vio? Bahkan kini mobil kita dua-duanya sudah dijual, hanya ada sepeda motor!" jawab Reno.


"Kita pinjam mobil David saja Mas, dalam kondisi seperti ini, David pasti akan meminjamkan mobilnya pada kita, aku pinjam mobil David ya Mas kasihan Vio kalau terlalu lama di sini!" usul Novia.


"Tapi Novia .... "


"Sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir Mas, saat ini keselamatan Vio yang paling utama, abaikan semua perasaan-perasaan yang membuat Vio lebih lama di sini!" potong Novia cepat, sebelum kemudian dia melesat keluar dari kamar Vio menuju ke rumah David.


Sementara Reno hanya membiarkan saja istrinya itu pergi ke rumah David, sambil sesekali mengelus rambut Vio untuk memberikan ketenangan dan kekuatan, tubuh Vio semakin dingin, bahkan kini wajahnya terlihat semakin pucat.


Sebagai seorang suami, dan seorang ayah, Reno merasa benar-benar tidak berguna dan rendah diri di hadapan keluarganya sendiri, Bahkan dia tidak mampu untuk membawa Vio ke rumah sakit.


Reno menggigit bibirnya, ada rasa penyesalan yang sangat dalam, kesalahan di masa lampau membuat posisinya kini sangat susah dan bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Sementara Novia kini sudah berada di depan gerbang rumah David, Novia nampak memencet bel rumah David beberapa kali, mungkin karena saking sibuknya David sampai tidak mendengar kedatangan Novia, namun setelah beberapa kali Novia mencoba memanggil David, David akhirnya nampak keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menuju ke gerbang, dia mengerutkan keningnya saat melihat Novia datang kepadanya.


"Novia, ada apa?" tanya David.


"David, saat ini aku butuh bantuanmu! Vio sakit David, Sepertinya dia harus segera dibawa ke rumah sakit!" jawab Novia dengan nafas tersengal-sengal.


"Apa? Vio sakit? Baiklah kalau begitu, kita ke sana sekarang ya!" kata David yang kemudian langsung menarik tangan Novia untuk masuk ke dalam rumahnya, guna melihat keadaan Vio.


Mereka kemudian langsung berjalan menuju ke kamar Vio, David yang melihat Vio dalam keadaan seperti itu, dia menangis dan syok.


" Vio! Apa yang terjadi padamu nak? Ayo kita ke rumah sakit cepat!" seru David yang kini mulai terlihat panik.


Dengan cepat David kemudian mengambil Vio dalam pangkuan Reno, lalu membawanya keluar dan langsung masuk ke dalam mobil, Novia mengikutinya dari belakang, sementara Reno hanya duduk tanpa bisa berbuat apa-apa, untuk berlari mengejar mereka pun, Reno tidak sanggup.


Tanpa banyak bertanya lagi, David kemudian langsung melajukan mobilnya itu menuju ke rumah sakit, sementara Novia memangku Vio, yang tubuhnya terlihat semakin lemah.


"Kenapa tidak sejak awal kau membawa dia ke rumah sakit!" kata David.


"Tadi pulang sekolah dia baik-baik saja, aku pikir dia tidur begitu nyenyak, tapi setelah aku masuk kamarnya, dia sudah seperti ini, mana aku tahu David!" ujar Novia.


Setelah itu David nampak ngebut-ngebutan di Jalan, David juga terlihat panik saat melihat Vio tak lagi bersuara, bahkan matanya kini terpejam.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit, dengan cepat David kemudian menggendong Vio dan melarikannya ke UGD.

__ADS_1


Seorang dokter dan beberapa perawat langsung memeriksa kondisi Vio, sementara David dan Novia menunggu di luar ruang UGD.


David nampak gelisah dan berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu, sementara Novia duduk di bangku yang ada di depan ruangan itu sambil sesekali mengusap air matanya.


Seorang dokter kemudian keluar dari ruang UGD, dengan cepat David menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya David cepat.


"Keadaan anak Anda terlihat lemah, kami mendiagnosa Dia terkena hepatitis atau sakit kuning, tapi untuk lebih jelasnya kami akan melakukan beberapa tes di laboratorium!" jawab sang dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter, asalkan dia bisa sehat seperti sedia kala!" ujar David.


"Iya, kalian tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik, mudah-mudahan saja dia tidak terkena penyakit yang membahayakan!" ucap sang dokter yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.


