
Kriiing... Kriiing... Kriiing
Beberapa kali terdengar suara telepon rumah yang berdering, Mbak Darmi yang saat itu sibuk membersihkan dapur dan mengepel lantai, langsung menghentikan aktivitasnya.
Wanita itu kemudian berjalan untuk mengangkat telepon yang sudah berdering sedari tadi.
"Halo, Selamat pagi!" sapa Mbak Darmi.
"Halo selamat pagi, saya dengan dokter Fani dokter kandungannya Ibu Novia, tolong dilihat keadaan bu Novia sekarang, sepertinya terjadi sesuatu dengan dia, karena baru saja tadi dia menelepon setelah itu dia tidak bersuara lagi!" kata dokter Fani yang saat itu langsung menelepon ke rumah, ketika beberapa kali memanggil Novia tidak ada jawaban di ponselnya.
"Ya Tuhan! Baiklah dokter Saya akan cek ke kamarnya sekarang!" sahut Mbak Darmi cepat yang langsung meletakkan gagang teleponnya, dan setengah berlari langsung menuju ke kamar Novia.
Mata Mbak Darmi terbelalak, ketika telah sampai di kamar Novia, wanita itu sudah tergeletak di atas tempat tidurnya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya.
Buru-buru Mbak Darmi langsung menghampiri Novia dan menepuk-nepuk pipinya.
"Bu Novia! bangun Bu! Apa yang terjadi dengan ibu! Ayo Bu bangun Bu!" seru Mbak Darmi cemas, sambil terus menepuk-nepuk pipi dan tubuh Novia yang badannya terasa dingin.
Beberapa kali memanggil-manggil dan menepuk, namun tidak ada respon dari Novia.
Mbak Darmi nampak cemas dan kebingungan, bahkan tiba-tiba saja dia seperti tidak bisa berpikir, apa yang harus dilakukannya.
Dengan panik Mbak Darmi kemudian berlari keluar dari kamar Novia, dia terus berlari-lari sampai ke tetangga sebelah untuk meminta bantuan.
Kebetulan di sebelah ada Silvi yang sedang menyiram tanaman dan juga David yang sedang mencuci mobil.
"Pak David! Bu Silvi!" teriak Mbak Darmi sambil menggedor-gedor kan pintu gerbang rumah itu.
Dengan wajah bingung Silvi membukakan gerbang, wajah Mbak Darmi terlihat sangat cemas dengan nafas tersengal-sengal.
"Ada apa Mbak Darmi? Kok seperti orang yang kebingungan begitu?" tanya Silvi.
"Tolong Bu! Bu Novia sepertinya pingsan di kamarnya! Saya sudah berusaha untuk membangunkan dia, tapi dia belum sadar-sadar juga!" jawab Mbak Darmi.
David yang sejak tadi mencuci mobil langsung mematikan kran air, ketika dia mendengar cerita dari Mbak Darmi.
__ADS_1
Kemudian David langsung berjalan menghampiri Mbak Darmi yang masih berdiri di depan gerbang bersama dengan Silvi.
"Apa yang terjadi dengan Novia?" tanya David.
"Itu Bang, kata Mbak Darmi Mbak Novia pingsan di kamarnya!" sahut Silvi.
"Lalu kenapa kalian semua diam di sini? Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang juga!" seru David.
Kemudian David segera berjalan menuju rumah Novia, untuk melihat keadaannya, diikuti oleh Mbak Darmi dan Silvi.
"Ya ampun, kasihan sekali Mbak Novia! Bagaimana ini bang? Apakah kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang?" tanya Silvi saat mereka sudah tiba di kamar Novia.
"Ya, kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga!" sahut David yang langsung saja mengangkat tubuh Novia dan berjalan cepat menuju ke mobilnya Yang terparkir di garasi rumahnya itu.
Dengan cepat David meletakkan Novia di jok mobilnya itu. Silvi dan Mbak Darmi hanya bisa ikut masuk ke dalam mobil Untuk mengantarkan Novia ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, mereka tidak banyak bicara, hanya terlihat wajah-wajah cemas yang terpancar dari wajah mereka.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, Novia langsung dilarikan ke UGD. David dan Silvi menunggu di depan ruang UGD bersama dengan mbak Darmi.
