
Novia tiba di rumahnya sekitar pukul 08.00 malam, setelah dia terjebak macet yang sangat parah di jalanan tadi.
Suasana rumah sudah kelihatan sepi, tidak ada terdengar tangisan Vio, padahal Novia tidak tenang karena Vio sangat rewel kata Mbak Darmi.
Novia kemudian langsung berlari kecil menuju ke kamarnya.
Reno nampak duduk sambil bersandar di dipan tempat tidurnya Itu, dengan memejamkan matanya dan sambil menggendong Vio, ada beberapa botol susu di sana.
Vio nampak tertidur di dalam gendongan Reno, mungkin saja dia kelelahan menangis, wajah Reno pun terlihat sangat lelah.
Perlahan Novia maju mendekati mereka lalu mengambil alih Vio yang ada dalam gendongan Reno, sehingga Reno yang ketiduran nampak terkejut.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Reno.
"Sudah Mas, Maafkan aku Mas, aku tidak menyangka kalau macetnya separah ini, Maafkan Aku!" ucap Novia sambil mendekap Vio yang kini ada dalam pelukannya.
"Sudahlah sayang, lebih baik kamu letakkan saja Vio di tempat tidurnya, sepertinya dia kelelahan menangis, karena seharian ini dia rewel kata Mbak Darmi!" ujar Reno.
Novia menganggukkan kepalanya, kemudian dia meletakkan pelan-pelan Vio di atas box bayi yang ada di samping tempat tidurnya itu.
Setelah itu Novia langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sekali.
Sementara Reno kemudian melanjutkan memejamkan matanya, dan mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan kalau dia juga sudah mulai tertidur.
Novia kemudian menyiram seluruh tubuhnya dengan air shower, rasanya begitu dingin di tubuhnya, sengaja dia tidak menyalakan air hangat, sekalian untuk mendinginkan pikirannya.
Reno begitu sabar dan tidak ada kemarahan sedikitpun yang terpancar darinya, mungkin kalau suami yang lain bisa saja marah atau menegur Novia, karena meninggalkan bayinya begitu lama.
Setelah selesai mandi, Novia kemudian menyusul Reno di sampingnya, dirinya juga merasa sangat lelah.
Oweeeek ... Oweeek ... Oweeeek
Tiba-tiba kembali terdengar suara tangisan Vio, buru-buru Novia bangkit dan mengangkat Vio dari boxnya.
Takut Reno terbangun karena baru saja tidur pulas, Novia langsung menggendong Vio dan membawanya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Novia kemudian duduk di ruang keluarga untuk menyusui Vio.
Mbak Darmi terlihat masih mengepel lantai yang ada di ruangan itu.
"Dek Vio rewel lagi Bu?" tanya Mbak Darmi.
"Iya nih Mbak, padahal baru saja dia tertidur pulas!" jawab Novia.
"Kalau kata orang dulu Bu, kalau anak rewel itu tapi tidak sakit, pasti ada sesuatu, soalnya perasaan anak kecil itu kan peka Bu!" ucap Mbak Darmi.
"Maksudnya gimana ya mbak?" tanya Novia bingung.
"Ya maksudnya begini, misalnya orang tuanya lagi ada masalah, pasti bisa dirasain sama anaknya, atau misalnya Bapaknya lagi sakit atau ibunya lagi sakit, pasti juga dirasain sama anaknya!" jelas Mbak Darmi.
Novia terdiam mendengar penuturan dari Mbak Darmi, Mungkinkah Vio rewel ada hubungannya dengan David yang sedang sakit? Benarkah ini ada kaitannya atau hanya kebetulan semata?
Tiba-tiba Novia teringat akan permintaan Silvi mengenai David yang meracau menyebut-nyebut nama Vio, apakah mungkin saat Vio dipertemukan dengan David, keduanya akan menjadi tenang?
Novia berpikir, kalau memang benar ini ada kaitannya dengan David yang sedang sakit dan kerewelan Vio, Bukankah ini suatu pertanda kalau Vio memang benar-benar anak David.
Novia berusaha untuk menepiskan pikiran-pikirannya, karena hal itu membuat dia menjadi gelisah, semakin banyak dia menebak semakin kepalanya menjadi pusing.
