Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
David Di Rawat


__ADS_3

Menjelang subuh, Reno baru pulang dari rumah sakit setelah mengantarkan David yang kondisinya terlihat buruk.


Novia masih terjaga, karena baru saja dia terbangun untuk menyusui Vio.


Wajah Reno terlihat lelah, karena dia kurang tidur, padahal pagi-pagi Reno sudah harus ke kantor.


"Kamu belum tidur juga sayang?" tanya Reno yang langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Mas Reno lama sekali, bahkan ini hampir subuh, Bagaimana mungkin Mas Reno tidak tidur semalaman, sedangkan pagi-pagi Mas Reno sudah harus ke kantor!" jawab Novia.


"Kamu tahu sayang, aku baru mengantar David ke rumah sakit, ternyata dia sakit demam berdarah, dan kalau terlambat Penanganannya akan berakibat fatal bagi dirinya!" kata Reno.


"Apa? David sakit demam berdarah?" tanya Novia sedikit kaget.


"Iya sayang, sekarang Silvi istrinya yang sedang menunggu di rumah sakit, kasihan sih mereka, makanya tadi aku membantu untuk mengurus ini dan itu!" jawab Reno.


Novia terdiam, ternyata David sakit lumayan serius dan harus dirawat di rumah sakit, Novia sedikit khawatir mengenai Bunda Lasmi yang menunda kepulangannya karena ingin menengok David.


"Mas Reno istirahat dulu deh, pasti capek sekali kan!" ucap Novia sambil menaruh Vio di dalam box bayinya, yang ada di samping tempat tidurnya.


"Iya sayang!"


Reno kemudian langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, karena dia hanya punya kesempatan tidur sebentar saja.


Drrrt... Drrrt ... Drrrt


Tiba-tiba ponsel Novia bergetar, cepat-cepat Novia meraih ponselnya yang ada di sisi tempat tidurnya Itu, supaya David tidak terganggu.


Ternyata Silvi yang meneleponnya, kemudian Novia langsung mengusap layar di ponselnya itu.


"Halo Silvi!"


"Mbak Novia, maaf mengganggu, tadi kami terburu-buru ke rumah sakit sampai aku tidak kepikiran untuk membawa baju ganti, tapi aku tidak bisa meninggalkan Bang David sendirian di sini!" kata Silvi


"Silvi, Besok pagi-pagi aku akan minta Mbak Darmi Untuk mengantarkan pakaian kalian, kamu hanya tinggal tunjukkan saja letaknya di mana, mungkin aku cuman bisa membantu itu!" sahut Novia.

__ADS_1


"Maaf ya Mbak kalau aku merepotkan Mbak Novia, kasihan Bang David sakitnya lumayan parah!" ucap Silvi.


"Tidak apa-apa Silvi, kamu tinggal kasih tahu aja Di mana pakaian-pakaian kalian, nanti biar Mbak Darmi yang mengantarnya ke rumah sakit!" ujar Novia.


"Kalau begitu aku terima kasih banyak ya Mbak, aku juga tidak menyangka kalau Bang David akan sakit separah ini, untung saja Pak Reno cepat-cepat bawa ke rumah sakit, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi!" ungkap Silvi.


"Iya Silvi sama-sama, kamu juga sudah banyak bantu aku saat aku lahiran, jadi jangan sungkan kalau mau minta bantuan ya!" sahut Novia.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau jagain Bang David dulu ya Mbak, sekali lagi aku terima kasih lho!" ucap Silvi yang kemudian langsung mematikan panggilan teleponnya.


Novia menghela nafas panjang, selama ini dia mengakui kalau Silvi dan David sudah banyak membantunya, mungkin sekarang giliran mereka yang membutuhkan bantuan.


Tapi lagi-lagi hati Novia tidak tenang, takut kalau masa lalunya dengan David akan terkuak suatu hari nanti, karena ini seperti bom waktu yang kapanpun bisa saja meledak.


****


Pagi-pagi setelah sarapan pagi, Reno langsung berangkat ke kantor, apalagi dia agak kesiangan karena dia kurang tidur.


Bu Anis dan Pak Darta orang tua dari Reno pergi ke salah satu hotel untuk pertemuan bisnis mereka. Mereka berangkat bersama-sama dengan Reno.


Bunda Lasmi nampak sedang menimang Vio yang baru saja dimandikan, sementara Novia membereskan meja makan karena Mbak Darmi sedang mengambil pakaian di sebelah.


"Bu Novia, saya pamit ya diantar Pak Sukri ke rumah sakit, untuk mengantarkan pakaiannya Pak David dan Bu Silvi, karena kasihan mereka dari semalam pasti belum ganti pakaian!" kata Mbak Darmi.