"Mbak Darmi, Apakah Mbak Darmi sudah menghubungi pak Reno?" tanya Silvi.
"Ya sudah kalau begitu, telepon saja sekarang Mbak, nih pakai ponselku!" kata Silvi yang langsung menyodorkan ponselnya itu ke arah Darmi.
"Tidak usah Bu, saya bawa ponsel kok Biar saya langsung telepon Bapak saja pakai ponsel saya!" tukas Mbak Darmi yang langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam saku bajunya itu.
Beberapa kali menelpon, tidak ada jawaban dari Reno, Mbak Darmi mulai gelisah.
"Belum diangkat ya Mbak?" tanya Silvi.
"Iya nih, tumben biasanya Bapak selalu cepat kalau mengangkat telepon!" jawab Mbak Darmi yang kembali mencoba untuk menelepon Reno.
Beberapa kali mencoba menelepon, namun telepon tidak diangkat angkat juga oleh Reno.
Hingga Seorang dokter terlihat keluar dari ruang UGD, dengan cepat David yang sadari dari tadi berjalan mondar-mandir langsung datang menghampiri dokter itu diikuti oleh Silvi dan Mbak Darmi.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Novia dokter?" tanya David.
"Kondisi Bu Novia saat ini sedang drop, tekanan darahnya tinggi dan sepertinya dia juga sedikit mengalami depresi!" jawab sang dokter.
"Ya Tuhan, Kasihan sekali Bu Novia! Bagaimana ini? Mana Bapak juga belum bisa dihubungi!" ucap Mbak Darmi yang mulai menangis.
"Untuk saat ini Bu Novia memang harus menjalani perawatan di sini, jadi nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan, kalau kondisi ini dibiarkan terus akan membahayakan bayi yang dikandungnya!" lanjut sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk dia dokter! Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya juga pada bayi yang ada dalam kandungannya itu!" ucap David sambil memegangi kedua bahu dokter itu dengan mata yang menatap tajam.
Silvi menatap bingung pada suaminya itu, Kenapa sikap David tidak biasa hari ini, David yang biasanya begitu cuek saat ini Dia terlihat begitu peduli dengan Novia, Hal itu membuat Silvi bertanya-tanya.
"Kami akan melakukan yang terbaik, kalian tenang saja, saat ini Perawat akan langsung memindahkan pasien ke ruang rawat, Oh ya apakah Anda suaminya?" tanya Dokter sambil menatap ke arah David.
"Bukan Dokter! Dia itu suami saya!" jawab Silvi cepat.
Sang dokter terlihat mengerutkan keningnya, kemudian dengan cepat dia menganggukkan kepalanya.
Setelah itu dokter pun berlalu dari tempat itu, dan tak lama kemudian beberapa orang perawat mendorong Novia yang masih terbaring menuju ke ruang perawatan.
David, Silvi dan Mbak Darmi mengikuti dari belakang, sampai Novia ditempatkan di satu ruangan perawatan.
"Bang David, Kenapa sikap Bang David seolah sudah mengenal lama dengan mbak Novia? Bang David kelihatan sangat mencemaskan Mbak Novia!" tanya Silvi, wajah David langsung berubah pias.
"Tidak, aku hanya membayangkan andaikan dirimu yang ada di posisi Novia, pasti aku juga akan sangat mencemaskanmu! " jawab David.
Silvi tersenyum kemudian langsung memeluk pinggang suaminya itu
"Beruntungnya Aku memiliki suami seperti Bang David, sudah tampan, Hatinya baik, dan sangat memperhatikan sesama!" ungkap Silvi.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Mbak Darmi yang berbunyi, buru-buru Mbak Darmi mengusap layar ponselnya itu, setelah tahu kalau Reno yang meneleponnya.
"Halo Mbak Darmi, ponselku ketinggalan di ruangan saat aku sedang meeting, ada apa?" tanya Reno dari sebrang telepon.
"Pak, tadi Ibu pingsan, untung ada Pak David dan Bu Silvi yang langsung membawa Bu Novia ke rumah sakit!" jawab Mbak Darmi.
__ADS_1
"Apa? Novia pingsan? Aku langsung ke rumah sakit sekarang!" kata Reno yang langsung menutup teleponnya.
Bersambung ....