
Novia dan Tina masih duduk di cafe saling berhadapan, kini mereka sedang menikmati minuman dingin dan aneka hidangan yang tersedia di cafe itu sambil mengobrol.
"Tumben kamu datang ke sini tanpa memberitahu aku dulu Nov!" kata Tina.
"Sengaja Tin, selain aku ingin memberikan kejutan untukmu, aku juga ingin menyampaikan kabar gembira!" kata Novia.
"Kabar gembira? Kabar gembira apa?" tanya Tina.
"Mas Reno sudah kembali, kami sudah sama-sama saling terbuka, dan kami sudah kembali harmonis seperti dulu, aku sangat bahagia sekali Tin, makanya aku ingin menyampaikan padamu, dan siang ini aku ingin mentraktirmu makan apa saja yang kamu suka!" ungkap Novia dengan mata yang berbinar.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya! Aku juga ingin menyampaikan kabar gembira untukmu Nov!" ujar Tina.
"Kabar gembira apa? Ayo Katakan padaku! kita kan sahabat, susah senang selalu berbagi!" tanya Novia antusias.
"Sebentar lagi aku akan menikah!" jawab Tina.
"Oh ya? Bukankah kamu sudah menikah katanya sama orang Jepang?" tanya Novia bingung.
"Sebenarnya aku sama orang Jepang itu sudah pisah, dan statusku kan sekarang single, jadi aku bebas dong menikah dengan siapa saja!" jawab Tina sambil tersenyum.
"Tin, kamu kenalin dong calon suamimu sama aku, dan jangan lupa ya aku orang nomor satu yang harus kamu undang!" kata Novia.
"Bagaimana ya, aku takut kamu nanti kaget kalau melihat calon suamiku itu!" ujar Tina.
"Lho, kaget Kenapa? Apakah calon suamimu itu terlalu ganteng, sehingga membuat aku menjadi kaget?" tanya Novia Sambil tertawa.
"Ya, dia sangat tampan, pokoknya dia itu adalah idaman para wanita, termasuk kamu juga mungkin, tapi kamu tenang saja Novia, nanti aku suatu hari pasti akan memperkenalkannya padamu kok!" jawab Tina.
Mereka kemudian saling tertawa dan menikmati aneka hidangan yang sudah dipesan oleh Novia, karena hari ini dia ingin mengajak Tina makan karena rumah tangganya telah kembali pulih.
Setelah puas mengobrol dan makan bersama bersama dengan Tina sahabatnya, Novia pun kembali pamit untuk pulang ke rumahnya.
Novia terus melajukan mobilnya itu menuju ke rumahnya, karena dia juga sudah tidak sabar ingin bermain dengan Vio, Vio pasti telah menunggunya sedari tadi.
Benar dugaan Novia, baru saja Novia sampai di depan rumahnya, terlihat Mbak Darmi yang membuka gerbang rumahnya itu, lalu disusul lah Vio yang berlari kecil menyambut kedatangan Novia.
"Mama dari mana saja sih? kok lama sekali perginya!" tanya Vio.
"Mama dari Kantornya Papa sayang, mengantarkan makan siang buat papa, terus habis itu Mama pergi ke kantornya Tante Tina, Mama kan sudah lama tidak mengobrol dengan tante Tina!" jawab Novia sambil membelai rambut Vio dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya. Sementara Mbak Darmi kembali menutup pintu gerbang rumah itu.
"Mama, aku tidak suka dengan tante Tina!" kata Vio tiba-tiba.
Novia menoleh ke arah Vio kemudian dia mengajak Vio duduk di sofa ruang keluarga itu, dan kini mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Kenapa Vio tidak suka dengan tante Tina? Bukankah Tante Tina itu baik sekali orangnya? Waktu itu kan Vio juga dibelikan banyak hadiah oleh Tante Tina!" tanya Novia sambil menatap lembut ke arah putranya itu.
"Soalnya Tante Tina sudah ...." Vio tiba-tiba menghentikan perkataannya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Tante Tina sudah apa? Oh mungkin, karena Tante Tina Sudah lama tidak main ke sini, makanya Vio pikir Tante Tina sudah tidak ingat Vio lagi?" kata Novia berusaha menebak-nebak maksud dari ucapan Vio.
