
Novia masih duduk menunggu di ruang tamu, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, Vio nampak sudah tidur di kamar ditemani oleh Mbak Darmi, sejak di rumah baru ini, Vio lebih cepat tidur, karena mainannya terbatas, dan ruang geraknya juga terbatas, dia harus belajar menyesuaikan kondisi di rumah baru ini.
Reno juga belum pulang ke rumah, padahal dia pergi Sejak pagi tadi, terakhir Novia menghubungi Reno katanya mau Reno masih terlibat pembicaraan dengan beberapa orang temannya di Jakarta.
Sebuah taksi online tiba-tiba berhenti tepat di depan rumah, Novia buru-buru membuka pintu rumah dan benar saja, Reno nampak turun dari taksi online itu, Novia langsung membukakan pagar rumah itu.
"Mas Reno baru pulang? kok malam sekali?" tanya Novia.
"Hari ini aku banyak mengobrol dengan teman-teman, bertukar pikiran dan pengalaman sampai lupa waktu!" jawab Reno sambil menghempaskan tubuhnya di bangku yang ada di ruang tamu itu.
"Mas Reno Sudah makan belum, Kalau belum makan yuk makan dulu aku temani!" tanya Novia.
"Iya, aku belum sempat makan, tadi setelah selesai aku langsung buru-buru pesan taksi dan langsung pulang ke sini!" jawab Reno.
"Ya sudah kalau begitu, Yuk kita makan dulu, kita ke meja makan sambil ngobrol!" ajak Novia yang kemudian langsung menarik tangan Reno dan berjalan ke meja makan.
Novia kemudian mengambilkan piring dan makanan yang memang sudah disiapkan untuk Reno.
Kemudian Novia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri, karena dia sengaja tidak ikut makan tadi bersama dengan Vio dan Mbak Darmi, karena menunggu Reno pulang. Dan mereka pun makan bersama-sama sambil mengobrol.
"Jadi Apa rencana masa Reno selanjutnya?" tanya Novia.
"Temanku menawarkan bisnis investasi, tapi modalnya juga tidak sedikit, Aku sedang berpikir Apakah aku terima tawaran bisnis itu atau tidak!" jawab Reno.
"Mas, Setahuku bisnis investasi itu seperti kita main judi, kalau untung Ya untung banyak, tapi kalau rugi kita akan Kehilangan, apalagi dengan memakai modal yang besar, menurutku saat ini bukan waktunya untuk memikirkan bisnis seperti itu!" ungkap Novia.
"Iya aku juga berpikir begitu, makanya aku tidak langsung mengiyakan tawaran mereka, Tapi jujur aku bingung mau memulai usaha dari mana, apalagi hutang-hutang juga belum lunas dan Aset juga sudah habis terjual!" kata Reno.
"Sudah lah Mas, setelah ini Mas Reno istirahat saja, besok aku mau mengantarkan Reno ke sekolah yang baru, lumayan sekolahnya tidak terlalu jauh, bisa jalan kaki dari sini!" ujar Novia.
"Oh ya? syukurlah kalau begitu, biar Reno juga punya teman-teman baru, jadi dia ada kegiatan dan aktivitas yang membuat hatinya senang!" jawab Reno.
"Mulai besok aku dan Mbak Darmi juga sudah mulai berjualan nasi uduk dan lauk matang di depan rumah, lumayan Mas buat sehari-hari kita, lagi pula aku melakukan itu dengan senang hati kok, supaya bisa lebih bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar sini!" ungkap Novia.
"Maafkan aku Novia, seharusnya kau tidak perlu bekerja untuk menghasilkan uang! Seandainya aku seperti dulu, memiliki banyak uang aku takkan pernah membiarkanmu bekerja!" ucap Reno.
"Bekerja itu baik Mas Reno, itu melatih kemandirian dan tanggung jawab aku, ambil positifnya jangan terlalu berlarut-larut dengan masa lalu, sudah yuk kita ke kamar, hari sudah makin malam!" kata Novia sambil membereskan meja makan bekas makan mereka.
Mereka kemudian berjalan ke arah kamar mereka, Reno menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, rasanya dia begitu lelah sekali.
****
Pagi itu di tempat kediamannya, Setelah selesai olahraga pagi, David melayangkan pandangannya ke rumah Reno yang kini telah kosong.
