Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Nasihat Bunda Lasmi


__ADS_3

Novia mengerjapkan matanya saat dirasakannya ada cahaya hangat yang menerpa wajahnya.


Jendela kamarnya sudah terbuka, cahaya terangnya menerobos masuk menerangi seluruh kamar itu, Vio tidak terlihat berada di kamar itu, Sepertinya dia sudah bangun, biasanya Bunda Lasmi yang selalu membuka jendela kamar itu setiap kali Novia bangun kesiangan. Memang sejak kecil Novia tidak pernah mengunci pintu kamar saat dia tidur.


Entah mengapa Novia tidur begitu nyenyak, mungkin karena dia sangat lelah dan mengantuk, karena beberapa malam belakangan ini Novia sangat kurang tidur, Novia hanya bisa tertidur beberapa jam saja setelah itu dia akan terjaga.


Apalagi sejak Reno jarang pulang, Novia selalu menunggunya, makanya dia sangat kurang tidur.


Namun malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Novia tidur begitu nyenyak, seolah beban yang terasa berat lenyap seketika, pada saat dia berada di rumah Bunda Lasmi, karena Aura rumah ini memang menyimpan ketenangan dan kedamaian.


Novia kemudian bangkit, membuka lebar-lebar jendela kamarnya itu, menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih terasa sejuk.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar Novia dibuka dari luar, Bunda Lasmi masuk sambil membawakan susu hangat untuk Novia, dan diletakkannya di atas meja yang ada di sudut kamar itu, kemudian wanita paruh baya itu menyusul Novia berdiri di depan jendela yang terbuka lebar itu.


"Selamat pagi sayang, ternyata kamu sudah bangun! Bagaimana tidurnya semalam? Enak?" tanya bunda Lasmi.


"Semalam aku nyenyak tidur Bunda, Oh ya di mana Vio? Tumben dia sudah bangun pagi-pagi!" jawab Novia.


"Vio sedang bermain sambil disuapi oleh Mbok Karsih, Novia, sebenarnya kamu Ada masalah apa dengan Reno? Coba ceritakan pada Bunda!" ucap Bunda Lasmi.


Novia menarik nafas panjang, dia tidak langsung menjawab Bundanya itu, matanya menerawang melihat hamparan kebun yang ada di balik jendela kamarnya itu.


"Bunda, Bagaimana menurut Bunda jikalau aku menggugat cerai Mas Reno?" tanya Novia.

__ADS_1


Seketika Bunda Lasmi terhenyak mendengar ucapan dari Novia, seperti mendengar petir yang menggelegar di siang bolong.


"Apa? Menggugat cerai? Memangnya kesalahan apa yang Reno perbuat sehingga kamu gugat cerai dia?" tanya bunda Lasmi.


Novia terdiam beberapa saat lamanya, kembali dia mengingat peristiwa itu, saat di ketahui bahwa Reno telah berselingkuh dan bahkan menikahi Tina, sahabatnya sendiri. Hatinya begitu sakit dan perih, hingga air matanya kini kembali bergulir.


"Novia, seburuk apapun pengalamanmu, Bunda tetaplah orang tuamu, kamu menceritakan masalahmu bukan berarti Bunda ikut campur dengan rumah tanggamu, tapi tidaknya kamu butuh orang lain untuk mencurahkan isi hatimu!" ucap Bunda Lasmi sambil mengusap lembut bahu Novia kemudian memeluknya dengan erat.


Di dalam pelukan Bunda Lasmi, Novia menangis sejadi-jadinya, seolah mencurahkan semua perasaannya, semua derita dan semua beban hidupnya pada Bundanya itu.


"Mas Reno Bunda, mas Reno telah berselingkuh! Bukan hanya itu saja, dari hasil Perselingkuhan itu bahkan ada janin yang tumbuh, dan kini Mas Reno telah menikah dengan selingkuhannya itu!" ucap Novia terbata-bata.


"Apa? Kurang ajar Reno! Bunda tidak menyangka menantu yang selama ini Bunda banggakan bahkan lebih rendah daripada binatang! Bunda akan buat perhitungan padanya!" geram Bunda Lasmi.