"Bukan itu Ma!" sangkal Vio.
"Lho terus apa dong? Vio jangan seperti itu ya, kita harus bersikap sopan terhadap orang lain, dan kita juga jangan tidak suka dengan orang tanpa alasan, sekarang mama mau mandi dulu, nanti kita belajar sama-sama ya, Habis itu Mama mau ajak Vio menonton film kartun kesukaan Vio!" ujar Novia sambil memegang kedua bahu putranya yang mungil itu.
Setelah itu Novia langsung beranjak menuju ke kamarnya, hendak mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sejak tadi.
Vio nampak bermain bersama dengan mbak Darmi di halaman depan rumahnya itu.
****
Sejak sore Reno sudah pulang ke rumahnya, tidak seperti biasanya, sore ini Reno tidak banyak bicara, dia hanya mandi, dan setelah itu dia berkutat di depan layar laptopnya di ruang kerjanya.
Hingga sampai pada jam makan malam, namun Reno belum beranjak juga dari ruang kerjanya, akhirnya Novia berinisiatif untuk masuk ke dalam ruang kerja Reno sambil membawakan beberapa camilan dan minuman hangat.
"Mas Reno kelihatannya sibuk sekali, ini makanlah dulu lumayan untuk mengganjal perut, Vio sudah ada di ruang makan sepertinya dia sudah lapar! "kata Novia sambil meletakkan nampan yang di bawahnya itu di atas meja kerja Reno.
"Kalian makan saja duluan, aku belum lapar, nanti aku kalau lapar aku langsung turun ke bawah kok untuk makan!" ucap Reno, matanya masih Menatap layar laptopnya itu.
"Iya!"
"Oh ya Mas, tadi aku ketemuan lho sama Tina!" kata Novia tiba-tiba.
Reno langsung menoleh ke arah Novia dan membulatkan matanya, Reno kelihatan sangat terkejut ketika Novia mengatakan kalau dia ketemuan dengan Tina.
"Kalian bisa ketemu di mana? lalu kalian cerita apa saja?" tanya Reno.
"Mas Reno Kenapa sih? kok seperti orang yang kaget begitu?" tanya Novia balik.
"Oh tidak, ya aku memang sedikit kaget kamu bisa ketemuan dengan dia, dan tidak menyangka kalau kalian masih saling kontak!" jawab Reno berusaha untuk menutupi kegugupannya.
"Ada kabar bagus lho Mas, kata Tina dalam waktu dekat dia akan menikah, Tapi aku tidak tahu dia menikah dengan siapa, Soalnya dia bilang suatu hari nanti dia pasti akan memperkenalkan calon suaminya itu padaku!" ucap Novia.
Reno terdiam mendengar ungkapan Novia, dia benar-benar tidak menyangka kalau Tina akan mengatakan hal seperti itu pada Novia, ada yang bergemuruh di dalam dada laki-laki itu.
"Mas Reno kenapa? kok seperti orang yang tidak suka begitu? "tanya Novia bingung.
"Ah tidak apa-apa, kalau boleh, Kamu jangan terlalu dekat dengan dia, lebih baik fokus terhadap keluarga saja!" jawab Reno.
__ADS_1
"Tapi kan Tina itu sahabatku mas, mas Reno juga sangat kenal kan? lagi pula selama ini Tina selalu mendengarkan curahan hatiku, saat aku tidak punya tempat untuk mengadu, hanya Tinalah yang mau mendengarkan aku, sekarang apa salahnya kalau aku mendukung dia sehingga dia senang?" ungkap Novia.
"Sudahlah sayang, lebih baik kamu turun ke bawah saja mengurus si Vio, barangkali dia membutuhkanmu saat ini, lagi pula pekerjaanku juga belum selesai, masih banyak tugas-tugas yang menumpuk yang harus segera Aku selesaikan!" ucap Reno.
"Baiklah, aku tinggal sebentar ya Mas, mau melihat Vio dulu di bawah, Mas Reno makan saja cemilannya, diminum minumannya, kalau butuh apa-apa langsung panggil aku ya Mas!" kata Novia.