Biasanya David selalu melihat ada kehangatan di rumah itu, rumah yang selalu ramai, apalagi saat Dulu mereka sering berolahraga pagi bersama, saat Silvi masih hidup, namun kini semua lenyap begitu saja seolah Ditelan Bumi.
David menghela nafas panjang, Kini dia merasa sepi tidak ada lagi celotehan celotehan Vio yang memanggilnya dari rumah sebelah.
Entah mengapa seolah semangat David sudah hilang, dia seperti tidak ada gairah lagi untuk menatap hari esok, meskipun kini usahanya semakin naik, dan bahkan Kini dia telah mempekerjakan beberapa orang untuk membantu usahanya itu.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa kesepian yang mendalam, David seolah kehilangan pegangan hidup, kehilangan semangat hidup, bahkan tujuan hidup.
Beberapa orang nampak masuk ke dalam rumahnya yang terbuka lebar itu, mereka semua bekerja membantu David mengembangkan bisnis online nya.
David duduk di depan teras rumahnya, ia terus memandang ke arah sebelah rumah yang nampak kosong itu, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya, David merasa hidupnya begitu sepi tanpa melihat ada Novia yang keluar masuk ataupun ada celotehan-celotehan Vio yang memanggilnya.
Tak lama kemudian, datanglah mobil truk besar yang berhenti tepat di depan rumah Reno yang kosong itu.
Lalu disusul dengan sebuah mobil pribadi di belakang mobil truk itu.
Ternyata orang yang membeli rumah Reno akan pindah hari ini ke rumah itu.
Reno berdiri dan keluar dari gerbang rumahnya, menghampiri orang-orang yang mulai menurunkan barang dari dalam mobil truk itu.
Seorang wanita turun dari dalam mobil sambil menuntun seorang anak yang masih berusia balita.
__ADS_1
David tertegun melihat wanita itu, wajah wanita itu mengingatkannya pada seseorang.
"Silvi! Silvi! Kamu Silvi kan!" Panggil David sambil menatap wanita yang terlihat heran melihatnya.
"Silvi? saya bukan Silvi Pak, saya Shinta Calon Penghuni rumah itu!" jawab wanita itu yang ternyata bernama Shinta.
"Oh maaf, aku salah!" ucap David.
"Tidak apa-apa Pak, kalau begitu saya masuk dulu ya!" kata Shinta yang kemudian langsung masuk ke dalam rumah barunya itu.
David Masih Berdiri terpaku di tempatnya, sambil menatap kepergian Shinta, wajah dan suara itu mengingatkannya pada Silvi.
Entah kenapa tiba-tiba Ada kerinduan yang mendalam terhadap Silvi, mendiang istrinya itu yang kini terpisah oleh karena maut.
Meskipun cinta David terhadap Silvi tidaklah sedalam cintanya terhadap Novia, namun Silvi adalah wanita yang menemani hari-harinya meskipun tidak lama.
Namun sayang, Silvi harus pergi mendahului David karena penyakitnya, dan yang lebih terkesan di dalam hati David adalah Silvi pergi dalam keadaan dia mencintai David dan setia sampai akhir hayatnya.
Akhirnya dengan langkah gontai, David pun berjalan ke arah rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya itu. Beberapa orang karyawannya Tengah sibuk mengepak barang memasang label dan memonitor layar komputer.
David pun mulai memantau pekerjaan para karyawannya itu.
****
David menghempaskan tubuhnya di sofa sambil menyalakan televisi, supaya rumah ini tidak terlalu sepi.
Para karyawan nampak baru pulang setelah Mereka menyelesaikan pekerjaan mereka.
Beginilah keseharian David, Dia selalu dilanda kesepian, apalagi kini sudah tidak ada lagi Vio di sebelah rumahnya ataupun Novia yang pernah membantunya bekerja. separuh jiwanya seolah hilang ditelan bumi
Ting ... Tong
Tiba-tiba terdengar suara bel dari arah depan gerbang rumah David, dengan enggan Davin pun bangun dan melangkah menuju ke gerbang depan rumahnya itu.
"Selamat malam Pak, ini ada sedikit makanan buat bapak, Kebetulan saya ada lebih!" kata seorang wanita yang ternyata Shinta, penghuni baru sebelah rumahnya itu.
