Rahasia Perkawinan

Rahasia Perkawinan
Pindah Rumah


__ADS_3

Di tempat kediaman Reno, Novia dan Mbak Darmi nampak sibuk mengepak barang-barang, karena hari ini mereka sudah harus mengosongkan rumah ini, karena rumah ini sudah laku terjual.


Mereka berencana akan pindah ke rumah yang lebih kecil, ke rumah yang lebih sederhana dan Reno pun sudah menyiapkan sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Jakarta, tepatnya di daerah Bekasi.


Sebuah truk besar sudah terparkir di depan rumah, siap untuk mengangkut semua barang-barang yang akan dibawa.


Sementara Vio saat ini sedang bersama David, setelah Vio keluar dari rumah sakit, David membawanya ke sebuah Resort untuk liburan, kesempatan ini dipergunakan oleh Novia dan Reno untuk pindah, supaya Vio juga tidak kaget kalau tiba-tiba dia sudah tidak tinggal di rumah ini lagi.


"Mbak Darmi, Apakah semua barang-barang sudah masuk ke dalam truk? Untuk barang-barang yang besar, lebih baik ditinggal saja, seperti sofa, tempat tidur dan lemari-lemari besar, karena kita akan kesulitan untuk membawanya, lagi pula di rumah nanti semua barang ini juga tidak akan muat!" kata Novia.


"Iya Bu, Apa tidak sebaiknya kita menitipkan barang-barang ini ke sebelah saja, ke rumah Pak David? Kan sayang bu, semuanya masih bagus-bagus!" usul Mbak Darmi.


"Sudah terlambat, kita Iklaskan saja, lagi pula saat ini David juga tidak ada di rumahnya, walaupun sebenarnya kita juga bisa menaruh sebagian barang kita di rumahnya, tapi itu akan sangat merepotkan Mbak!" Jawab Novia.


"Iya deh bu, semua barang-barang kecil seperti pakaian, televisi dan barang-barang kecil lainnya sudah masuk ke dalam, tinggal sisa barang-barang besar saja Bu!" ujar Mbak Darmi.


"Ya sudah kalau sudah siap, kita langsung berangkat saja Mbak, Mas Reno juga sudah siap tuh!" kata Novia sambil menunjuk ke arah luar, dimana Reno sudah masuk ke dalam mobil truk, sementara ada taksi online yang akan mengantar mereka menuju ke rumah mereka yang baru.


Setelah selesai, Novia kemudian mulai keluar dari rumah itu, sebelum dia masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu di depan gerbang rumah itu, Novia menatap rumah yang selama ini sudah menjadi tempat naungan hidupnya, bersama dengan keluarga kecilnya.


Rumah yang begitu banyak sekali menyimpan kenangan, sejak Novia menikah dengan Reno Sampai dengan saat ini, dan kini dia harus meninggalkan rumah ini beserta dengan semua kenangan yang ada di dalamnya.


Tanpa terasa Novia meneteskan air matanya, sebenarnya dia sangat berat sekali meninggalkan rumah ini, namun ada hal yang lebih penting yang harus dia prioritaskan, daripada hanya sekedar kenyamanan dan kenangan.


"Sudah siap bu?" tanya Mbak Darmi sedikit mengejutkan Novia.


"Sudah Mbak, ayo kita berangkat!" jawab Novia yang kemudian langsung berjalan menuju ke arah taksi online yang sudah menunggunya.


Mobil truk yang membawa Reno dan juga barang-barang sudah jalan terlebih dahulu, diikuti oleh taksi online yang membawa Novia dan Mbak Darmi.


Sepanjang perjalanan itu, Novia tidak banyak bicara, matanya memandang pada setiap jalan-jalan di Kompleks itu, semua kenangan satu persatu melintas di pikirannya, namun dia harus berani mengatakan selamat tinggal pada semuanya.