Malam sudah semakin larut, Reno masih nampak tertidur pulas, sementara Novia masih saja terus memangku Vio karena kalau Vio diletakkan di box bayinya maka sebentar saja dia sudah bangun kembali.
Hingga akhirnya Novia tidak berani lagi meletakkan Vio di box bayinya, lebih baik dia terus menggendongnya sehingga bayi itu merasa nyaman dan rewelnya pun berkurang.
Drrrrt.... Drrrt.... Drrrrt
Lagi-lagi terdengar suara ponsel Novia yang bergetar, Novia kemudian mengambil ponsel yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya Itu, ada panggilan masuk dari Silvi.
Novia kemudian mengusap layar ponselnya itu untuk menerima panggilan dari Silvi padahal ini sudah sangat larut malam, Novia berharap bukan berita buruk yang disampaikan oleh Silvi.
"Halo Silvi, Ada apa Silvi?" tanya Novia.
"Mbak Novia, Bang David Mbak! Bang David!" terdengar suara Silvi yang menangis di seberang telepon.
__ADS_1
"Iya ada apa? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Novia dengan dada yang mulai bergemuruh
"Bang David lagi-lagi meracau menyebut nama Vio, dan sekarang kondisinya makin drop, trombosit juga makin drop, dan sekarang dia memakai selang oksigen karena sesak nafas!" ungkap Silvi sambil menangis.
"Ya Tuhan, kenapa kondisinya semakin parah?" gumam Novia yang kini merasa shock.
"Karena itu Mbak, aku mohon bawakan Vio untuk Bang David, Siapa tahu saja Bang David bisa membaik karena melihat Vio, aku mohon Mbak!" pinta Silvi.
"Baiklah Silvi, tapi aku tidak bisa membawa Vio malam ini, besok pagi-pagi aku akan minta tolong Pak Sukri Mengantar ke Rumah Sakit Bersama Vio, sekalian Vio imunisasi di rumah sakit!" jawab Novia akhirnya.
"Terima kasih Mbak Novia, sekali lagi terima kasih, mudah-mudahan kondisi Bang David bisa membaik!" ucap Silvi yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya.
Novia menarik nafas berat, dadanya bergemuruh, dia menatap lekat-lekat pada Vio yang kini tertidur dalam dekapannya, sesekali Vio seperti terisak karena dia sudah terlalu lama menangis.
Mungkin Vio memang harus dipertemukan dengan David besok, Untung saja Besok ada jadwal Vio diimunisasi, jadi Novia ada alasan untuk membawa Vio ke rumah sakit.
Tak lama kemudian Reno nampak mengerjapkan matanya, dia terbangun dari tidurnya lalu menoleh ke arah Novia yang masih duduk di samping ranjangnya sambil menggendong Vio.
"Sayang, Kamu belum tidur juga dari tadi?" tanya Reno.
"Sebentar lagi Mas, Vio masih rewel Kalau ditaruh di boxnya!" jawab Novia.
"Ya sudah sini gantian, berikan Vio padaku, sekarang kamu tidur sayang, kamu harus jaga kesehatanmu, demi Vio dan aku!" ucap Reno yang kemudian langsung mengambil alih Vio ke dalam gendongannya.
"Mas Reno!"
"Iya sayang!"
"Besok pagi aku mau membawa Vio ke rumah sakit untuk imunisasi!" kata Novia.
"Oh, sudah jadwalnya Vio imunisasi ya? Kalau begitu besok aku izin dari kantor Untuk mengantarmu ke rumah sakit sayang!" ucap Reno.
"Tidak usah Mas, Mas Reno Ke kantor saja, aku kan bisa diantar Pak Supri, lagi pula imunisasinya kan cuma sebentar Mas!" sergah Novia.
"Tidak apa-apa sayang, aku kan juga ingin sekali menemani Vio imunisasi, jadi nanti setelah selesai aku bisa langsung ke kantor!" ujar Reno.
__ADS_1
Novia terdiam, tidak lagi dapat menyanggah perkataan suaminya itu, kalau Reno besok ikut ke rumah sakit, bagaimana caranya Novia membawa Vio ke hadapan David? Apakah Reno akan mengizinkannya?
Bersambung ....