"Tidak apa-apa kok pak, lagi pula saya baru banget di sini, tidak mengenal siapapun apalagi Kompleks ini terlihat begitu sepi!" kata Shinta.
"Kalau begitu masuk dulu ya Mbak, ngobrol sebentar di teras!" ajak David.
Sinta menganggukkan kepalanya Setelah itu mereka berjalan ke arah teras depan rumah dan mulai duduk di bangku teras itu.
"Bapak tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Shinta.
"Iya, istriku sudah meninggal, sekarang aku sendirian tinggal di sini!" jawab David.
"Kita punya cerita yang hampir mirip Pak, suami saya juga belum lama meninggal, karena di rumah lama kami begitu banyak kenangan, makanya saya harus pindah untuk melupakan semua kenangan-kenangan itu!" ungkap Sinta.
"Oh, jadi Mbak Sinta ini janda juga ya? Ya, saya mengerti Mbak kadang-kadang orang memang harus melupakan sesuatu dengan cara pindah supaya bisa move on!" kata David.
"Iya Pak benar, apalagi di rumah lama saya Anak saya terus menanyakan ayahnya, makanya saya cepat-cepat pindah ke rumah yang saya beli ini!" ucap Shinta.
"Aku juga punya seorang anak laki-laki, tapi dia bukan lahir dari rahim istriku, tapi dari sebuah hubungan terlarang di masa laluku, bersama dengan wanita yang pernah sangat aku cintai!" ungkap David.
"Oh ya? beneran Pak? saya tidak menyangka kalau bapak punya kisah seunik itu!" sahut Sinta.
"Tapi kini wanita itu sudah memiliki keluarga dan anak kami ada bersama mereka, mereka keluarga kecil yang bahagia, dan aku tidak mungkin mengganggu mereka!" ucap David.
"Saya bisa merasakan, pasti Bapak sangat berat sekali, tapi kita tidak pernah tahu takdir Pak, kadang-kadang takdir seolah mempermainkan kita, tapi anehnya dia selalu punya tujuan yang baik!" kata Shinta.
"Iya Kau benar mbak, sekarang Aku pasrah saja dengan takdir, yang akan membawaku ke mana!" gumam David.
"Sudah malam Pak, saya pamit pulang ya Pak, saya takut anak saya terbangun lalu mencari saya!" pamit Sinta yang kemudian langsung berdiri dari tempatnya.
"Iya, silakan Mbak, Terima kasih lho untuk makanannya, nanti setelah ini saya pasti langsung makan!" jawab David yang ikut berdiri dan mengantarkan Sinta sampai di depan gerbang rumahnya itu.
__ADS_1
****
Pagi ini di depan rumah Novia yang baru, nampak beberapa orang berkerumun, karena pagi ini adalah pertama kalinya mereka jualan di depan rumah.
Novia pandai membuat strategi Marketing, sebelum dia memulai dagangannya terlebih dahulu dia membuat spanduk dan brosur yang akan disebarkan di sekitar daerah rumah mereka, untuk menarik pelanggan, hingga pagi ini Mereka terlihat kewalahan.
"Wah makanan kita sudah mulai habis Mbak!" seru Novia senang saat melihat beberapa sisa makanan, karena hari ini jualan mereka Laris Manis.
"Iya Ya Bu, tidak menyangka serame ini, untung saja kemarin itu ibu membuat selebaran kalau di sini jual makanan!" jawab Mbak Darmi.
"Iya dong Mbak, ini namanya Promosi, kalau tidak begini orang-orang mana tahu!" sahut Novia.
"Nasi uduknya masih ada Bu?" tanya seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, sementara ibu-ibu Yang lain sudah terlihat bubar teratur.
"Wah masih ada satu porsi lagi!" jawab Novia.
"Tidak apa-apa deh, satu porsi dibungkus, terus itu sisa-sisa makanan matangnya saya beli saja ya, Biarin sisa juga tidak apa-apa!" kata ibu itu.
"Siap, Ditunggu sebentar ya Bu!" kata Novia.
Mbak Darmi kemudian mulai menyiapkan pesanan Ibu tadi, dibantu oleh Novia yang membungkus beberapa lauk matang yang masih tersisa di meja itu.
"Padahal baru pertama kali jualan ya Bu, Sudah seramai itu, nanti lama-lama kedainya Ibu jadi viral nih!"kata ibu tadi.