David kemudian membuka pintu ruangan itu, lalu dia masuk ke dalam disusul oleh Novia, Vio nampak berbaring dengan selang infus yang kini menancap di tangannya. Beberapa perawat juga nampak sedang memeriksa dan memberikan Vio beberapa suntikan termasuk pengambilan sampel darah.


"Bapak ibu, setelah ini Vio akan dipindahkan ke ruang perawatan, sambil menunggu hasil tes lab!" kata seorang suster.


"Iya suster, terima kasih, yang penting saat ini Vio baik-baik saja!" ucap Novia yang kini duduk di samping Vio lalu menggenggam tangannya.


Tangan itu tak lagi dingin, ada kehangatan yang dirasakan oleh Novia, menandakan kalau suhu tubuh Vio juga berangsur normal.


Tak lama kemudian, beberapa suster sedang memindahkan ranjang Vio ke ruang perawatan, Novia dan David mengikutinya dari belakang hingga mereka sampai di salah satu ruang rawat kelas 1.


"Suster, Bisakah ruangannya diturunkan kelasnya? kelas 3 juga tidak apa-apa suster, yang penting anak saya bisa ditangani!" kata Novia tiba-tiba.


"Oh, jadi ibu mau pindah ke kelas 3? saya kira di kelas 1 Bu, dulu kan Papanya pernah dirawat di sini!" kata Suster itu.


"Iya suster, tapi sekarang tidak apa-apa turun ke kelas 3 saja!" Jawab Novia.


"Tidak! biarkan dia tetap di kelas 1, kau ini apa-apaan Novia, Kenapa Vio kamu pindahkan ke kelas 3? kau ini bagaimana sih, dia juga harus punya tempat yang nyaman untuk kesembuhannya!" ujar David tiba-tiba.


"David, kau tahu kan Bagaimana kondisi keuangan keluargaku? Saat ini bukan waktunya lagi untuk Gengsi, jujur uang tabunganku sudah menipis, dan aku juga masih punya beban kesehatannya Mas Reno, belum lagi hutang-hutangnya tak kunjung lunas itu, aku mohon kamu Jangan menghalangi permintaanku untuk turun kelas!" ungkap Novia.


"Oke aku paham! Tapi kau jangan lupa Vio itu kan anakku, Darah dagingku! Jadi aku berhak memberikan anakku yang terbaik, biarkan dia tetap di kelas 1, semua biaya aku yang tanggung!" tegas David.


"tapi David ...."


"Suster, masukkan Vio ke ruang kelas 1, kalau ada tambahan biaya apapun, atau uang administrasi apapun, laporkan ke saya jangan lapor ke siapapun!" kata David.


"Baik Pak!" sahut sang Suster itu yang kemudian kembali mendorong ranjang Vio untuk masuk ke dalam ruang perawatan kelas 1.


Mau tidak mau Novia menyetujui usul David, Dia sudah tidak ada pilihan lagi, David juga tidak akan pernah setuju Kalau Vio harus turun ke kelas 3, hanya karena demi penghematan biaya rumah sakit.


"David, kamu membuat aku berhutang lagi padamu!" kata Novia.


"Kamu ini bicara apa? Siapa yang bilang ini adalah hutang? Apa kau tidak dengar tadi aku bicara apa? Vio itu Anakku, darah dagingku! wajar sebagai ayah aku tanggung jawab untuk membiayai semua perawatan dia!" jawab David.


"Tapi dengan sikapmu yang seperti ini, akan membuat Mas Reno menjadi sedih!" ujar Novia.


"Kamu tidak usah pusing Novia, Lagian Reno juga sudah tahu kan kalau Vio itu anakku, dia juga pasti setuju Kalau aku yang membiayai seluruh perawatan Vio, karena aku ini kan Ayah kandungnya, Reno juga tidak bisa berbuat apa-apa!" ungkap David.


Novia terdiam mendengar kata-kata David, Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh David itu, memang benar Reno kini telah tahu bahwa Vio bukan darah dagingnya, Vio adalah anak David, dan Novia juga tahu kalau Reno pun tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Tapi entah mengapa, Novia tidak tega kalau Reno tahu semua pengobatan biaya di rumah sakit ini David yang menanggung, itu pasti akan membuat Reno semakin tidak percaya diri, dan membuat Reno merasa gagal menjadi seorang ayah dan juga kepala keluarga.


Bersambung ....


__ADS_2