Mereka terus meninggalkan Jakarta, menuju ke sebuah kota yang ada di pinggiran Jakarta, kota Bekasi. Di kota inilah Reno dan Novia akan memulai kehidupan barunya.


Pada akhirnya mobil truk dan taksi yang ditumpangi oleh Novia dan Mbak Darmi berhenti di depan sebuah rumah sederhana namun nampak Asri, rumah itu jauh lebih kecil daripada rumah mereka yang sebelumnya.


Rumah yang hanya memiliki luas 78 meter itu memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu yang minimalis, dan juga dapur yang kecil dengan halaman yang seadanya.


Untung saja mereka tidak membawa banyak barang-barang, karena tidak akan muat barang-barang yang mereka miliki, jikalau harus ditaruh di rumah baru yang sederhana ini.


Setelah semua barang diturunkan dan disusun, akhirnya mobil truk dan taksi online itu pun pergi meninggalkan rumah itu, kini hanya mereka bertiga yang ada di rumah ini.


"Novia, Mbak Darmi, maafkan aku ya, kalian harus tinggal di tempat seperti ini!" ucap Reno.


"Memangnya kenapa mas, rumah ini cukup nyaman kok, yang penting kita tidak kehujanan dan kepanasan, rumah ini jauh lebih layak daripada sebagian besar orang-orang di sana, yang tidak punya rumah sama sekali!" jawab Novia.


"Iya Pak, Saya senang yang penting kita bisa kumpul, mau rumah besar ataupun kecil sama saja, yang penting kita bisa tidur, masih bisa beraktivitas!" timpal Mbak Darmi.


"Dari rumah ini, aku berencana akan membuat usaha kecil-kecilan, tidak apa-apa mulai dari nol lagi, nanti juga lama-lama akan besar!" kata Reno


"Iya Mas, hidup sederhana akan jauh lebih bahagia kalau disertai dengan ketulusan, daripada hidup mewah tapi tidak ada kedamaian di dalamnya!" ucap Novia.


"Terima kasih Novia, kau memang istri yang luar biasa, meskipun selama ini kau menyimpan rahasia besar, Tapi aku tidak pernah menyesal mencintaimu dan menjadikanmu istriku!" ucap Reno yang kini memeluk Novia dengan sangat erat.


Mereka kemudian mulai beres-beres rumah dan menata barang-barang yang tadi belum sempat dibereskan.

__ADS_1


Mbak Darmi juga sibuk menata dapur, dia mulai berpikir keras bagaimana cara menata dapur yang kini terlihat sangat minimalis, dibandingkan dengan dapur lama dulu yang sangat luas.


"Bu, sepertinya perabot kita tidak muat, seperti kompor piring-piring gelas dan peralatan masak yang lain yang kita bawa dari rumah lama, banyak yang tidak tertampung di dapur ini!" kata Mbak Darmi.


"Ya semuatnya aja Mbak, nanti barang-barang sisa ditaruh di dus, nanti aku akan berikan ke tukang loak, mereka pasti senang!" jawab Novia.


"Padahal sayang Bu, barang-barang kita masih bagus-bagus, cuma karena tempatnya saja terbatas jadi ya memang tidak bisa dipaksakan!" ujar Mbak Darmi.


"Biarin deh Mbak, nanti kalau ada rezeki kan bisa beli lagi, lagi pula saat ini kita nggak butuh barang-barang seperti itu!" sahut Novia.


Mbak Darmi kemudian mulai memilah barang-barang yang akan dimasukkan ke dalam dus dan barang-barang yang akan dipakai setiap hari.


Semua pakaian-pakaian milik Novia, Reno dan Vio juga hampir tidak muat di lemari yang ada di kamar itu, karena mereka terbiasa dengan lemari besar dengan kapasitas yang besar.


Namun di sini mereka harus belajar menyesuaikan kondisi, meskipun itu terlihat tidak nyaman tapi semua itu harus mereka lalui.