"Ya kebetulan saja mungkin, namanya kalau baru jualan itu kan orang penasaran mau mencicipi bagaimana rasanya, mudah-mudahan saja besok akan tetap sama!" jawab Novia.
"Ini sudah Bu nasi uduknya, semuanya Total jadi Rp25.000 beserta lauk-lauk matangnya!" kata Mbak Darmi sambil menyodorkan bungkusan pada ibu itu.
"Terima kasih ya, itu uangnya kembaliannya ambil saja deh, Mana tahu besok-besok saya lagi tidak ada uang, saya kan bisa minta sedikit!" kata ibu itu.
"Oh terima kasih Bu, silakan saja Ibu mampir, kadang-kadang kalau memang orang perlu makan tidak harus membeli pakai uang, kalau memang tidak ada uang!" jawab Novia.
Ibu itu pun tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan Novia dan Mbak Darmi yang tangannya masih sibuk membereskan tempat-tempat makanan kosong karena memang sudah habis terjual semua.
"Mbak Darmi Tolong dicuci semua piring dan perabotnya ya, aku mau beresin meja ini ya Mbak!" kata Novia.
"Iya Bu, saya langsung beres-beres di dapur ya, biar nanti kalau Vio pulang sekolah sudah rapi semua!" jawab Mbak Darmi yang langsung membawa piring-piring dan perabot kotor ke belakang.
Sementara Novia masih membereskan meja dan mengelapnya, tiba-tiba Reno dari arah luar berjalan menghampiri Novia.
"Eh Mas Reno sudah kembali, hari ini dagangan kita Laris Manis Mas, bahkan tidak ada sisa sama sekali! mudah-mudahan besok juga begitu ya Mas!" kata Novia antusias.
"Ya bagus dong, baru hari pertama saja sudah Laris manis! Tapi ada berita yang lebih penting dari itu sayang!" jawab Reno.
"Berita penting apaan Mas?" tanya Novia.
"Tadi ada pengacara yang menelponku, katanya Semua hutang-hutang perusahaan sudah beres dan saham-sahamnya pun sudah kembali atas Namaku, itu berarti aku bisa kembali mengelola perusahaan itu!" jawab Reno.
"Serius Mas? kok bisa sih?" tanya Novia bingung.
"Aku juga heran Nov, sepertinya ada orang yang membantu dibalik ini semua, tapi aku tidak tahu bagaimana strateginya, Karena pengacara itu pun tidak mengatakan apa-apa padaku!" jawab Reno.
"Kalau nanti kamu mengelola perusahaanmu lagi, berarti kita akan pindah lagi dong ke Jakarta?" tanya Novia.
"Iya sih, mau tidak mau ya Kita pindah lagi, tidak tahu lah takdir mau membawa kita ke mana, tapi yang pasti besok aku akan ke Jakarta menandatangani surat penting!" jawab Reno.
Novia terdiam, baru saja dia pindah ke tempat ini, baru saja dia merintis usahanya untuk berjualan makanan, namun tiba-tiba ada berita mengenai usaha Reno yang tiba-tiba menjadi pulih seketika.
Entah dari mana asalnya semua hutang bisa lunas bahkan semua aset sudah kembali atas nama Reno, rasanya ini tidak masuk akal, dan tidak mungkin terjadi.
Tapi Novia berpikir itulah takdir, seringkali takdir tanpa bicara tapi memberikan jawaban, takdir memberikan kejutan-kejutan yang tidak pernah terduga.
"Novia, kalau memang aku akan kembali bekerja mengelola usahaku di Jakarta, kamu mau tinggal di sini bersama dengan Vio dan Mbak Darmi atau ikut aku lagi pindah ke Jakarta?" tanya Reno.
"Mas Reno, sebagai istri kemanapun suaminya pergi, Aku pasti ikut Mas Reno, tidak masalah pindah rumah juga, karena kebersamaan itu penting di atas segalanya!" ucap Novia.
__ADS_1
Reno kemudian memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, dalam hati dia berjanji dia tidak akan pernah mau melepaskan Novia untuk siapapun termasuk untuk David, karena Reno akan berjuang semampunya untuk bangkit lagi dari keterpurukan dan mensejahterakan keluarganya.
Bersambung ....