Reno hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Novia langsung beranjak dari ruangan kerja Reno, turun ke bawah dan berjalan menuju ke meja makan tempat Vio duduk dan menunggu tadi.
Sementara Reno masih terlihat shock mendengar apa yang dikatakan oleh Novia barusan tadi.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau Tina akan selancang itu mengatakan pada Novia kalau dia akan segera menikah.
Dengan geram Reno kemudian mulai mengambil ponselnya dan menelepon Tina untuk memberinya peringatan.
"Halo Reno, tumben sekali kamu meneleponku, bagaimana? kapan kira-kira kamu akan menikahiku" tanya Tina saat dia mengangkat panggilan telepon dari Reno.
"Tutup mulutmu Tina! kamu memang benar-benar keterlaluan! Kamu cerita apa saja saat ketemu sama istriku Novia?" tanya Reno sambil menahan emosinya
"Oh, jadi kamu sudah tahu kalau aku ketemuan dengan Novia, Novia sendiri yang datang padaku dia mengutarakan kebahagiaan hatinya, saat dia kembali bersamamu, ya aku tidak mau kalah dong, aku juga ingin menunjukkan padanya kalau aku juga bahagia, karena sebentar lagi akan ada orang yang menikahiku!" jawab Tina.
"Jaga perkataanmu Tina! Aku tidak ingin kau mengatakan apapun pada Novia! Kasihan dia tidak tahu apa-apa, di matanya Kau adalah sahabat yang terbaik padahal kau begitu busuk!" sengit Reno.
"Makanya, kamu jangan berlama-lama menikahiku! pokoknya kalau kamu tidak segera menikahiku, aku tidak jamin kalau rahasia kita ini akan aman!" cetus Tina.
"Kamu benar-benar wanita ular! Oke, kalau hanya itu, aku akan menikahimu, tapi kau jangan senang dulu, aku akan menikahimu jauh dari Jakarta, Aku tidak ingin semua orang termasuk istriku mengetahui tentang pernikahan ini, kau paham?!" tanya Reno.
"Tentu saja aku paham Sayang, kamu tenang saja, keinginanku Itu kan cuma satu, kamu menikahiku, karena di perutku ini sudah ada benihmu, kita akan menikah di kampung halamanku, terserah Bagaimana kau mengaturnya yang penting kau menikahiku dengan segera!" sahut Tina.
"Baik, nanti aku akan mengabarimu lagi, tapi aku mohon dengan sangat, jangan pernah ganggu Novia, andai kata dia meneleponmu, sebaiknya kau menghindari dia, sudah cukup semua permainanmu ini Tina! "ujar Reno
"Oke, itu soal gampang, yang penting apa yang aku inginkan kamu penuhi sayang, maka semuanya pasti akan aman!" kata Tina.
"Aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu dalam hidupku! Dulu kupikir Kau sahabat Novia yang sama baiknya dengan Novia, tapi ternyata kau bahkan lebih kejam daripada penjahat sekalipun!" sengit Reno sambil mematikan teleponnya.
Malam itu Reno benar-benar kesal, berbagai macam perasaan kini melanda hatinya, perasaan campur aduk yang tidak bisa dia gambarkan dengan kata-kata.
Karena memikirkan masalah itu, Reno tidak fokus pada pekerjaannya, dia menutup laptopnya kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerjanya itu.
Kepalanya benar-benar pusing, dia merasa dijebak selama ini, Tina benar-benar ular berkepala manusia, membuat Reno sampai hari ini hidup dalam penyesalan yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Kemudian dengan langkah gontai Reno pun melangkah keluar dari ruang kerjanya itu, bermaksud ingin pergi ke meja makan sekedar untuk makan walaupun sedikit.
Novia terlihat sedang duduk menunggunya seorang diri sambil menonton acara televisi yang berada tidak jauh dari ruangan itu, Vio sudah tidak terlihat di meja makan, anak itu mulai masuk ke kamarnya karena hari memang sudah beranjak malam.
__ADS_1
Bersambung ....