Novia kemudian menghampiri Reno yang terlihat sedang menyusun pakaian-pakaian dan mengeluarkannya dari dalam koper. Novia duduk di tepi ranjang yang berukuran lebih kecil daripada ranjangnya yang biasanya.


"Mas Reno, kira-kira Vio kaget nggak ya kalau tiba-tiba saja kamarnya berubah menjadi kecil!" tanya Novia.


Reno menarik nafas panjang kemudian menatap ke arah istrinya itu, wajahnya terlihat sendu.


"Jujur aku sangat tidak tega kalau Vio tinggal di rumah ini dengan segala keterbatasan, karena sejak kecil dia menikmati semua fasilitas dan kamarnya pun sangat besar dan nyaman untuk dia bisa bermain!" ungkap Reno.


"Mas, Mungkin melalui peristiwa ini, kita bisa mengajarkan nilai-nilai pada Vio kalau manusia itu tidak selamanya berada di atas, Kita juga harus siap saat kita berada di bawah!" ucap Novia.


"Kamu tahu, itulah alasan kenapa aku ingin menceraikanmu, supaya kamu dan Vio hidup bahagia bersama dengan David, yang sudah jelas-jelas menyayangimu dan Vio, dan kini dia juga sudah sangat mapan!" kata Reno.


"Hentikan ucapanmu itu mas! Kamu pikir aku bahagia dengan ucapanmu yang seperti itu padaku? Hatiku sakit Mas! Kamu pikir aku memandang segala sesuatu dengan harta?" cetus Novia.


"Tidak! Mas Reno salah! Selama ini tidak pernah terpikir olehku untuk kembali pada David, sampai saat ini dia tidak lebih dari hanya sekedar teman, rasa cinta itu sudah hilang dengan datangnya waktu bersama denganmu Mas!" ucap Novia.


Reno terdiam tidak menjawab lagi ucapan dari Novia, sebenarnya dalam hati dia juga berat mengatakan itu, apalagi menyerahkan begitu saja keluarga kecilnya pada orang lain.


Namun cintanya pada Novia dan Vio lebih besar daripada cintanya terhadap diri sendiri, sehingga dia mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.


Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon dari ponsel Novia, Novia buru-buru merogoh ponselnya yang ada di saku bajunya, ada panggilan video dari Vio yang saat itu baru bersama dengan David.


Novia pun menjawab panggilan telepon videonya itu.


"Halo Vio, Vio sedang apa?" tanya Novia sambil Melambaikan tangannya.


"Mama lagi ada di mana sekarang? Kapan aku dijemput pulang? Aku juga sudah kangen sama papa!" tanya Vio.


"Vio sudah selesai jalan-jalannya?" tanya Novia balik.


"Sudah ma, ini aku sudah sampai di rumah Om David, tapi kok rumah kita kosong ma?"


"Vio, Tolong dong panggilkan Om David!" kata Novia


Kemudian David nampak mengambil alih teleponnya.


"Ada apa Novia? Kalian ada di mana?" tanya David.


"David, kami sudah pindah, Bisakah kau mengantarkan Vio pulang ke sini? Nanti aku akan share kan lokasi alamatnya!" kata Novia.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah pindah? Pantas saja rumah sebelah begitu sepi, Baiklah aku akan langsung mengantarkan Vio pada kalian, coba tolong di-share saja lokasi alamatnya!" jawab David.


"Baiklah, aku akan langsung share lokasi alamatnya, ditunggu ya!" kata Novia yang langsung mematikan panggilan videonya.


Setelah itu Novia pun mulai menshare lokasi tempat tinggalnya kini yang ada di pinggir kota Jakarta tepatnya di daerah Bekasi.


Sementara Reno nampak duduk termenung di tepi tempat tidurnya, tanpa bicara apa-apa.


"Mas Reno, Nanti Vio akan diantar oleh David ke sini!" kata Novia.


"Novia Jujur, aku malu sekali pada David dan juga Vio, Bahkan aku tidak mampu memberikan tempat tinggal yang layak saat ini!" ungkap Reno.