"Percuma Bunda, semuanya sudah terjadi, tidak akan ada yang bisa diperbaiki lagi, saat ini aku hanya butuh ketenangan, sekarang prioritas Hidupku hanya Vio, karena hanya dia yang aku miliki saat ini!" kata Novia.


"Sudahlah Bunda! Izinkan aku disini sementara waktu untuk menenangkan diri, itu saja sudah cukup!" ucap Novia.


"Iya sayang, ini adalah rumahmu, kapanpun dan sampai berapa lama pun kamu di sini bunda akan mengizinkannya dan dengan senang hati, sekarang lebih baik kamu turun dan sarapan, tubuhmu juga butuh nutrisi!" kata Bunda Lasmi yang kemudian langsung merangkul Novia dan berjalan keluar dari kamar itu menuju ke ruang makan.


Vio nampak sedang bermain di halaman rumah Bunda Lasmi yang luas itu, bermain kejar-kejaran bersama dengan beberapa asisten rumah tangga Bunda Lasmi.


Novia mulai menyantap makanannya yang sudah tersedia di atas meja makan itu, sambil memandang ke arah halaman dari kaca yang besar, yang ada di rumah Bunda Lasmi, dia masih sama seperti kemarin tidak berselera untuk menikmati makanan meskipun hanya sedikit, entah kenapa separuh jiwanya serasa hilang dan hatinya begitu sakit, sampai menusuk tulang belakang yang membuat dadanya merasa sesak.


"Wajahmu kelihatan pucat, sepertinya pikiranmu juga sedang kacau, jangan sampai kamu sakit nak, paling tidak ada Vio yang seharusnya menjadi semangatmu!" ucap Bunda Lasmi.

__ADS_1


"Iya Bunda, mungkin lebih baik aku berpisah saja dengan mas Reno, apalagi yang harus aku pertahankan!" kata Novia.


"Siapa bilang tidak ada yang dipertahankan? Vio bisa menjadi satu-satunya alasan untuk mempertahankan rumah tangga kalian, tapi Reno itu memang sudah keterlaluan, dan bunda akan memberikan dia pelajaran! Tapi satu hal yang kamu harus tahu manusia bisa khilaf!" tutur Bunda Lasmi.


"Tidak Bunda, aku sudah tidak bisa menerima lagi Mas Reno menjadi pendampingku! Lebih baik aku hidup sendiri saja bersama dengan Vio!" sergah Novia.


Novia menggelengkan kepalanya, Vio bukanlah alasan utama untuk bisa menerima Reno kembali, karena Novia sendiri tidak yakin kalau Vio adalah anak dari Reno, mungkin jalan satu-satunya memang Novia harus mengakhiri rumah tangganya bersama dengan Reno.


Tiba-tiba Mbok Karsih datang menghampiri Bunda Lasmi dan Novia yang masih duduk di meja makan itu.


"Ada apa Mbok Karsih?" tanya bunda Lasmi.


"Anu Bunda, itu di depan ada papanya Vio! sekarang Vio sedang bersama Papanya di depan!" kata mbok Karsih.


"Apa? Jadi Reno menyusul ke sini? cepat sekali dia!" sahut Bunda Lasmi yang kemudian berdiri dari duduknya.


Sementara Novia tidak beranjak dari tempatnya, dia sudah tahu kalau Reno akan menyusulnya ke Semarang, karena Reno sendiri yang bilang pada Novia kalau dia akan menyusulnya ke Semarang.


"Itu suamimu datang, kamu tidak datang untuk menyuruhnya masuk?" tanya bunda Lasmi sambil menatap ke arah Novia.


"Bunda saja yang temui dia, aku tidak ingin lagi bertemu dengan Mas Reno!" jawab Novia.


"Baiklah, Bunda paham apa yang kamu rasakan, biar Bunda saja yang menghadapi dia, sekalian bunda akan introgasi dia, kamu di sini saja, habiskan makananmu! "sahut Bunda Lasmi yang kemudian langsung melangkah ke arah depan.


Reno nampak menggendong Vio di halaman depan rumah Bunda Lasmi yang luas itu, sepertinya Reno dan Vio menyimpan Kerinduan antara anak ayah dan anak. Mereka terlihat berbicara sambil tertawa.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2