"Iya mbak!"


"Eh tunggu, kamu mau ke mana Darmi? Ke rumah sakit kan? Aku ikut sekalian, soalnya aku mau jenguk suaminya Silvi, kasihan loh mereka itu!" kata Bunda Lasmi tiba-tiba.


"Memangnya Bunda Lasmi mau ikut beneran?" tanya Mbak Darmi.


"Ya iya dong, aku memang niat mau jenguk mereka, karena kan kasihan juga, masa tetangga dekat tidak dijenguk, Apalagi kan katanya Mereka sudah banyak membantu Novia!" jawab Bunda Lasmi.


"Bunda, jangan ke rumah sakit, di sini aja bersama Vio dan aku!" cegah Novia.


"Lho, kenapa memangnya, lagian kan Bunda pulang ke Semarangnya Jadinya besok, Bunda cuma punya waktu hari ini untuk menjenguk mereka!" sahut Bunda Lasmi.

__ADS_1


"Tapi Bunda, ini kan hari terakhir Bunda di sini, aku mau banyak ngobrol sama Bunda!" tukas Novia.


"Iya, nanti bunda akan temani kamu, juga main sama Vio sepuasnya, Bunda cuma sebentar kok ke rumah sakit, Kamu kenapa sih Nov?!" tanya bunda Lasmi sedikit heran.


"Tidak kenapa-napa sih Bunda tapi .... "


"Sudah, Bunda mau jalan nih sama Darmi, sebentar kok Bunda janji, Ayo Darmi kita akan berangkat sekarang!" ajak Bunda Lasmi yang kemudian langsung berjalan ke depan diikuti oleh Mbak Darmi.


Novia hanya diam saja, tidak lagi bisa menyanggah Bundanya itu, apalagi kalau Bundanya punya keinginan, rasanya sulit sekali untuk dibantah.


Novia pasrah saja kalau Bunda Lasmi melihat David yang dulu pernah sangat dikenalnya bahkan dibencinya.


Novia berusaha menguatkan hatinya, Apapun yang terjadi nanti, dia sudah tidak dapat mengelak lagi, apalagi sekarang David sakit dan Novia tidak mungkin menyuruhnya untuk kembali bersembunyi dari bunda Lasmi.


Sementara itu Bunda Lasmi dan Mbak Darmi sudah berada di atas mobil Yang dikendarai oleh Pak Sukri menuju ke rumah sakit terdekat.


Tak Berapa lama kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit, lalu Mbak Darmi dan Bunda Lasmi berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang di mana David dirawat. Sementara Pak Sukri menunggu di parkiran.


"Darmi, Memangnya sedekat apa sih Novia sama keluarganya Silvi? Mereka kelihatan sangat akrab ya!" tanya bunda Lasmi.


"Mereka itu dekat sejak keluarga Pak David pindah rumah, sejak saat itu mereka sering berkomunikasi, kadang-kadang olahraga bareng, kadang-kadang saling mengantarkan makanan!" jawab Mbak Darmi.


"Aku salut lho kalau ada hubungan tetangga yang seperti itu, sangat harmonis, Biasanya kalau di Kompleks itu tetangga pada cuek-cuekan!" kata Bunda Lasmi.


Mereka pun kemudian sudah sampai di depan ruangan rawat David, baru saja mereka hendak membuka pintu ruangan itu, tiba-tiba ponsel Bunda Lasmi berdering.


Cepat-cepat Bunda Lasmi mengambil ponselnya dan mengusap layar ponselnya itu, untuk menjawab panggilan teleponnya.


"Halo ... Iya saya masih di Jakarta, Ada apa sih? ... Oh begitu ya... Oke Oke kalau begitu saya datang lebih cepat ke sana, kamu tolong tanggulangi dulu ya masalahnya ya!" kata Bunda Lasmi yang berbicara dengan lawan bicaranya ditelepon.


Kemudian Bunda Lasmi menaruh ponselnya kembali ke dalam tasnya, dan menoleh ke arah Mbak Darmi.


"Darmi, kamu saja dulu deh yang menjenguk mereka, sepertinya aku harus kembali minta diantar Pak Sukri, aku harus ke Semarang siang ini juga, ada masalah di pabrikku!" kata Bunda Lasmi.


"Iya deh Bunda, nanti saya akan sampaikan salam Bunda buat keluarganya Bu Silvi!" jawab Mbak Darmi.

__ADS_1


Bunda Lasmi hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke parkiran.


Bersambung ...


__ADS_2