"Kenapa Mas Reno tiba-tiba berpikir seperti itu? Mas Reno sudah memberikan yang terbaik untuk kami, sudahlah mas, kita harus optimis, jangan punya pikiran macam-macam!" ujar Novia yang kembali membereskan beberapa pakaian yang masih terlihat berantakan.


****


Selepas magrib, barulah rumah mungil yang kini ditempati oleh Reno dan Novia itu sedikit rapi, semua barang-barangnya sudah disusun dan ditata dengan rapi, meskipun nampak begitu minimalis, namun terlihat bersih dan nyaman.


Mbak Darmi napak sedang menyiapkan masakan untuk makan malam nanti, meskipun dengan menu seadanya tapi dilakukan dengan semangat dan senang hati oleh wanita yang sudah bertahun-tahun mengabdi di keluarga Reno itu.


"Mas, kok jam segini Vio belum sampai-sampai ya ke sini? Ya kali mereka nyasar, aku sudah kirimkan lokasinya!" tanya Novia.


"Ya mungkin saja mereka mampir dulu ke suatu tempat, atau bisa jadi jalanan sedang macet karena sekarang kan musim hujan!" jawab Reno.


"Iya juga sih Mas, Lagian baru juga jam segini kita tunggu saja deh!" ujar Novia akhirnya.


"Oh ya Novia, Apakah kamu sudah memberitahukan Bunda Lasmi kalau kita sudah pindah rumah?" tanya Reno.


Novia tertegun mendengar pertanyaan dari Reno, tidak terpikir olehnya untuk memberitahukan Bunda Lasmi tentang kepindahannya ini, sejujurnya Novia takut kalau Bunda Lasmi sampai mengetahuinya, karena dia tidak ingin membuat Bunda Lasmi sedih, apalagi sekarang ini Bunda Lasmi juga sedang menghadapi masalah.


"Mas, aku belum memberitahukan Bunda Lasmi, Mungkin aku akan cari waktu yang tepat Mas, aku takut Bunda malah sedih!" ucap Novia.


"Sedih kenapa? sedih karena aku tidak mampu lagi untuk menghidupi kalian?" tanya Reno


Novia lagi lagi terdiam, belakangan ini Reno begitu sensitif, sedikit saja perkataan bisa menyinggung perasaan Reno, Novia memakluminya, karena memang saat ini Reno sedang benar-benar berada di bawah, oleh karena itu Novia selalu berhati-hati dalam berkata-kata terutama dengan Reno.


"Mas Reno, saat ini Bunda Lasmi juga sedang mengalami masalah di Semarang, aku sebagai anak saja tidak bisa berbuat apa-apa, Aku hanya tidak mau menambah pikiran Bunda Lasmi, Nanti kalau saatnya tepat aku juga pasti akan memberitahukan soal kepindahan kita kok!" jawab Novia.


Tiba-tiba Mbak Darmi datang menghampiri mereka dari arah dapur.


"Pak, Bu, makan malamnya sudah siap, dimakan dulu Nanti keburu dingin malah tidak enak!" kata Mbak Darmi.


"Iya mbak, ayo mas kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi!" jawab Novia yang kemudian langsung bangkit dan menggandeng tangan suaminya itu menuju ke meja makan yang berada di dekat dapur.


Aneka hidangan sederhana sudah tersaji di sana dengan nikmat, meskipun terlihat sederhana namun menggugah selera, masakan Mbak Darmi memang Tiada Duanya, sudah sangat familiar di lidah Reno maupun Novia.


Mereka pun duduk dan mulai menikmati santap malam mereka, karena memang hari sudah gelap, bahkan ini sudah lewat jam makan malam.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk dari luar, Reno dan Novia saling berpandangan.


"Jangan-jangan David dan Vio sudah datang Mas!" tebak Novia.


"Bapak dan Ibu lanjutkan saja makannya, biar saya lihat ke depan!" kata Mbak Darmi yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke pintu depan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2